Saturday, September 27, 2014

Here Without You IV

Posted by ceritacurhatku at 10:46 AM 0 comments
"Ki, nyanyiin 1 lagu dong, mumpung ada gitar tuh..." pinta Lisa yang duduk bersandar di samping Hendra.
"Gue udah lama nggak main gitar, ntar fals lagi."
"Yang fals ntar suara lo bang, bukan gitarnya" celetuk Mila yang duduk di sebelah Riki dibarengi tawa teman-temannya. Mila tahu kalau Riki suka bernyanyi dan main gitar. karena pekerjaannya dia jadi tidak pernah menyentuh gitarnya. Tidak lama Riki mengambil gitar dan mengambil nada yang pas.
"Ehem..ehem...

Beautiful girl, wherever you areI knew when I saw you, you had opened the doorI knew that I’d love again after a long, long whileI’d love again.You said “hello” and I turned to goBut something in your eyes left my heart beating soI just knew that I’d love again after a long, long whileI’d love again. "
semuanya bertepuk tangan saat Riki berhenti menyanyi."Terimakasih...terimakasih..." kata Riki sambil menjulurkan tangannya meminta bayaran ngamennya. kemudian Riki menengok Mila dan dia ikut tersenyum sambil pura-pura memberi Riki recehan.
Tidak sampai menginap di villa, Riki mengajak Mila pulang karena Riki tahu kalau adiknya tidak nyaman kalau menginap bersama orang lain yang tidak dia kenal. Riki mengajak Mila ke bukit bintang. tempat dengan banyak kerlap-kerlip lampu kota yang terlihat dari atas bukit."Uwaaaah... bang keren bangeeet" kata Mila saat turun dari mobil. Riki tidak menjawab dan mengikuti kemana arah Mila pergi. "Thanks buat hari ini La..." kata Riki yang masih melihat ke arah kerlip cahaya. Mila membalas dengan anggukan."Thanks juga buat lagunya, hhahahaha...""Geer banget lo jadi orang. siapa bilang itu lagu buat lo." balas Riki dengan muka memerah tapi tidak terlihat karena suasana yang sedikit gelap.Suasana sudah sedikit tenang, "Emm La...""Apa?""Besok mau nggak nemenin gue nengokin Leo?"Deg... jantung Mila nggak berhenti berdetak, dia mengingat dan nggak akan melupakan nama itu. Leo...
10 Tahun Yang Lalu"Abang Leo kemana Bunda?" tanya Mila yang tidak sekolah hari itu karena sakit demam."Abang Leo sekolah dong sayang... nanti sore pasti pulang kok." jelas Bunda yang saat itu menyuapi Mila yang masih terbaring di kamar.Mila karena sore itu sangat lama menurut anak kecil akhirnya Mila tertidur pulas. Mila terbangun karena ada orang yang masuk kamarnya. ternyata itu abangnya yang membawakan makanan kesukaan Mila."Abang dateeeng..." kata Mila bersemangat tapi tidak bisa berteriak seperti biasanya."Adek abang masih panas ya? ini abang bawain donat kesukaan Mila." kata Leo yang waktu itu baru pulang sekolah."Abang mauuu..."Leo dengan sabar menyuapi Mila yang sedang manja. Leo sayang sekali dengan Mila yang manis dan dia anggap masih seperti anak kecil, makanya dia manja sekali ke Leo."Haii Mila... udah sembuh belum?" tanya Riki yang waktu itu datang ke rumah Leo.Riki adalah anak teman Ayah Leo dan Mila, mereka sekeluarga tinggal di satu kompleks dengan Leo dan Mila. jadi mereka sering bermain bersama, Mila jadi merasa punya dua kakak yang sayang padanya.Saat Leo menginjak kelas 2 SMA dan Mila kelas 1 SMP mereka jadi tidak terlalu sering bersama. apalagi Leo mempunyai pacar yang sangat dicintainya. tapi rasa sayang Leo tetap pada Mila adiknya. Mila jadi sering bersama Riki daripada kakaknya sendiri. Mila pernah marah sewaktu Leo sudah berjanji mengantarkan Mila membeli buku, Leo malah pergi dengan pacarnya. katanya Leo sudah tidak sayang lagi pada Mila."Apa abang Riki jadi abang Mila aja ya?" tanya Mila waktu itu."Ehh, kan Mila punya abang Leo sama abang Riki, kenapa sama abang Leo?" tanya Riki."Abang Leo udah nggak sayang sama Mila." celetuk Mila sedih. Riki yang tahu keadaannya akhirnya menghibur Mila dengan permainan gitarnya. Mila ikut menyanyi bersama dan melupakan masalahnya dengan Leo yang sekarang bersama pacarnya.pada suatu hari, saat Leo akan pergi ke rumah pacarnya, Bunda sampai mengingatkan kalau Mila terus mencari Leo."Abang, jangan ngelupain Mila yah... dia nyari kamu terus lho" ata Bunda mengingatkan Leo. leo hanya mengangguk kemudian pamit pada Bunda dan pergi.Malamnya ada kabar kalau motor yang ditumpangi Leo menabrak mobil yang ada di depannya. dan saat itu Leo berboncengan dengan pacarnya. Leo mengalami patah tulang rusuk dan luka di kepalanya karena saat itu Leo lupa menggunakan helm saat keluar dari rumah pacarnya.di rumah sakit Riki datang setiap hari dan Mila selalu mengangis saat melihat