Sunday, November 22, 2015

Dunia Telah Jatuh Cinta

Posted by ceritacurhatku at 5:18 AM
"Dunia telah jatuh dalam cinta, sebuah cahaya menembus hatiku Aku ingin mengerti segala hal tentangmu, hey katakan padaku"


Sekumpulan buku jatuh di atas kepala, tapi kenapa kepala gue nggak sakit? gue mendongak ke atas dan melihat sebuah tangan menghalangi runtuhan buku itu supaya tidak mengenai kepala. gue melihat tangan itu dan ternyata dia...
dia pria yang sering gue lihat di sini, gue tahu dia.
Dia Rei...
pria dengan rambutnya yang panjang sekerah kemejanya tanpa menutupi telinganya dengan anak rambut yang berantakan, tatapan mata yang halus tapi tajam dengan kacamatanya yang selalu dia pakai.
"Hati-hati kalau ngambil bukunya..." kata Rei datar dan mengembalikan buku itu ke tempat semula.
gue yang sedari tadi tidak sadar kalau menatap Rei lama, membuat pipi menjadi memerah karena Rei ternyata membalas tatapan gue. Rei datang kemari dan itu membuat jantung gue serasa ingin meledak.
"Kenapa? kepalamu sakit?" tanyanya sambil mengusap pelan kepala gue. gue menghentikan usapan tangannya, itu membuat kepala gue juga ingin meledak. gue menggeleng pelan, Rei melihat gue sekali lagi dan akhirnya dia pergi. lega rasanya saat dia pergi, gue bisa bernapas lagi.
saat keluar dari perpustakaan, gue menemui Desi di kantin. dia melihat wajahku yang sudah merah padam.
"Kenapa lo?" tanyanya.
"Nggak kenapa-kenapa kok..." jawab gue pelan.
"Eh, nanti malem ikut gue ke cafe Bronis ya?" 
"Oke..."

"Kata-kata yang salah diucapkan membuat penyesalan, air mata terjatuh 
Perasaan rumit itu terjalin dalam detak jantungku, bagaimana aku menyesuaikannya 
Melakukan apapun untuk mencapai tujuan 
Hal paling berharga pun samar lalu menghilang 
Dan hari ini akan dimulai kembali"

