Saturday, December 31, 2016

Nggak Harus Memiliki(?)

Posted by ceritacurhatku at 4:21 AM 4 comments

Hai lama tidak berjumpa, sudah setahun kita menjalani kehidupan dengan kesibukan masing-masing.
Bagaimana kabarmu? disini aku baik-baik saja... tetap masih berharap kamu ada buat aku.
Aku ingat sewaktu aku bilang kalau aku kangen kamu, dan kamu membalas berbulan-bulan baru kangen sekarang? Ahh kamu nggak tau aja kalau aku kangen kamu tiap hari rasanya pengen banget ngechat kamu tapi harga diri ini selalu menahannya.. Mengingatkan kalau aku ini siapa, aku hanya runtukan biskuit dipojokan toples yang nggak pernah di ambil.
Mungkin aku ingin sedikit mengenang masalalu dan mungkin juga hanya aku yang menganggap ini adalah kenangan yang berkesan.
Terimakasih kawan sudah mau jadi temanku...
Pada akhirnya entah sejak kapan aku merasa ada yang berubah dari kamu. karena memang kita berteman akrab...
Terimakasih mau menemaniku jogging tiap hari Minggu...
Terimakasih sudah mengajakku untuk sekedar nonton bareng dan main ke cafe sampai malam...
Terimakasih sudah mau direpotin oleh permintaanku yang nggak jelas...
Terimakasih sudah membelikanku obat dan makan sewaktu aku sakit...
Terimakasih sudah jadi sandaran sewaktu aku pusing sehabis cek darah...
Terimakasih sudah menemaniku ke dokter sewaktu sakit...
Terimakasih malam-malam menjemputku karena kunci motorku yang patah...
Terimakasih sudah menolongku dan mencariku sewaktu main atau terjatuh dari banana boat...
Terimakasih sudah menjadi driver favoritku...
Terimakasih untuk tumpangannya meskipun aku punya motor sendiri...
Terimakasih sudah jadi Edward Cullen - ku -yang ini terlalu konyol- hahahaha...
Terimakasih untuk membolehkanku menyukaimu meskipun kamu nggak tau...
Meskipun kamu menganggap ini hal yang biasa, tapi ini berkesan banget buat aku
Thank you for being my friend 😚

