Singkat cerita gue di php.in cowok namanya gue samarin jadi Irul dia temen SMP gue. Awal hubungan gue dan Irul berteman baik, namanya masih ababil gue gampang buat jatuh cinta. Alhasil gue naksir Irul.
awalnya gue nggak ngegubris dengan perasaan gue, dan tetep temenan bareng Irul. Tapi beberapa bulan, gue kenal Irul ternyata dia punya banyak gosip dengan cewek lain dan pastinya gue nggak percaya dong sama omongan orang lain, namanya juga yang digosipin tuh cowok yang gue suka. Dan disisi lain, gue punya temen baik namanya Yudith. Dia temen yang lucu dan setia kawan banget. Nggak ada angin, nggak ada badai. Saat gue dan temen yang lain diundang ke acara ulang tahunnya Yudith. Dan kebukalah rahasia Yudith selama ini. Dia jadian sama Irul..
Gue asli nggak bisa marah atau cemburu dengar berita itu. Karena gue memang nggak cerita apa-apa ke Yudith soal cowok yang gue suka. Dan lama-kelamaan, gosip datang lagi. Yudith bilang kalau dia putus sama Irul. Kok bisa? gue nggak berani bilang gitu, jadi gue hanya diam menunggu sahabat gue itu cerita. Sampai akhirnya kita terpisah sekolah dan kqmpus. Gue dan Yudith jarang ketemu lagi. Dan Irul? dia tetep kontakan sama gue, dan itu bikin gue sedikit hati-hati dengan sikap Irul. Sebelum kelulusan SMP dan pas setelah Yudith bilang kalau mereka putus. Gue lihat Irul jalan bareng sama adek kelas. Yah, gue nggak heran siapa aja juga suka sama Irul. Wajah gantengnya, gaya supelnya, dan cara dia menatap lawan bicaranya yang bikin gue klepek-klepek sama dia.
6 tahun gue nggak ketemu Irul secara langsung. Nggak tahu gimana keadaan dia sekarang. Dan saat gue ngelanjutin kuliah di kota Bandung. Irul janji bakal ngajakin gue ketemuan.
Beberapa minggu setelah gue kuliah di Bandung, gue nagih janji Irul buat nemenin gue muter-muter kota Bandung.
Dan disinilah, kebodohan gue muncul. Gue nggak berhati-hati buat jaga hati gue. Dengan manner yang dia punya, itu membuat perubahan pendapat gue kalau dia sudah nggak se-playboy dulu. Gue akhirnya sedikit mengikuti arah permainan Irul yang kadang gombalannya bikin gue merinding. Dan cara ngomongnya itu yang bikin dagdigdug. Pertemuan kedua inilah puncak kebodohan gue. Saat itu ada pentas seni di kampusnya. Gue diajakin buat ikutan nonton kesana. Meskipun jauh, gue tetep mau apalagi yang ngajak itu Irul. Waktu itu kita makan terlebih dahulu, takut kalau di dalam nggak bisa makan. Dan disana kita sudah seperti orang pacaran. Setiap jalan, dia selalu menggandeng tangan gue. Serasa ada listrik di tangan gue yang membuat gue sedikit risih tapi yasudahlah hehe.
Pertunjukan dimulai. Tangan gue tetep digenggamnya. Dia tahu gue sedikit nggak nyaman akhirnya dia lepas. Tapi gue nggak mau ngelepasin dia juga akhirnya gue memberanikan diri menggandeng tangannya lagi. Sampai akhir pertunjukan, tangan kita masih tetap bergandengan. Entah apa yang ada dipikiran gue, hari ini sangat membahagiakan gue. Dengan baju baru yang gue siapkan buat dia, sampai minta pendapat teman kuliah gue yang saat itu ada di kamar kost gue buat milihin mana baju yang pas buat nemenon kaos oblong ini. Gue mempersiapkan wajah yang gue kasih make up tipis, gue mau terlihat cantik di depan Irul yang juga malam itu terlihat lebih ganteng dengan potongan rambut yang baru.
Keluar dari ruangan, Irul lagi-lagi menggenggam tangan gue. Sampai diparkiran tanganku tidak dia lepaskan. Oh my God.. gue bener-bener mati di depan dia.
Gue nggak diantar langsung ke kost gue, dia ngajak gue muter-muter kota Bandung sampai malam. Nggak sampai larut malam, Irul sudah ngantar gue pulang. Di depan gerbang gue nunggu dia buat pulang duluan. Tapi dia menyuruh gue buat masuk ke rumah dulu baru dia yang pergi. Gila mannernya nggak ilang-ilang coba dari dulu. Asli itu tambahan nilai buat vowok mantan playboy macem Irul.
Dan pada akhirnya, dia nggak ada kabar. Berawal dari ngerjain skripsi sampai beberapa bulan ini dia tidak pernah ngehubungin gue seperti dulu. Tiba-tiba ada temen gue yang tahu tentang cerita gue dan Irul akhirnya buka suara kalau Irul sering muncul di depan kost Mayang. Mayang itu temen SMP, SMA sampai kuliah saat ini. Meskipun gue nggak begitu berteman akrab dengan dia. Tapi gue kenal Mayang. Sialan tuh cowok!!
Setelah kabar itu muncul, gue nggak ngegubris lagi semua tentang Irul. Gue cukup sakit hati dengar kabar itu. Sahabat gue Wulan yang juga kenal Irul semasa SMAnya sedikit kecewa dengan sikap Irul. Yak, ternyata dia nggak berubah tetep playboy kelas kakap. Sepertinya dia ngasih moment buruk terus di depan gue.
Mayang sepertinya sudah sering jalan bareng Irul tiap malam minggu. Dan sepertinya dia sudah masuk keperangkap sialan seorang Irul. Tapi gue mau gimana lagi. Nggak mungkin gue ngehancutin hubungan mereka apalagi Mayang temen gue. Dan gue nggak mau nyakitin Mayang.
Sampai pada suatu malam, gue bertemu nggak sengaja di depan teras saat gue mau keluar dengan Wulan. Dia menatap gue dengan wajah yang sungkan, takut, atau dia nerasa bersalah ke gue karema ninggalin gue dan ketangkep keluar bareng Mayang. Ya ampuuuunnn.. rasanya hati gue seperti keiris ngelihat ekspresi dia. Seminggu setelah kami bertemu dan tepat dia ulang tahun, kita bertemu lagi di depan teras saat mengantarkan Mayang pulang. Dia bilang dengan terang-terangan kalau gue mau diajaknya pergi buat makan alias traktiran ulang tahunnya. Dia bego atau sengaja sih bilang gitu di depan Mayang? Tanpa jawaban, gue masuk dan menutup pintu depan kemudian masuk ke kamar. Gue nggak mau bertemu dan ngobrol dengan Mayang. Sebentar saja, gue pengen menghilangkan rasa cemburu gue saat ini.
Tiba-tiba, keesokan harinya Mayang datengin kamar gue dan nanyain soal Irul. Gila, gue harus jawab apaan coba kalau kayak gini. Yang Irul aslinya seperti apa, dikiranya gue dekwt banget kayak sahabt padahal gue udah pernah keluar berdua dan gandengan tangan pula. Gue akhirnya bilang kalau gue suka Irul semenjak SMP. Tapi sekarang sepertinya Irul suka banget sama Mayang. Gue nyerah aja deh. Biar mereka bahagia, meskipun gue tetep sakit hati.
Lebaran selesai, dan gue balik ke tanah rantau. Gue diceritain Wulan, jalau Irul dan Mayang udah jadian. Gue bingung harus sedih, marah atau gimana. Berasa dikhianatin, tapi Irul tuh siapa gue. Pacar bukan, gebetan bukan, mantan apalagi. Seenggaknya Irul minta maaf ke gue gara-gara ngegantungin hubungan gue dan dia yang dahulu. Ahh yasudahlah, iklaskan aja :')
Siapa aja ya...
Total Pageviews
Popular Posts
-
Dear Mantan Gebetan yang entah dimana... Halo gebetan, aku mau mengungkapkan semua yang ada di hatiku. Aku sudah suka kamu dari SMP tau. T...
-
Sebut saja aku Mike, aku mempunyai seorang pacar bernama Dina. dia baik hati, pintar, tidak sombong dan pasti rajin menabung. kita memiliki ...
-
aku ingin bercerita tentang seseorang yang sangat perhatian padaku. aku akui memang aku memiliki rasa suka padanya. tapi sayangnya dia hanya...
Thursday, November 6, 2014
Awas Tikungan
Categories
Freedom
Saturday, September 27, 2014
Here Without You IV
"Ki, nyanyiin 1 lagu dong, mumpung ada gitar tuh..." pinta Lisa yang duduk bersandar di samping Hendra.
"Gue udah lama nggak main gitar, ntar fals lagi."
"Yang fals ntar suara lo bang, bukan gitarnya" celetuk Mila yang duduk di sebelah Riki dibarengi tawa teman-temannya. Mila tahu kalau Riki suka bernyanyi dan main gitar. karena pekerjaannya dia jadi tidak pernah menyentuh gitarnya. Tidak lama Riki mengambil gitar dan mengambil nada yang pas.
"Ehem..ehem...
Beautiful girl, wherever you areI knew when I saw you, you had opened the doorI knew that I’d love again after a long, long whileI’d love again.You said “hello” and I turned to goBut something in your eyes left my heart beating soI just knew that I’d love again after a long, long whileI’d love again. "
semuanya bertepuk tangan saat Riki berhenti menyanyi."Terimakasih...terimakasih..." kata Riki sambil menjulurkan tangannya meminta bayaran ngamennya. kemudian Riki menengok Mila dan dia ikut tersenyum sambil pura-pura memberi Riki recehan.
Tidak sampai menginap di villa, Riki mengajak Mila pulang karena Riki tahu kalau adiknya tidak nyaman kalau menginap bersama orang lain yang tidak dia kenal. Riki mengajak Mila ke bukit bintang. tempat dengan banyak kerlap-kerlip lampu kota yang terlihat dari atas bukit."Uwaaaah... bang keren bangeeet" kata Mila saat turun dari mobil. Riki tidak menjawab dan mengikuti kemana arah Mila pergi. "Thanks buat hari ini La..." kata Riki yang masih melihat ke arah kerlip cahaya. Mila membalas dengan anggukan."Thanks juga buat lagunya, hhahahaha...""Geer banget lo jadi orang. siapa bilang itu lagu buat lo." balas Riki dengan muka memerah tapi tidak terlihat karena suasana yang sedikit gelap.Suasana sudah sedikit tenang, "Emm La...""Apa?""Besok mau nggak nemenin gue nengokin Leo?"Deg... jantung Mila nggak berhenti berdetak, dia mengingat dan nggak akan melupakan nama itu. Leo...
10 Tahun Yang Lalu"Abang Leo kemana Bunda?" tanya Mila yang tidak sekolah hari itu karena sakit demam."Abang Leo sekolah dong sayang... nanti sore pasti pulang kok." jelas Bunda yang saat itu menyuapi Mila yang masih terbaring di kamar.Mila karena sore itu sangat lama menurut anak kecil akhirnya Mila tertidur pulas. Mila terbangun karena ada orang yang masuk kamarnya. ternyata itu abangnya yang membawakan makanan kesukaan Mila."Abang dateeeng..." kata Mila bersemangat tapi tidak bisa berteriak seperti biasanya."Adek abang masih panas ya? ini abang bawain donat kesukaan Mila." kata Leo yang waktu itu baru pulang sekolah."Abang mauuu..."Leo dengan sabar menyuapi Mila yang sedang manja. Leo sayang sekali dengan Mila yang manis dan dia anggap masih seperti anak kecil, makanya dia manja sekali ke Leo."Haii Mila... udah sembuh belum?" tanya Riki yang waktu itu datang ke rumah Leo.Riki adalah anak teman Ayah Leo dan Mila, mereka sekeluarga tinggal di satu kompleks dengan Leo dan Mila. jadi mereka sering bermain bersama, Mila jadi merasa punya dua kakak yang sayang padanya.Saat Leo menginjak kelas 2 SMA dan Mila kelas 1 SMP mereka jadi tidak terlalu sering bersama. apalagi Leo mempunyai pacar yang sangat dicintainya. tapi rasa sayang Leo tetap pada Mila adiknya. Mila jadi sering bersama Riki daripada kakaknya sendiri. Mila pernah marah sewaktu Leo sudah berjanji mengantarkan Mila membeli buku, Leo malah pergi dengan pacarnya. katanya Leo sudah tidak sayang lagi pada Mila."Apa abang Riki jadi abang Mila aja ya?" tanya Mila waktu itu."Ehh, kan Mila punya abang Leo sama abang Riki, kenapa sama abang Leo?" tanya Riki."Abang Leo udah nggak sayang sama Mila." celetuk Mila sedih. Riki yang tahu keadaannya akhirnya menghibur Mila dengan permainan gitarnya. Mila ikut menyanyi bersama dan melupakan masalahnya dengan Leo yang sekarang bersama pacarnya.pada suatu hari, saat Leo akan pergi ke rumah pacarnya, Bunda sampai mengingatkan kalau Mila terus mencari Leo."Abang, jangan ngelupain Mila yah... dia nyari kamu terus lho" ata Bunda mengingatkan Leo. leo hanya mengangguk kemudian pamit pada Bunda dan pergi.Malamnya ada kabar kalau motor yang ditumpangi Leo menabrak mobil yang ada di depannya. dan saat itu Leo berboncengan dengan pacarnya. Leo mengalami patah tulang rusuk dan luka di kepalanya karena saat itu Leo lupa menggunakan helm saat keluar dari rumah pacarnya.di rumah sakit Riki datang setiap hari dan Mila selalu mengangis saat melihat keadaan Leo abangnya yang sangat dia sayangi.sebulan kemudian, sebelum Leo koma, Mila dan Riki datang ke rumah sakit menggantikan Bunda untuk beristirahat. Leo memberikan sebuah pesan kepada Mila dan Riki."Bro... jagain adek gue ya. kalau gue nggak ada tolong sayangi Mila seperti lo lakuin sampai sekarang" kata Leo yang melemas. Riki berusaha tenang dan menyimak apa yang Leo katakan."La, sini..." panggil Leo."Mila... besok sampai kamu jadi gadis cantik jangan bikin abang Riki nangis ya? bikin abang Riki senyum seperti abang sekarang." pinta Leo sambil mengusap kepala Mila sayang. Mila hanya mengangguk dan sedikit sesenggukan. "Mila pengen jadi gadis cantik kan?" sekali lagi Mila mengangguk dan menangis."Abang mau kemana? Mila janji nggak akan marah kalau abang pergi sama kakak Desy." kata Mila sambil menangis dan memegang tangan Leo erat."Bro, gue panggilin suster..." kata Riki panik, tapi kemudian tangan Leo mencegah Riki pergi."Ki, sebagai kakaknya Mila dan sebagai sahabat baik lo gue cuman minta jagain Mila dan titip Nyokap gue. Gue cuman pengen tidur, semalem tidur gue nggak nyenyak." jelas Leo.Riki yang panik menjadi tenang saat mendengar Leo hanya ingin tidur. Riki mencoba menghentikan tangisan Mila supaya Leo bisa tidur.Riki mengajak Mila keluar dari ruangan dan membelikan Mila makan. setau Riki Mila belum makan daritadi siang. 20 menit setelah mengajak Mila makan, mereka kembali ke ruangan Leo dirawat. ternyata ruangan Leo sudah dipenuhi oleh dokter dan suster yang datang dan mencoba untuk memompa jantung Leo. Mila yang tahu itu langsung berlari menuju Bunda dan memeluknya. Riki yang di depan pintu melihat Leo lemas dan pucat menjadi panik dan menangis. Leo sudah pergi dari tidurnya untuk selama-lamanya.sejak saat itu Riki meminta izin ke orang tuanya untuk tidak ikut pindah ke Belanda tapi pindah ke rumah Mila. Riki sudah diberi amanah oleh sahabat baiknya untuk menjaga Mila dan Bunda. untung orang tua Riki menyetujui itu dan memperbolehkan dia tetap di Indonesia. dan sampai saat ini Mila berumur 21 tahun Riki tetap setia dengan Leo dan keluarga.