Banyak sekali yang mengunjungi cafe Bronis malam ini. banyak pasangan yang datang karena malam ini adalah malam Minggu. kalau aku menganggap ini adalah malam Sabtu...
terdapat panggung kecil di depan sana dan banyak yang memperhatikan, mungkin ada artis yang akan mengisi panggung itu. dan saat langkah kaki pembawa acara menaiki panggung kecil itu, aku melihat seseorang di belakangnya. terlihat Rei, cowok yang tadi pagi menolongku di perpustakaan. tapi ada yang beda dengan wajahnya.
"Fila? lo kenal dia?" tanya Desi dengan mata yang penasaran, karena gue memperhatikan Rei daritadi. Gue tersadar dan menggeleng cepat. "Kok kayaknya kenal yah..." gumam Desi.
Gue hanya bisa melihat dia dari jauh, tapi pesonanya nggak bisa hilang dari beberapa bulan yang lalu saat kita bertemu pertama kalinya.
Gue melamun sambil melihat band Rei yang bersiap memegang gitar.
Waktu itu gue bertemu Rei saat awal masuk sekolah ini. saat itu pagar sudah di tutup dan gue terlambat untuk masuk kelas. disana ada Rei yang ternyata tertidur di atas gerbang sekolah dengan plester kompres di dahinya. dengan kacamata yang sedikit melorot membuat gue bingung kenapa ada orang di atas sana.
saat dia terbangun, dia melihatku dan turun dari atas pagar itu.
"Kamu juga terlambat?" tanyanya dengan nada lelah.
"Ah, iya..."
Belum sempat menutup pembicaraan, cowok itu memegang pinggang gue dan mengangkat gue ke atas pagar. "Sini saya bantu..." langsung saja, gue udah ada di atas pagar yang kemudian dia nyusul naik ke atas. dia bantu gue buat turun dari pagar dan kita berhasil masuk ke sekolah.
setelah kejadian itu, setiap gue melihat dia dimanapun gue ingin berterimakasih padanya. tapi dia inget gue nggak ya...
"Ahhh, dia Rei kan??" kata Desi membuyarkan lamunanku. gue langsung menengok ke Desi yang saat ini sedang melihat Rei dengan takjub. "Dia cowok paling cool di sekolah kan?" tanya dia lagi. gue hanya mengangguk dan sedikit nggak ngerti.
Rei kan pendiam, dan kayaknya dia penyendiri, kenapa dibilang cool?
sudah dua jam kita nongkrong di cafe ini, gue terpaku mendengar petikan gitar seorang Rei. selesai manggung Rei masuk ke belakang panggung. gue berniat untuk berterimakasih ke dia, karena sudah menolong gue.
Desi sampai berpamitan pulang karena sudah lama menunggu gue yang masih ingin bertemu Rei. gue memberanikan diri untuk natap Rei kali ini, gue harus nunggu. semoga saja, Rei masih ada di dalam dan nggak ninggalin gue sendirian disini...
nggak lama Rei datang dengan kacamata yang terpasang lagi. ahh, harusnya dia pakai lensa kontak aja, pasti lebih banyak yang naksir.
Rei datang dengan membenarkan posisi gitar di punggungnya.
"Kamu daritadi disini?" tanya Rei tanpa tedeng aling-aling. gue langsung kaget dan bingung harus menatap ke arah mana.
"Ahh, iya... gue mau bilang makasih karena tadi sudah nolongin gue." dengan mata sedikit mengintip ke arah Rei. gue melihat wajah dia merona merah, entah karena mobil yang tadi lewat atau memang dia merasa malu?
"Sama-sama, santai aja... saya sudah biasa menolong orang yang kejatuhan buku... hehehhe" hah?? dia ketawa? imut bangeeet sihhhh... kata gue dalam hati. asli gue pengen salto rasanya ngelihat senyum seorang Rei yang terkenal dengan sifat dinginnya. "Oh iya... rumah kamu dimana? udah malam gak takut pulang sendiri?" tanya Rei.
"Rumah gue deket kok dari jalan raya sana..." gue menunjuk ke arah rumah gue dengan sedikit gugup. deket sih, tapi kalau Rei dengan senang hati nganter gue, sujud sukur deh...
"Saya antar ya... tinggal jalan kaki aja kan?"
"Terus kamu nanti naik apa ke rumah?"
"Tenang... banyak taksi di sana..." jawab Rei dengan senyuman yang lebih manis. dan sepanjang jalan gue nggak mati bosan. gue kira Rei orangnya beneran pendiam, tapi ternyata orangnya asik. kita ngobrol bahas buku yang gue cari, dan ternyata buku itu memang langka. makanya letaknya ada di atas sendiri.
"Kamu suka banget ya ke perpustakaan?" tanya gue sedikit mengorek tentang Rei.
"Hemm, nggak juga sih, kebetulan memang saya ditugaskan menjadi penjaga perpus kalau istirahat. tapi nggak sering..." Rei diam sebentar mebenarkan gitarnya sekali lagi. "mati bosan kalau tiap waktu ke perpus."
"Iya ya... buktinya kamu malem ini gak di perpus, tapi ngeband di cafe... hehehe"
"Hehehehe... iya punya cara sendiri lah buat ngilangin stress."
"Ahh jadi pengen belajar main gitar..." desah gue. Rei ternyata denger apa yang gue omongin dan langsung menoleh ke arah gue.
"Kamu mau aku ajarin?" tanya Rei tiba-tiba. jantung gue mau copot, muka gue pasti udah merah. gue pengen tapi ntar dikira tukang stalking Rei. tapi gue nggak maksa sih, kan Rei sendiri yang nawarin...
"Eh beneran nggak apa-apa?" tanya gue basa-basi. dan saat itu kita udah ada di depan rumah gue. "udah sampai rumahku nih." lanjut gue.
"Kalau mau besok saya tunggu di ruang musik ya..." jelas Rei dan kemudian melambaikan tangannya ke gue dan menghilang di belokan jalan.
waaaahhhh.... akhirnya gue bisa deket sama Rei. semoga besok lancar, semoga besok jadi ketemu Rei.