Wednesday, March 9, 2016

2PM

Posted by ceritacurhatku at 4:51 AM 0 comments
“Terimakasih untuk selama ini sudah mau merawat saya Ahjumma…” kataku sambil memeluknya bahagia. Akhirnya ada juga yang mengadopsiku, untungnya mereka keluarga yang baik. Dan sepertinya aku memiliki 6 kakak laki-laki dan aku adalah adik perempuan satu-satunya. Keluarga yang sepertinya memiliki kedudukan yang tinggi di kota ini.
“Baik-baik ya sama keluarga barumu Jimin-ah” kata Ahjumma dengan haru. Aku melihat ayah dan ibu baruku disana. Mereka tersenyum dan berusaha memelukku dengan sayang. Aku masih canggung dengan pelukan orang yang belum aku kenal. Hanya bisa merasakan bagaimana dipeluk oleh ibu dan ayahku dulu. Aku melambaikan tangan saat mobil meninggalkan panti asuhanku. Sedih rasanya, aku tidak bisa bertemu dengan teman-teman yang selalu ada buatku. Bagaimana rasanya punya ayah dan ibu, aku hanya pernah merasakan kasih sayang Lee Ra Im Ahjumma saja. Banyak anak terlantar yang dia ambil dan menjadikannya keluarga di panti asuhan itu. Suatu saat nanti aku pasti sering main kesana.
Sesampainya di rumah, aku melihat bangunan yang cukup mewah dengan pagar yang lumayan tinggi. Saat memasuki rumah, aku melihat 3 orang laki-laki duduk santai melihat tivi. Dengan mata yang berbinar mereka menghampiriku dan memelukku bergantian. Mereka terlihat tampan dengan kemeja dan kaos polo, senyuman mereka seakan sudah menungguku lama.
“Hei…hei… jangan menakuti Jimin dengan tatapan kalian itu.” Kata Ayah baruku dengan senyumnya yang ramah.
“Jimin, ini Wooyoung, Junho dan Junsu… dimana Taecyeon dan Nickhun?” tanya Ibu.
“Ahh Taecyeon dan Nickhun hyung sedang membeli bahan makanan…” jawab Wooyoung dengan senyum kekanakannya.
“Iya, untuk menyambut kedatangan adik kita yang baru ini…” lanjut Junsu.
“Anggap saja rumah sendiri, dan kami adalah keluarga barumu. Panggil aku Appa…”
“dan aku Ommaarasseo?” ucap ibu dan ayah baruku.
Meskipun aku masih canggung, aku harus terbiasa!! Semua adalah saudaraku. Tapi kalau anaknya sebanyak ini kenapa memilih aku untuk diadopsi? Aku berusaha mengangguk, mengiyakan kata ayah dan ibuku.
Arasseoyo Omma, Appa…”
“Ahhh… kwiyowooooo…” kata ayahku sambil memelukku gemas.
Appa, jangan sering memeluknya tiba-tiba nanti Omma cemburu loh.” Kata Junho kali ini. “Hai… aku Junho aku anak ke 5 dari para lelaki disini.”
“Ahh…anyeonghaseyo…” kataku sambil sedikit membungkukkan badanku.
“Kalau aku anak pertama, dan Wooyoung anak ke 4 dari 6 bersaudara.” Jelas Junsu dengan mata yang berbinar.
Uri Junsu sepertinya sayang sekali pada adik barumu ini.” Kata Ibuku yang sedang mempersiapkan entah apa di dapur.
Junho dan Wooyoung-ssi mengantarkanku untuk berkeliling rumah yang menurutku cukup besar. Ada gym, lapangan tenis sampai kolam renang yang sepertinya lebih lebar daripada di kolam renang yang biasa aku pakai.
“Jangan sampai kamu memanggilku dengan –ssi arasseo?!” ancam Junho dan Wooyoung dengan nada sedikit bercanda. Iya sih, aku berbicara dengan kakakku bukan orang lain.
Ne, Oppa-deul…
“Arrggh… we have a cute sister, I love it…” teriak Wooyoung yang sepertinya belum pernah punya adik perempuan. Segitu gemasnya denganku, apa aku se-lucu itu??
“Ya!! Biasa aja dong, jangan seperti orang yang belum pernah lihat adik perempuan begini.” Balas Junho dengan jitakan ringan.
“Hei, aku itu hyung-mu jangan macam-macam dengan kepala orang tua.” Kata Wooyoung sambil memegang kepalanya yang sakit. Aku tidak bisa menahan untuk tertawa dan sepertinya meraka tau kalau ini pertengkaran yang nggak penting.
“Hahahaha… mianhae, kita biasa bertengkar yang nggak penting.” Kata Junho dengan senyumannya.
Kwaenjanhayo oppa…” masih dengan menahan mulut yang sepertinya mau menyemburkan tawa hahahahaha… mereka sungguh lucu.
Tidak lama, kami berkumpul di ruang tivi. Terdengar suara mobil datang dan dua orang masuk ke dalam rumah. Dengan barang bawaan yang banyak, Wooyoung dan Junho membantunya untuk membawakannya.
Hyung, wae irohke mugowo? Apa saja yang kalian beli ini…” keluh Wooyoung yang membawakan seperti buah dan makanan.