"La??" tanya Riki membuyarkan lamunannya tentang abang kandungnya Leo. "denger gue nggak?" tanya Riki sekali lagi, Mila menjawab dengan anggukan dan senyuman."Besok siang ya habis kuliah aja bang..." pinta Mila dan kemudian hening menyelimuti kembali.Keesokan harinya Mila terlihat murung dan tidak biasanya dia seperti itu. Ria yang juga heran dengan sikap Mila akhirnya memilih diam. Ria tahu kalau Riki mengajak Mila ke makam Leo abang kandungnya.kelas hari ini begitu cepat rasanya, Riki sudah menunggu di depan kampusnya untuk menjemput Mila. Riki meminta maaf karena Ria tidak bisa ikut kali ini."La, jangan pasang muka sedih gitu..." celetuk Riki yang sedikt khawatir terhadap Mila yang murung hari ini.sesampainya di depan makam Leo, Mila bersimpuh dan membasahi nisan Leo. mencabuti rumput liar yang ada disekeliling 'rumah' Leo. setelah selesai membersihkan makam Leo, Mila dan Riki mulai berdoa untuk Leo yang ada di samping Tuhan."Hai Bang Leo, sori gue jarang mampir ke sini..." kata Mila sambil mengusap nisan Leo. "ada ujian nih akhir-akhir ini. eh Bang gue udah jadi gadis paling cantik sekampus.""Bohong adek lo Bro..." celetuk Riki dan dibalas dengan senggolan pelan."Aku masih bareng Riki kok Bang, jadi nggak usah khawatir. Riki emm... lumayan baik sih tapi kadang juga jahat dikiiiit..." jelas Mila, "diikiiit kok" Mila menunjukkan jari tangannya ke Riki yang sedikit sewot."Gantian gue yang ngomong..." kata Riki yang memotong pembicaraan Mila. "bro, gue minta izin ke lo boleh?" Mila yang mendengarkan langsung menengok ke arah Riki. "gue udah jagain adek lo selama ini, gue mau minta imbalan..."Mila langsung berubah ekspresi saat Riki berkata seperti itu."Kalau gue jagain Mila sampai ntar gue mati boleh? Maksud gue Mila buat gue boleh?" langsung sekujur tubuh Mila merinding mendengar perkataan Riki yang sudah dia anggap seperti Leo kedua di rumah. Mila tidak berani menjawab apa yang dikatakan Riki."Kalau lo ngebolehin, dateng ke mimpi gue ya kasih tahu boleh apa nggak..." lanjut Riki dengan senyum yang lebar."Ihh apa-apaan sih bang..." kata Mila kurang nyaman dengan perkataan Riki barusan. tapi Riki hanya tertawa melihat ekspresi Mila.Setelah mengobrol lama di makam Leo, mereka akhirnya pulang tanpa sepotong pembicaraan. Mila kagok dengan apa yang di bicarakan Riki tadi. dan Riki merasa menyesal telah bicara seperti itu tadi.
"Gue udah lama nggak main gitar, ntar fals lagi."
"Yang fals ntar suara lo bang, bukan gitarnya" celetuk Mila yang duduk di sebelah Riki dibarengi tawa teman-temannya. Mila tahu kalau Riki suka bernyanyi dan main gitar. karena pekerjaannya dia jadi tidak pernah menyentuh gitarnya. Tidak lama Riki mengambil gitar dan mengambil nada yang pas.
"Ehem..ehem...
Beautiful girl, wherever you areI knew when I saw you, you had opened the doorI knew that I’d love again after a long, long whileI’d love again.You said “hello” and I turned to goBut something in your eyes left my heart beating soI just knew that I’d love again after a long, long whileI’d love again. "
semuanya bertepuk tangan saat Riki berhenti menyanyi."Terimakasih...terimakasih..." kata Riki sambil menjulurkan tangannya meminta bayaran ngamennya. kemudian Riki menengok Mila dan dia ikut tersenyum sambil pura-pura memberi Riki recehan.
Tidak sampai menginap di villa, Riki mengajak Mila pulang karena Riki tahu kalau adiknya tidak nyaman kalau menginap bersama orang lain yang tidak dia kenal. Riki mengajak Mila ke bukit bintang. tempat dengan banyak kerlap-kerlip lampu kota yang terlihat dari atas bukit."Uwaaaah... bang keren bangeeet" kata Mila saat turun dari mobil. Riki tidak menjawab dan mengikuti kemana arah Mila pergi. "Thanks buat hari ini La..." kata Riki yang masih melihat ke arah kerlip cahaya. Mila membalas dengan anggukan."Thanks juga buat lagunya, hhahahaha...""Geer banget lo jadi orang. siapa bilang itu lagu buat lo." balas Riki dengan muka memerah tapi tidak terlihat karena suasana yang sedikit gelap.Suasana sudah sedikit tenang, "Emm La...""Apa?""Besok mau nggak nemenin gue nengokin Leo?"Deg... jantung Mila nggak berhenti berdetak, dia mengingat dan nggak akan melupakan nama itu. Leo...
10 Tahun Yang Lalu"Abang Leo kemana Bunda?" tanya Mila yang tidak sekolah hari itu karena sakit demam."Abang Leo sekolah dong sayang... nanti sore pasti pulang kok." jelas Bunda yang saat itu menyuapi Mila yang masih terbaring di kamar.Mila karena sore itu sangat lama menurut anak kecil akhirnya Mila tertidur pulas. Mila terbangun karena ada orang yang masuk kamarnya. ternyata itu abangnya yang membawakan makanan kesukaan Mila."Abang dateeeng..." kata Mila bersemangat tapi tidak bisa berteriak seperti biasanya."Adek abang masih panas ya? ini abang bawain donat kesukaan Mila." kata Leo yang waktu itu baru pulang sekolah."Abang mauuu..."Leo dengan sabar menyuapi Mila yang sedang manja. Leo sayang sekali dengan Mila yang manis dan dia anggap masih seperti anak kecil, makanya dia manja sekali ke Leo."Haii Mila... udah sembuh belum?" tanya Riki yang waktu itu datang ke rumah Leo.Riki adalah anak teman Ayah Leo dan Mila, mereka sekeluarga tinggal di satu kompleks dengan Leo dan Mila. jadi mereka sering bermain bersama, Mila jadi merasa punya dua kakak yang sayang padanya.Saat Leo menginjak kelas 2 SMA dan Mila kelas 1 SMP mereka jadi tidak terlalu sering bersama. apalagi Leo mempunyai pacar yang sangat dicintainya. tapi rasa sayang Leo tetap pada Mila adiknya. Mila jadi sering bersama Riki daripada kakaknya sendiri. Mila pernah marah sewaktu Leo sudah berjanji mengantarkan Mila membeli buku, Leo malah pergi dengan pacarnya. katanya Leo sudah tidak sayang lagi pada Mila."Apa abang Riki jadi abang Mila aja ya?" tanya Mila waktu itu."Ehh, kan Mila punya abang Leo sama abang Riki, kenapa sama abang Leo?" tanya Riki."Abang Leo udah nggak sayang sama Mila." celetuk Mila sedih. Riki yang tahu keadaannya akhirnya menghibur Mila dengan permainan gitarnya. Mila ikut menyanyi bersama dan melupakan masalahnya dengan Leo yang sekarang bersama pacarnya.pada suatu hari, saat Leo akan pergi ke rumah pacarnya, Bunda sampai mengingatkan kalau Mila terus mencari Leo."Abang, jangan ngelupain Mila yah... dia nyari kamu terus lho" ata Bunda mengingatkan Leo. leo hanya mengangguk kemudian pamit pada Bunda dan pergi.Malamnya ada kabar kalau motor yang ditumpangi Leo menabrak mobil yang ada di depannya. dan saat itu Leo berboncengan dengan pacarnya. Leo mengalami patah tulang rusuk dan luka di kepalanya karena saat itu Leo lupa menggunakan helm saat keluar dari rumah pacarnya.di rumah sakit Riki datang setiap hari dan Mila selalu mengangis saat melihat keadaan Leo abangnya yang sangat dia sayangi.sebulan kemudian, sebelum Leo koma, Mila dan Riki datang ke rumah sakit menggantikan Bunda untuk beristirahat. Leo memberikan sebuah pesan kepada Mila dan Riki."Bro... jagain adek gue ya. kalau gue nggak ada tolong sayangi Mila seperti lo lakuin sampai sekarang" kata Leo yang melemas. Riki berusaha tenang dan menyimak apa yang Leo katakan."La, sini..." panggil Leo."Mila... besok sampai kamu jadi gadis cantik jangan bikin abang Riki nangis ya? bikin abang Riki senyum seperti abang sekarang." pinta Leo sambil mengusap kepala Mila sayang. Mila hanya mengangguk dan sedikit sesenggukan. "Mila pengen jadi gadis cantik kan?" sekali lagi Mila mengangguk dan menangis."Abang mau kemana? Mila janji nggak akan marah kalau abang pergi sama kakak Desy." kata Mila sambil menangis dan memegang tangan Leo erat."Bro, gue panggilin suster..." kata Riki panik, tapi kemudian tangan Leo mencegah Riki pergi."Ki, sebagai kakaknya Mila dan sebagai sahabat baik lo gue cuman minta jagain Mila dan titip Nyokap gue. Gue cuman pengen tidur, semalem tidur gue nggak nyenyak." jelas Leo.Riki yang panik menjadi tenang saat mendengar Leo hanya ingin tidur. Riki mencoba menghentikan tangisan Mila supaya Leo bisa tidur.Riki mengajak Mila keluar dari ruangan dan membelikan Mila makan. setau Riki Mila belum makan daritadi siang. 20 menit setelah mengajak Mila makan, mereka kembali ke ruangan Leo dirawat. ternyata ruangan Leo sudah dipenuhi oleh dokter dan suster yang datang dan mencoba untuk memompa jantung Leo. Mila yang tahu itu langsung berlari menuju Bunda dan memeluknya. Riki yang di depan pintu melihat Leo lemas dan pucat menjadi panik dan menangis. Leo sudah pergi dari tidurnya untuk selama-lamanya.sejak saat itu Riki meminta izin ke orang tuanya untuk tidak ikut pindah ke Belanda tapi pindah ke rumah Mila. Riki sudah diberi amanah oleh sahabat baiknya untuk menjaga Mila dan Bunda. untung orang tua Riki menyetujui itu dan memperbolehkan dia tetap di Indonesia. dan sampai saat ini Mila berumur 21 tahun Riki tetap setia dengan Leo dan keluarga.
"La??" tanya Riki membuyarkan lamunannya tentang abang kandungnya Leo. "denger gue nggak?" tanya Riki sekali lagi, Mila menjawab dengan anggukan dan senyuman."Besok siang ya habis kuliah aja bang..." pinta Mila dan kemudian hening menyelimuti kembali.Keesokan harinya Mila terlihat murung dan tidak biasanya dia seperti itu. Ria yang juga heran dengan sikap Mila akhirnya memilih diam. Ria tahu kalau Riki mengajak Mila ke makam Leo abang kandungnya.kelas hari ini begitu cepat rasanya, Riki sudah menunggu di depan kampusnya untuk menjemput Mila. Riki meminta maaf karena Ria tidak bisa ikut kali ini."La, jangan pasang muka sedih gitu..." celetuk Riki yang sedikt khawatir terhadap Mila yang murung hari ini.sesampainya di depan makam Leo, Mila bersimpuh dan membasahi nisan Leo. mencabuti rumput liar yang ada disekeliling 'rumah' Leo. setelah selesai membersihkan makam Leo, Mila dan Riki mulai berdoa untuk Leo yang ada di samping Tuhan."Hai Bang Leo, sori gue jarang mampir ke sini..." kata Mila sambil mengusap nisan Leo. "ada ujian nih akhir-akhir ini. eh Bang gue udah jadi gadis paling cantik sekampus.""Bohong adek lo Bro..." celetuk Riki dan dibalas dengan senggolan pelan."Aku masih bareng Riki kok Bang, jadi nggak usah khawatir. Riki emm... lumayan baik sih tapi kadang juga jahat dikiiiit..." jelas Mila, "diikiiit kok" Mila menunjukkan jari tangannya ke Riki yang sedikit sewot."Gantian gue yang ngomong..." kata Riki yang memotong pembicaraan Mila. "bro, gue minta izin ke lo boleh?" Mila yang mendengarkan langsung menengok ke arah Riki. "gue udah jagain adek lo selama ini, gue mau minta imbalan..."Mila langsung berubah ekspresi saat Riki berkata seperti itu."Kalau gue jagain Mila sampai ntar gue mati boleh? Maksud gue Mila buat gue boleh?" langsung sekujur tubuh Mila merinding mendengar perkataan Riki yang sudah dia anggap seperti Leo kedua di rumah. Mila tidak berani menjawab apa yang dikatakan Riki."Kalau lo ngebolehin, dateng ke mimpi gue ya kasih tahu boleh apa nggak..." lanjut Riki dengan senyum yang lebar."Ihh apa-apaan sih bang..." kata Mila kurang nyaman dengan perkataan Riki barusan. tapi Riki hanya tertawa melihat ekspresi Mila.Setelah mengobrol lama di makam Leo, mereka akhirnya pulang tanpa sepotong pembicaraan. Mila kagok dengan apa yang di bicarakan Riki tadi. dan Riki merasa menyesal telah bicara seperti itu tadi.
Friday, September 26, 2014
Here Without You III
"Kamu kan pacarnya Alfin??" tanya Mila sambil menunjuk ke arah cewek itu.
"Iya, gue Sesil mantannya Alfin. Dia tadi pasti nemuin kamu kan?"
berasa ada bunyi petir di kepala Mila, dia kaget dengan apa yang dibilang cewek yang ada di depan itu dengan kaki yang berdarah.
"Oke, Mbak duduk dulu aja di kamar saya." Mila mempersilahkan Sesil masuk, tapi cewek itu melepaskan genggaman Mila dan berusaha untuk pulang. "saya bantu..."
Mila memapah Sesil sampai di luar rumah, cewek itu tidak membuka mulut sama sekali, wajahnya masih menahan sakit dan Mila mencari taksi yang lewat depan rumah. Setelah Sesil pulang, Mila langsung menelpon Riki yang belum pulang ke rumah.
"Bang, lo dimana sih?" akhirnya telepon Mila tersambung setelah dua kali Mila mencoba menghubungi ponsel Riki.
"Gue on the way pulang. Cewek yang ada di kamar gue gimana keadaannya?"
"Dia udah pulang barusan, Lo kok bisa sih nabrak orang?" tanya Mila khawatir.
"Ntar gue ceritain, sekarang gue lagi nyetir nih..." jawab Riki yang sedang konsentrasi pada jalan.
Mila menunggu Riki datang ke rumah, Bunda Amel bingung kenapa Mila terlihat khawatir melihat ke arah luar rumah. Riki memarkir mobil ke garasi dan cepat masuk ke rumah. Mila yang sedaritadi menunggu langsung menghampiri Riki yang baru datang.
"Bang, kok bisa nabrak orang sih?" tanya Mila khawatir.
"Ssst... jangan keras-keras ntar Bunda denger." Mila langsung menutup mulutnya dan berbicara pelan.
Riki menggandeng Mila masuk ke kamarnya, Mila yang memang sedang penasaran ikut masuk ke kamar abangnya. Riki duduk tenang dan menceritakan semuanya pada Mila. ternyata yang menabrak cewek tadi Ria, bukan abangnya. Ria tidak melihat sekitar karena asik mengobrol dengan Riki dan tanpa toleh kanan-kiri, Sesil langsung menyebrang jalan untungnya Sesil nggak luka parah.
"Terus, lo perban nggak kakinya?"
"Dia minta pulang mulu sih..."
Riki menuju ke kamar mandi, meninggalkan Mila yang masih duduk di tempa tidurnya. Mila baru kali ini dia lama diam di dalam kamar Riki. sejak abangnya kerja, Mila merasa kalau waktu untuk Mila sudah tidak ada. akhirnya mereka tidak begitu dekat lagi karena kesibukan masing-masing. Mila melihat keseliling kamar Riki, berantakan masih seperti dulu. tapi meja kerjanya rapi tertata dengan foto mereka berdua sewaktu Mila masih SMP, Riki masih SMA dan satu cowok yang sangat Mila rindukan. tiba-tiba ponsel Mila berdering dan saat itu tepat Riki keluar kamar mandi.
"La..." panggil Riki, dan melihat di kamarnya Mila sudah tidak ada.
"Halo Fin..." ucap Mila dari luar kamar Riki. "ada apa?" suara Mila sedikit menghilang dari depan kamar Riki dan terdengar pintu kamar Mila tertutup.
"Nggak apa-apa... besok ada acara?" tanya Alfin. Mila mengingat-ingat kalau Sabtu besok ada acara dengan Riki yang sialnya dia sudah janji lebih dulu ke Riki.
"Sori Fin, gue ada acara sama abang gue..." jawab Mila.
"Ohh... oke, kalau besoknya lagi?"
Nih cowok nggak ada bosennya ketemu gue... batin Mila sambil tersenyum tipis.
"Ntar gue sms kalau nggak ada acara yah..." tiba-tiba sambungan telepon Alfin terputus, dan langsung ada pesan darinya.
Sorry La, ada temen gue yang lagi sakit nih...
gue ke RS dulu yah
Mila tidak membalas pesan Alfin, tapi malah pergi ke kamar Riki. dia ingat kalau ada janji besok nemenin Riki ke reunian SMAnya. dan hal yang paing Mila hindari adalah bertemu Bayu. Mila masuk ke kamar Riki tanpa mengetuk pintu kamar. Dia melihat Riki sedang ganti baju di depan kaca, Mila langsung mengalihkan mata ke arah yang lain.
"Ketuk pintu dulu kali Ndut..." kata Riki tenang.
"Ihh, ngapain ketuk pintu segala, kayak lo tamu aja." balas Mila yang langsung rebahan ke tempat tidur Riki. "gue inget kalau besok gue punya janji ke lo."
"Bagus, lo inget..."
"Jadi nggak?" tanya Mila sambil memainkan ponselnya.
"Gue perginya sama Ria..." ucap Riki dengan merapikan rambutnya yang basah. kalau Mila membahas janji ini, dia mengingat apa yang terjadi di depan kampus tadi. Riki lihat bagaimana ekspresi Mila sekarang. Mila tertunduk lesu dan pergi dari kamar Riki. Riki yang tahu itu langsung terduduk lemas di tempat tidurnya. apa yang dia bicarakan, Riki nggak ngajak Ria untuk ikut ke reunian.
di dalam kamar, Mila terduduk lesu dan ada sedikit marah di dadanya. besok Mila bikin Riki nggak bisa nolak dia. Biarpun besok ada Ria, Mila nggak peduli.