"Kita terlihat seperti pasangan yang cocok tapi ada perasaan yang terlibat
Bagai sebuah termometer, emosiku terhubung dengan detak jantungku untuk pertama kalinya..."

"Bagaimana jika hati ini patah?"

Di dalam ruang musik, hanya ada kami berdua. Rei sedang men-tunning gitarnya, sedangkan gue hanya bisa menatapnya lurus-lurus.
"Ada nasi di mukaku?" tanya Rei tiba-tiba. dan gue langsung salting. "Liatnya serius banget..." mati deh gue, ketahuan ahh kalau nyuri-nyuri pandang.
"Ahh nggak kok, perasaanmu aja..." jawab gue gelagapan.
dengan lancar gue mengikuti instruksi Rei, dengan serius juga gue belajar gitar ke dia. itung-itung gue juga mengabulkan mimpi gue biar bisa main gitar haha...
tiba-tiba datang seorang cewek cantik dengan gitar di punggungnya. cewek beranbut panjang yang dikuncir kuda itu terlihat terkejut saat ngelihat gue dan Rei dekat banget. eitts, buka seperti yang kalian pikirin. tapi memang kunci gitar tuh susah banget, dan jari-jari gue belum terbiasa.
"Ohh hai Sis..." sapa Rei. ahh aku ingat, dia Siska MANTAN seorang Rei yang cantik dan baik. mereka udah pacaran sejak SMP, tapi baru beberapa bulan ini mereka putus. ehh, kok gue tau sih hhahaha... soal kepo seorang Rei, gue ahlinya muahahahahahaha *ketawa setan.
"Wah, udah dapet murid baru aja nih..." kata Siska sambil meletakkan gitarnya dan kemudian keluar ruangan.
"Maaf ya, jadi canggung aja jadinya."
"Iya gak apa-apa kok, wajar aja kalau Siska sensi lihat gue berdua sama lo..." ahh, gue kembali pakai kata gue lo lagi. padahal kemarin kita serasa deket banget.
"Kamu tahu kalau Siska mantan pacar saya?" tanyanya kaget. dan gue lebih kaget dengar pertanyaan Rei barusan. 
"Semua murid di sekolah ini tahu kalau kalian pacaran." gue pinter juga kalau ngeles. "secara kalian berdua tuh putri sama pangeran bergitar yang udah famous seantero sekolah."
"Hahahahahahahahahahahah... lucu banget sih kamu." nggak sadar pipi gue dicubitnya. gue refleks langusng nunduk dan nggak berani lihat Rei. "eh, sorry Fil."
"Gue pulang dulu aja ya..." pamit gue, dengan cepat meletakkan gitar dan langsung mengambil tas gue, kemudian lari sekuat tenaga. gue tahu keadaan ini malah bikin kita tambah canggung. kenapa gue malah kabur siihhh.

"Saat masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada diri ini
Aku menceramahinya dan memberi saran
Dan sekarang aku merasa rasa sakit di dadaku"