keadaan Leo abangnya yang sangat dia sayangi.sebulan kemudian, sebelum Leo koma, Mila dan Riki datang ke rumah sakit menggantikan Bunda untuk beristirahat. Leo memberikan sebuah pesan kepada Mila dan Riki."Bro... jagain adek gue ya. kalau gue nggak ada tolong sayangi Mila seperti lo lakuin sampai sekarang" kata Leo yang melemas. Riki berusaha tenang dan menyimak apa yang Leo katakan."La, sini..." panggil Leo."Mila... besok sampai kamu jadi gadis cantik jangan bikin abang Riki nangis ya? bikin abang Riki senyum seperti abang sekarang." pinta Leo sambil mengusap kepala Mila sayang. Mila hanya mengangguk dan sedikit sesenggukan. "Mila pengen jadi gadis cantik kan?" sekali lagi Mila mengangguk dan menangis."Abang mau kemana? Mila janji nggak akan marah kalau abang pergi sama kakak Desy." kata Mila sambil menangis dan memegang tangan Leo erat."Bro, gue panggilin suster..." kata Riki panik, tapi kemudian tangan Leo mencegah Riki pergi."Ki, sebagai kakaknya Mila dan sebagai sahabat baik lo gue cuman minta jagain Mila dan titip Nyokap gue. Gue cuman pengen tidur, semalem tidur gue nggak nyenyak." jelas Leo.Riki yang panik menjadi tenang saat mendengar Leo hanya ingin tidur. Riki mencoba menghentikan tangisan Mila supaya Leo bisa tidur.Riki mengajak Mila keluar dari ruangan dan membelikan Mila makan. setau Riki Mila belum makan daritadi siang. 20 menit setelah mengajak Mila makan, mereka kembali ke ruangan Leo dirawat. ternyata ruangan Leo sudah dipenuhi oleh dokter dan suster yang datang dan mencoba untuk memompa jantung Leo. Mila yang tahu itu langsung berlari menuju Bunda dan memeluknya. Riki yang di depan pintu melihat Leo lemas dan pucat menjadi panik dan menangis. Leo sudah pergi dari tidurnya untuk selama-lamanya.sejak saat itu Riki meminta izin ke orang tuanya untuk tidak ikut pindah ke Belanda tapi pindah ke rumah Mila. Riki sudah diberi amanah oleh sahabat baiknya untuk menjaga Mila dan Bunda. untung orang tua Riki menyetujui itu dan memperbolehkan dia tetap di Indonesia. dan sampai saat ini Mila berumur 21 tahun Riki tetap setia dengan Leo dan keluarga.
"La??" tanya Riki membuyarkan lamunannya tentang abang kandungnya Leo. "denger gue nggak?" tanya Riki sekali lagi, Mila menjawab dengan anggukan dan senyuman."Besok siang ya habis kuliah aja bang..." pinta Mila dan kemudian hening menyelimuti kembali.Keesokan harinya Mila terlihat murung dan tidak biasanya dia seperti itu. Ria yang juga heran dengan sikap Mila akhirnya memilih diam. Ria tahu kalau Riki mengajak Mila ke makam Leo abang kandungnya.kelas hari ini begitu cepat rasanya, Riki sudah menunggu di depan kampusnya untuk menjemput Mila. Riki meminta maaf karena Ria tidak bisa ikut kali ini."La, jangan pasang muka sedih gitu..." celetuk Riki yang sedikt khawatir terhadap Mila yang murung hari ini.sesampainya di depan makam Leo, Mila bersimpuh dan membasahi nisan Leo. mencabuti rumput liar yang ada disekeliling 'rumah' Leo. setelah selesai membersihkan makam Leo, Mila dan Riki mulai berdoa untuk Leo yang ada di samping Tuhan."Hai Bang Leo, sori gue jarang mampir ke sini..." kata Mila sambil mengusap nisan Leo. "ada ujian nih akhir-akhir ini. eh Bang gue udah jadi gadis paling cantik sekampus.""Bohong adek lo Bro..." celetuk Riki dan dibalas dengan senggolan pelan."Aku masih bareng Riki kok Bang, jadi nggak usah khawatir. Riki emm... lumayan baik sih tapi kadang juga jahat dikiiiit..." jelas Mila, "diikiiit kok" Mila menunjukkan jari tangannya ke Riki yang sedikit sewot."Gantian gue yang ngomong..." kata Riki yang memotong pembicaraan Mila. "bro, gue minta izin ke lo boleh?" Mila yang mendengarkan langsung menengok ke arah Riki. "gue udah jagain adek lo selama ini, gue mau minta imbalan..."Mila langsung berubah ekspresi saat Riki berkata seperti itu."Kalau gue jagain Mila sampai ntar gue mati boleh? Maksud gue Mila buat gue boleh?" langsung sekujur tubuh Mila merinding mendengar perkataan Riki yang sudah dia anggap seperti Leo kedua di rumah. Mila tidak berani menjawab apa yang dikatakan Riki."Kalau lo ngebolehin, dateng ke mimpi gue ya kasih tahu boleh apa nggak..." lanjut Riki dengan senyum yang lebar."Ihh apa-apaan sih bang..." kata Mila kurang nyaman dengan perkataan Riki barusan. tapi Riki hanya tertawa melihat ekspresi Mila.Setelah mengobrol lama di makam Leo, mereka akhirnya pulang tanpa sepotong pembicaraan. Mila kagok dengan apa yang di bicarakan Riki tadi. dan Riki merasa menyesal telah bicara seperti itu tadi.