Keesokan paginya, Mila bangun pagi dan memakai pakaian yang sudah dia siapkan untuk acara hari ini. Mila bergegas masuk ke kursi penumpang mobil yang baru saja Riki cek mesinnya. tidak lama, Riki datang dengan memakai pakaian rapi seakan-akan mau berangkat kerja, padahal ini hari libur. setengah jam perjalanan dari rumah, Mila tiba-tiba muncu mengagetkan Riki yang sedang konsentrasi. ternyata Riki tidak menjeput Ria untuk ikut ke reunian.
Dasar pembohong...
"Bbaaaa!!" teriak Mila sambil menepuk keras pundak Riki.
"Mila?? kok lo?" tanya Riki bingung melihat adiknya sudah ada di kursi penumpang.
"Salah sendiri gue di bohongin, udah tahu nggak pinter boong"cibir Mila yang sekarang sudah duduk di depan.
"Lo nggak apa-apa ikut ke reunian gue?" tanya Riki khawatir.
"Nggak apa-apa kok, santai aja.. lo pasti kepikiran gue kalau ketemu sama Bayu ya?" Riki tidak menjawab dan konsentrasi kembali ke jalan.
sesampainya di villa tempat acara diadakan, Mila langsung kagok saat masuk ke dalam. banyak orang yang tidak Mila kenal. ada yang bawa bayi, ada yang bawa suami dan teman Riki dan pasangannya. hanya Riki yang membawa adiknya. nggak lama, datanglah Bayu dengan minuman yang dia bawa. Bayu tidak menyangka kalau Mila ikut datang kemari. sudah 2 bulan mereka putus, Bayu masih berharap kalau Mila mau kembali padanya.
"Hei Bro, gimana kabar?" tanya Riki yang juga jarang melihat Bayu setelah berpacaran dengan Mila dan akhirnya putus.
"Good, lo gimana?" tatapan Bayu tidak terlepas pada Mila yang sedang bermain dengan anak salah satu teman Riki.
"Udah... nggak usah lihatin terus, dia udah ada yang punya." jelas Riki.
"Siapa? Lo?" tanya Bayu dengan tampang terkejut.
Riki tidak menanggapi pertanyaan Bayu, dan pergi menghampiri teman yang lihat. nggak lama, Bayu sudah terlihat berbicara dengan Mila. Mereka terlihat canggung saat bersapaan tadi.
"Gimana kabarnya? kata Riki udah ada yang punya nih?" tanya Bayu langsung tanpa basa-basi.
"Baik Bay. Kenapa tanya gitu? jealous?" tanya Mila. Bayu terkejut mendengar pertanyaan Mila yang langsung menusuk.
Entah kenapa Mila jadi malas ngobrol dengan Bayu, masalahnya Bayu kalau diajak bicara tuh suka nuduh yang macem-macem, daripada tengkar disini mending Mila pergi mengikuti Riki yang sekarang sedang ngobrol dengan temannya.
"Bang..." panggil Mila.
Riki melihat ke arah Mila dan langsung tersenyum kemudian memperkenalkan Mila kepada temannya itu.
"Ini adek gue, Mila" ucap Riki.
"Bukannya lo nggak punya adek?" tanya temennya. "gue Hendra..." kata Hendra memperkenalkan diri, "ohh... dia ceweknya Bayu yang waktu itu ya??" tanyanya lagi.
Riki menyikut perut Hendra lumayan keras, dan Mila membalas dengan senyuman maklum.
"Iyah, tadi juga udah ketemu Bayu kok Kak."
"Nggak usah panggil Kak lah, Hendra aja." jelas Hendra yang masih memegangi perutnya yang sakit.
Tiba-tiba cewek cantik dengan kemeja panjang dan hotpants yang dia pakai. dengan rambut panjang yang cantik pasti cewek ini idaman semua temen-temen Riki, atau Riki juga tergila-gila sama dia?
"Haii sayaang..." sapanya yang kemudian mencium pipi Hendra, Riki tertawa dan Mila hanya bengong melihat pemandangan itu.
"Jangan di depan adek gue dong, masih kecil tau..." cibir Riki yang masih dengan tawa kecilnya. Giliran Mila yang menyikut perut Riki, itung-itung balasin dendam Hendra.
"Ohh sorii... kenalin ini cewek gue La, namanya..."
"Lisa..." kata cewek itu memperkenalkan diri. Mila langsung membalas jabatan tangan Lisa.
"Main putus perkataan gue aja nih..." sewot Hendra yang omongannya tadi diputus Lisa.
"Yang penting nggak gue putusin beneran kan?" celetuk Lisa. Hendra langsung diam dan tersenyum simpul dengan candaan pacarnya yang sebentar lagi akan jadi istrinya.
"Lisa tuh pacarnya Riki lho sewaktu SMA sampai awal kuliah." celetuk Bayu yang kali ini datang dengan wanita manis. "kenalin, pacar gue Shinta..."
Shinta menjabat tangan satu-satu dan memperkenalkan dirinya. Mila yang sedikit terkejut dan sedikit bersimpati kepada cewek itu. nggak lama lagi, dia bakal dikekang dan diawasi terus seperti Mila dulu.
"Lo, nggak usah buka luka lama ya..." kata Lisa dengan pandangan malas.
"Sorry kalau gue ngasih luka lama ke lo" celetuk Riki, dan dibarengi tawa ke tiga sahabat baik Riki. Mila jadi sedikit merasa nyaman dengan teman-teman Riki.
Malamnya mereka pesta barbeque di halaman depan villa, Mila yang duduk anteng di depan pintu melihat suasana yang penuh tawa dan cerita. Riki membantu membakar daging dengan Bayu. Lisa dengan teman-teman lainnya dan Shinta yang juga duduk menyendiri. Lisa datang dan duduk di sebelah Mila.
"Nggak ikut kesana?" tanya Lisa sambil menunjuk ke arah Riki yang sedang bercanda dengan teman yang lain. Mila menggeleng dan tersenyum.
"Lo bukan adik kandungnya kan?" Mila terkejut kenapa Lisa bisa tahu tentang itu. Mila ingat kalau Lisa dulu pacar Riki.
"Dia sahabat abangku Kak dan..."
"Udah, gue udah tahu semuanya kok. Riki cerita semua ke gue." jelas Lisa memotong penjelasan Mila. Lisa tahu cerita itu bikin Mila jadi mengingat-ingat yang lalu. "jangan bikin Riki kecewa, lo berharga banget buat dia." kata Lisa yang pergi dari Mila dan kembali ke tempatnya tadi.
Mila sekali lagi melihat ke arah Riki yang berkumpul dengan asap. ditepuknya pundak Riki dan saat menengok ke belakang ternyata Mila datang dengan banyak daging yang belum dibakar.
-Bersambung-
"Iya, gue Sesil mantannya Alfin. Dia tadi pasti nemuin kamu kan?"
berasa ada bunyi petir di kepala Mila, dia kaget dengan apa yang dibilang cewek yang ada di depan itu dengan kaki yang berdarah.
"Oke, Mbak duduk dulu aja di kamar saya." Mila mempersilahkan Sesil masuk, tapi cewek itu melepaskan genggaman Mila dan berusaha untuk pulang. "saya bantu..."
Mila memapah Sesil sampai di luar rumah, cewek itu tidak membuka mulut sama sekali, wajahnya masih menahan sakit dan Mila mencari taksi yang lewat depan rumah. Setelah Sesil pulang, Mila langsung menelpon Riki yang belum pulang ke rumah.
"Bang, lo dimana sih?" akhirnya telepon Mila tersambung setelah dua kali Mila mencoba menghubungi ponsel Riki.
"Gue on the way pulang. Cewek yang ada di kamar gue gimana keadaannya?"
"Dia udah pulang barusan, Lo kok bisa sih nabrak orang?" tanya Mila khawatir.
"Ntar gue ceritain, sekarang gue lagi nyetir nih..." jawab Riki yang sedang konsentrasi pada jalan.
Mila menunggu Riki datang ke rumah, Bunda Amel bingung kenapa Mila terlihat khawatir melihat ke arah luar rumah. Riki memarkir mobil ke garasi dan cepat masuk ke rumah. Mila yang sedaritadi menunggu langsung menghampiri Riki yang baru datang.
"Bang, kok bisa nabrak orang sih?" tanya Mila khawatir.
"Ssst... jangan keras-keras ntar Bunda denger." Mila langsung menutup mulutnya dan berbicara pelan.
Riki menggandeng Mila masuk ke kamarnya, Mila yang memang sedang penasaran ikut masuk ke kamar abangnya. Riki duduk tenang dan menceritakan semuanya pada Mila. ternyata yang menabrak cewek tadi Ria, bukan abangnya. Ria tidak melihat sekitar karena asik mengobrol dengan Riki dan tanpa toleh kanan-kiri, Sesil langsung menyebrang jalan untungnya Sesil nggak luka parah.
"Terus, lo perban nggak kakinya?"
"Dia minta pulang mulu sih..."
Riki menuju ke kamar mandi, meninggalkan Mila yang masih duduk di tempa tidurnya. Mila baru kali ini dia lama diam di dalam kamar Riki. sejak abangnya kerja, Mila merasa kalau waktu untuk Mila sudah tidak ada. akhirnya mereka tidak begitu dekat lagi karena kesibukan masing-masing. Mila melihat keseliling kamar Riki, berantakan masih seperti dulu. tapi meja kerjanya rapi tertata dengan foto mereka berdua sewaktu Mila masih SMP, Riki masih SMA dan satu cowok yang sangat Mila rindukan. tiba-tiba ponsel Mila berdering dan saat itu tepat Riki keluar kamar mandi.
"La..." panggil Riki, dan melihat di kamarnya Mila sudah tidak ada.
"Halo Fin..." ucap Mila dari luar kamar Riki. "ada apa?" suara Mila sedikit menghilang dari depan kamar Riki dan terdengar pintu kamar Mila tertutup.
"Nggak apa-apa... besok ada acara?" tanya Alfin. Mila mengingat-ingat kalau Sabtu besok ada acara dengan Riki yang sialnya dia sudah janji lebih dulu ke Riki.
"Sori Fin, gue ada acara sama abang gue..." jawab Mila.
"Ohh... oke, kalau besoknya lagi?"
Nih cowok nggak ada bosennya ketemu gue... batin Mila sambil tersenyum tipis.
"Ntar gue sms kalau nggak ada acara yah..." tiba-tiba sambungan telepon Alfin terputus, dan langsung ada pesan darinya.
Sorry La, ada temen gue yang lagi sakit nih...
gue ke RS dulu yah
Mila tidak membalas pesan Alfin, tapi malah pergi ke kamar Riki. dia ingat kalau ada janji besok nemenin Riki ke reunian SMAnya. dan hal yang paing Mila hindari adalah bertemu Bayu. Mila masuk ke kamar Riki tanpa mengetuk pintu kamar. Dia melihat Riki sedang ganti baju di depan kaca, Mila langsung mengalihkan mata ke arah yang lain.
"Ketuk pintu dulu kali Ndut..." kata Riki tenang.
"Ihh, ngapain ketuk pintu segala, kayak lo tamu aja." balas Mila yang langsung rebahan ke tempat tidur Riki. "gue inget kalau besok gue punya janji ke lo."
"Bagus, lo inget..."
"Jadi nggak?" tanya Mila sambil memainkan ponselnya.
"Gue perginya sama Ria..." ucap Riki dengan merapikan rambutnya yang basah. kalau Mila membahas janji ini, dia mengingat apa yang terjadi di depan kampus tadi. Riki lihat bagaimana ekspresi Mila sekarang. Mila tertunduk lesu dan pergi dari kamar Riki. Riki yang tahu itu langsung terduduk lemas di tempat tidurnya. apa yang dia bicarakan, Riki nggak ngajak Ria untuk ikut ke reunian.
di dalam kamar, Mila terduduk lesu dan ada sedikit marah di dadanya. besok Mila bikin Riki nggak bisa nolak dia. Biarpun besok ada Ria, Mila nggak peduli.
Keesokan paginya, Mila bangun pagi dan memakai pakaian yang sudah dia siapkan untuk acara hari ini. Mila bergegas masuk ke kursi penumpang mobil yang baru saja Riki cek mesinnya. tidak lama, Riki datang dengan memakai pakaian rapi seakan-akan mau berangkat kerja, padahal ini hari libur. setengah jam perjalanan dari rumah, Mila tiba-tiba muncu mengagetkan Riki yang sedang konsentrasi. ternyata Riki tidak menjeput Ria untuk ikut ke reunian.
Dasar pembohong...
"Bbaaaa!!" teriak Mila sambil menepuk keras pundak Riki.
"Mila?? kok lo?" tanya Riki bingung melihat adiknya sudah ada di kursi penumpang.
"Salah sendiri gue di bohongin, udah tahu nggak pinter boong"cibir Mila yang sekarang sudah duduk di depan.
"Lo nggak apa-apa ikut ke reunian gue?" tanya Riki khawatir.
"Nggak apa-apa kok, santai aja.. lo pasti kepikiran gue kalau ketemu sama Bayu ya?" Riki tidak menjawab dan konsentrasi kembali ke jalan.
sesampainya di villa tempat acara diadakan, Mila langsung kagok saat masuk ke dalam. banyak orang yang tidak Mila kenal. ada yang bawa bayi, ada yang bawa suami dan teman Riki dan pasangannya. hanya Riki yang membawa adiknya. nggak lama, datanglah Bayu dengan minuman yang dia bawa. Bayu tidak menyangka kalau Mila ikut datang kemari. sudah 2 bulan mereka putus, Bayu masih berharap kalau Mila mau kembali padanya.
"Hei Bro, gimana kabar?" tanya Riki yang juga jarang melihat Bayu setelah berpacaran dengan Mila dan akhirnya putus.
"Good, lo gimana?" tatapan Bayu tidak terlepas pada Mila yang sedang bermain dengan anak salah satu teman Riki.
"Udah... nggak usah lihatin terus, dia udah ada yang punya." jelas Riki.
"Siapa? Lo?" tanya Bayu dengan tampang terkejut.
Riki tidak menanggapi pertanyaan Bayu, dan pergi menghampiri teman yang lihat. nggak lama, Bayu sudah terlihat berbicara dengan Mila. Mereka terlihat canggung saat bersapaan tadi.
"Gimana kabarnya? kata Riki udah ada yang punya nih?" tanya Bayu langsung tanpa basa-basi.
"Baik Bay. Kenapa tanya gitu? jealous?" tanya Mila. Bayu terkejut mendengar pertanyaan Mila yang langsung menusuk.
Entah kenapa Mila jadi malas ngobrol dengan Bayu, masalahnya Bayu kalau diajak bicara tuh suka nuduh yang macem-macem, daripada tengkar disini mending Mila pergi mengikuti Riki yang sekarang sedang ngobrol dengan temannya.
"Bang..." panggil Mila.
Riki melihat ke arah Mila dan langsung tersenyum kemudian memperkenalkan Mila kepada temannya itu.
"Ini adek gue, Mila" ucap Riki.
"Bukannya lo nggak punya adek?" tanya temennya. "gue Hendra..." kata Hendra memperkenalkan diri, "ohh... dia ceweknya Bayu yang waktu itu ya??" tanyanya lagi.
Riki menyikut perut Hendra lumayan keras, dan Mila membalas dengan senyuman maklum.
"Iyah, tadi juga udah ketemu Bayu kok Kak."
"Nggak usah panggil Kak lah, Hendra aja." jelas Hendra yang masih memegangi perutnya yang sakit.
Tiba-tiba cewek cantik dengan kemeja panjang dan hotpants yang dia pakai. dengan rambut panjang yang cantik pasti cewek ini idaman semua temen-temen Riki, atau Riki juga tergila-gila sama dia?
"Haii sayaang..." sapanya yang kemudian mencium pipi Hendra, Riki tertawa dan Mila hanya bengong melihat pemandangan itu.
"Jangan di depan adek gue dong, masih kecil tau..." cibir Riki yang masih dengan tawa kecilnya. Giliran Mila yang menyikut perut Riki, itung-itung balasin dendam Hendra.
"Ohh sorii... kenalin ini cewek gue La, namanya..."
"Lisa..." kata cewek itu memperkenalkan diri. Mila langsung membalas jabatan tangan Lisa.
"Main putus perkataan gue aja nih..." sewot Hendra yang omongannya tadi diputus Lisa.
"Yang penting nggak gue putusin beneran kan?" celetuk Lisa. Hendra langsung diam dan tersenyum simpul dengan candaan pacarnya yang sebentar lagi akan jadi istrinya.
"Lisa tuh pacarnya Riki lho sewaktu SMA sampai awal kuliah." celetuk Bayu yang kali ini datang dengan wanita manis. "kenalin, pacar gue Shinta..."
Shinta menjabat tangan satu-satu dan memperkenalkan dirinya. Mila yang sedikit terkejut dan sedikit bersimpati kepada cewek itu. nggak lama lagi, dia bakal dikekang dan diawasi terus seperti Mila dulu.
"Lo, nggak usah buka luka lama ya..." kata Lisa dengan pandangan malas.