“Ahh… ini dia adik kita yang baru. Hai aku Taecyeon…” ucap Taecyeon sambil melepaskan kacamata minus yang dia pakai. Segera aku menjabat tangan yang sudah dia ulurkan. “Khun-ah cepat kesini… adik manis kita sudah menunggu.” Datang seorang lelaki dengan jaket kulit yang membuat badannya lebih macho. Rambut pirangnya yang membuat dia sedikit mencolok dari yang lain, dan sikap dinginnya membuatku sedikit takut.
I’am Nickhun…” aku melihat dia memperkenalkan diri dan kemudian pergi. Apa-apaan oppa itu??
“Maaf ya, dia memang seperti itu orangnya. Dingin, tapi dia baik hati…” jelas Tacyon yang saat ini duduk di sampingku.
Malam ini serasa panjang, hidup dengan keluarga baru dan 6 kakakku. Ehh tapi aku hanya bertemu 5 orang kakak laki-lakiku. Satunya apa dia tidak sedang di rumah? Hmm…
Pagi ini, udara sangatlah sejuk. Dengan sedikit cahaya matahari masuk melalui jendela kamarku yang besar. Terlihat punggung yang telanjang tidur membelakangiku. Mungkin hanya perasaanku saja. Sesaat punggung itu bergerak dan wajahnya mengarah kepadaku. Terlihat lelaki dengan wajah yang tampan dengan poni yang sedikit menutupi matanya. Kemudian matanya terbuka dan melihat ke arahku sedikit tersenyum manis dan…
“Aaarrrrgghhhh… apa-apaan kamu, beraninya memegang ‘itu’!! ahh sial sial harus bagaimana ini.. ottokhaeee
“Hei, kamu siapa? Kenapa berani tidur di kamar orang lain.” Lelaki itu berdiri dari tempat tidur dan sepertinya sedikit sadar kalau dia bukan di dalam kamarnya sendiri. “dimana ini??”
Aarrrgghhh aku memukul orang itu dengan guling yang aku pegang. Dan seadanya melemparinya, aku harap bisa mengenai kepalanya setidaknya dia pingsan. Mungkin suaraku terdengar keras, kakak-kakakku langsung menuju ke kamarku dan melihat ada lelaki yang berani memasuki kamar adiknya ini.
“Hei ada apa ini??!!” kata Junsu datang dan melihat lelaki itu mengaduh kesakitan. Segera aku bersembunyi dibelakang mereka. Taecyeon datang dengan apron yang dipakainya, dan Wooyoung dengan mata yang setengah tidur. dan Nickhun entahlah…
“Ya ampuuunn!!” teriak Junsu.
“Ya! Chansung-ah!!” teriak Wooyoung dan Junho bersamaan.
“Ada apa ini sebenarnya?” tanya Taecyeon dan Junsu saat kita sudah ada di ruang keluarga. Kasihan juga kalau dilihat-lihat, Chansung dibully dan dipukul habis-habisan oleh Junho dan Wooyoung. Untung tidak ada yang terluka…
“Tadi malam aku pulang larut, jam 2 pagi karena ngantuk aku kira kamarku masih disitu. Baru sadar kalau dia tidur di kamarku.”
“Ibu kan sudah bilang kalau adik perempuan kita akan datang. Kamu sekamar dengan Junsu hyung.” Jelas Junho yang masih melihat Chansung dengan gemas.
Terlihat Chansung tidak rela kalau aku memakai kamarnya. Sepertinya aku malah membuat keluarga ini kerepotan. Karena aku perempuan sendiri disini.
“Ngomong-ngomong, Ibu kemana hyung?” tanya Wooyoung.
“Ahh aku lupa bilang, kalau Ayah dan Ibu sedang pergi liburan selama 3 bulan.” Jawab Taecyeon.
Whaatt?? Lama bangeet liburannya. Nantinya nasibku bagaimana, hiks…
“Kamu santai saja Jimin-ah, aku dan Junsu hyung akan menjagamu…” kata Taecyeon oppa menenangkan pikiranku. Sepertinya dia tahu apa yang aku pikirkan.
“Bukan kalian saja hyung… aku dan Junho juga akan menjaga dia!!” kata Wooyoung dengan semangat seperti biasa.
“Ahh iya, Chansung seumuran denganmu Jimin-ah…jadi jangan sering berantem yah.”  Kata Junsu oppa dengan senyum layaknya kakak laki-laki. Sepertinya aku bisa berlindung ke Junsu oppa kalau yang lain bikin gara-gara.
Tidak lama, Nickhun datang dengan kaos dan celana pendek yang basah karena keringat. Sepertinya habis olahraga. Tanpa peduli, dia pergi begitu saja dan tidak melihatku. Apa salahku sampai dia tidak mau melihatku.
“Emm, oppa deuli… apa aku ada salah dengan Nickhun oppa kenapa sepertinya dia tidak menyukaiku?” aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Mungkin saja bukan Nickhun oppa saja yang tidak suka padaku.
“Mungkin hanya perasaanmu saja. By the way ayo semuanya sarapan dulu!” perintah Taecyeon oppa yang melihatku untuk menenangkanku.
“Nggak usah khawatir, semua kakakmu suka padamu Jimin-ah…” jawab Junho sambil mengusap kepalaku lembut. Segera aku membalasnya dengan senyuman yang paling manis.
***