Rei melihat tangannya dan membayangkan kejadian tadi. kenapa dia bisa ceroboh mencubit pipi Fila dengan gemas. padahal suasana juga nggak mendukung. karena Siska datang dengan kalimatnya yang sedikit menusuk. untung saja Fila orangnya masa bodoh, jadi cewek itu tidak menanggapi perkataan Siska. sebenarnya hanya dia dan Siska yang tahu, kalau mereka putus karena Rei memang suka Fila saat pertama cewek itu masuk sekolah.
sejak itu hubungannya dengan Siska memburuk. dan akhirnya putus. Siska masih sering menghubungi Rei, meskipun terkadang Rei tidak menanggapinya. semoga kejadian tadi pagi membuat Siska berhenti menghubungi Rei.
malamnya, saat Rei tampil bersama bandnya di cafe Bronis terlihat Siska duduk di antara penonton.
"Aku mau kita balikan, aku nggak rela kamu mutusin aku cuma gara-gara cewek itu." kata Siska sambul menahan air matanya. "kita pacaran nggak sehari dua hari, sebulan dua bulan Rei. kita udah 4 tahun jalaninnya."
"Aku nggak bisa kamu giniin Rei..." air mata Siska sudah nggak bisa di tahan. dia nggak bisa lihat Rei dengan cewek lain. dengan air mata Rei langsung luluh dan memeluk Siska. "makasih Rei..." ucap Siska dalam pelukannya.

"Dunia telah jatuh dalam cinta, sebuah panah cahaya menembus hatiku
Aku sudah menyadari apa perasaan ini"

"Namun ini sudah terlambat..."

Terdengar di seluruh sekolah, cewek-cewek di kelas semua muram. entah gue nggak tahu sebabnya dan duduk santai di bangku gue. Desi dengan muka sedih melihat gue, "hemm? kenapa lo des?" tanya gue bingung.
"Rei, Fil..."
"Hah?? kenapa?"
"Dia balikan sama Siska si putri bergitar itu." entah gue pengen ketawa karena Desi nyebut putri bergitar atau bingung dan ngelakuin sikap anak-anak hari ini. gue nggak percaya dengan sikap Rei, kenapa plin plan banget. terus kenapa dia bersikap baik banget ke gue kemarin.

"Dia lebih cantik dariku, aku tahu itu tapi...
Entah mengapa aku berharap dia akan gagal saat aku berlari lebih dulu"

Saat istirahat makan siang, gue langsung keluar kelas dan mencari Rei. pokoknya gue harus minta penjelasan atas sikapnya ke gue. gue berasa dimainin sama Rei.
"Rei!!" terlihat Rei berjalan di samping Siska. Rei tidak terlihat bahagia, sedangkan Siska seperti memaksa Rei untuk tersenyum. keadaan ini hanya terpaksa sepertinya.
"Em, kak Sis boleh ngobrol sebentar nggak sama Rei?" tanya gue baik-baik.
"Sorry, kita masih ada kerjaan lainnya..." hah? kerjaan apaan? ada juga kalian kerjanya cuman main gitar doang.
"Ini masalah murid sama guru ya Kak, bukan yang lain... jadi boleh ngobrol sebentar sama Rei?" tanya gue sekali lagi. dengan muka yang di tekuk jadi 12 bagian, gue ahirnya bisa ngelepas Rei dari Siska.
Sesampainya di gudang olahraga, gue menarik napas panjang. semoga gue nggak nangis...
"Rei, maksud lo apa? kenapa bisa balikan lagi sama Siska? bukannya lo udah nggak mau hidup sama dia?" tanya gue panjang lebar dan sedikit keras.
Rei menahan pundakku yang naik turun karena emosi. Rei tau gue marah, apalagi setelah kejadian kemarin meskipun itu bukan adegan ciuman atau apa. tapi tetap aja kebawa perasaan banget gue.
"Siska cuma punya saya, Fil... orang tuanya sudah nggak ada sejak SMP, makanya cuma saya yang bisa nemenin dia."
"Emang lo sodara dia? pembantu dia? bukan kan? jadi tolong lo bisa bersikap lebih jelas ke Siska, bukan karena lo kasihan ke dia." balas gue yang sekarang sedikit tenang. "Hubungan dengan rasa kasihan cuma akan nyakitin Siska, Rei..."
"Sorry Fil..." kata Rei.