"Sorry kalau gue ngasih luka lama ke lo" celetuk Riki, dan dibarengi tawa ke tiga sahabat baik Riki. Mila jadi sedikit merasa nyaman dengan teman-teman Riki.
Malamnya mereka pesta barbeque di halaman depan villa, Mila yang duduk anteng di depan pintu melihat suasana yang penuh tawa dan cerita. Riki membantu membakar daging dengan Bayu. Lisa dengan teman-teman lainnya dan Shinta yang juga duduk menyendiri. Lisa datang dan duduk di sebelah Mila.
"Nggak ikut kesana?" tanya Lisa sambil menunjuk ke arah Riki yang sedang bercanda dengan teman yang lain. Mila menggeleng dan tersenyum.
"Lo bukan adik kandungnya kan?" Mila terkejut kenapa Lisa bisa tahu tentang itu. Mila ingat kalau Lisa dulu pacar Riki.
"Dia sahabat abangku Kak dan..."
"Udah, gue udah tahu semuanya kok. Riki cerita semua ke gue." jelas Lisa memotong penjelasan Mila. Lisa tahu cerita itu bikin Mila jadi mengingat-ingat yang lalu. "jangan bikin Riki kecewa, lo berharga banget buat dia." kata Lisa yang pergi dari Mila dan kembali ke tempatnya tadi.
Mila sekali lagi melihat ke arah Riki yang berkumpul dengan asap. ditepuknya pundak Riki dan saat menengok ke belakang ternyata Mila datang dengan banyak daging yang belum dibakar.
-Bersambung-
Tuesday, September 23, 2014
Here Without You II
"Serius bukan gue yang ngasih tau.."
"Terus siapa lagi yang kenal Alfin selain gue sama lo Riaaaa" ucap Mila yang kali ini bingung kenapa Alfin tahu apa yang dipikirkan dan dilakukan Mila. berasa Alfin tuh stalker atau jangan-jangan Alfin itu dukun? tiba-tiba...
"Eh begooo... tuh di sana, lihat!" teriak Ria sambil menunjuk ke baliho besar di depannya.
tertulis,
"Begooooo, hwahahahahhaa..." Mila langsung tertawa disusul Ria yang terbahak-bahak.
"Pantesan Alfin tahu kalo ada acara di kampus. hwahahahaha... dasar lo nethink mulu..." cibir Ria yang sekarang sudah tenang.
"Terus enaknya gue bales apa nih ke Alfin, kan gue udah ngajak elo."
"Alaaah, pake sungkan segala. udah mau aja, ntar gue sama abang lo aja gimana?"
"Ngajak Riki? aduuh nggak ada yang lain apa." jawab Mila jengah.
"Ihh kayak lo nggak tahu gue aja."
"Idiih, suka dari jaman orok sampai sekarang nggak ngaku-ngaku..." giliran Mila yang mencibir Ria.
"Go with the flow aja kaleee..."
"With the flow? ntar kebablasan, abang gue ntar disamber cewek lain lagi baru tahu rasaaaa..."
"Udah putus sama cewek menor kemaren itu?" tanya Ria dan dibalas anggukan malas oleh Mila. "aseeek, gue ada kesempatan dong habis ini..."
"Ahh, elo ada kesempatan dikit aja juga ogah maju-maju kale Ya. Udah ahh, nggak usah bahas Riki lagi... ini gimana nih balesnya?" tanya Mila sambil menyodorkan ponselnya.
"Iyain ajalaah..." jawab Ria santai.
Sesampainya di rumah Mila menuju ke kamar Riki, karena terpaksa...
Mila diberikan 'amanah' dari Ria, kalau Riki harus ikut. dalam mobil tadi Ria menggunakan jurus mata kucingnya. dia memohon kalau Riki harus ikut. Ria berpikir kalau Mila bareng Alfin, terus nanti Ria sama siapa, dan keputusan Ria, dia harus bersama Riki. dasar seenaknya aja...
"Baaaang, gue masuk ya?" Mila membuka kamar Riki dengan pelan. dia melihat abangnya tidur di meja kerjanya dengan earphone dikedua telinganya.
Mila jadi nggak tega ngebangunin abangnya yang kayaknya lagi capek banget. Riki terbangun saat Mila menginjak console game yang tergeletak di lantai.
"Wadooooohhh..." mendengar suara Mila menjerit kesakitan Riki langsung terbangun karena kaget.
"Kenapa lo?" tanya Riki sambil menghampiri Mila yang sedang memegangi kakinya.
"Bang, kalau selesai main diberesin doooong!"
"Waaaaaa... stick gueeee" teriak Riki mengambil gamestick console-nya yang terinjak Mila. diusap-usapnya stick console miliknya dengan sayang, dan Mila makin gondok melihat tingkah abangnya.
"Jadi stick pe-es lo lebih berharga daripada adik sendiri. oke cukup tahu aja..." Mila melangkah pergi dengan sedikit terpincang. Riki yang bercanda langsung menggandeng adiknya dan menuntunnya di kursi kerjanya.
"Sori..sori gue cuman bercanda..." ucap Riki tulus.
"Becanda lo keterlaluan kali Bang." kata Mila yang masih sewot.
"Iya..iya, sori... lo tumben ke kamar gue, ada apa?"
"Ria ngajak lo ke konsernya Tulus minggu depan. mau nggak ?"
"Kenapa lo yang ngomong... suruh Ria yang ngomong, kalau nggak gue ogah nemenih dia." jelas Riki.
"Oke, gue telepon dia sekarang."
"Tapi ada syaratnya..."
"Apa syaratnya? pake syarat segala kayak beli mobil aja." cibir Mila.
"Lo harus ikut ke reunian gue besok malem!" perintah Riki dengan gaya bossy.
"Ogaaah! pasti ntar sama cewek baru lo dan gue lagi-lagi jadi obat nyamuk." tolak Mila dan berusaha untuk keluar daru jebakan Abangnya.
"Eh betewe, si Ria kenapa nggak ngajak lo?" tanya Riki. Mila gelagapan memberi jawabannya. "ehh, malah bengooong" dicubitnya pipi Mila sampe melar.
"Aduuuh, sakit tauuu! gue diajak temen SMA gue buat nonton bareng." jelas Mila sambil memegang pipinya yang saat ini pasti memerah.
"Cowok?"
"Gue nggak perlu jawab kan? udah tahu gitu..." balas Mila yang keluar dari kamar Riki.
"Awas besok lo nggak ikut, gue batalin nemenin si Ria" teriak Riki dari dalam kamar. Lagi-lagi Riki merasa sakit di dadanya. dia tidak merasa kalau dia sedang cemburu.
"Terus siapa lagi yang kenal Alfin selain gue sama lo Riaaaa" ucap Mila yang kali ini bingung kenapa Alfin tahu apa yang dipikirkan dan dilakukan Mila. berasa Alfin tuh stalker atau jangan-jangan Alfin itu dukun? tiba-tiba...
"Eh begooo... tuh di sana, lihat!" teriak Ria sambil menunjuk ke baliho besar di depannya.
tertulis,
MiniConcert Tulus at Univ.GrahaKencana Bandung at 5pm until end
"Begooooo, hwahahahahhaa..." Mila langsung tertawa disusul Ria yang terbahak-bahak.
"Pantesan Alfin tahu kalo ada acara di kampus. hwahahahaha... dasar lo nethink mulu..." cibir Ria yang sekarang sudah tenang.
"Terus enaknya gue bales apa nih ke Alfin, kan gue udah ngajak elo."
"Alaaah, pake sungkan segala. udah mau aja, ntar gue sama abang lo aja gimana?"
"Ngajak Riki? aduuh nggak ada yang lain apa." jawab Mila jengah.
"Ihh kayak lo nggak tahu gue aja."
"Idiih, suka dari jaman orok sampai sekarang nggak ngaku-ngaku..." giliran Mila yang mencibir Ria.
"Go with the flow aja kaleee..."
"With the flow? ntar kebablasan, abang gue ntar disamber cewek lain lagi baru tahu rasaaaa..."
"Udah putus sama cewek menor kemaren itu?" tanya Ria dan dibalas anggukan malas oleh Mila. "aseeek, gue ada kesempatan dong habis ini..."
"Ahh, elo ada kesempatan dikit aja juga ogah maju-maju kale Ya. Udah ahh, nggak usah bahas Riki lagi... ini gimana nih balesnya?" tanya Mila sambil menyodorkan ponselnya.
"Iyain ajalaah..." jawab Ria santai.
Sesampainya di rumah Mila menuju ke kamar Riki, karena terpaksa...
Mila diberikan 'amanah' dari Ria, kalau Riki harus ikut. dalam mobil tadi Ria menggunakan jurus mata kucingnya. dia memohon kalau Riki harus ikut. Ria berpikir kalau Mila bareng Alfin, terus nanti Ria sama siapa, dan keputusan Ria, dia harus bersama Riki. dasar seenaknya aja...
"Baaaang, gue masuk ya?" Mila membuka kamar Riki dengan pelan. dia melihat abangnya tidur di meja kerjanya dengan earphone dikedua telinganya.
Mila jadi nggak tega ngebangunin abangnya yang kayaknya lagi capek banget. Riki terbangun saat Mila menginjak console game yang tergeletak di lantai.
"Wadooooohhh..." mendengar suara Mila menjerit kesakitan Riki langsung terbangun karena kaget.
"Kenapa lo?" tanya Riki sambil menghampiri Mila yang sedang memegangi kakinya.
"Bang, kalau selesai main diberesin doooong!"
"Waaaaaa... stick gueeee" teriak Riki mengambil gamestick console-nya yang terinjak Mila. diusap-usapnya stick console miliknya dengan sayang, dan Mila makin gondok melihat tingkah abangnya.
"Jadi stick pe-es lo lebih berharga daripada adik sendiri. oke cukup tahu aja..." Mila melangkah pergi dengan sedikit terpincang. Riki yang bercanda langsung menggandeng adiknya dan menuntunnya di kursi kerjanya.
"Sori..sori gue cuman bercanda..." ucap Riki tulus.
"Becanda lo keterlaluan kali Bang." kata Mila yang masih sewot.
"Iya..iya, sori... lo tumben ke kamar gue, ada apa?"
"Ria ngajak lo ke konsernya Tulus minggu depan. mau nggak ?"
"Kenapa lo yang ngomong... suruh Ria yang ngomong, kalau nggak gue ogah nemenih dia." jelas Riki.
"Oke, gue telepon dia sekarang."
"Tapi ada syaratnya..."
"Apa syaratnya? pake syarat segala kayak beli mobil aja." cibir Mila.
"Lo harus ikut ke reunian gue besok malem!" perintah Riki dengan gaya bossy.
"Ogaaah! pasti ntar sama cewek baru lo dan gue lagi-lagi jadi obat nyamuk." tolak Mila dan berusaha untuk keluar daru jebakan Abangnya.
"Eh betewe, si Ria kenapa nggak ngajak lo?" tanya Riki. Mila gelagapan memberi jawabannya. "ehh, malah bengooong" dicubitnya pipi Mila sampe melar.
"Aduuuh, sakit tauuu! gue diajak temen SMA gue buat nonton bareng." jelas Mila sambil memegang pipinya yang saat ini pasti memerah.
"Cowok?"
"Gue nggak perlu jawab kan? udah tahu gitu..." balas Mila yang keluar dari kamar Riki.
"Awas besok lo nggak ikut, gue batalin nemenin si Ria" teriak Riki dari dalam kamar. Lagi-lagi Riki merasa sakit di dadanya. dia tidak merasa kalau dia sedang cemburu.
***
"Eh Yaya.. lo disuruh ngomong sendiri tuh sama Riki." kata Mila yang sedang menghubungi Ria, biar semuanya lancar Riki harus mau nemenin Ria di konser minggu depan.
"Gila, gue nerpes tahu kalau disuruh ngobrol sama Riki."
"Lo mau nggak sih dateng sama abang gue. kalau nggak ya ntar gue bilang nggak jadi aja. usaha dikit napa sih, gue sampe nginjek stick pe-esnya dia tauk waktu gue nyelinap kamar Riki."
"Lagian, lo ngapain pake nyelinep segala? kayak maling aja..." cibir Ria.
"Ihh ya udah kalo nggak mau ngomong sendiri. gue tutup telponnya nih..." ancam Mila.
"Ehhh... iya iya, habis ini gue telepon. dasar lo... udah gue matiin teleponnya. assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." balas Mila. "dasar, gue yang telepon malah dia yang nutup duluan."
nggak lama, terdengar Riki mengejek-ejek nama Yaya. panggilan Ria dari kecil.
"Tumben lo nelepon gue? ada apaan?" tanya Riki, pura-pura nggak tahu. Mila yang di balkon hanya cekikikan mendengar gurauan abangnya.
"Rasain lo, biar tahu rasa gimana rasanya deg-degan... hahaha" batin Mila.
***
"Gimana kemaren?"
"Lo nggak lihat gue masih pucet?"
"Aduuh kayak nggak akrab aja sama Riki. kita temenan dari kecil tauuu tidur juga bareng-bareng." celetuk Mila.
"Gila, kita udah umur 22 La, lo bilang tidur bareng? oh my Gooood."
Kalau udah panik, nervous, si Yaya bakal kayak gini, aksinya lebaay mulu. besok baru balik seperti biasa.
"Baru kali ini gue nerpes banget La, untung nggak herpes gue." jelas Ria yang nggak henti-hentinya bercerita bagaimana rasanya teleponan sama orang yang disukai.
sampai istirahat makan siang, Ria masih belum bercerita tentang pembicaraannya dengan Riki. Mila sudah pasrah mendengarkan celotehan dia soal perasaanya.
"Ya, gimana? Riki mau nggak nemenin lo? daritadi ditanyain nggak dijawab..." kata Mila sewot.
"Riki mau Laaaa! Riki mauuuu!" teriak Ria sambil memegang tangan Mila dan loncat kegirangan, sampai semua mahasiswa yang sedang makan di kantin melihat ke arah mereka berdua.
"Yeessss! akhirnya lo ada temennya, nggak gue kacangin ntar..."
"Ihh, sialan lo. gue ditinggal-tinggal."
"Yang penting lo bisa sama Riki kaaaan. hhahaha..." Mila tersenyum puas bisa memasangkan Ria dan Riki bersama. akhirnya sahabat satu-satunya bisa punya gandengan.
Pulang dari kampus, Mila berencana ingin membeli dress yang selama ini dia incar di salah satu mall. Ria yang sedang tidak mengerjakan apa-apa di kampus akhirnya ikut menemani Mila.
Tapi saat menuju ke parkiran mobil. seperi ada seseorang yang memanggil Mila.
"Hai Laa... Oii Ya..." sapa seorang cowok yang memakai kaos polo biru tua dan jeans abu-abunya datang dengan senyuman yang lebar.
"Alfin??" sahut dua cewek yang ada di depan Alfin.
"Lo ngapain ke sini?" tanya Ria bingung.
"Sori Ya, gue mau nyamperin Mila bukan lo." kata Alfin dengan nada candaan.
Mila yang masih kaget dengan datangnya Alfin ke kampusnya adalah hal yang langka. Mila dan Alfin belum secara langsung ngobrol seperti ini selain Mila bertemu Alfin dengan cewek seksi waktu itu.
Mila yang masih kaget dengan datangnya Alfin ke kampusnya adalah hal yang langka. Mila dan Alfin belum secara langsung ngobrol seperti ini selain Mila bertemu Alfin dengan cewek seksi waktu itu.
Mila masih bingung dengan kedatangan Alfin di kampusnya. Alfin yang hanya melihat ke arah Mila bikin Ria jengkel, kenapa temannya satu ini nggak kabar-kabari kalau mau ketemu Mila jadi Ria bisa punya alasan buat ninggalin mereka.
Tiba-tiba ponsel Ria berbunyi, dan tertera nama Riki di layar. Ria malah seperti orang kena stroke, dia langsung teriak dan berkata terbata-bata saat menjawab telepon Riki. Riki malah terbahak-bahak melihat suasana Mila dan Ria yang ada di depannya. Rencananya, Riki mau mengajak Mila untuk mengantar dia membelikan kemeja untuk acara reuni besok, karena dia sudah melihat ada cowok yang mendekati adiknya dan ada Ria di sebelahnya. Ria menjadi pengalih perhatiannya...
"Kenapa nggak bilang kalau mau ke kampus sih Rik?" tanya Ria yang sudah ada di dalam mobil.
"Nggak apa-apa, lo mau kan ikut gue?" tanya Riki sambil menghidupkan mesin mobilnya. dan sudah diduga dua orang yang di depan bingung melihat Riki ada di sana, dan Mila cemberut nggak karuan dengan muka memerah karena marah.
Tiba-tiba ponsel Ria berbunyi, dan tertera nama Riki di layar. Ria malah seperti orang kena stroke, dia langsung teriak dan berkata terbata-bata saat menjawab telepon Riki. Riki malah terbahak-bahak melihat suasana Mila dan Ria yang ada di depannya. Rencananya, Riki mau mengajak Mila untuk mengantar dia membelikan kemeja untuk acara reuni besok, karena dia sudah melihat ada cowok yang mendekati adiknya dan ada Ria di sebelahnya. Ria menjadi pengalih perhatiannya...
"Kenapa nggak bilang kalau mau ke kampus sih Rik?" tanya Ria yang sudah ada di dalam mobil.
