"Terus siapa lagi yang kenal Alfin selain gue sama lo Riaaaa" ucap Mila yang kali ini bingung kenapa Alfin tahu apa yang dipikirkan dan dilakukan Mila. berasa Alfin tuh stalker atau jangan-jangan Alfin itu dukun? tiba-tiba...
"Eh begooo... tuh di sana, lihat!" teriak Ria sambil menunjuk ke baliho besar di depannya.
tertulis,
MiniConcert Tulus at Univ.GrahaKencana Bandung at 5pm until end
"Begooooo, hwahahahahhaa..." Mila langsung tertawa disusul Ria yang terbahak-bahak.
"Pantesan Alfin tahu kalo ada acara di kampus. hwahahahaha... dasar lo nethink mulu..." cibir Ria yang sekarang sudah tenang.
"Terus enaknya gue bales apa nih ke Alfin, kan gue udah ngajak elo."
"Alaaah, pake sungkan segala. udah mau aja, ntar gue sama abang lo aja gimana?"
"Ngajak Riki? aduuh nggak ada yang lain apa." jawab Mila jengah.
"Ihh kayak lo nggak tahu gue aja."
"Idiih, suka dari jaman orok sampai sekarang nggak ngaku-ngaku..." giliran Mila yang mencibir Ria.
"Go with the flow aja kaleee..."
"With the flow? ntar kebablasan, abang gue ntar disamber cewek lain lagi baru tahu rasaaaa..."
"Udah putus sama cewek menor kemaren itu?" tanya Ria dan dibalas anggukan malas oleh Mila. "aseeek, gue ada kesempatan dong habis ini..."
"Ahh, elo ada kesempatan dikit aja juga ogah maju-maju kale Ya. Udah ahh, nggak usah bahas Riki lagi... ini gimana nih balesnya?" tanya Mila sambil menyodorkan ponselnya.
"Iyain ajalaah..." jawab Ria santai.
Sesampainya di rumah Mila menuju ke kamar Riki, karena terpaksa...
Mila diberikan 'amanah' dari Ria, kalau Riki harus ikut. dalam mobil tadi Ria menggunakan jurus mata kucingnya. dia memohon kalau Riki harus ikut. Ria berpikir kalau Mila bareng Alfin, terus nanti Ria sama siapa, dan keputusan Ria, dia harus bersama Riki. dasar seenaknya aja...
"Baaaang, gue masuk ya?" Mila membuka kamar Riki dengan pelan. dia melihat abangnya tidur di meja kerjanya dengan earphone dikedua telinganya.
Mila jadi nggak tega ngebangunin abangnya yang kayaknya lagi capek banget. Riki terbangun saat Mila menginjak console game yang tergeletak di lantai.
"Wadooooohhh..." mendengar suara Mila menjerit kesakitan Riki langsung terbangun karena kaget.
"Kenapa lo?" tanya Riki sambil menghampiri Mila yang sedang memegangi kakinya.
"Bang, kalau selesai main diberesin doooong!"
"Waaaaaa... stick gueeee" teriak Riki mengambil gamestick console-nya yang terinjak Mila. diusap-usapnya stick console miliknya dengan sayang, dan Mila makin gondok melihat tingkah abangnya.
"Jadi stick pe-es lo lebih berharga daripada adik sendiri. oke cukup tahu aja..." Mila melangkah pergi dengan sedikit terpincang. Riki yang bercanda langsung menggandeng adiknya dan menuntunnya di kursi kerjanya.
"Sori..sori gue cuman bercanda..." ucap Riki tulus.
"Becanda lo keterlaluan kali Bang." kata Mila yang masih sewot.
"Iya..iya, sori... lo tumben ke kamar gue, ada apa?"
"Ria ngajak lo ke konsernya Tulus minggu depan. mau nggak ?"
"Kenapa lo yang ngomong... suruh Ria yang ngomong, kalau nggak gue ogah nemenih dia." jelas Riki.
"Oke, gue telepon dia sekarang."
"Tapi ada syaratnya..."
"Apa syaratnya? pake syarat segala kayak beli mobil aja." cibir Mila.
"Lo harus ikut ke reunian gue besok malem!" perintah Riki dengan gaya bossy.
"Ogaaah! pasti ntar sama cewek baru lo dan gue lagi-lagi jadi obat nyamuk." tolak Mila dan berusaha untuk keluar daru jebakan Abangnya.
"Eh betewe, si Ria kenapa nggak ngajak lo?" tanya Riki. Mila gelagapan memberi jawabannya. "ehh, malah bengooong" dicubitnya pipi Mila sampe melar.
"Aduuuh, sakit tauuu! gue diajak temen SMA gue buat nonton bareng." jelas Mila sambil memegang pipinya yang saat ini pasti memerah.
"Cowok?"
"Gue nggak perlu jawab kan? udah tahu gitu..." balas Mila yang keluar dari kamar Riki.
"Awas besok lo nggak ikut, gue batalin nemenin si Ria" teriak Riki dari dalam kamar. Lagi-lagi Riki merasa sakit di dadanya. dia tidak merasa kalau dia sedang cemburu.