Wednesday, February 3, 2016

Here Without You VI

Posted by ceritacurhatku at 2:49 AM 0 comments
Mereka berdua sama-sama terdiam di dalam mobil. Banyak yang ingin di jelaskan oleh Riki, banyak juga alasan Mila untuk menolak perasaan Riki. Tapi Mila tau kalau di dalam hatinya ada ruang kosong untuk Riki. Mungkin sejak Riki datang ke kampus yang diam-diam menjemput Ria, perasaan Mila menjadi kacau. Dia yang mendekatkan tapi juga ingin menjauhkan mereka.
Tidak lama, Riki berhenti di depan cafe dekat kantornya. Sesaat Mila bingung kenapa Riki mengajaknya ke cafe. Padahal Mila masih bingung harus bicara apa semenjak Riki mengungkapkan perasaannya. Ternyata di dalam sudah ada Hendra dan Lisa yang sedang bercengkrama.
"Nah, ini dateng pasangan baru..." dengan cepat Lisa menutup mulut Hendra dengan sedikit kasar. Seperti ada rahasia yang disimpan mereka bertiga. Mila melihat heran kearah Riki, Hendra dan Lisa secara bergantian.
"Sori, Hendra lagi kehabisan obat gilanya." celetuk Lisa yang tersenyum cantik ke arah dua orang yang bari datang itu.
"Loh, bukannya Mila mau nonton konser Tulus?" tanya Hendra sambil memegangi mulutnya yang sedikit merah.
"Dia tadi di tinggal temen cowoknya sendirian." Kata Riki menjelaskan. "kenapa lo gak marah sih ke cowok yang bernama Alfin itu?" tanya Riki menyelidik.
"Kok lo tau sih siapa Alfin?" Kali ini Mila yang bertanya bingung.
"Siapa yang gak cerita semua ke gue, kalau bukan Ria." jelas Riki.
Sialan Ria!!!
"Nanti aja kita lanjutin... " lanjut Riki yang melihat keadaan Hendra dan Lisa yang keheranan.
"Ada permasalahan dalam rumah tangga nih sepertinya..." ucap Hendra yang lagi-lagi tanpa basa-basi.
"Ndra, kayaknya malem ini lo berisik yah?" sela Riki yang sedaritadi mendengar ocehan Hendra yang nggak jelas.
"Udah sana beliin Mila apa kek sama Riki biar gue yang nemenin Mila." kata Lisa sedikit mengusir Hendra yang lagi berisik.
"Sayang mau minum apa?" tanya Hendra sambil pasang wajah imutnya.
"Seperti biasa aja ya sayang, yang itu tuh.." jawab Lisa membalas keimutan Hendra. Diliat-liat pemandangan yang mereka buat ini seperti sitcom aja.
Setelah dua cowok itu pergi membeli minuman, Lisa dengan serius menatap Mila yang belum siap di introgasi. Pasti Lisa sama Hendra tau permasalahan kita, kenapa kelihatan nggak akur.
"Riki udah ngasih tau gimana perasaan dia kan?" tanya Lisa tiba-tiba.
"Kakak itu peramal yah? kok bisa tau sih apa aja yang berhubungan sama Riki?" tanya Mila heran.
"Yah, gue sama Riki udah lama kali sahabatan. Udah sempet jadi pacar." jelas Lisa sambil melihat ke arah Riki dan Hendra yang sedang tertawa, nggak tau bercanda apaan. "dia udah anggep lo cewek semenjak lo SMP."
Kok agak serem dengernya sih...