"Nggak apa-apa, lo mau kan ikut gue?" tanya Riki sambil menghidupkan mesin mobilnya. dan sudah diduga dua orang yang di depan bingung melihat Riki ada di sana, dan Mila cemberut nggak karuan dengan muka memerah karena marah.
***
"Kenapa cemberut La?" tanya Alfin yang sedang menemani Mila memilih baju yang ingin dibelinya. Mila hanya membalas gelengan dan kembali fokus pada pakaian yang di depannya.
"Nanti langsung pulang aja ya Fin." pinta Mila.
"Nggak makan dulu? makan dulu baru pulang yah?" ajak Akfin yang kali ini dia merasa kalau mood Mila turun drastis sejak dia datang ke kampusnya.
Mila balas mengangguk malas.
selesai membeli dress yang dia pengen, dan Alfin terus mengajaknya untuk makan akhirnya mereka berada di tempat fast food. Mila cepat memilih dan memakannya, nggak tahu kenapa mood dia turun drastis sejak Riki datang menjemput Ria. Kenapa Mila malah marah nggak karuan begini? apa gara-gara Riki menjemput Ria bukan adik kesayangannya.
"Kenapa gue jadi brother complex gini sih?" gumam Mila.
"Ada apa La?" tanya Alfin yang sudah khawatir sejak tadi.
"Nggak... nggak apa-apa kok Fin." jawab Mila gelagapan.
"Kenapa jadi bad mood gitu sih? gara-gara gue dateng ke kampus? atau gara-gara gue ngusir Ria secara halus?" tanya Alfin, dan pertanyaan kedua bikin Mila melotot ke arahnya. "sori...sori gue becanda, tapi nanyain lo kenapa bad mood nggak bikin lo melotot kan?" kini Mila bisa tersenyum tipis karena celetukan Alfin tadi.
"Bad mood gara-gara lihat abang gue sama Ria." jawab Mila.
"Ohh tadi pacarnya Ria itu abang lo?" tanya Alfin penasaran, Mila langsung menggeleng cepat.
"Nggak, bukan... masih gue comblangin."
"Tapi berhasil kayaknya, si Ria udah diantar jemput padahal Ria tadi bawa mobil kan?"
"Iya, ahh udah nggak usah dibahas lagi, ntar gue marahin aja di rumah."
"Nah gitu doong semangat hhahaha, tadi lo cemberut mulu sih."
"Sori Fin..." Mila menyesap minumannya.
***
Mila duduk tenang sambil membaca novel yang sudah lama tidak dia baca. nggak lama, terdengar suara langkah kaki mendekati kamar Riki. pasti dia baru pulang, kemana aja sih sama Ria. pintu sebelah tertutup dan terdengar seseorang duduk ke tempat tidur. Mila langsung menuju ke kamar Riki dan memarahinya.
"Bang, lo tuh keterlaluan yah! ada adek yang nggak bawa kendaraan malah ngasih tumpangan ke Ria..." bentak Mila saat membuka pintu kamar Riki. dan terlihat cewek yang pernah dia lihat, tapi Mila langsung kembali ke kamarnya.
siapa cewek yang ada di kamar Riki? terus Riki kemana?? teriak batin Mila.
kemudian terdengar ketukan pintu pada kamar Mila.
"Mbak maaf, bisa minta tolong bilangin ke mas yang tadi nolongin saya kalau saya sudah pulang ya." kata perempuan itu. tapi Mila tetap tidak membukakan pintu kamarnya. karena penasaran siapa perempuan itu, Mila akhirnya membuka pintu kamarnya.
"Abang saya sekarang kemana Mbak?"
"Dia mengantarkan ceweknya pulang, tadi Masnya nggak sengaja nabrak saya."
"Ya ampuuuun kok bisa sih?"
"Emm, sepertinya wajah Mbak seperti pernah tahu." kata perempuan itu sambil menarik boleronya erat
Mila teringat cewek yang memaksa untuk menggandeng tangan Alfin, cewek seksi itu. "Pacarnya Alfin ya?" teriak Mila kaget.
Perempuan yang sedaritadi menyenderkan badannya di tangga akhirnya ikut kaget karena dia mengingat siapa Mila.
-Bersambung-
Monday, September 8, 2014
Here Without You
"Kita putus..." ucap Mila pada Bayu, kekasihnya yang dipacari baru 2 bulan lamanya. gimana nggak putus, Bayu itu orangnya kaku. mau ke rumah Ria nggak boleh katanya dia nggak percaya kalau Mila tuh datang langsung ke rumah Ria. padahal Ria tuh cewek kali...
terus ada lagi sewaktu kerja kelompok sama Teguh juga gitu, ya Mila tahulah kalau memang Teguh suka sama Mila. tapi Mila tahu diri dong, dia sadar kalau dia sudah punya Bayu. Mila sudah janji nggak akan mengurusi masalah Teguh yang memang tergila-gila sama Mila dari awal perkuliahan. namanya cowok cemburuan Bayu marah besar tahu kalau Mila datang ke kosan Teguh padahal niatnya cuma mau buat tugas himpunan. karena memang Mila orangnya nggak suka dikekang akhirnya dia putuskan Bayu. itu sudah Fix!
"Tapi La.. aku sayang sama kamu.." kata Bayu berharap ucapan Mila ditelan lagi.
"Nggak Bay, gue sudah bosen sama ocehan lo yang nggak bolehin gue kesana kemari. lo bukan bokap atau nyokap gue jadi please tinggalin gue. Gue mau hidup bebas." jelas Mila sambil meninggalkan Bayu yang tertunduk lesu. Mila masuk ke mobil Ria yang sudah terparkir di depan cafe tempat dia meluapkan kemarahannya.
"Gimana La?" tanya Ria dengan muka yang sangat khawatir. takut kalau sahabatnya ini salah ambil keputusan dan kecewa.
"Yeeessss... gue bebas Ya! gue bebaaaaassss !!" teriak Mila di dalam mobil sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
"Beneran lo nggak apa-apa nih putus kayak gini ?"
"Nggak Ya.. gue iklas seiklas-iklasnya buat keluar dari penjara Bayu."
"Tapi waktu jadian bulan lalu lo seneng banget jadian sama Bayu." ucap Ria dengan tenang.
"Itu dulu Ya. dia asli beda banget nggak kelihatan kalau dia itu posesif. baru aja dua bulan, gimana kalau setahun. tahu sendiri kan kalau gue nggak suka dikekang." jelas Mila dengan bebas tanpa beban.
"Gue mau pizza sama ice cream doong..." pinta Ria sambil mengusap perutnya tanda kalau dia lapar.
"Ahh elo.. ada juga kalau jadian traktiran Ya, lah lo malah putus minta traktiran..." kata Mila sewot.
"Lo kalau lagi bahagia kan iklas-iklasin duit gitu La... orang cuma nraktir gue pasti gampanglaaah." dengan tampang sewot, Mila meng-iyakan permintaan Ria yang lagi kelaparan.
sesampainya di cafe, Ria langsung memilih tempat yang dia suka dan memesan apa yang dia mau. Mila yang kebingungan mencari uang dalam dompet, takut kalau Ria memesan yang mahal tapi uang Mila nggak cukup. tiba-tiba seorang laki-laki menyodorkan KTP Mila yang jatuh di lantai.
"Sori. ini jatuh Mbak..." kata cowok itu. yang kemudian melihat ke arah Ria dengan muka mengingat-ingat. "lo Ria bukan? anak 65 kan?" tanyanya lagi, kali ini berhadapan dengan Ria yang melahap spaghettinya dengan lahap.
"Lo Alfin kan?" tanya Ria balik. "hei Fin, apa kabar lo?" tanya Ria sambil menjabat tangan Alfin dengan akrab. "oh, iya ini teman gue yang waktu SMA sering kita buat lucu-lucuan." jelas Ria. Mila yang kesal dengan kata 'lucu-lucuan' langsung mencubit pelan lengan Ria.
"Mila..."
"Alfin..."
"Duduk sini aja Fin, lagian banyak yang penuh tuh. sendirian kan ?" tanya Ria sambil mempersilahkan Alfin duduk.
"Gue sama temen kantor. Lagi ke toilet katanya..."
"Udah kerja ?" tanya Mila ikut nimbrung.
"Dia udah... kita aja yang kelamaan skripsinya." ucap Ria dengan spaghetti penuh di mulutnya diikuti desahan nafas Mila.
"Kenapa jadi depresi begini ?" tanya Alfin yang keheranan melihat ekspresi Mila.
"Eng.. nggak apa-apa kok." jawab Mila.
"Santai saja, pasti cepet kelar kok. ehh, itu dia teman gue... Sil..." panggil Alfin sambil melambaikan tangannya.
dan datanglah seorang cewek dengan pakaian kantor yang rapi dengan rok selutut dan kemeja yang pas di badan dia tapi tidak ketat.
"Ini Sesil, dia temen sekantor gue..." jelas Alfin sambil memperkenalkan cewek yang ada di sebelahnya. dan cewek itu membalas dengan senyuman canggung. "ini Ria, temen satu SMA gue dulu.. ini Mila, temen kecilnya Ria."
karena meja di cafe ini sudah penuh, mereka berdua duduk di meja Mila dan Ria. entah berapa lama mereka bicara sampai Alfin berpamitan terlebih dahulu. dan cewek itu -Sesil- berjalan di belakangnya sambil berusaha menggandeng tangan Alfin.
"Ceweknya kali..." jawab Ria di dalam mobil, Mila yang sedaritadi kepo tentang Alfin dan Sesil jadi suka bertanya terus-terusan.
"Iya kali." Mila tiba-tiba terlihat murung mendengar jawaban Ria.
"Kenapa lo? naksir Alfin?" tanya Ria kaget.
"Ihh gila aja, baru aja putus ntar dikira gue nyelingkuhin Bayu lagi." balas Mila dengan muka jelek.
sesampainya di rumah, Mila bersandar di pinggir tempat tidurnya sambil melihat banyak sms dan telepon dari Bayu. Mila tidak menghiraukan semuanya, dia tiba-tiba teringat wajah Alfin yang memberikan KTP Mila tadi dengan senyuman yang menurut Mila sangat keren.
'Beneran cewek seksi tadi pacar Alfin.. ihh kenapa gue mikirin cowok yang baru gue kenal..' batin Mila galau.
tiba-tiba handphone Mila berdering lagu Be Alright-nya Justin Bieber. dan nomor yang terpampang tidak ada dalam kontaknya.
"Halo ? Siapa ini ?"
"Hai Mil.. ini gue Alfin..."
Deg... apa-apaan ini, kenapa dia bisa tahu nomor handphone gue ?
"Emm.. iya Fin ada apa ya ?" tanya Mila dengan napas yang harus dia atur. Mila berpindah dari kamarnya ke depan balkon.
"Nggak gue cuma mau telpon lo, gue dapat nomer dari Ria." jelas Alfin yang nggak kalah nerfousnya.
"Ohh..."
"Pasti lo lagi mikir, darimana gue dapet nomer lo?" tebak Alfin yang langsung bikin wajah Mila berubah merah. Mila dengan gelagapan bingung mau jawab apa. "kok diem? becanda gue..." celetuk Alfin sambil tertawa pelan.
obrolan sedikit lancar daripada awal pembicaraan tadi. Mila sudah cekikikan dengar candaan Alfin yang memang lucu. nggak tahu kalau yang diajak ngobrol si Ria, paling Ria sudah ganti topik lain. setelah Alfin menutup teleponnya, seseorang mengagetkan Mila dengan memuku pundaknya keras.
"Aduuuhhh..." teriak Mila kesakitan.
"Cieee.. yang telepon Bayu sampai mulut nggak berhenti senyum."
"Apaan sih, dateng-dateng ngagetin orang aja senengnya." semprot Mila yang masih mengusap pundaknya. "bukan Bayu lagi tauu..." lanjutnya sambil meninggalkan abangnya yang meringis puas ngerjain adiknya.
"Punya pacar baru lo?"
"Emangnya kenapa? emang cuma abang Riki aja yang bisa punya pacar banyak..." jawab Mila, dan langsung Riki mengejar Mila sampai dalam kamar dan memutar-mutarkan tubuh Mila.
"Bang... ampuuuuunn turunin gue nggaaaak!! pusiing tauuuu!" teriak Mila dengan tubuhnya yang berusaha melepaskan diri dari abangnya yang jahil.
Setelah melepaskan "gendongan maut" Riki, Mila langsung mengusir abangnya keluar dari kamar.
"Dasaaar abang begoooo!" teriak Mila dan disambut tawa Riki yang terbahak-bahak terdengar dari luar kamar Mila.
terus ada lagi sewaktu kerja kelompok sama Teguh juga gitu, ya Mila tahulah kalau memang Teguh suka sama Mila. tapi Mila tahu diri dong, dia sadar kalau dia sudah punya Bayu. Mila sudah janji nggak akan mengurusi masalah Teguh yang memang tergila-gila sama Mila dari awal perkuliahan. namanya cowok cemburuan Bayu marah besar tahu kalau Mila datang ke kosan Teguh padahal niatnya cuma mau buat tugas himpunan. karena memang Mila orangnya nggak suka dikekang akhirnya dia putuskan Bayu. itu sudah Fix!
"Tapi La.. aku sayang sama kamu.." kata Bayu berharap ucapan Mila ditelan lagi.
"Nggak Bay, gue sudah bosen sama ocehan lo yang nggak bolehin gue kesana kemari. lo bukan bokap atau nyokap gue jadi please tinggalin gue. Gue mau hidup bebas." jelas Mila sambil meninggalkan Bayu yang tertunduk lesu. Mila masuk ke mobil Ria yang sudah terparkir di depan cafe tempat dia meluapkan kemarahannya.
"Gimana La?" tanya Ria dengan muka yang sangat khawatir. takut kalau sahabatnya ini salah ambil keputusan dan kecewa.
"Yeeessss... gue bebas Ya! gue bebaaaaassss !!" teriak Mila di dalam mobil sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
"Beneran lo nggak apa-apa nih putus kayak gini ?"
"Nggak Ya.. gue iklas seiklas-iklasnya buat keluar dari penjara Bayu."
"Tapi waktu jadian bulan lalu lo seneng banget jadian sama Bayu." ucap Ria dengan tenang.
"Itu dulu Ya. dia asli beda banget nggak kelihatan kalau dia itu posesif. baru aja dua bulan, gimana kalau setahun. tahu sendiri kan kalau gue nggak suka dikekang." jelas Mila dengan bebas tanpa beban.
"Gue mau pizza sama ice cream doong..." pinta Ria sambil mengusap perutnya tanda kalau dia lapar.
"Ahh elo.. ada juga kalau jadian traktiran Ya, lah lo malah putus minta traktiran..." kata Mila sewot.
"Lo kalau lagi bahagia kan iklas-iklasin duit gitu La... orang cuma nraktir gue pasti gampanglaaah." dengan tampang sewot, Mila meng-iyakan permintaan Ria yang lagi kelaparan.
sesampainya di cafe, Ria langsung memilih tempat yang dia suka dan memesan apa yang dia mau. Mila yang kebingungan mencari uang dalam dompet, takut kalau Ria memesan yang mahal tapi uang Mila nggak cukup. tiba-tiba seorang laki-laki menyodorkan KTP Mila yang jatuh di lantai.
"Sori. ini jatuh Mbak..." kata cowok itu. yang kemudian melihat ke arah Ria dengan muka mengingat-ingat. "lo Ria bukan? anak 65 kan?" tanyanya lagi, kali ini berhadapan dengan Ria yang melahap spaghettinya dengan lahap.
"Lo Alfin kan?" tanya Ria balik. "hei Fin, apa kabar lo?" tanya Ria sambil menjabat tangan Alfin dengan akrab. "oh, iya ini teman gue yang waktu SMA sering kita buat lucu-lucuan." jelas Ria. Mila yang kesal dengan kata 'lucu-lucuan' langsung mencubit pelan lengan Ria.
"Mila..."
"Alfin..."
"Duduk sini aja Fin, lagian banyak yang penuh tuh. sendirian kan ?" tanya Ria sambil mempersilahkan Alfin duduk.
"Gue sama temen kantor. Lagi ke toilet katanya..."
"Udah kerja ?" tanya Mila ikut nimbrung.
"Dia udah... kita aja yang kelamaan skripsinya." ucap Ria dengan spaghetti penuh di mulutnya diikuti desahan nafas Mila.
"Kenapa jadi depresi begini ?" tanya Alfin yang keheranan melihat ekspresi Mila.
"Eng.. nggak apa-apa kok." jawab Mila.
"Santai saja, pasti cepet kelar kok. ehh, itu dia teman gue... Sil..." panggil Alfin sambil melambaikan tangannya.
dan datanglah seorang cewek dengan pakaian kantor yang rapi dengan rok selutut dan kemeja yang pas di badan dia tapi tidak ketat.
"Ini Sesil, dia temen sekantor gue..." jelas Alfin sambil memperkenalkan cewek yang ada di sebelahnya. dan cewek itu membalas dengan senyuman canggung. "ini Ria, temen satu SMA gue dulu.. ini Mila, temen kecilnya Ria."
karena meja di cafe ini sudah penuh, mereka berdua duduk di meja Mila dan Ria. entah berapa lama mereka bicara sampai Alfin berpamitan terlebih dahulu. dan cewek itu -Sesil- berjalan di belakangnya sambil berusaha menggandeng tangan Alfin.