"Bodoh...
Aku hanya ingin lebih mengerti tentang dirimu
Dan aku menyadarinya untuk pertama kali bahwa ini cinta
Akan ku buat kau melihatku
Ku tahu harus menunggu lama tapi aku tak akan menyerah
Karena Aku Menyukaimu..."

"Gue nggak akan tinggal diam kalau seperti ini." kata gue dengan mata yang memandang lurus ke kedua mata Rei. "Bukan karena gue suka sama lo, tapi gue emang tulus peduli sama lo."
dengan amarah yang masih di ubun-ubun. gue mendatangi Siska si putri bergitar dengan duduk di sebelahnya. pelan tapi gue harus tegas.
"Kak, lo cuma maksain Rei buat jadi pacar lo lagi." gue berusaha tenang saat mengucapkan kalimat itu. "lo bakal berakhir dengan sakit hati, karena Rei hanya kasihan ke lo Sis...sorry bukan bermaksud kurang ajar, tapi sifat lo lebih kekanak-kanakan daripada gue yang junior lo."
"Biar lah Rei mau sama siapa dia bakal berhubungan tanpa paksaan apapun. karena itu membuat dia bahagia dan nggak terkekang Sis. Lo lihat gimana senyum terpaksa dia, gimana pelukannya waktu kemarin meluk lo... nggak ada bedanya dengan meluk orang yang nggak ada getaran di dadanya." 
"Gue tahu, gue orang baru di kehidupan kalian, tapi gue nggak bermaksud untuk memaksa. kalaupun memang Rei suka sama gue, gue bakal nerima dia tanpa embel-embel apapun. dan kalau dia nggak ada rasa ke gue, gue bakal mundur teratur..."
"Tapi dia suka sama lo Fil..." ucap Siska dengan sedikit menahan tangis.
"Sejak lo ditolong naik dari atas pagar, dan sampai lo kejatuhan buku di perpus, dia udah suka sama lo. gue emang ngerasa memaksa untuk kehadiran Rei di hidup gue, tapi...."
"Lo nggak sendiri. Rei bakal ada buat lo tapi nggak harus jadi pacar lo. nggak ada status hubungan kalau memang kalian berteman dengan tulus. ada mantan pacar tapi nggak ada yang namanya mantan temen Kak..." gue akhirnya tenang karena Siska sudah tahu dimana letak kesalahannya.
Tiba-tiba Rei datang dan berlutut dihadapan Siska, dengan senyum yang tulus untuk Siska, dia berterimakasih. "Thanks Sis, lo udah mau bebasin gue..." baru kali ini, gue denger Rei pakai kata lo gue. dan gue sedikit cemburu sepertinya...
"Memang lo serasa di penjara ya kalau sama gue?" tanya Siska dan dibarengi anggukan Rei. Siska tahu kalau Rei hanya bercanda dan akhirnya kita tertawa lepas.
Dan saat ini, gue berdua dengan Rei di ruangan musik...

"Kau sangat tidak peka jadi aku harus menyatakannya
Aku akan memberitahumu sekarang...
Aku menyukaimu!!"

"Gue suka lo Fil... aku sayang banget sama kamu" dengan cepat Rei memeluk gue dalam sampai gue bisa mengendus harum cologn yang dia pakai.
"Thanks, udah bantuin aku... thanks udah suka sama aku... thanks udah pengertian ke gue" ucap Rei dengan kemenangan. dia udah menangin hati gue, dan Rei sudah menyerah dan masuk ke hati gue.
"I Love You Rei... hehehehe"
di dekatnya wajahnya ke wajah gue, dengan napas yang terasa di hidung gue. refleks gue pejamkan mata menunggu Rei mencium gue. tapi ternyata dia hanya ingin memeluk gue dengan erat dan nggak dilepas lagi...

"Aku menarikmu lebih dekat
Jarak kita sudah 0 cm di tengah-tengah pengejaran itu
Tak ingin kulupa
Aku tak bisa melupakan satu halaman yang bercahaya itu."

END

0 comments:

Post a Comment

 

Freedom... Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review