***
"Eh Yaya.. lo disuruh ngomong sendiri tuh sama Riki." kata Mila yang sedang menghubungi Ria, biar semuanya lancar Riki harus mau nemenin Ria di konser minggu depan.
"Gila, gue nerpes tahu kalau disuruh ngobrol sama Riki."
"Lo mau nggak sih dateng sama abang gue. kalau nggak ya ntar gue bilang nggak jadi aja. usaha dikit napa sih, gue sampe nginjek stick pe-esnya dia tauk waktu gue nyelinap kamar Riki."
"Lagian, lo ngapain pake nyelinep segala? kayak maling aja..." cibir Ria.
"Ihh ya udah kalo nggak mau ngomong sendiri. gue tutup telponnya nih..." ancam Mila.
"Ehhh... iya iya, habis ini gue telepon. dasar lo... udah gue matiin teleponnya. assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." balas Mila. "dasar, gue yang telepon malah dia yang nutup duluan."
nggak lama, terdengar Riki mengejek-ejek nama Yaya. panggilan Ria dari kecil.
"Tumben lo nelepon gue? ada apaan?" tanya Riki, pura-pura nggak tahu. Mila yang di balkon hanya cekikikan mendengar gurauan abangnya.
"Rasain lo, biar tahu rasa gimana rasanya deg-degan... hahaha" batin Mila.
***
"Gimana kemaren?"
"Lo nggak lihat gue masih pucet?"
"Aduuh kayak nggak akrab aja sama Riki. kita temenan dari kecil tauuu tidur juga bareng-bareng." celetuk Mila.
"Gila, kita udah umur 22 La, lo bilang tidur bareng? oh my Gooood."
Kalau udah panik, nervous, si Yaya bakal kayak gini, aksinya lebaay mulu. besok baru balik seperti biasa.
"Baru kali ini gue nerpes banget La, untung nggak herpes gue." jelas Ria yang nggak henti-hentinya bercerita bagaimana rasanya teleponan sama orang yang disukai.
sampai istirahat makan siang, Ria masih belum bercerita tentang pembicaraannya dengan Riki. Mila sudah pasrah mendengarkan celotehan dia soal perasaanya.
"Ya, gimana? Riki mau nggak nemenin lo? daritadi ditanyain nggak dijawab..." kata Mila sewot.
"Riki mau Laaaa! Riki mauuuu!" teriak Ria sambil memegang tangan Mila dan loncat kegirangan, sampai semua mahasiswa yang sedang makan di kantin melihat ke arah mereka berdua.
"Yeessss! akhirnya lo ada temennya, nggak gue kacangin ntar..."
"Ihh, sialan lo. gue ditinggal-tinggal."
"Yang penting lo bisa sama Riki kaaaan. hhahaha..." Mila tersenyum puas bisa memasangkan Ria dan Riki bersama. akhirnya sahabat satu-satunya bisa punya gandengan.
Pulang dari kampus, Mila berencana ingin membeli dress yang selama ini dia incar di salah satu mall. Ria yang sedang tidak mengerjakan apa-apa di kampus akhirnya ikut menemani Mila.
Tapi saat menuju ke parkiran mobil. seperi ada seseorang yang memanggil Mila.
"Hai Laa... Oii Ya..." sapa seorang cowok yang memakai kaos polo biru tua dan jeans abu-abunya datang dengan senyuman yang lebar.
"Alfin??" sahut dua cewek yang ada di depan Alfin.
"Lo ngapain ke sini?" tanya Ria bingung.
"Sori Ya, gue mau nyamperin Mila bukan lo." kata Alfin dengan nada candaan.
Mila yang masih kaget dengan datangnya Alfin ke kampusnya adalah hal yang langka. Mila dan Alfin belum secara langsung ngobrol seperti ini selain Mila bertemu Alfin dengan cewek seksi waktu itu.
Mila yang masih kaget dengan datangnya Alfin ke kampusnya adalah hal yang langka. Mila dan Alfin belum secara langsung ngobrol seperti ini selain Mila bertemu Alfin dengan cewek seksi waktu itu.
Mila masih bingung dengan kedatangan Alfin di kampusnya. Alfin yang hanya melihat ke arah Mila bikin Ria jengkel, kenapa temannya satu ini nggak kabar-kabari kalau mau ketemu Mila jadi Ria bisa punya alasan buat ninggalin mereka.
Tiba-tiba ponsel Ria berbunyi, dan tertera nama Riki di layar. Ria malah seperti orang kena stroke, dia langsung teriak dan berkata terbata-bata saat menjawab telepon Riki. Riki malah terbahak-bahak melihat suasana Mila dan Ria yang ada di depannya. Rencananya, Riki mau mengajak Mila untuk mengantar dia membelikan kemeja untuk acara reuni besok, karena dia sudah melihat ada cowok yang mendekati adiknya dan ada Ria di sebelahnya. Ria menjadi pengalih perhatiannya...
"Kenapa nggak bilang kalau mau ke kampus sih Rik?" tanya Ria yang sudah ada di dalam mobil.