***
"Ceweknya kali..." jawab Ria di dalam mobil, Mila yang sedaritadi kepo tentang Alfin dan Sesil jadi suka bertanya terus-terusan.
"Iya kali." Mila tiba-tiba terlihat murung mendengar jawaban Ria.
"Kenapa lo? naksir Alfin?" tanya Ria kaget.
"Ihh gila aja, baru aja putus ntar dikira gue nyelingkuhin Bayu lagi." balas Mila dengan muka jelek.
sesampainya di rumah, Mila bersandar di pinggir tempat tidurnya sambil melihat banyak sms dan telepon dari Bayu. Mila tidak menghiraukan semuanya, dia tiba-tiba teringat wajah Alfin yang memberikan KTP Mila tadi dengan senyuman yang menurut Mila sangat keren.
'Beneran cewek seksi tadi pacar Alfin.. ihh kenapa gue mikirin cowok yang baru gue kenal..' batin Mila galau.
tiba-tiba handphone Mila berdering lagu Be Alright-nya Justin Bieber. dan nomor yang terpampang tidak ada dalam kontaknya.
"Halo ? Siapa ini ?"
"Hai Mil.. ini gue Alfin..."
Deg... apa-apaan ini, kenapa dia bisa tahu nomor handphone gue ?
"Emm.. iya Fin ada apa ya ?" tanya Mila dengan napas yang harus dia atur. Mila berpindah dari kamarnya ke depan balkon.
"Nggak gue cuma mau telpon lo, gue dapat nomer dari Ria." jelas Alfin yang nggak kalah nerfousnya.
"Ohh..."
"Pasti lo lagi mikir, darimana gue dapet nomer lo?" tebak Alfin yang langsung bikin wajah Mila berubah merah. Mila dengan gelagapan bingung mau jawab apa. "kok diem? becanda gue..." celetuk Alfin sambil tertawa pelan.
obrolan sedikit lancar daripada awal pembicaraan tadi. Mila sudah cekikikan dengar candaan Alfin yang memang lucu. nggak tahu kalau yang diajak ngobrol si Ria, paling Ria sudah ganti topik lain. setelah Alfin menutup teleponnya, seseorang mengagetkan Mila dengan memuku pundaknya keras.
"Aduuuhhh..." teriak Mila kesakitan.
"Cieee.. yang telepon Bayu sampai mulut nggak berhenti senyum."
"Apaan sih, dateng-dateng ngagetin orang aja senengnya." semprot Mila yang masih mengusap pundaknya. "bukan Bayu lagi tauu..." lanjutnya sambil meninggalkan abangnya yang meringis puas ngerjain adiknya.
"Punya pacar baru lo?"
"Emangnya kenapa? emang cuma abang Riki aja yang bisa punya pacar banyak..." jawab Mila, dan langsung Riki mengejar Mila sampai dalam kamar dan memutar-mutarkan tubuh Mila.
"Bang... ampuuuuunn turunin gue nggaaaak!! pusiing tauuuu!" teriak Mila dengan tubuhnya yang berusaha melepaskan diri dari abangnya yang jahil.
Setelah melepaskan "gendongan maut" Riki, Mila langsung mengusir abangnya keluar dari kamar.
"Dasaaar abang begoooo!" teriak Mila dan disambut tawa Riki yang terbahak-bahak terdengar dari luar kamar Mila.
***
Keesokan harinya, Mila mendapatkan sms dari Alfin yang nggak pernah dia duga. Mila mengira kalau Alfin hanya basa-basi sewaktu di telepon tadi malam.
Hai cantik...
Have a nice day ya :)
"Ya, lihat deh..." Mila menyerahkan handphonenya pada Ria. Tiba-tiba, ckiiiitttt... Mobil yang disetir Ria langsung mendadak berhenti. "pelan-pelan kenapa sih Ya?" bentak Mila.
"Si Alfin kesambet apaan tiba-tiba ngirim pesan beginian?" tanya Ria heran. Mila hanya menggedikkan bahunya tanda tidak tahu.
"Berarti terbukti, cewek yang kemarin bukan pacarnya..." celetuk Mila.
"Ihh, jangan ge-er dulu napa Mil." balas Ria yang sekarang menjalankan mobilnya lagi.
Ndut, besok ikut gue ya ke villa. kumpul sama temen-temen
ada Bayu juga lhoooh...
"Sialan... malah ogah ikut gue..." bisik Mila.
"Siapa? Alfin lagi?"
"Bukan, si Riki. ngajakin gue kumpul sama temen SMAnya dulu."
"Ada Bayu doong?" tanya Ria dengan nada yang histeris.
"Ogah ikutlah gue..." sewot Mila yang dibarengi tawa jahil Ria.
Sesampainya di kelas, Ina teman selain Ria mendekati Mila dengan histeris. Ina membawa seperti selebaran kertas dengan ekspresi yang bahagia.
"Milaaaaa..." teriak Ina.
"Apaan Na?" tanya Mila sambil meletakkan tasnya.
"Eh.. Tulus mau ke kampus kita lhooo...!"
"Sumpaaaah Na? kapan?" balas Mila nggak kalah histerisnya. Mila lalu merebut selebaran yang dipegang Ina. Mata Mila tidak berkedip karena memang idola yang dia suka mengadakan mini concert di kampusnya.
Ria makan dengan lahap seperti biasa di kantin gedung sebelah. Mila yang sedaritadi tidak henti-hentinya membicarakan soal konser Tulus minggu depan.
"Ya, ikut yaaah? pleaseee..." pinta Mila.
Ria yang sedang menikmati makanannya tidak menghiraukan peemintaan Mila yang sudah memberi ekspresi muka memelas.
"Ikut kemana ndut?" tanya Ria yang akhirnya makanan di depannya habis.
"Nggak denger gue cerita daritadi?"
"Cerita apaan emang lo?" tanya Ria bingung.
"Sialan lo, nggak perhatiin gue ckckck... makanan mulu yang dipikirin." sewot Mila.
"Makanan tuh harus dinikmatin dong, masa cuma dilihatin doang, kan mubadzir tahuu. makanan itu... " diputusnya penjelasan tentang makanan karena Mila memperlihatkan ponselnya lagi. "gila nih temen gue... jatuh cinta beneran apa modusin temen gue aja."
ponsel Mila terpampang jelas sms Alfin yang memang dari tadi pagi mengirimkan pesan pada Mila.
Minggu depan ada acara?
mau temenin gue nonton Tulus?
"Eh, lo ya yang bilang kalau mau nonton Tulus?" tanya Mila menyelidiki mulut ember sahabat yg satu ini.
"Gue baru tahu pas lo yang ngajakin sekarang tauuk..."
-Bersambung-
"Si Alfin kesambet apaan tiba-tiba ngirim pesan beginian?" tanya Ria heran. Mila hanya menggedikkan bahunya tanda tidak tahu.
"Berarti terbukti, cewek yang kemarin bukan pacarnya..." celetuk Mila.
"Ihh, jangan ge-er dulu napa Mil." balas Ria yang sekarang menjalankan mobilnya lagi.
Ndut, besok ikut gue ya ke villa. kumpul sama temen-temen
ada Bayu juga lhoooh...
"Sialan... malah ogah ikut gue..." bisik Mila.
"Siapa? Alfin lagi?"
"Bukan, si Riki. ngajakin gue kumpul sama temen SMAnya dulu."
"Ada Bayu doong?" tanya Ria dengan nada yang histeris.
"Ogah ikutlah gue..." sewot Mila yang dibarengi tawa jahil Ria.
Sesampainya di kelas, Ina teman selain Ria mendekati Mila dengan histeris. Ina membawa seperti selebaran kertas dengan ekspresi yang bahagia.
"Milaaaaa..." teriak Ina.
"Apaan Na?" tanya Mila sambil meletakkan tasnya.
"Eh.. Tulus mau ke kampus kita lhooo...!"
"Sumpaaaah Na? kapan?" balas Mila nggak kalah histerisnya. Mila lalu merebut selebaran yang dipegang Ina. Mata Mila tidak berkedip karena memang idola yang dia suka mengadakan mini concert di kampusnya.
Ria makan dengan lahap seperti biasa di kantin gedung sebelah. Mila yang sedaritadi tidak henti-hentinya membicarakan soal konser Tulus minggu depan.
"Ya, ikut yaaah? pleaseee..." pinta Mila.
Ria yang sedang menikmati makanannya tidak menghiraukan peemintaan Mila yang sudah memberi ekspresi muka memelas.
"Ikut kemana ndut?" tanya Ria yang akhirnya makanan di depannya habis.
"Nggak denger gue cerita daritadi?"
"Cerita apaan emang lo?" tanya Ria bingung.
"Sialan lo, nggak perhatiin gue ckckck... makanan mulu yang dipikirin." sewot Mila.
"Makanan tuh harus dinikmatin dong, masa cuma dilihatin doang, kan mubadzir tahuu. makanan itu... " diputusnya penjelasan tentang makanan karena Mila memperlihatkan ponselnya lagi. "gila nih temen gue... jatuh cinta beneran apa modusin temen gue aja."
ponsel Mila terpampang jelas sms Alfin yang memang dari tadi pagi mengirimkan pesan pada Mila.
Minggu depan ada acara?
mau temenin gue nonton Tulus?
"Eh, lo ya yang bilang kalau mau nonton Tulus?" tanya Mila menyelidiki mulut ember sahabat yg satu ini.
"Gue baru tahu pas lo yang ngajakin sekarang tauuk..."
-Bersambung-
Wednesday, July 16, 2014
#GombalRaport from Twitter @GePamungkas
Nilai bahasa Indonesia ku dulu 30, olah raga 95. Artinya aku gak bisa bertutur kata, kalo sayang ya tunjukkin pake tindakan #GombalRapor
Nilai ekonomi aku 30, Agama 90. Aku orangnya ga jago cari duit tp aku bisa nuntun kamu ke Jalan menuju Surga #GombalRapor
Nilai Bahasa Inggris aku 25, IPS aku 99, walaupun aku gk bisa ngerti Bahasa Inggris, tapi aku bisa ngerti bahasa kalbu kamu #GombalRapor
Nilai agama 90, nilai mtk 20. Aku memang gakbisa menghitung seberapa banyak nama kamu yang aku sebut dalam doaku chuE #GombalRapor
Nilai PKN aku 99, sosiologi aku 44. Aku emang gak bisa sosialisasi, tapi kesopanan aku buronan-mertua material banget #GombalRapor
Nilai IPS ku 85, nilai OR ku 89. aku memang gk sempurna, tapi aku selalu ada buat kamu. ya walau gak dianggep sih #GombalRapor
Nilai olah ragaku 45, nilai kimiaku 100. Aku emg ga byk aksi ke km, tp aku bs bikin km ngerasain reaksi2 kimia ketika liat aku #GombalRapor
Nilai PKN aku 20 & nilai sejarah aku 90.Aku sering disakitin sama kamu,tapi aku ngga akan bisa move on dari kamu. #GombalRapor
Nilai mtk aku 20 & nilai sejarah aku 96. Aku lupa tgl jadian kita, tapi aku ngga bisa ngelupain kebahagiaan kita #GombalRapor
Nilai b.inggris 32, nilai b.indo 87. Aku mungkin bisu di depan bule, tapi aku bisa bikin 1 buku puisi buat kamu.
Nilai matematika aku 25, ekonomi 97. Aku pinter nyari duit, tapi males ngitungnya. Nih, kamu ambil semua aja #GombalRapor
Nilai MTK ku 25 ,OR aku nilainya 85, Seberapapun rasa cinta kamu ke aku, aku akan terus mengejar cintamu #GombalRapor
Nilai Matematika 30, Nilai Agama 80 berarti aku ga perhitungan dalam hal mendoakan kmu #GombalRapor
Nilai Matematika 20 , olah raga 90 . Walaupun lupa tanggal anniv , tapi ga pernah lupa ngajak jalan kamu. #GombalRapor
Nilai bahasa indonesia ku 20, tapi nilai bahasa sunda ku 95. Kamu meni geulis pisan euy #GombalRapor
Nilai seni musik 30, nilai pendidikan agama 95. aku emang gak bisa nyanyiin kamu tiap malam, tapi aku doain kamu. #GombalRapor
Nilai d rapor aku 0 semua, knpa? Soalnya aku ga pernah blajar itu semua, aku blajarnya mencintai kmu dgn tulus #GombalRapor
Nilai sejarah aku 20 tapi nilai Kimia aku 95. Aku udah lupain mantan aku karena sibuk meracik formula untuk menyayangimu. #GombalRapor
Nilai geografi 20, agama Islam 10. Aku suka lupa jalan ke rumah kamu, jadi nyasar trus maki" deh #GombalRapor
Nilai matematikaku 25. Makanya aku gapernah bisa ngitung seberapa besar cintaku ke kamu. #GombalRapor
Nilai geografi 20, agama Islam 89. Aku suka lupa jalan ke rumah kamu, tapi gak pernah lupa ngedoain kamu #GombalRapor
Nilai bahasa gua 30. Olahraga juga 30. Kalo sayang ya dipendem aja. #GombalRapor
Nilai bahasa Indonesia ku dulu 30, olah raga 95. Artinya aku gak bisa bertutur kata, kalo sayang ya tunjukkin pake tindakan #GombalRapor
Nilai ekonomi aku 30, Agama 90. Aku orangnya ga jago cari duit tp aku bisa nuntun kamu ke Jalan menuju Surga #GombalRapor
Nilai Bahasa Inggris aku 25, IPS aku 99, walaupun aku gk bisa ngerti Bahasa Inggris, tapi aku bisa ngerti bahasa kalbu kamu #GombalRapor
Nilai agama 90, nilai mtk 20. Aku memang gakbisa menghitung seberapa banyak nama kamu yang aku sebut dalam doaku chuE #GombalRapor
Nilai PKN aku 99, sosiologi aku 44. Aku emang gak bisa sosialisasi, tapi kesopanan aku buronan-mertua material banget #GombalRapor
Nilai IPS ku 85, nilai OR ku 89. aku memang gk sempurna, tapi aku selalu ada buat kamu. ya walau gak dianggep sih #GombalRapor
Nilai olah ragaku 45, nilai kimiaku 100. Aku emg ga byk aksi ke km, tp aku bs bikin km ngerasain reaksi2 kimia ketika liat aku #GombalRapor
Nilai PKN aku 20 & nilai sejarah aku 90.Aku sering disakitin sama kamu,tapi aku ngga akan bisa move on dari kamu. #GombalRapor
Nilai mtk aku 20 & nilai sejarah aku 96. Aku lupa tgl jadian kita, tapi aku ngga bisa ngelupain kebahagiaan kita #GombalRapor
Nilai b.inggris 32, nilai b.indo 87. Aku mungkin bisu di depan bule, tapi aku bisa bikin 1 buku puisi buat kamu.
Nilai matematika aku 25, ekonomi 97. Aku pinter nyari duit, tapi males ngitungnya. Nih, kamu ambil semua aja #GombalRapor
Nilai MTK ku 25 ,OR aku nilainya 85, Seberapapun rasa cinta kamu ke aku, aku akan terus mengejar cintamu #GombalRapor
Nilai Matematika 30, Nilai Agama 80 berarti aku ga perhitungan dalam hal mendoakan kmu #GombalRapor
Nilai Matematika 20 , olah raga 90 . Walaupun lupa tanggal anniv , tapi ga pernah lupa ngajak jalan kamu. #GombalRapor
Nilai bahasa indonesia ku 20, tapi nilai bahasa sunda ku 95. Kamu meni geulis pisan euy #GombalRapor
Nilai seni musik 30, nilai pendidikan agama 95. aku emang gak bisa nyanyiin kamu tiap malam, tapi aku doain kamu. #GombalRapor
Nilai d rapor aku 0 semua, knpa? Soalnya aku ga pernah blajar itu semua, aku blajarnya mencintai kmu dgn tulus #GombalRapor
Nilai sejarah aku 20 tapi nilai Kimia aku 95. Aku udah lupain mantan aku karena sibuk meracik formula untuk menyayangimu. #GombalRapor
Nilai geografi 20, agama Islam 10. Aku suka lupa jalan ke rumah kamu, jadi nyasar trus maki" deh #GombalRapor
Nilai matematikaku 25. Makanya aku gapernah bisa ngitung seberapa besar cintaku ke kamu. #GombalRapor
Nilai geografi 20, agama Islam 89. Aku suka lupa jalan ke rumah kamu, tapi gak pernah lupa ngedoain kamu #GombalRapor
Nilai bahasa gua 30. Olahraga juga 30. Kalo sayang ya dipendem aja. #GombalRapor
Nilai bahasa Indonesia ku dulu 30, olah raga 95. Artinya aku gak bisa bertutur kata, kalo sayang ya tunjukkin pake tindakan #GombalRapor
Monday, June 30, 2014
Love (?) at First Sight
Oke ini cerita berawal dari seorang cowok dengan memakai kaos superman jaman SD dulu. iya, emang ini cerita semasa kecilku. yahh bisa dibilang cinta monyet sih. tapi waktu itu masih nggak paham sama begituan jadi go with the flow aja.
okay, cowok tinggi manis, cakep dan emm lucu hhaha begitulah kesan pertama waktu itu. aku melihatnya di lapangan bola dan pada saat itu aku bermain benteng-bentengan bersama teman-temanku. yahh aku akui temanku banyak cowoknya daripada cewek. aku juga nggak pernah main masak-masakkan atau rumah-rumahan mainannya ya gitu jumprit singit bahasa jawanya atau petak umpet kalo di bahasa Indonesia, terus gobak sodor bersama teman cowokku. oh iya belum aku perkenalkan, cowok yang duduk di pinggir lapangan itu bernama Dedy nggak usah lengkapnya yah ntar dia kege'eran. dia memakai kaos superman yang di punggungnya berkibar sayapnya atau apa ya sebutannya.
nah waktu itu aku nggak tahu dia siapa aku ajak deh dia main bareng dan kita bermain bersama. seharian kita main bareng sampai maghrib dan kita pulang ke rumah masing-masing. ternyata dia punya adik cewek bernama Nila dia adik kelasku. waktu itu aku kelas 4 SD, Dedy kelas 5 SD dan adiknya Nila kelas 3 SD. aku belum akrab dengan Nila karena memang aku belum pernah ketemu. tapi Nila akrab dengan Mbak Lia dia cewek kelas 6 SD, dia tetanggaku yang cantik, putih dan apa yahh (sok jeles) Nila selalu mengekor ke Mbak Lia dan aku masih belum bisa akrab dengan Nila.
nah seminggu kemudian kami bermain bersama aku, Dedy dan Nila. kita selalu bersama. aku nggak merasa kalau ada rasa suka, namanya aja anak kecil jadi main aja pikirannya. tapi rasa itu tetep ada, atau memang gara-gara kita selalu bersama. Nila juga sering bersamaku.
besoknya aku diajak Nila main ke rumahnya, dan itu pertama kalinya aku masuk ke rumah Dedy. di rumah juga aku mencuri-curi kesempatan untuk bersama Dedy hhahaha...
sampai akhirnya terdengar gosip kalau Dedy pacaran sama Mbak Lia. bagaimana perasaanmu kalau orang yang disukai malah jadian sama cewek lain, lebih tua pula. dan aku berusaha menjauh dari Dedy tapi aku masih sering bermain dengan Nila. sampai-sampai Nila berbicara seperti ini :
Nila : Mbak, santai saja aku lebih suka sama Mbak Tika kok.