Friday, September 26, 2014

Here Without You III

Posted by ceritacurhatku at 9:29 PM 0 comments
"Kamu kan pacarnya Alfin??" tanya Mila sambil menunjuk ke arah cewek itu.
"Iya, gue Sesil mantannya Alfin. Dia tadi pasti nemuin kamu kan?"
berasa ada bunyi petir di kepala Mila, dia kaget dengan apa yang dibilang cewek yang ada di depan itu dengan kaki yang berdarah.
"Oke, Mbak duduk dulu aja di kamar saya." Mila mempersilahkan Sesil masuk, tapi cewek itu melepaskan genggaman Mila dan berusaha untuk pulang. "saya bantu..."
Mila memapah Sesil sampai di luar rumah, cewek itu tidak membuka mulut sama sekali, wajahnya masih menahan sakit dan Mila mencari taksi yang lewat depan rumah. Setelah Sesil pulang, Mila langsung menelpon Riki yang belum pulang ke rumah.
"Bang, lo dimana sih?" akhirnya telepon Mila tersambung setelah dua kali Mila mencoba menghubungi ponsel Riki.
"Gue on the way pulang. Cewek yang ada di kamar gue gimana keadaannya?"
"Dia udah pulang barusan, Lo kok bisa sih nabrak orang?" tanya Mila khawatir.
"Ntar gue ceritain, sekarang gue lagi nyetir nih..." jawab Riki yang sedang konsentrasi pada jalan.
Mila menunggu Riki datang ke rumah, Bunda Amel bingung kenapa Mila terlihat khawatir melihat ke arah luar rumah. Riki memarkir mobil ke garasi dan cepat masuk ke rumah. Mila yang sedaritadi menunggu langsung menghampiri Riki yang baru datang.
"Bang, kok bisa nabrak orang sih?" tanya Mila khawatir.
"Ssst... jangan keras-keras ntar Bunda denger." Mila langsung menutup mulutnya dan berbicara pelan.
Riki menggandeng Mila masuk ke kamarnya, Mila yang memang sedang penasaran ikut masuk ke kamar abangnya. Riki duduk tenang dan menceritakan semuanya pada Mila. ternyata yang menabrak cewek tadi Ria, bukan abangnya. Ria tidak melihat sekitar karena asik mengobrol dengan Riki dan tanpa toleh kanan-kiri, Sesil langsung menyebrang jalan untungnya Sesil nggak luka parah.
"Terus, lo perban nggak kakinya?"
"Dia minta pulang mulu sih..."
Riki menuju ke kamar mandi, meninggalkan Mila yang masih duduk di tempa tidurnya. Mila baru kali ini dia lama diam di dalam kamar Riki. sejak abangnya kerja, Mila merasa kalau waktu untuk Mila sudah tidak ada. akhirnya mereka tidak begitu dekat lagi karena kesibukan masing-masing. Mila melihat keseliling kamar Riki, berantakan masih seperti dulu. tapi meja kerjanya rapi tertata dengan foto mereka berdua sewaktu Mila masih SMP, Riki masih SMA dan satu cowok yang sangat Mila rindukan. tiba-tiba ponsel Mila berdering dan saat itu tepat Riki keluar kamar mandi.
"La..." panggil Riki, dan melihat di kamarnya Mila sudah tidak ada.
"Halo Fin..." ucap Mila dari luar kamar Riki. "ada apa?" suara Mila sedikit menghilang dari depan kamar Riki dan terdengar pintu kamar Mila tertutup.
"Nggak apa-apa... besok ada acara?" tanya Alfin. Mila mengingat-ingat kalau Sabtu besok ada acara dengan Riki yang sialnya dia sudah janji lebih dulu ke Riki.
"Sori Fin, gue ada acara sama abang gue..." jawab Mila.
"Ohh... oke, kalau besoknya lagi?"
Nih cowok nggak ada bosennya ketemu gue... batin Mila sambil tersenyum tipis.
"Ntar gue sms kalau nggak ada acara yah..." tiba-tiba sambungan telepon Alfin terputus, dan langsung ada pesan darinya.