"Serem yah dengernya? hahahahaha Riki masih belum sadar aja. Saat kuliah dia tiba-tiba mutusin gue. Dan gue tau kalau dia ada perasaan ke elo." jelas Lisa. "gue tau karena perhatian Riki semua diberikan ke elo, akhirnya gue tau kalau lo bukan adik kandungnya. Gue bertanya-tanya, kurang apa sih gue sampai gue kalah sama anak SMP. Ternyata rasa sayang dari adik-kakak bisa jadi cinta dari lelaki ke wanita. Dan dia tulus sayang dan cinta sama lo. Makanya dia marah-marah saat ada cowok yang ninggalin lo. Sebenernya Bayu udah di hajar babak belur sama Riki setelah dia tau kalau lo cuma buat selingkuhan doang." cerita Lisa yang masih memandang ke arah kedua cowok itu.
"Sebenernya gue nggak tau kalau Riki ngehajar Bayu gara-gara ketauan selingkuh kak. Suer deh.." kata Mila.
Tiba-tiba Lisa menutup mulutnya sendiri dengan sedikit keras. "Emm La, yang tadi gue keceplosan.. jangan bilang ke Riki kalau gue cerita yang itu." jelas Lisa yang sekarang memegang tangan gue sambil memohon. Hhahaha lucu juga kak Lisa.
***
"Bang... " panggil Mila, sesaat mereka di dalam mobil setelah menemui Hendra dan Lisa di cafe tadi.
"Ada apa La?"
"Makasih udah sayang banget ke gue..." kata Mila tiba-tiba. Langsung saja membuat jantung Riki berdetak cepat. "Makasih udah mau bela gue di depan Bayu. Yang ini jangan marah ke Kak Lisa yah." lanjut Mila sambil memohon supaya Lisa nggak di musuhi.
Riki langsung menghentikan mobilnya dan turun di sebuah taman. Riki dengan detak jantungnya yang cepat, dan Mila yang kebingungan harus bersikap seperti apa.
"La, lo tau kan kalau gue nggak main-main?" tanya Riki dengan wajah serius sambil menahan kalau jantungnya pecah. Sedikit lega karena Mila mengangguk cepat. Berarti dia tau kalau Mila sudah paham dengan perasaan Riki sekarang. "Gue udah sayang sama lo semenjak lo menghibur gue waktu ortu gue nggak ada. Gue tau gimana rasa Leo yang memiliki lo. Dan jangan anggap gue pedophil ya." Jelas Riki sambil sedikit candaan.
"Kalau Leo tau gue naksir lo, udah babak belur dari dulu-dulu karena dia sayang banget sama lo. Gue boleh kan sayang lo bukan karena seorang adik? gue sayang lo sebagai wanita yang harus gue lindungi. Dan kalau gue ketemu Alfin lagi, bakal gue hajar habis-habisan karena sudah diemin adik gue." Jelas Riki sambil menggenggam salah satu tangannya dengan erat. Mila mencoba untuk menenangkan dengan menggenggam tangan Riki. Tidak lama genggaman itu meregang dan menjadi tenang.
"Thanks bang udah ngelindungi gue dan juga Bunda selama ini." jawab Mila yang sekarang sedang memeluk Riki erat. Mereka sudah membuang predikat adik kakak dan menjadi sepasang kekasih yang tidak bisa dipisahkan.
"Lo mau kan jadi cewek gue?" dengan cepat Mila menganggukkan kepalanya. Mila sudah tau betapa sayangnya Riki selama ini.