Aku : (menggaruk kepala yang nggak gatal kemudian tersenyum puas)
ternyata emang tukang gosip si kakak beradik ini Berty dan Tomi memang memanas-manasiku karena mereka tahu kalau aku suka pada Dedy. dasar kompoooor...
sore kita mengaji bersama di musholla dekat rumah dan Tomi yang gencar menjodoh-jodohkan aku dengan Dedy. Berty yang tidak menghentikan saudaranya malah tertawa terkikik mendengarnya.
beberapa bulan kemudian kita sudah nggak begitu akrab karena Dedy sudah mau ulangan untuk naik ke kelas 6 dan aku masih tetap suka bermain sampai malam. dan Nila mengajakku lagi ke rumahnya, sore itu aku datang saat memencet bel Ibu Dedy datang membukakan pintu.
Ibu Dedy : Nyari Dedy ya... (sambil membuka pagar rumah)
Aku : (Meringis sungkan) Nggak Bu, mau nyari Nila.
Ibu Dedy : Apa nyari Mas Deni ? (Menyuruhku masuk masih sambil terkikik lucu.)
kemudian aku masuk dan tidak menemukan Dedy yang biasanya duduk diam menonton tivi. Nila datang dan menyeretku ke lantai dua, terlihat Dedy di dalam kamarnya sedang belajar serius. baru kali ini aku melihat sisi seriusnya, aneh hhaha...
aku berpapasan dengan Mas Deni saat mau menuju ke kamar mandi yang ada di lantai bawah. dan bertemu dengan Mbak Mila anak ketiga dari 5 bersaudara. ada lagi Mbak Ana dengan anak semata wayangnya. dipanggilnya aku dan disuruhnya duduk di dekat Mbak Ana.
Mbak Ana : Oh iya, minggu depan jadi Pager Ayu yah ?
Aku : Minggu depan jadi menikah Mbak ? (tanyaku polos)
Mbak Ana : (Mengangguk) iya, minggu depan harus jadi lho yah. awas kalau nggak...
Aku : Siap Boss. Aku aja nih Mbak ?
Mbak Ana : Sama Lia, sama Mila dong Tik.
aku cuma bisa ber"O" ria. aku nggak musuhan sama Mbak Lia, aku nggak membenci dia karena ketahuan kalau dia juga suka Dedy. aku cuma jeles melihat mereka bersama.
sebelum hari pernikahan Mbak Mila menyuruhku untuk datang ke rumah, katanya disuruh mencoba kebaya yang akan dipakai.
waktu itu aku masih langsing, nggak ada lemak yang bertebaran seperti sekarang jadi semua pakaian pantas di badanku. aku terlihat lebih langsing. kebaya merah tua dengan brokat bentuk bunga di lengan panjangnya. Mbak Lia dan Mila memakai kebaya berwarna sama yaitu pink. jadi aku yang paling waw diantara mereka. Dedy yang sudah ujian melihatku berpakaian kebaya sampai nggak berkedip (bukannya ge'er lho tapi asli kok) aku menyadarinya dan melihatnya langsung ke arah Dedy dia tersenyum puas melihatku. kata Mbak Mila ini kebaya yang memang khusus buat aku. ahh melting deh lihat senyumnya.
yakk hari H datang, orang-orang datang. semua tetangga juga datang Ibuku yang melihatku memakai kebaya dengan sanggul modren di kepalaku tersenyum dan bilang:
Ibuku : Ini Tika anak Ibu ? waaah dadi pangling deh.
Aku : (Tersipu malu)
Ayahku : Weh, cantike rek...
aku tertunduk malu dan hanya melihat ke arah tamu yang datang dan aku memberi souvenir untuk tamu yang hadir. datanglah Dedy dengan membawa keponakannya (anaknya Mbak Ana) menuju ke arahku dia tersenyum. dan aku hanya bisa membalas senyumnya unutk beberapa saat.
Dedy : Bagus deh kebayanya.
Aku : Ihh, bukan aku nih yang bagus pakai kebayanya ?
Dedy : (menggaruk kepalanya yang nggak gatal kemudian tersenyum malu) iya deh iya bagus...
Keponakannya yang bernama Leo datang dan ingin duduk dipangkuanku. aku mengangkatnya dan mendudukkan ke pangkuanku. Dedy yang melihatku nggak menghilangkan senyumannya.
Aku : Nggak capek meringis terus ? ntar giginya kering lho.
Dedy : (Langsung mengatupkan bibirnya dan seolah-olah dia ngambek) disenyumin malah nggak seneng.
Aku : Hahaha iya, iya maaf.
Dedy mencubit pipi Leo yang manja di pelukanku. aku gemas dan mencium lembut pipi Leo. nggak sadar Mbak Ana sudah ada di depanku dan memotret kami yang sedang bercanda dengan Leo.
Mbak Ana : Ihh, anakku kalian apain tuh. (sambil menuju ke arah anaknya yang tertawa kegelian.)
Aku dan Dedy hanya diam dan kemudian tersenyum bersamaan.
Mas Deni : Makanya cepet dewasa biar bisa punya adik.
Kami berdua terbengong dan Mbak Ana dan Mas Deni tertawa keras. namanya juga masih anak kecil jadi belum pahamlah. selesai acara, aku dan Mbak Lia belum boleh pulang katanya Mbak Ana mau ngasih kita kado. sampai maghrib kami menunggu dan akhirnya Mbak Ana membawa kotak kecil warna putih dan merah. Putih untuk mbak Lia dan dibuka adalah jilbab bermotif bunga, dan aku kotak warna merah yang berisi baju lengan panjang yang lucu. aku menerima dengan senang dan menganggap kalau ini dari Dedy.
setelah beberapa bulan kami tetap akrab dan selalu bermain bersama. Dedy naik kelas 6, aku kelas 5, Nila kelas 4 dan Mbak Lia kelas 1 SMP. karena sudah merasa kalau kita ini remaja Dedy yang bermain dengan kumpulan cowok dan aku dengan kumpulan cewek. kita nggak bersama lagi dan rasa suka masih ada dan gosip kami yang selalu bersama sudah sampai satu perumahan. ya ampuun...
karena kita beda pergaulan Nila jadi jarang main bersamaku. dan gantinya aku yang bermain ke rumahnya. mungkin karena pergaulan kami dengan anak SMA jadi kami merasa kalau sudah remaja. Dedy berubah jadi mudah mengungkapkan sukanya dengan tindakan dan bikin aku jadi risih tapi juga suka. dan gosip jadi bertambah kuat saat melihat aku dan Dedy duduk berdua saat menyaksikan pentas seni di kompleksku.
tapi kedekatan kami nggak berlangsung lama setahun kemudian Dedy pindah rumah lagi karena Ayahnya ada proyek di Balikpapan. sebelum kelurga mereka pindah, Dedy yang naik kelas 1 SMP mendatangiku dan mengajakku mengobrol hanya berdua.
Dedy : Sori... aku tahu kamu suka aku dan kamu tahu kalau aku juga suka sama kamu. kita nggak bisa bareng lagi dan kemungkinan untuk selamanya.
Aku : (Tertunduk dalam diam)
Dedy : (mengulurkan tangannya) Kita masih bisa bersahabat, masih ada alat komunikasi.
Aku : Kita masih teman kan ? (menjabat tangannya)
Dedy : (Mengangguk dan tersenyum kemudian menggenggam tanganku erat)
Nggak lama Nila mendatangiku dan memelukku erat.
Nila : Mbak, aku nggak mau pindah (Katanya dengan menangis)
aku menggaguk dan membalas pelukannya. Dedy yang melihat adegan itu jadi ikut memeluk kami. sudah seperti keluarga sendiri. besoknya mereka sekeluarga berangkat. karena aku sekolah jadi tidak sempat ikut mengantarkan mereka. sorenya aku di datangi Tomi dan di berikannya surat dari Dedy katanya.
Hai Tika
Makasih sudah mau jadi temanku 2 tahun ini. kita main bersama sampai pada saat kita berpisah karena gender hhaha.. aku ikut gerombolan Mas Wayan karena aku dibilang sudah remaja, kalau bermain sama cewek di bilang cowok cemen.
Sori buat yang itu...
Sebenarnya aku masih pengen bareng kamu tapi apa daya kita nggak bisa bareng, semalaman Nila nangis bilang kalau nggak mau pindah sampai marah-marah.
Karena kita masih kecil dan nggak tahu apa itu cinta (kata-kata Mbak Ami) aku sudah menganggap kamu seperti keluarga sendiri. dan Lia, dia bukan siapa-siapaku kok kamu nggak usah ngambek yah. Aku cuma seneng sama kamu nggak yang lain hehehe
semoga kita tetap keep in touch ya...
from your Husband... Dady
Iya, dia di panggil "Suaminya Tika" oleh teman-temanku hanya untuk bercandaan. tapi aku marah saat dipanggil Istri oleh Dedy. "Kita kan masih kecil" kataku waktu itu.
yakk, sahabat dan sekaligus cinta pertamaku pergi tadi pagi tanpa pamit secara langsung. setelah kami berpisah aku dan Nila masih berhubungan baik lewat Facebook ataupun Twitter.
okay, cowok tinggi manis, cakep dan emm lucu hhaha begitulah kesan pertama waktu itu. aku melihatnya di lapangan bola dan pada saat itu aku bermain benteng-bentengan bersama teman-temanku. yahh aku akui temanku banyak cowoknya daripada cewek. aku juga nggak pernah main masak-masakkan atau rumah-rumahan mainannya ya gitu jumprit singit bahasa jawanya atau petak umpet kalo di bahasa Indonesia, terus gobak sodor bersama teman cowokku. oh iya belum aku perkenalkan, cowok yang duduk di pinggir lapangan itu bernama Dedy nggak usah lengkapnya yah ntar dia kege'eran. dia memakai kaos superman yang di punggungnya berkibar sayapnya atau apa ya sebutannya.
nah waktu itu aku nggak tahu dia siapa aku ajak deh dia main bareng dan kita bermain bersama. seharian kita main bareng sampai maghrib dan kita pulang ke rumah masing-masing. ternyata dia punya adik cewek bernama Nila dia adik kelasku. waktu itu aku kelas 4 SD, Dedy kelas 5 SD dan adiknya Nila kelas 3 SD. aku belum akrab dengan Nila karena memang aku belum pernah ketemu. tapi Nila akrab dengan Mbak Lia dia cewek kelas 6 SD, dia tetanggaku yang cantik, putih dan apa yahh (sok jeles) Nila selalu mengekor ke Mbak Lia dan aku masih belum bisa akrab dengan Nila.
nah seminggu kemudian kami bermain bersama aku, Dedy dan Nila. kita selalu bersama. aku nggak merasa kalau ada rasa suka, namanya aja anak kecil jadi main aja pikirannya. tapi rasa itu tetep ada, atau memang gara-gara kita selalu bersama. Nila juga sering bersamaku.
besoknya aku diajak Nila main ke rumahnya, dan itu pertama kalinya aku masuk ke rumah Dedy. di rumah juga aku mencuri-curi kesempatan untuk bersama Dedy hhahaha...
sampai akhirnya terdengar gosip kalau Dedy pacaran sama Mbak Lia. bagaimana perasaanmu kalau orang yang disukai malah jadian sama cewek lain, lebih tua pula. dan aku berusaha menjauh dari Dedy tapi aku masih sering bermain dengan Nila. sampai-sampai Nila berbicara seperti ini :
Nila : Mbak, santai saja aku lebih suka sama Mbak Tika kok.
Aku : (menggaruk kepala yang nggak gatal kemudian tersenyum puas)
ternyata emang tukang gosip si kakak beradik ini Berty dan Tomi memang memanas-manasiku karena mereka tahu kalau aku suka pada Dedy. dasar kompoooor...
sore kita mengaji bersama di musholla dekat rumah dan Tomi yang gencar menjodoh-jodohkan aku dengan Dedy. Berty yang tidak menghentikan saudaranya malah tertawa terkikik mendengarnya.
beberapa bulan kemudian kita sudah nggak begitu akrab karena Dedy sudah mau ulangan untuk naik ke kelas 6 dan aku masih tetap suka bermain sampai malam. dan Nila mengajakku lagi ke rumahnya, sore itu aku datang saat memencet bel Ibu Dedy datang membukakan pintu.
Ibu Dedy : Nyari Dedy ya... (sambil membuka pagar rumah)
Aku : (Meringis sungkan) Nggak Bu, mau nyari Nila.
Ibu Dedy : Apa nyari Mas Deni ? (Menyuruhku masuk masih sambil terkikik lucu.)
kemudian aku masuk dan tidak menemukan Dedy yang biasanya duduk diam menonton tivi. Nila datang dan menyeretku ke lantai dua, terlihat Dedy di dalam kamarnya sedang belajar serius. baru kali ini aku melihat sisi seriusnya, aneh hhaha...
aku berpapasan dengan Mas Deni saat mau menuju ke kamar mandi yang ada di lantai bawah. dan bertemu dengan Mbak Mila anak ketiga dari 5 bersaudara. ada lagi Mbak Ana dengan anak semata wayangnya. dipanggilnya aku dan disuruhnya duduk di dekat Mbak Ana.
Mbak Ana : Oh iya, minggu depan jadi Pager Ayu yah ?
Aku : Minggu depan jadi menikah Mbak ? (tanyaku polos)
Mbak Ana : (Mengangguk) iya, minggu depan harus jadi lho yah. awas kalau nggak...
Aku : Siap Boss. Aku aja nih Mbak ?
Mbak Ana : Sama Lia, sama Mila dong Tik.
aku cuma bisa ber"O" ria. aku nggak musuhan sama Mbak Lia, aku nggak membenci dia karena ketahuan kalau dia juga suka Dedy. aku cuma jeles melihat mereka bersama.
sebelum hari pernikahan Mbak Mila menyuruhku untuk datang ke rumah, katanya disuruh mencoba kebaya yang akan dipakai.
waktu itu aku masih langsing, nggak ada lemak yang bertebaran seperti sekarang jadi semua pakaian pantas di badanku. aku terlihat lebih langsing. kebaya merah tua dengan brokat bentuk bunga di lengan panjangnya. Mbak Lia dan Mila memakai kebaya berwarna sama yaitu pink. jadi aku yang paling waw diantara mereka. Dedy yang sudah ujian melihatku berpakaian kebaya sampai nggak berkedip (bukannya ge'er lho tapi asli kok) aku menyadarinya dan melihatnya langsung ke arah Dedy dia tersenyum puas melihatku. kata Mbak Mila ini kebaya yang memang khusus buat aku. ahh melting deh lihat senyumnya.
yakk hari H datang, orang-orang datang. semua tetangga juga datang Ibuku yang melihatku memakai kebaya dengan sanggul modren di kepalaku tersenyum dan bilang:
Ibuku : Ini Tika anak Ibu ? waaah dadi pangling deh.
Aku : (Tersipu malu)
Ayahku : Weh, cantike rek...
aku tertunduk malu dan hanya melihat ke arah tamu yang datang dan aku memberi souvenir untuk tamu yang hadir. datanglah Dedy dengan membawa keponakannya (anaknya Mbak Ana) menuju ke arahku dia tersenyum. dan aku hanya bisa membalas senyumnya unutk beberapa saat.
Dedy : Bagus deh kebayanya.
Aku : Ihh, bukan aku nih yang bagus pakai kebayanya ?