Sorry La, ada temen gue yang lagi sakit nih...
gue ke RS dulu yah

Mila tidak membalas pesan Alfin, tapi malah pergi ke kamar Riki. dia ingat kalau ada janji besok nemenin Riki ke reunian SMAnya. dan hal yang paing Mila hindari adalah bertemu Bayu. Mila masuk ke kamar Riki tanpa mengetuk pintu kamar. Dia melihat Riki sedang ganti baju di depan kaca, Mila langsung mengalihkan mata ke arah yang lain.
"Ketuk pintu dulu kali Ndut..." kata Riki tenang.
"Ihh, ngapain ketuk pintu segala, kayak lo tamu aja." balas Mila yang langsung rebahan ke tempat tidur Riki. "gue inget kalau besok gue punya janji ke lo."
"Bagus, lo inget..."
"Jadi nggak?" tanya Mila sambil memainkan ponselnya.
"Gue perginya sama Ria..." ucap Riki dengan merapikan rambutnya yang basah. kalau Mila membahas janji ini, dia mengingat apa yang terjadi di depan kampus tadi. Riki lihat bagaimana ekspresi Mila sekarang. Mila tertunduk lesu dan pergi dari kamar Riki. Riki yang tahu itu langsung terduduk lemas di tempat tidurnya. apa yang dia bicarakan, Riki nggak ngajak Ria untuk ikut ke reunian.
di dalam kamar, Mila terduduk lesu dan ada sedikit marah di dadanya. besok Mila bikin Riki nggak bisa nolak dia. Biarpun besok ada Ria, Mila nggak peduli.
Keesokan paginya, Mila bangun pagi dan memakai pakaian yang sudah dia siapkan untuk acara hari ini. Mila bergegas masuk ke kursi penumpang mobil yang baru saja Riki cek mesinnya. tidak lama, Riki datang dengan memakai pakaian rapi seakan-akan mau berangkat kerja, padahal ini hari libur. setengah jam perjalanan dari rumah, Mila tiba-tiba muncu mengagetkan Riki yang sedang konsentrasi. ternyata Riki tidak menjeput Ria untuk ikut ke reunian.
Dasar pembohong...
"Bbaaaa!!" teriak Mila sambil menepuk keras pundak Riki.
"Mila?? kok lo?" tanya Riki bingung melihat adiknya sudah ada di kursi penumpang.
"Salah sendiri gue di bohongin, udah tahu nggak pinter boong"cibir Mila yang sekarang sudah duduk di depan.
"Lo nggak apa-apa ikut ke reunian gue?" tanya Riki khawatir.
"Nggak apa-apa kok, santai aja.. lo pasti kepikiran gue kalau ketemu sama Bayu ya?" Riki tidak menjawab dan konsentrasi kembali ke jalan.
sesampainya di villa tempat acara diadakan, Mila langsung kagok saat masuk ke dalam. banyak orang yang tidak Mila kenal. ada yang bawa bayi, ada yang bawa suami dan teman Riki dan pasangannya. hanya Riki yang membawa adiknya. nggak lama, datanglah Bayu dengan minuman yang dia bawa. Bayu tidak menyangka kalau Mila ikut datang kemari. sudah 2 bulan mereka putus, Bayu masih berharap kalau Mila mau kembali padanya.
"Hei Bro, gimana kabar?" tanya Riki yang juga jarang melihat Bayu setelah berpacaran dengan Mila dan akhirnya putus.
"Good, lo gimana?" tatapan Bayu tidak terlepas pada Mila yang sedang bermain dengan anak salah satu teman Riki.
"Udah... nggak usah lihatin terus, dia udah ada yang punya." jelas Riki.
"Siapa? Lo?" tanya Bayu dengan tampang terkejut.
Riki tidak menanggapi pertanyaan Bayu, dan pergi menghampiri teman yang lihat. nggak lama, Bayu sudah terlihat berbicara dengan Mila. Mereka terlihat canggung saat bersapaan tadi.
"Gimana kabarnya? kata Riki udah ada yang punya nih?" tanya Bayu langsung tanpa basa-basi.
"Baik Bay. Kenapa tanya gitu? jealous?" tanya Mila. Bayu terkejut mendengar pertanyaan Mila yang langsung menusuk.
Entah kenapa Mila jadi malas ngobrol dengan Bayu, masalahnya Bayu kalau diajak bicara tuh suka nuduh yang macem-macem, daripada tengkar disini mending Mila pergi mengikuti Riki yang sekarang sedang ngobrol dengan temannya.
"Bang..." panggil Mila.
Riki melihat ke arah Mila dan langsung tersenyum kemudian memperkenalkan Mila kepada temannya itu.
"Ini adek gue, Mila" ucap Riki.
"Bukannya lo nggak punya adek?" tanya temennya. "gue Hendra..." kata Hendra memperkenalkan diri, "ohh... dia ceweknya Bayu yang waktu itu ya??" tanyanya lagi.
Riki menyikut perut Hendra lumayan keras, dan Mila membalas dengan senyuman maklum.
"Iyah, tadi juga udah ketemu Bayu kok Kak."
"Nggak usah panggil Kak lah, Hendra aja." jelas Hendra yang masih memegangi perutnya yang sakit.
Tiba-tiba cewek cantik dengan kemeja panjang dan hotpants yang dia pakai. dengan rambut panjang yang cantik pasti cewek ini idaman semua temen-temen Riki, atau Riki juga tergila-gila sama dia?
"Haii sayaang..." sapanya yang kemudian mencium pipi Hendra, Riki tertawa dan Mila hanya bengong melihat pemandangan itu.
"Jangan di depan adek gue dong, masih kecil tau..." cibir Riki yang masih dengan tawa kecilnya. Giliran Mila yang menyikut perut Riki, itung-itung balasin dendam Hendra.
"Ohh sorii... kenalin ini cewek gue La, namanya..."
"Lisa..." kata cewek itu memperkenalkan diri. Mila langsung membalas jabatan tangan Lisa.
"Main putus perkataan gue aja nih..." sewot Hendra yang omongannya tadi diputus Lisa.
"Yang penting nggak gue putusin beneran kan?" celetuk Lisa. Hendra langsung diam dan tersenyum simpul dengan candaan pacarnya yang sebentar lagi akan jadi istrinya.
"Lisa tuh pacarnya Riki lho sewaktu SMA sampai awal kuliah." celetuk Bayu yang kali ini datang dengan wanita manis. "kenalin, pacar gue Shinta..."
Shinta menjabat tangan satu-satu dan memperkenalkan dirinya. Mila yang sedikit terkejut dan sedikit bersimpati kepada cewek itu. nggak lama lagi, dia bakal dikekang dan diawasi terus seperti Mila dulu.
"Lo, nggak usah buka luka lama ya..." kata Lisa dengan pandangan malas.
"Sorry kalau gue ngasih luka lama ke lo" celetuk Riki, dan dibarengi tawa ke tiga sahabat baik Riki. Mila jadi sedikit merasa nyaman dengan teman-teman Riki.
Malamnya mereka pesta barbeque di halaman depan villa, Mila yang duduk anteng di depan pintu melihat suasana yang penuh tawa dan cerita. Riki membantu membakar daging dengan Bayu. Lisa dengan teman-teman lainnya dan Shinta yang juga duduk menyendiri. Lisa datang dan duduk di sebelah Mila.
"Nggak ikut kesana?" tanya Lisa sambil menunjuk ke arah Riki yang sedang bercanda dengan teman yang lain. Mila menggeleng dan tersenyum.
"Lo bukan adik kandungnya kan?" Mila terkejut kenapa Lisa bisa tahu tentang itu. Mila ingat kalau Lisa dulu pacar Riki.
"Dia sahabat abangku Kak dan..."
"Udah, gue udah tahu semuanya kok. Riki cerita semua ke gue." jelas Lisa memotong penjelasan Mila. Lisa tahu cerita itu bikin Mila jadi mengingat-ingat yang lalu. "jangan bikin Riki kecewa, lo berharga banget buat dia." kata Lisa yang pergi dari Mila dan kembali ke tempatnya tadi.
Mila sekali lagi melihat ke arah Riki yang berkumpul dengan asap. ditepuknya pundak Riki dan saat menengok ke belakang ternyata Mila datang dengan banyak daging yang belum dibakar.

-Bersambung-

Tuesday, September 23, 2014

Here Without You II

Posted by ceritacurhatku at 7:06 AM 0 comments
"Serius bukan gue yang ngasih tau.."
"Terus siapa lagi yang kenal Alfin selain gue sama lo Riaaaa" ucap Mila yang kali ini bingung kenapa Alfin tahu apa yang dipikirkan dan dilakukan Mila. berasa Alfin tuh stalker atau jangan-jangan Alfin itu dukun? tiba-tiba...
"Eh begooo... tuh di sana, lihat!" teriak Ria sambil menunjuk ke baliho besar di depannya.
tertulis,

MiniConcert Tulus at Univ.GrahaKencana Bandung at 5pm until end

"Begooooo, hwahahahahhaa..." Mila langsung tertawa disusul Ria yang terbahak-bahak.
"Pantesan Alfin tahu kalo ada acara di kampus. hwahahahaha... dasar lo nethink mulu..." cibir Ria yang sekarang sudah tenang.
"Terus enaknya gue bales apa nih ke Alfin, kan gue udah ngajak elo."
"Alaaah, pake sungkan segala. udah mau aja, ntar gue sama abang lo aja gimana?"
"Ngajak Riki? aduuh nggak ada yang lain apa." jawab Mila jengah.
"Ihh kayak lo nggak tahu gue aja."
"Idiih, suka dari jaman orok sampai sekarang nggak ngaku-ngaku..." giliran Mila yang mencibir Ria.
"Go with the flow aja kaleee..."
"With the flow? ntar kebablasan, abang gue ntar disamber cewek lain lagi baru tahu rasaaaa..."
"Udah putus sama cewek menor kemaren itu?" tanya Ria dan dibalas anggukan malas oleh Mila. "aseeek, gue ada kesempatan dong habis ini..."
"Ahh, elo ada kesempatan dikit aja juga ogah maju-maju kale Ya. Udah ahh, nggak usah bahas Riki lagi... ini gimana nih balesnya?" tanya Mila sambil menyodorkan ponselnya.
"Iyain ajalaah..." jawab Ria santai.