"Nggak apa-apa, lo mau kan ikut gue?" tanya Riki sambil menghidupkan mesin mobilnya. dan sudah diduga dua orang yang di depan bingung melihat Riki ada di sana, dan Mila cemberut nggak karuan dengan muka memerah karena marah.
Tiba-tiba ponsel Ria berbunyi, dan tertera nama Riki di layar. Ria malah seperti orang kena stroke, dia langsung teriak dan berkata terbata-bata saat menjawab telepon Riki. Riki malah terbahak-bahak melihat suasana Mila dan Ria yang ada di depannya. Rencananya, Riki mau mengajak Mila untuk mengantar dia membelikan kemeja untuk acara reuni besok, karena dia sudah melihat ada cowok yang mendekati adiknya dan ada Ria di sebelahnya. Ria menjadi pengalih perhatiannya...
"Kenapa nggak bilang kalau mau ke kampus sih Rik?" tanya Ria yang sudah ada di dalam mobil.
"Nggak apa-apa, lo mau kan ikut gue?" tanya Riki sambil menghidupkan mesin mobilnya. dan sudah diduga dua orang yang di depan bingung melihat Riki ada di sana, dan Mila cemberut nggak karuan dengan muka memerah karena marah.
***
"Kenapa cemberut La?" tanya Alfin yang sedang menemani Mila memilih baju yang ingin dibelinya. Mila hanya membalas gelengan dan kembali fokus pada pakaian yang di depannya.
"Nanti langsung pulang aja ya Fin." pinta Mila.
"Nggak makan dulu? makan dulu baru pulang yah?" ajak Akfin yang kali ini dia merasa kalau mood Mila turun drastis sejak dia datang ke kampusnya.
Mila balas mengangguk malas.
selesai membeli dress yang dia pengen, dan Alfin terus mengajaknya untuk makan akhirnya mereka berada di tempat fast food. Mila cepat memilih dan memakannya, nggak tahu kenapa mood dia turun drastis sejak Riki datang menjemput Ria. Kenapa Mila malah marah nggak karuan begini? apa gara-gara Riki menjemput Ria bukan adik kesayangannya.
"Kenapa gue jadi brother complex gini sih?" gumam Mila.
"Ada apa La?" tanya Alfin yang sudah khawatir sejak tadi.
"Nggak... nggak apa-apa kok Fin." jawab Mila gelagapan.
"Kenapa jadi bad mood gitu sih? gara-gara gue dateng ke kampus? atau gara-gara gue ngusir Ria secara halus?" tanya Alfin, dan pertanyaan kedua bikin Mila melotot ke arahnya. "sori...sori gue becanda, tapi nanyain lo kenapa bad mood nggak bikin lo melotot kan?" kini Mila bisa tersenyum tipis karena celetukan Alfin tadi.
"Bad mood gara-gara lihat abang gue sama Ria." jawab Mila.
"Ohh tadi pacarnya Ria itu abang lo?" tanya Alfin penasaran, Mila langsung menggeleng cepat.
"Nggak, bukan... masih gue comblangin."
"Tapi berhasil kayaknya, si Ria udah diantar jemput padahal Ria tadi bawa mobil kan?"
"Iya, ahh udah nggak usah dibahas lagi, ntar gue marahin aja di rumah."
"Nah gitu doong semangat hhahaha, tadi lo cemberut mulu sih."
"Sori Fin..." Mila menyesap minumannya.
***
Mila duduk tenang sambil membaca novel yang sudah lama tidak dia baca. nggak lama, terdengar suara langkah kaki mendekati kamar Riki. pasti dia baru pulang, kemana aja sih sama Ria. pintu sebelah tertutup dan terdengar seseorang duduk ke tempat tidur. Mila langsung menuju ke kamar Riki dan memarahinya.
"Bang, lo tuh keterlaluan yah! ada adek yang nggak bawa kendaraan malah ngasih tumpangan ke Ria..." bentak Mila saat membuka pintu kamar Riki. dan terlihat cewek yang pernah dia lihat, tapi Mila langsung kembali ke kamarnya.
siapa cewek yang ada di kamar Riki? terus Riki kemana?? teriak batin Mila.
kemudian terdengar ketukan pintu pada kamar Mila.
"Mbak maaf, bisa minta tolong bilangin ke mas yang tadi nolongin saya kalau saya sudah pulang ya." kata perempuan itu. tapi Mila tetap tidak membukakan pintu kamarnya. karena penasaran siapa perempuan itu, Mila akhirnya membuka pintu kamarnya.
"Abang saya sekarang kemana Mbak?"
"Dia mengantarkan ceweknya pulang, tadi Masnya nggak sengaja nabrak saya."
"Ya ampuuuun kok bisa sih?"
"Emm, sepertinya wajah Mbak seperti pernah tahu." kata perempuan itu sambil menarik boleronya erat
Mila teringat cewek yang memaksa untuk menggandeng tangan Alfin, cewek seksi itu. "Pacarnya Alfin ya?" teriak Mila kaget.
Perempuan yang sedaritadi menyenderkan badannya di tangga akhirnya ikut kaget karena dia mengingat siapa Mila.
-Bersambung-
0 comments:
Post a Comment