Seusai mengerjakan ujian hari pertama, aku melihat seorang laki-laki duduk di pojok paling belakang. sepertinya aku tidak pernah melihatnya dikelasku.
waktu istirahatpun berjalan, aku menghabiskan waktu di kantin dengan teman-temanku sambil menyejukkan pikiranku dari ujian tadi pagi. sebelum bel berbunyi, aku dan teman-teman sudah berada di kelas. dan aku melihat dia, laki-laki tadi pagi. dia masih duduk di pojok belakang kelas. dengan posisi menidurkan kepalanya di meja. apa dia tidak lapar batinku saat melihat dia tertidur di tempat duduknya.
"Dia anak pindahan dari Bandung." kata Ira temanku yang duduk di sebelahku. "Oww, pantas saja aku belum pernah melihatnya. Lumayan cakep ya..." bisik Lena padaku yang juga ikut menggosip di sebelahku.
Jogja, kota kelahiranku. aku di besarkan di perkotaan dekat Malioboro. Jogja memang magnet bagi semua wisatawan manca dan Indonesia. ibuku dikenal dengan pengerajin Batik dan ayahku seorang guru yang sangat aku hormati.
aku memang tidak begitu menonjol dalam akademi, tapi aku sering memenangkan lomba menari tradisional. aku suka menari, dikarenakan aku mengikuti hobby kakakku sebagai penari. dia sangat terkenal hingga ke mancanegara, dan sekarang dia berada di Eropa. aku ingin melanjutkan impian kakakku sebagai penari.
aku bersepeda mengelilingi Malioboro, setiap sore aku selalu jalan di malioboro melihat ramainya Malioboro dan senyum para penjual di pinggiran jalan. tak heran kalau para wisatawan suka dengan Malioboro dikarenakan ramahnya para penjual.
dari jauh aku melihat seorang laki-laki yang sepertinya aku mengenalnya. dia dengan kameranya dan wajahnya yang membuat aku sepedaku sampai oleng dan terjatuh.
"Aduuuhh..." aku mengaduh dengan sangat keras, sampai para penjual menolongku, laki-laki itu juga melihatku terjatuh dan melihatkan reaksi wajah yang khawatir.
"Lu nggak apa-apa ?" tanya dia sambil memapahku ke pnggiran jalan.
"Koncone to mas ?" tanya seorang pedagang yang menolongku tadi. "Ora popo to mbak ?" aku mengangguk menahan sakit di kakiku. aku di tinggal dengan laki-laki itu.
aku mencoba untuk berdiri tapi tidak bisa. dipegangnya pundakku sambil memapahku ke arah mobilnya.
"Gue antar lu pulang, rumah lu dimana ?" tanya dia sambil menyalakan mobilnya, aku yang menahan sakit di kakiku hanya diam menurut saja. sampai rumah ibuku langsung lari melihat kakiku berdarah.
"Kok bisa to nduk kakiku sampai berdarah begini." kata ibuku sambil memapahku ke dalam rumah. "Sopo kuwi Lin ?" tanya ibuku sambil melihat laki-laki itu berdiri di depan pintu.
"Temannya Lina ya ? masuk dulu sini, bantu ibu ambil obat." pinta ibu sambil mempersilahkan laki-laki itu duduk. aku menghalangi ibu untuk menyuruhnya mengambil obat dan sebagainya, tapi laki-laki itu tersenyum dan membantu ibuku. aku menahan sakitnya sampai hampir menangis. aku tidak boleh menangis di depan dia. bisa jadi omongan di sekolah kalau seorang Lina menangis.
setelah selesai membersihkan lukaku, laki-laki itu pulang dan ibuku yang mengucapkan terimakasih kepadanya.
senyumnya, aku tidak akan pernah lupa...
waktu istirahatpun berjalan, aku menghabiskan waktu di kantin dengan teman-temanku sambil menyejukkan pikiranku dari ujian tadi pagi. sebelum bel berbunyi, aku dan teman-teman sudah berada di kelas. dan aku melihat dia, laki-laki tadi pagi. dia masih duduk di pojok belakang kelas. dengan posisi menidurkan kepalanya di meja. apa dia tidak lapar batinku saat melihat dia tertidur di tempat duduknya.
"Dia anak pindahan dari Bandung." kata Ira temanku yang duduk di sebelahku. "Oww, pantas saja aku belum pernah melihatnya. Lumayan cakep ya..." bisik Lena padaku yang juga ikut menggosip di sebelahku.
Jogja, kota kelahiranku. aku di besarkan di perkotaan dekat Malioboro. Jogja memang magnet bagi semua wisatawan manca dan Indonesia. ibuku dikenal dengan pengerajin Batik dan ayahku seorang guru yang sangat aku hormati.
aku memang tidak begitu menonjol dalam akademi, tapi aku sering memenangkan lomba menari tradisional. aku suka menari, dikarenakan aku mengikuti hobby kakakku sebagai penari. dia sangat terkenal hingga ke mancanegara, dan sekarang dia berada di Eropa. aku ingin melanjutkan impian kakakku sebagai penari.
aku bersepeda mengelilingi Malioboro, setiap sore aku selalu jalan di malioboro melihat ramainya Malioboro dan senyum para penjual di pinggiran jalan. tak heran kalau para wisatawan suka dengan Malioboro dikarenakan ramahnya para penjual.
dari jauh aku melihat seorang laki-laki yang sepertinya aku mengenalnya. dia dengan kameranya dan wajahnya yang membuat aku sepedaku sampai oleng dan terjatuh.
"Aduuuhh..." aku mengaduh dengan sangat keras, sampai para penjual menolongku, laki-laki itu juga melihatku terjatuh dan melihatkan reaksi wajah yang khawatir.
"Lu nggak apa-apa ?" tanya dia sambil memapahku ke pnggiran jalan.
"Koncone to mas ?" tanya seorang pedagang yang menolongku tadi. "Ora popo to mbak ?" aku mengangguk menahan sakit di kakiku. aku di tinggal dengan laki-laki itu.
aku mencoba untuk berdiri tapi tidak bisa. dipegangnya pundakku sambil memapahku ke arah mobilnya.
"Gue antar lu pulang, rumah lu dimana ?" tanya dia sambil menyalakan mobilnya, aku yang menahan sakit di kakiku hanya diam menurut saja. sampai rumah ibuku langsung lari melihat kakiku berdarah.
"Kok bisa to nduk kakiku sampai berdarah begini." kata ibuku sambil memapahku ke dalam rumah. "Sopo kuwi Lin ?" tanya ibuku sambil melihat laki-laki itu berdiri di depan pintu.
"Temannya Lina ya ? masuk dulu sini, bantu ibu ambil obat." pinta ibu sambil mempersilahkan laki-laki itu duduk. aku menghalangi ibu untuk menyuruhnya mengambil obat dan sebagainya, tapi laki-laki itu tersenyum dan membantu ibuku. aku menahan sakitnya sampai hampir menangis. aku tidak boleh menangis di depan dia. bisa jadi omongan di sekolah kalau seorang Lina menangis.
setelah selesai membersihkan lukaku, laki-laki itu pulang dan ibuku yang mengucapkan terimakasih kepadanya.
senyumnya, aku tidak akan pernah lupa...