Sesampainya di rumah Mila menuju ke kamar Riki, karena terpaksa...
Mila diberikan 'amanah' dari Ria, kalau Riki harus ikut. dalam mobil tadi Ria menggunakan jurus mata kucingnya. dia memohon kalau Riki harus ikut. Ria berpikir kalau Mila bareng Alfin, terus nanti Ria sama siapa, dan keputusan Ria, dia harus bersama Riki. dasar seenaknya aja...
"Baaaang, gue masuk ya?" Mila membuka kamar Riki dengan pelan. dia melihat abangnya tidur di meja kerjanya dengan earphone dikedua telinganya.
Mila jadi nggak tega ngebangunin abangnya yang kayaknya lagi capek banget. Riki terbangun saat Mila menginjak console game yang tergeletak di lantai.
"Wadooooohhh..." mendengar suara Mila menjerit kesakitan Riki langsung terbangun karena kaget.
"Kenapa lo?" tanya Riki sambil menghampiri Mila yang sedang memegangi kakinya.
"Bang, kalau selesai main diberesin doooong!"
"Waaaaaa... stick gueeee" teriak Riki mengambil gamestick console-nya yang terinjak Mila. diusap-usapnya stick console miliknya dengan sayang, dan Mila makin gondok melihat tingkah abangnya.
"Jadi stick pe-es lo lebih berharga daripada adik sendiri. oke cukup tahu aja..." Mila melangkah pergi dengan sedikit terpincang. Riki yang bercanda langsung menggandeng adiknya dan menuntunnya di kursi kerjanya.
"Sori..sori gue cuman bercanda..." ucap Riki tulus.
"Becanda lo keterlaluan kali Bang." kata Mila yang masih sewot.
"Iya..iya, sori... lo tumben ke kamar gue, ada apa?"
"Ria ngajak lo ke konsernya Tulus minggu depan. mau nggak ?"
"Kenapa lo yang ngomong... suruh Ria yang ngomong, kalau nggak gue ogah nemenih dia." jelas Riki.
"Oke, gue telepon dia sekarang."
"Tapi ada syaratnya..."
"Apa syaratnya? pake syarat segala kayak beli mobil aja." cibir Mila.
"Lo harus ikut ke reunian gue besok malem!" perintah Riki dengan gaya bossy.
"Ogaaah! pasti ntar sama cewek baru lo dan gue lagi-lagi jadi obat nyamuk." tolak Mila dan berusaha untuk keluar daru jebakan Abangnya.
"Eh betewe, si Ria kenapa nggak ngajak lo?" tanya Riki. Mila gelagapan memberi jawabannya. "ehh, malah bengooong" dicubitnya pipi Mila sampe melar.
"Aduuuh, sakit tauuu! gue diajak temen SMA gue buat nonton bareng." jelas Mila sambil memegang pipinya yang saat ini pasti memerah.
"Cowok?"
"Gue nggak perlu jawab kan? udah tahu gitu..." balas Mila yang keluar dari kamar Riki.
"Awas besok lo nggak ikut, gue batalin nemenin si Ria" teriak Riki dari dalam kamar. Lagi-lagi Riki merasa sakit di dadanya. dia tidak merasa kalau dia sedang cemburu.

***

"Eh Yaya.. lo disuruh ngomong sendiri tuh sama Riki." kata Mila yang sedang menghubungi Ria, biar semuanya lancar Riki harus mau nemenin Ria di konser minggu depan.
"Gila, gue nerpes tahu kalau disuruh ngobrol sama Riki."
"Lo mau nggak sih dateng sama abang gue. kalau nggak ya ntar gue bilang nggak jadi aja. usaha dikit napa sih, gue sampe nginjek stick pe-esnya dia tauk waktu gue nyelinap kamar Riki."
"Lagian, lo ngapain pake nyelinep segala? kayak maling aja..." cibir Ria.
"Ihh ya udah kalo nggak mau ngomong sendiri. gue tutup telponnya nih..." ancam Mila.
"Ehhh... iya iya, habis ini gue telepon. dasar lo... udah gue matiin teleponnya. assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." balas Mila. "dasar, gue yang telepon malah dia yang nutup duluan."
nggak lama, terdengar Riki mengejek-ejek nama Yaya. panggilan Ria dari kecil.
"Tumben lo nelepon gue? ada apaan?" tanya Riki, pura-pura nggak tahu. Mila yang di balkon hanya cekikikan mendengar gurauan abangnya.
"Rasain lo, biar tahu rasa gimana rasanya deg-degan... hahaha" batin Mila.