-TAMAT-

Tuesday, February 2, 2016

Here Without You V

Posted by ceritacurhatku at 3:44 AM 0 comments
Sesampainya di rumah, Mila langsung masuk ke dalam kamar dan cepat-cepat membersihkan diri. Menurut Mila sepanjang jalan pulang tadi Riki tidak mengatakan apapun soal pembicaraannya tadi siang. Entah ada maksut apa, tapi Mila tahu perasaan Riki sekarang.
"Eheemm" terdengar suara Riki yang mendatangi Mila di balkon lantai dua. Mila terlihat tanpa ekspresi, Riki tahu itu akibat perbuatannya. Sebenarnya Riki tidak mau mengungkapkan sekarang, tapi dia takut kalau perasaan ini terlambat.
Mila terlihat sedikit salah tingkah saat melihat Riki duduk di sebelahnya. Riki dengan santainya melihat ke arah langit yang berbintang, seakan-akan dia berbicara pada Leo sahabatnya.
"La, gue mau ngasih tahu lo sesuatu..." ucap Riki pelan. "Lo tau kan kalau gue sayang banget sama lo La. Bukan sekedar main-main tapi gue serius." Lanjut Riki masih sambil melihat ke arah bintang-bintang.
Mila tidak sadar mengikuti ke arah mana Riki melihat. Dia terdiam, bingung harus berucap apa. Dan sepertinya tanpa Mila tau, dia sayang Riki. Bukan sekedar sayang antara adik kakak, tetapi sebagai pria. Mila tau, Bunda pasti tidak menyetujui ini karena Bunda sudah menganggap Riki anaknya sendiri.
"Oh iya Bang, besok jadi kan ke konsernya Tulus?" tanya Mila menghindari topik sensitif itu. "jangan lupa kasih tau Ria kalo jadi berangkat." Kata Mila sembari berdiri meninggalkan Riki sendiri.
Gue tahu La, kalo lo belum siap sama perasaan yang sudah lama gue pendam. Karena Leo gue mau jadi kakak lo.
Seminggu setelah kepergian Leo
"Riki, ayah akan pindah tugaskan ke Belanda. Kamu ikut kan?" Celetuk Ibu Riki saat berkumpul untuk makan malam bersama.
Riki masih terlihat murung dengan kepergian Leo yang secepat itu hanya berpamitan untuk tidur selamanya. Dengan amanah yang diberikan Leo, Riki tidak akan bisa menolaknya. Mila sudah dia anggap sebagai adik sendiri. Riki sangat menyayangi Mila, seperti Leo menyayanginya.
"Tidak usah dipaksakan untuk mengabulkan permintaan Leo nak, kamu sudah memiliki keluarga dan kehidupan kamu sendiri." Ibu Riki tidak bisa meninggalkan anaknya sendirian.
"Ma, Riki sudah dewasa. Kepergian Leo bikin Riki ngerti apa itu saudara. Sementara Riki anak tunggal Ma. Riki ingin tetap disini menemani Tante Amel dan Mila. Tinggal mereka berdua hidup tanpa adanya perlindungan." jelas Riki. Dia ingin orangtuanya mengerti seberapa penting amanah itu.
"Sudah Ma, biarkan Riki di Indonesia. Toh kita masih punya rumah untuk dia tinggali." potong sang Ayah.
"Nggak Pa, jual saja rumah ini dan aku akan tinggal di rumah Mila. Urusan uang dan sebagainya pasti bisa aku urus. Tante Amel sudah seperti ibu keduaku Ma, Pa.."
Sesaat mereka berangkat menuju Belanda, pesawat yang ditumpangi orang tua Riki jatuh dan tidak diketemukan jasadnya. Berlipat-lipat rasa kehilangan Riki, setelah kehilangan sahabatnya dia kehilangan kedua orang tuanya. Dengan penuh perhatian Ibu Mila menganggap bahwa Riki juga anaknya, dan Mila sebagai adiknya.
Mila masuk ke dalam kamar dengan kebingungan akan sikap yang harus dia berikan kepada Riki. Sejauh ini Mila masih menganggap dia sebagai Abangnya, tapi terkadang apabila Riki bersama Ria, Mila pasti kalang kabut karena cemburu. Mungkin Mila masih belum menyadarinya.
Ke esokan harinya, kampus terasa ramai. Di dalam DOM kampus banyak orang yang sedang membangun panggung untuk konser Tulus besok. Mila lupa kalau dia pergi ditemani oleh Alfin, dan Riki pasti dengan Ria. Mereka sepertinya sudah membahasnya tadi malam sebelum Mila tidur. Karena tadi malam, Mila mendengar suara Ria di telepon saat dia belum masuk ke kamarnya.