***

"Gimana kemaren?"
"Lo nggak lihat gue masih pucet?"
"Aduuh kayak nggak akrab aja sama Riki. kita temenan dari kecil tauuu tidur juga bareng-bareng." celetuk Mila.
"Gila, kita udah umur 22 La, lo bilang tidur bareng? oh my Gooood."
Kalau udah panik, nervous, si Yaya bakal kayak gini, aksinya lebaay mulu. besok baru balik seperti biasa.
"Baru kali ini gue nerpes banget La, untung nggak herpes gue." jelas Ria yang nggak henti-hentinya bercerita bagaimana rasanya teleponan sama orang yang disukai.
sampai istirahat makan siang, Ria masih belum bercerita tentang pembicaraannya dengan Riki. Mila sudah pasrah mendengarkan celotehan dia soal perasaanya.
"Ya, gimana? Riki mau nggak nemenin lo? daritadi ditanyain nggak dijawab..." kata Mila sewot.
"Riki mau Laaaa! Riki mauuuu!" teriak Ria sambil memegang tangan Mila dan loncat kegirangan, sampai semua mahasiswa yang sedang makan di kantin melihat ke arah mereka berdua.
"Yeessss! akhirnya lo ada temennya, nggak gue kacangin ntar..."
"Ihh, sialan lo. gue ditinggal-tinggal."
"Yang penting lo bisa sama Riki kaaaan. hhahaha..." Mila tersenyum puas bisa memasangkan Ria dan Riki bersama. akhirnya sahabat satu-satunya bisa punya gandengan.
Pulang dari kampus, Mila berencana ingin membeli dress yang selama ini dia incar di salah satu mall. Ria yang sedang tidak mengerjakan apa-apa di kampus akhirnya ikut menemani Mila.
Tapi saat menuju ke parkiran mobil. seperi ada seseorang yang memanggil Mila.
"Hai Laa... Oii Ya..." sapa seorang cowok yang memakai kaos polo biru tua dan jeans abu-abunya datang dengan senyuman yang lebar.
"Alfin??" sahut dua cewek yang ada di depan Alfin.
"Lo ngapain ke sini?" tanya Ria bingung.
"Sori Ya, gue mau nyamperin Mila bukan lo." kata Alfin dengan nada candaan.
Mila yang masih kaget dengan datangnya Alfin ke kampusnya adalah hal yang langka. Mila dan Alfin belum secara langsung ngobrol seperti ini selain Mila bertemu Alfin dengan cewek seksi waktu itu.
Mila masih bingung dengan kedatangan Alfin di kampusnya. Alfin yang hanya melihat ke arah Mila bikin Ria jengkel, kenapa temannya satu ini nggak kabar-kabari kalau mau ketemu Mila jadi Ria bisa punya alasan buat ninggalin mereka.
Tiba-tiba ponsel Ria berbunyi, dan tertera nama Riki di layar. Ria malah seperti orang kena stroke, dia langsung teriak dan berkata terbata-bata saat menjawab telepon Riki. Riki malah terbahak-bahak melihat suasana Mila dan Ria yang ada di depannya. Rencananya, Riki mau mengajak Mila untuk mengantar dia membelikan kemeja untuk acara reuni besok, karena dia sudah melihat ada cowok yang mendekati adiknya dan ada Ria di sebelahnya. Ria menjadi pengalih perhatiannya...
"Kenapa nggak bilang kalau mau ke kampus sih Rik?" tanya Ria yang sudah ada di dalam mobil.
"Nggak apa-apa, lo mau kan ikut gue?" tanya Riki sambil menghidupkan mesin mobilnya. dan sudah diduga dua orang yang di depan bingung melihat Riki ada di sana, dan Mila cemberut nggak karuan dengan muka memerah karena marah.

***

"Kenapa cemberut La?" tanya Alfin yang sedang menemani Mila memilih baju yang ingin dibelinya. Mila hanya membalas gelengan dan kembali fokus pada pakaian yang di depannya.
"Nanti langsung pulang aja ya Fin." pinta Mila.
"Nggak makan dulu? makan dulu baru pulang yah?" ajak Akfin yang kali ini dia merasa kalau mood Mila turun drastis sejak dia datang ke kampusnya.
Mila balas mengangguk malas.
selesai membeli dress yang dia pengen, dan Alfin terus mengajaknya untuk makan akhirnya mereka berada di tempat fast food. Mila cepat memilih dan memakannya, nggak tahu kenapa mood dia turun drastis sejak Riki datang menjemput Ria. Kenapa Mila malah marah nggak karuan begini? apa gara-gara Riki menjemput Ria bukan adik kesayangannya.
"Kenapa gue jadi brother complex gini sih?" gumam Mila.
"Ada apa La?" tanya Alfin yang sudah khawatir sejak tadi.
"Nggak... nggak apa-apa kok Fin." jawab Mila gelagapan.
"Kenapa jadi bad mood gitu sih? gara-gara gue dateng ke kampus? atau gara-gara gue ngusir Ria secara halus?" tanya Alfin, dan pertanyaan kedua bikin Mila melotot ke arahnya. "sori...sori gue becanda, tapi nanyain lo kenapa bad mood nggak bikin lo melotot kan?" kini Mila bisa tersenyum tipis karena celetukan Alfin tadi.
"Bad mood gara-gara lihat abang gue sama Ria." jawab Mila.
"Ohh tadi pacarnya Ria itu abang lo?" tanya Alfin penasaran, Mila langsung menggeleng cepat.
"Nggak, bukan... masih gue comblangin."
"Tapi berhasil kayaknya, si Ria udah diantar jemput padahal Ria tadi bawa mobil kan?"
"Iya, ahh udah nggak usah dibahas lagi, ntar gue marahin aja di rumah."
"Nah gitu doong semangat hhahaha, tadi lo cemberut mulu sih."
"Sori Fin..." Mila menyesap minumannya.

***

Mila duduk tenang sambil membaca novel yang sudah lama tidak dia baca. nggak lama, terdengar suara langkah kaki mendekati kamar Riki. pasti dia baru pulang, kemana aja sih sama Ria. pintu sebelah tertutup dan terdengar seseorang duduk ke tempat tidur. Mila langsung menuju ke kamar Riki dan memarahinya.
"Bang, lo tuh keterlaluan yah! ada adek yang nggak bawa kendaraan malah ngasih tumpangan ke Ria..." bentak Mila saat membuka pintu kamar Riki. dan terlihat cewek yang pernah dia lihat, tapi Mila langsung kembali ke kamarnya.
siapa cewek yang ada di kamar Riki? terus Riki kemana?? teriak batin Mila.
kemudian terdengar ketukan pintu pada kamar Mila.
"Mbak maaf, bisa minta tolong bilangin ke mas yang tadi nolongin saya kalau saya sudah pulang ya." kata perempuan itu. tapi Mila tetap tidak membukakan pintu kamarnya. karena penasaran siapa perempuan itu, Mila akhirnya membuka pintu kamarnya.
"Abang saya sekarang kemana Mbak?"
"Dia mengantarkan ceweknya pulang, tadi Masnya nggak sengaja nabrak saya."
"Ya ampuuuun kok bisa sih?"
"Emm, sepertinya wajah Mbak seperti pernah tahu." kata perempuan itu sambil menarik boleronya erat
Mila teringat cewek yang memaksa untuk menggandeng tangan Alfin, cewek seksi itu. "Pacarnya Alfin ya?" teriak Mila kaget.
Perempuan yang sedaritadi menyenderkan badannya di tangga akhirnya ikut kaget karena dia mengingat siapa Mila.

-Bersambung-




Monday, September 8, 2014

Here Without You

Posted by ceritacurhatku at 5:35 AM 0 comments
"Kita putus..." ucap Mila pada Bayu, kekasihnya yang dipacari baru 2 bulan lamanya. gimana nggak putus, Bayu itu orangnya kaku. mau ke rumah Ria nggak boleh katanya dia nggak percaya kalau Mila tuh datang langsung ke rumah Ria. padahal Ria tuh cewek kali...
terus ada lagi sewaktu kerja kelompok sama Teguh juga gitu, ya Mila tahulah kalau memang Teguh suka sama Mila. tapi Mila tahu diri dong, dia sadar kalau dia sudah punya Bayu. Mila sudah janji nggak akan mengurusi masalah Teguh yang memang tergila-gila sama Mila dari awal perkuliahan. namanya cowok cemburuan Bayu marah besar tahu kalau Mila datang ke kosan Teguh padahal niatnya cuma mau buat tugas himpunan. karena memang Mila orangnya nggak suka dikekang akhirnya dia putuskan Bayu. itu sudah Fix!
"Tapi La.. aku sayang sama kamu.." kata Bayu berharap ucapan Mila ditelan lagi.
"Nggak Bay, gue sudah bosen sama ocehan lo yang nggak bolehin gue kesana kemari. lo bukan bokap atau nyokap gue jadi please tinggalin gue. Gue mau hidup bebas." jelas Mila sambil meninggalkan Bayu yang tertunduk lesu. Mila masuk ke mobil Ria yang sudah terparkir di depan cafe tempat dia meluapkan kemarahannya.
"Gimana La?" tanya Ria dengan muka yang sangat khawatir. takut kalau sahabatnya ini salah ambil keputusan dan kecewa.
"Yeeessss... gue bebas Ya! gue bebaaaaassss !!" teriak Mila di dalam mobil sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
"Beneran lo nggak apa-apa nih putus kayak gini ?"
"Nggak Ya.. gue iklas seiklas-iklasnya buat keluar dari penjara Bayu."
"Tapi waktu jadian bulan lalu lo seneng banget jadian sama Bayu." ucap Ria dengan tenang.
"Itu dulu Ya. dia asli beda banget nggak kelihatan kalau dia itu posesif. baru aja dua bulan, gimana kalau setahun. tahu sendiri kan kalau gue nggak suka dikekang." jelas Mila dengan bebas tanpa beban.
"Gue mau pizza sama ice cream doong..." pinta Ria sambil mengusap perutnya tanda kalau dia lapar.
"Ahh elo.. ada juga kalau jadian traktiran Ya, lah lo malah putus minta traktiran..." kata Mila sewot.
"Lo kalau lagi bahagia kan iklas-iklasin duit gitu La... orang cuma nraktir gue pasti gampanglaaah." dengan tampang sewot, Mila meng-iyakan permintaan Ria yang lagi kelaparan.
sesampainya di cafe, Ria langsung memilih tempat yang dia suka dan memesan apa yang dia mau. Mila yang kebingungan mencari uang dalam dompet, takut kalau Ria memesan yang mahal tapi uang Mila nggak cukup. tiba-tiba seorang laki-laki menyodorkan KTP Mila yang jatuh di lantai.
"Sori. ini jatuh Mbak..." kata cowok itu. yang kemudian melihat ke arah Ria dengan muka mengingat-ingat. "lo Ria bukan? anak 65 kan?" tanyanya lagi, kali ini berhadapan dengan Ria yang melahap spaghettinya dengan lahap.
"Lo Alfin kan?" tanya Ria balik. "hei Fin, apa kabar lo?" tanya Ria sambil menjabat tangan Alfin dengan akrab. "oh, iya ini teman gue yang waktu SMA sering kita buat lucu-lucuan." jelas Ria. Mila yang kesal dengan kata 'lucu-lucuan' langsung mencubit pelan lengan Ria.
"Mila..."
"Alfin..."
"Duduk sini aja Fin, lagian banyak yang penuh tuh. sendirian kan ?" tanya Ria sambil mempersilahkan Alfin duduk.
"Gue sama temen kantor. Lagi ke toilet katanya..."
"Udah kerja ?" tanya Mila ikut nimbrung.
"Dia udah... kita aja yang kelamaan skripsinya." ucap Ria dengan spaghetti penuh di mulutnya diikuti desahan nafas Mila.
"Kenapa jadi depresi begini ?" tanya Alfin yang keheranan melihat ekspresi Mila.
"Eng.. nggak apa-apa kok." jawab Mila.
"Santai saja, pasti cepet kelar kok. ehh, itu dia teman gue... Sil..." panggil Alfin sambil melambaikan tangannya.
dan datanglah seorang cewek dengan pakaian kantor yang rapi dengan rok selutut dan kemeja yang pas di badan dia tapi tidak ketat.
"Ini Sesil, dia temen sekantor gue..." jelas Alfin sambil memperkenalkan cewek yang ada di sebelahnya. dan cewek itu membalas dengan senyuman canggung. "ini Ria, temen satu SMA gue dulu.. ini Mila, temen kecilnya Ria."
karena meja di cafe ini sudah penuh, mereka berdua duduk di meja Mila dan Ria. entah berapa lama mereka bicara sampai Alfin berpamitan terlebih dahulu. dan cewek itu -Sesil- berjalan di belakangnya sambil berusaha menggandeng tangan Alfin.