Besok jangan lupa, aku jemput di rumah jam 7 yah
Alfin.

"Ahh iyaa, besok pergi sama Alfin" gumam Mila.
Ria yang sedaritadi melihat tingkah Mila jadi penasaran, wajah dia sama seperti waktu akan pergi ke makamnya Leo. Sebenarnya ada yang ingin Ria omongin tapi berhubung sahabatnya ini lagi murung diurungkan niatnya.
***
Siang bolong begini, Mila sedang sibuk memilih baju yang akan dipakainya nanti. Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk dari luar. Terdengar suara Ria yang datang masuk ke dalam kamar Mila.
"Mil, gue nanti kayaknya nggak bisa ikutan deh." kata Ria yang sudah duduk rapi di kasur Mila yang empuk.
"Lhah, kenapa nggak jadi ikut sih? ya udah gue batalin juga acara sama Alfin deh" balas Mila sewot, mendengar perkataan Ria barusan.
"Iya, kan ada Alfin. Mau lo anggurin tuh cowok? lumayan lo nggak usah ngeluarin duit buat nonton." celoteh Ria yang sekarang sudah rebahan santai di kasur Mila.
Dasar matre nih Ria, tapi betul juga sih keluar nggak ngeluarin duit. Kan ada Alfin.. "eh berarti Riki nggak jadi ikut juga?" tanya Mila, yang baru teringat kalau Riki sama Ria bakal ikut juga.
"Nggak sih, katanya dia ada acara sama temen-temennya" balas Ria.
"Laah, kok nggak bilang sih. Gue kan jadi nggak bisa sampai malem Ya kalau nggak ada abang gue." jelas Mila yang takut kalau proses perijinan nanti terhambat. Maksutnya ijin ke Bunda sih.
Hari beranjak malam, akhirnya setelah beberapa jam tadi Mila sudah menetapkan diri akan memakai raped jeans nya dan kaos kasual ditambahi flat shoes kebanggaannya. Jam sudah menunjukkan jam 7 malam, dan Alfin belum datang juga. Riki yang bersiap-siap untuk pergi, melihat Mila yang sudah rapi masih menunggu jemputan.
"Lo berangkat sama siapa?" Tanya Riki yang akan berangkat pergi bertemu teman-temannya.
"Temen gue bang, tapi belum dateng juga." jelas Mila yang anteng menunggu Alfin datang.
"Berangkat bareng gue aja, nanti bilang ke temen lo kalau udah sampai sana. Gimana?" Tawar Riki dengan senang hati.
Karena takut kalau konsernya sudah mulai, akhirnya Mila terpaksa ikut ajakan Riki untuk berangkat duluan. Sesampainya di depan DOM kampusnya sudah ramai mobil yang terparkir disana. Yang lagi pacaran, atau yang pergi bareng temen dan sahabatnya semua datang untuk memenuhi konser Tulus.
Dan Mila, masih di depan DOM menunggu Alfin datang. Tapi beberapa menit kemudian, ada pesan masuk yang berisi kalau Alfin tidak bisa datang karena Ibunya sedang sakit dan masuk ke rumah sakit. Setengah jam Mila sudah menunggu di depan sana, semua sudah masuk ke dalam untuk menikmati lagu Tulus yang romantis itu. Mila seakan mau menangis, baru kali ini dia di tinggal sendirian di tempat ramai seperti ini.
Tidak di sadari ada mobil yang menghampiri Mila. Dia berharap kalau itu Alfin, tapi ternyata yang datang adalah Riki.
"Kenapa lo masih disini sih? mana cowok lo yang katanya mau jemput ke rumah? " Kata Riki yang hampir menyerupai bentakan. Pertanyaan Riki membuat Mila menangis, tiba-tiba ada perasaan lega saat Riki datang.

-Bersambung-
 

Freedom... Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review