***

"Ceweknya kali..." jawab Ria di dalam mobil, Mila yang sedaritadi kepo tentang Alfin dan Sesil jadi suka bertanya terus-terusan.
"Iya kali." Mila tiba-tiba terlihat murung mendengar jawaban Ria.
"Kenapa lo? naksir Alfin?" tanya Ria kaget.
"Ihh gila aja, baru aja putus ntar dikira gue nyelingkuhin Bayu lagi." balas Mila dengan muka jelek.
sesampainya di rumah, Mila bersandar di pinggir tempat tidurnya sambil melihat banyak sms dan telepon dari Bayu. Mila tidak menghiraukan semuanya, dia tiba-tiba teringat wajah Alfin yang memberikan KTP Mila tadi dengan senyuman yang menurut Mila sangat keren.
'Beneran cewek seksi tadi pacar Alfin.. ihh kenapa gue mikirin cowok yang baru gue kenal..' batin Mila galau.
tiba-tiba handphone Mila berdering lagu Be Alright-nya Justin Bieber. dan nomor yang terpampang tidak ada dalam kontaknya.
"Halo ? Siapa ini ?"
"Hai Mil.. ini gue Alfin..."
Deg... apa-apaan ini, kenapa dia bisa tahu nomor handphone gue ?
"Emm.. iya Fin ada apa ya ?" tanya Mila dengan napas yang harus dia atur. Mila berpindah dari kamarnya ke depan balkon.
"Nggak gue cuma mau telpon lo, gue dapat nomer dari Ria." jelas Alfin yang nggak kalah nerfousnya.
"Ohh..."
"Pasti lo lagi mikir, darimana gue dapet nomer lo?" tebak Alfin yang langsung bikin wajah Mila berubah merah. Mila dengan gelagapan bingung mau jawab apa. "kok diem? becanda gue..." celetuk Alfin sambil tertawa pelan.
obrolan sedikit lancar daripada awal pembicaraan tadi. Mila sudah cekikikan dengar candaan Alfin yang memang lucu. nggak tahu kalau yang diajak ngobrol si Ria, paling Ria sudah ganti topik lain. setelah Alfin menutup teleponnya, seseorang mengagetkan Mila dengan memuku pundaknya keras.
"Aduuuhhh..." teriak Mila kesakitan.
"Cieee.. yang telepon Bayu sampai mulut nggak berhenti senyum."
"Apaan sih, dateng-dateng ngagetin orang aja senengnya." semprot Mila yang masih mengusap pundaknya. "bukan Bayu lagi tauu..." lanjutnya sambil meninggalkan abangnya yang meringis puas ngerjain adiknya.
"Punya pacar baru lo?"
"Emangnya kenapa? emang cuma abang Riki aja yang bisa punya pacar banyak..." jawab Mila, dan langsung Riki mengejar Mila sampai dalam kamar dan memutar-mutarkan tubuh Mila.
"Bang... ampuuuuunn turunin gue nggaaaak!! pusiing tauuuu!" teriak Mila dengan tubuhnya yang berusaha melepaskan diri dari abangnya yang jahil.
Setelah melepaskan "gendongan maut" Riki, Mila langsung mengusir abangnya keluar dari kamar.
"Dasaaar abang begoooo!" teriak Mila dan disambut tawa Riki yang terbahak-bahak terdengar dari luar kamar Mila.

***

Keesokan harinya, Mila mendapatkan sms dari Alfin yang nggak pernah dia duga. Mila mengira kalau Alfin hanya basa-basi sewaktu di telepon tadi malam.

Hai cantik...
Have a nice day ya :)

"Ya, lihat deh..." Mila menyerahkan handphonenya pada Ria. Tiba-tiba, ckiiiitttt... Mobil yang disetir Ria langsung mendadak berhenti. "pelan-pelan kenapa sih Ya?" bentak Mila.
"Si Alfin kesambet apaan tiba-tiba ngirim pesan beginian?" tanya Ria heran. Mila hanya menggedikkan bahunya tanda tidak tahu.
"Berarti terbukti, cewek yang kemarin bukan pacarnya..." celetuk Mila.
"Ihh, jangan ge-er dulu napa Mil." balas Ria yang sekarang menjalankan mobilnya lagi.

Ndut, besok ikut gue ya ke villa. kumpul sama temen-temen
ada Bayu juga lhoooh...

"Sialan... malah ogah ikut gue..." bisik Mila.
"Siapa? Alfin lagi?"
"Bukan, si Riki. ngajakin gue kumpul sama temen SMAnya dulu."
"Ada Bayu doong?" tanya Ria dengan nada yang histeris.
"Ogah ikutlah gue..." sewot Mila yang dibarengi tawa jahil Ria.
Sesampainya di kelas, Ina teman selain Ria mendekati Mila dengan histeris. Ina membawa seperti selebaran kertas dengan ekspresi yang bahagia.
"Milaaaaa..." teriak Ina.
"Apaan Na?" tanya Mila sambil meletakkan tasnya.
"Eh.. Tulus mau ke kampus kita lhooo...!"
"Sumpaaaah Na? kapan?" balas Mila nggak kalah histerisnya. Mila lalu merebut selebaran yang dipegang Ina. Mata Mila tidak berkedip karena memang idola yang dia suka mengadakan mini concert di kampusnya.

Ria makan dengan lahap seperti biasa di kantin gedung sebelah. Mila yang sedaritadi tidak henti-hentinya membicarakan soal konser Tulus minggu depan.
"Ya, ikut yaaah? pleaseee..." pinta Mila.
Ria yang sedang menikmati makanannya tidak menghiraukan peemintaan Mila yang sudah memberi ekspresi muka memelas.
"Ikut kemana ndut?" tanya Ria yang akhirnya makanan di depannya habis.
"Nggak denger gue cerita daritadi?"
"Cerita apaan emang lo?" tanya Ria bingung.
"Sialan lo, nggak perhatiin gue ckckck... makanan mulu yang dipikirin." sewot Mila.
"Makanan tuh harus dinikmatin dong, masa cuma dilihatin doang, kan mubadzir tahuu. makanan itu... " diputusnya penjelasan tentang makanan karena Mila memperlihatkan ponselnya lagi. "gila nih temen gue... jatuh cinta beneran apa modusin temen gue aja."
ponsel Mila terpampang jelas sms Alfin yang memang dari tadi pagi mengirimkan pesan pada Mila.

Minggu depan ada acara?
mau temenin gue nonton Tulus?

"Eh, lo ya yang bilang kalau mau nonton Tulus?" tanya Mila menyelidiki mulut ember sahabat yg satu ini.
"Gue baru tahu pas lo yang ngajakin sekarang tauuk..."

-Bersambung-















 

Freedom... Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review