Dedy : (menggaruk kepalanya yang nggak gatal kemudian tersenyum malu) iya deh iya bagus...
Keponakannya yang bernama Leo datang dan ingin duduk dipangkuanku. aku mengangkatnya dan mendudukkan ke pangkuanku. Dedy yang melihatku nggak menghilangkan senyumannya.
Aku : Nggak capek meringis terus ? ntar giginya kering lho.
Dedy : (Langsung mengatupkan bibirnya dan seolah-olah dia ngambek) disenyumin malah nggak seneng.
Aku : Hahaha iya, iya maaf.
Dedy mencubit pipi Leo yang manja di pelukanku. aku gemas dan mencium lembut pipi Leo. nggak sadar Mbak Ana sudah ada di depanku dan memotret kami yang sedang bercanda dengan Leo.
Mbak Ana : Ihh, anakku kalian apain tuh. (sambil menuju ke arah anaknya yang tertawa kegelian.)
Aku dan Dedy hanya diam dan kemudian tersenyum bersamaan.
Mas Deni : Makanya cepet dewasa biar bisa punya adik.
Kami berdua terbengong dan Mbak Ana dan Mas Deni tertawa keras. namanya juga masih anak kecil jadi belum pahamlah. selesai acara, aku dan Mbak Lia belum boleh pulang katanya Mbak Ana mau ngasih kita kado. sampai maghrib kami menunggu dan akhirnya Mbak Ana membawa kotak kecil warna putih dan merah. Putih untuk mbak Lia dan dibuka adalah jilbab bermotif bunga, dan aku kotak warna merah yang berisi baju lengan panjang yang lucu. aku menerima dengan senang dan menganggap kalau ini dari Dedy.
setelah beberapa bulan kami tetap akrab dan selalu bermain bersama. Dedy naik kelas 6, aku kelas 5, Nila kelas 4 dan Mbak Lia kelas 1 SMP. karena sudah merasa kalau kita ini remaja Dedy yang bermain dengan kumpulan cowok dan aku dengan kumpulan cewek. kita nggak bersama lagi dan rasa suka masih ada dan gosip kami yang selalu bersama sudah sampai satu perumahan. ya ampuun...
karena kita beda pergaulan Nila jadi jarang main bersamaku. dan gantinya aku yang bermain ke rumahnya. mungkin karena pergaulan kami dengan anak SMA jadi kami merasa kalau sudah remaja. Dedy berubah jadi mudah mengungkapkan sukanya dengan tindakan dan bikin aku jadi risih tapi juga suka. dan gosip jadi bertambah kuat saat melihat aku dan Dedy duduk berdua saat menyaksikan pentas seni di kompleksku.
tapi kedekatan kami nggak berlangsung lama setahun kemudian Dedy pindah rumah lagi karena Ayahnya ada proyek di Balikpapan. sebelum kelurga mereka pindah, Dedy yang naik kelas 1 SMP mendatangiku dan mengajakku mengobrol hanya berdua.
Dedy : Sori... aku tahu kamu suka aku dan kamu tahu kalau aku juga suka sama kamu. kita nggak bisa bareng lagi dan kemungkinan untuk selamanya.
Aku : (Tertunduk dalam diam)
Dedy : (mengulurkan tangannya) Kita masih bisa bersahabat, masih ada alat komunikasi.
Aku : Kita masih teman kan ? (menjabat tangannya)
Dedy : (Mengangguk dan tersenyum kemudian menggenggam tanganku erat)
Nggak lama Nila mendatangiku dan memelukku erat.
Nila : Mbak, aku nggak mau pindah (Katanya dengan menangis)
aku menggaguk dan membalas pelukannya. Dedy yang melihat adegan itu jadi ikut memeluk kami. sudah seperti keluarga sendiri. besoknya mereka sekeluarga berangkat. karena aku sekolah jadi tidak sempat ikut mengantarkan mereka. sorenya aku di datangi Tomi dan di berikannya surat dari Dedy katanya.
Hai Tika
Makasih sudah mau jadi temanku 2 tahun ini. kita main bersama sampai pada saat kita berpisah karena gender hhaha.. aku ikut gerombolan Mas Wayan karena aku dibilang sudah remaja, kalau bermain sama cewek di bilang cowok cemen.
Sori buat yang itu...
Sebenarnya aku masih pengen bareng kamu tapi apa daya kita nggak bisa bareng, semalaman Nila nangis bilang kalau nggak mau pindah sampai marah-marah.
Karena kita masih kecil dan nggak tahu apa itu cinta (kata-kata Mbak Ami) aku sudah menganggap kamu seperti keluarga sendiri. dan Lia, dia bukan siapa-siapaku kok kamu nggak usah ngambek yah. Aku cuma seneng sama kamu nggak yang lain hehehe
semoga kita tetap keep in touch ya...
from your Husband... Dady
Iya, dia di panggil "Suaminya Tika" oleh teman-temanku hanya untuk bercandaan. tapi aku marah saat dipanggil Istri oleh Dedy. "Kita kan masih kecil" kataku waktu itu.
yakk, sahabat dan sekaligus cinta pertamaku pergi tadi pagi tanpa pamit secara langsung. setelah kami berpisah aku dan Nila masih berhubungan baik lewat Facebook ataupun Twitter.
***
Mas Agung : Tik, pujaan hatimu masa kecil dateng lho.
Aku : (bingung dan masuk ke rumah)
Dasar punya kakak tukang bohong ckckck. nggak lama setelah Mas Agung bilang seperti itu datanglah Dedy dengan kaos jersey dan jeansnya. dia terlihat lebih tinggi daripada aku, padahal dulu aku lebih tinggi dari dia. dedy ternyata ingin bertemu dengan Mas Agung dan bukan aku.
Dedy : Hai, Tik...
aku yang mendengar suaranya yang tidak berubah masih dengan suara rendahnya khas Dedy waktu itu. dan aku hanya diam di tempat saat aku akan melepaskan tasku. seperti slow motion aku melihat setiap gerakan dia sambil tersenyum sempurna. Oh My God senyumnya nggak berubah sama sekali masih tetap sama. tapi apa yang ada di lidah Dedy ? bulatan kecil seperti kelereng menempel di lidahnya. dia menindik lidahnya...
Oh My God lagi, dan itu membuat aku ilfell setengah mati. dia tetap sama, tapi nggak dengan tindikan di lidahnya. Dia bukan Dedy yang polos seperti waktu itu. dia cowok yang berubah dewasa tapi dengan penampilan bikin aku geleng-geleng kepala. meskipun sedikit rapi tapi tindikan itu membuatku... sedikit aneh.
Aku : Oh.. Ha..Hai Ded (kataku dengan terbata-bata kemudian lari ke dalam kamar)
aku harus bagaimana bersikap di depannya. aku benar-benar salting melihat penampilannya sekarang. Mas Agung yang memanggilku dari arah ruang tamu sampai tidak terdengar di telingaku sampai dia memanggilku beberapa kali. aku mendengar percakapan mereka dan pertama kali yang aku dengar adalah :
Mas Agung : Sejak kapan nindik lidah lo ded ?
Dedy : Sejak SMA Bang, hhehehe... gara-gara ikutan temen tuh.
Aku yang diam di kamar tidak berani keluar, tiba-tiba Mas Agung masuk tanpa ada suara kaki yang terdengar. Dan ...
Mas Agung : Bikinin Dedy minum dong Tik.
Aku : (Berdiri kemudian dengan malas menuju ke dapur)
tanpa protes aku membuatkan teh untuk Mas Agung dan Dedy. kebetulan juga Ibu sama Ayah pergi ke Bali liburan bareng sama guru dan staf sekolah Ayah. Aku bengong sampai teh yang aku buat terciprat ke tangan dan itu masih air mendidih dan baru aku tuang ke gelas.
Aku : Adudududuuuuh... (sambil memegang tanganku)
Mas Agung : Kenapa Tik ? (tanyanya sambil bingung mau nolongin aku kayak gimana)
Dedy : (Datang ke dapur kemudian meraih tanganku dan meletakkan tanganku dibawah kucuran air keran) nggak apa-apa kan ?
Aku : Nggak kok...
Parfumnya, yang menggunakan parfum cowok menyalurkan sensasi maskulin. nggak seperti dulu yang pakainya parfum anak kecil.
Mas Agung : Asik banget nih adegannya. (langsung meninggalkan kami dengan pose yang bisa bikin salah paham)
Dedy melepaskan genggamannya kemudian kembali ke ruang tamu dan mengobrol dengan Mas Agung lagi. aku yang masih melongo dan masih teringat wangi parfumnya jadi bikin muka panas dan memerah.
Mas Agung : Tika, sini...
Aku : Apaan Mas?
Mas Agung : Ajak ngobrol Dedy ya, aku ada janji sama Melani kencan setengah jam lagi.
Aku : Ihh, jadi cowok ngaret mulu. di putusin ntar galau... (masih tetap berdiri dan kagok untuk duduk)
Dedy : Nggak mau duduk ?
Dengan pertanyaan itu aku langsung duduk tanpa protes lagi. entah kenapa hari ini aku jadi penurut banget. hening sejenak, Dedy sibuk dengan ponselnya. aku berdiri dan bermaksud menuju ke kamar untuk mengambil ponselku juga. saat beranjak dari kursiku, Dedy menggenggam lagi tanganku dan menyuruhku untuk tetap duduk.
Aku : Kayaknya kamu cari kesempatan mulu, daritadi udah berapa kali megang tanganku ?
Dedy : Sorry... gue cuma mau ngobrol sama lo.
Aku : Oh sudah berubah pakai "gue lo" gitu ? sekarang juga udah berubah pakai tindik di lidah ?
Dedy : (menatap lebih lekat ke arahku) kalau memang kamu nggak suka bisa aku copot kok.
Sekarang Dedy lebih "mirip" Dedy yang dulu, yang sopan dan nggak neko-neko.
Dedy : Besok mau ikut aku ke Kawah Putih?
Aku : Haa ? ngapain kesana ?
Dedy : Pengen kesana tapi nggak bisa, kan aku di Kalimantan jadi gak begitu bisa sering kesini...
Aku : Lihat besok ya ?
Dedy : Oke besok aku telepon kamu...
Aku : (Mengangkat alis) kok bisa tahu nomor ponselku ?
Dedy : Minta ke Bang Agung laah...
Dan dari situlah, kami mulai akrab lagi. dia bercerita banyak soal Kalimantan, tapi nggak lama dia pulang soalnya nginepnya bukan di sini, tapi di rumah Mas Deni yang masih di Jawa.
sesampainya Kawah Putih aku duduk sebentar di saung pinggir jalan. menuruni anak tangga kita sudah sampai ke kawahnya. sudah ke 2 kalinya aku kesini, bersama Anto dan teman-temannya. di pinggir-pinggir kawah banyak sekali pohon yang masih hijau ataupun yang sudah mati. Dedy menggandengku ketempat yang menurutnya indah. aku juga suka tempat itu. luas di kelilingi bukit dan kawah berasa seperti kolam renang yang airnya bewarna kehijauan.
Dedy : Thanks, udah mau nemenin aku kesini tepat dihari ulang tahunku.
aku terdiam dan mencerna perkataan Dedy tadi. kemudian aku ingat. inikan tanggal 11 Juli ? ulang tahun Dedy..ya ampuun kok bisa lupa sih...
Aku : (Terdiam sebentar...) emm, Ded... sori aku lupa kalau sekarang ualng tahunmu.
Dedy : Wajar kok, kita kan udah 7 tahun nggak pernah komunikasi lagi.
Aku terdiam lagi. dan aku punya ide untuk memberikan kado buat Dedy. aku ingat lagu ulang tahun teromantis. dan aku nyanyikan lagu Ten2Five - Happy Birthday
Hening...
Dedy melihatku dengan tenang dan ucapan terimakasih yang sangat tulus, aku merasa bersalah gara-gara lupa ulang tahunnya.
Dedy : Tik, Kamu tahu... aku sudah suka kamu dari kecil... aku datang kesini juga mau nemuin kamu. aku nggak bisa diam aja padahal dalam hati ada kamu Tik selama tujuh tahun ini.
Aku diam mendengar pengakuan Dedy yang memang selama ini ada hati buatku. aku juga sayang apalagi surprice banget dia bisa ke sini bareng aku.
Dedy : Mau nggak jadi pacar aku ?
Aku : (Diam dan menunduk) emm Ded.. aku memang sayang banget sama kamu. Tapi mungkin saat itu hanya perasaan sesaat yang bisa dibilang cinta monyet. Kamu memang cinta pertama aku, tapi lama kelamaan itu menghilang dan buat aku itu kenangan yang indah meskipun kita masih kecil dan nggak tahu apa-apa soal cinta. Apalagi, aku sudah bertunangan seminggu yang lalu, sebelum kamu datang...
Dedy : Siapa cowok yang beruntung bisa dapetin kamu Tik ?
Aku : Dia teman SMA aku, sudah 5 tahun kita pacaran.
Dedy : (Terdiam dan melihat ke sekitar kawah dengan tatapan yang sedih) Aku tahu Tik... kalau memang nggak bisa kita tetap bersahabat kan ?
Aku : Pasti Ded... pasti itu.
Mas Agung : Sejak kapan nindik lidah lo ded ?
Dedy : Sejak SMA Bang, hhehehe... gara-gara ikutan temen tuh.
Aku yang diam di kamar tidak berani keluar, tiba-tiba Mas Agung masuk tanpa ada suara kaki yang terdengar. Dan ...
Mas Agung : Bikinin Dedy minum dong Tik.
Aku : (Berdiri kemudian dengan malas menuju ke dapur)
tanpa protes aku membuatkan teh untuk Mas Agung dan Dedy. kebetulan juga Ibu sama Ayah pergi ke Bali liburan bareng sama guru dan staf sekolah Ayah. Aku bengong sampai teh yang aku buat terciprat ke tangan dan itu masih air mendidih dan baru aku tuang ke gelas.
Aku : Adudududuuuuh... (sambil memegang tanganku)
Mas Agung : Kenapa Tik ? (tanyanya sambil bingung mau nolongin aku kayak gimana)
Dedy : (Datang ke dapur kemudian meraih tanganku dan meletakkan tanganku dibawah kucuran air keran) nggak apa-apa kan ?
Aku : Nggak kok...
Parfumnya, yang menggunakan parfum cowok menyalurkan sensasi maskulin. nggak seperti dulu yang pakainya parfum anak kecil.
Mas Agung : Asik banget nih adegannya. (langsung meninggalkan kami dengan pose yang bisa bikin salah paham)
Dedy melepaskan genggamannya kemudian kembali ke ruang tamu dan mengobrol dengan Mas Agung lagi. aku yang masih melongo dan masih teringat wangi parfumnya jadi bikin muka panas dan memerah.
Mas Agung : Tika, sini...
Aku : Apaan Mas?
Mas Agung : Ajak ngobrol Dedy ya, aku ada janji sama Melani kencan setengah jam lagi.
Aku : Ihh, jadi cowok ngaret mulu. di putusin ntar galau... (masih tetap berdiri dan kagok untuk duduk)
Dedy : Nggak mau duduk ?
Dengan pertanyaan itu aku langsung duduk tanpa protes lagi. entah kenapa hari ini aku jadi penurut banget. hening sejenak, Dedy sibuk dengan ponselnya. aku berdiri dan bermaksud menuju ke kamar untuk mengambil ponselku juga. saat beranjak dari kursiku, Dedy menggenggam lagi tanganku dan menyuruhku untuk tetap duduk.
Aku : Kayaknya kamu cari kesempatan mulu, daritadi udah berapa kali megang tanganku ?
Dedy : Sorry... gue cuma mau ngobrol sama lo.
Aku : Oh sudah berubah pakai "gue lo" gitu ? sekarang juga udah berubah pakai tindik di lidah ?
Dedy : (menatap lebih lekat ke arahku) kalau memang kamu nggak suka bisa aku copot kok.
Sekarang Dedy lebih "mirip" Dedy yang dulu, yang sopan dan nggak neko-neko.
Dedy : Besok mau ikut aku ke Kawah Putih?
Aku : Haa ? ngapain kesana ?
Dedy : Pengen kesana tapi nggak bisa, kan aku di Kalimantan jadi gak begitu bisa sering kesini...
Aku : Lihat besok ya ?
Dedy : Oke besok aku telepon kamu...
Aku : (Mengangkat alis) kok bisa tahu nomor ponselku ?
Dedy : Minta ke Bang Agung laah...
Dan dari situlah, kami mulai akrab lagi. dia bercerita banyak soal Kalimantan, tapi nggak lama dia pulang soalnya nginepnya bukan di sini, tapi di rumah Mas Deni yang masih di Jawa.
sesampainya Kawah Putih aku duduk sebentar di saung pinggir jalan. menuruni anak tangga kita sudah sampai ke kawahnya. sudah ke 2 kalinya aku kesini, bersama Anto dan teman-temannya. di pinggir-pinggir kawah banyak sekali pohon yang masih hijau ataupun yang sudah mati. Dedy menggandengku ketempat yang menurutnya indah. aku juga suka tempat itu. luas di kelilingi bukit dan kawah berasa seperti kolam renang yang airnya bewarna kehijauan.
Dedy : Thanks, udah mau nemenin aku kesini tepat dihari ulang tahunku.
aku terdiam dan mencerna perkataan Dedy tadi. kemudian aku ingat. inikan tanggal 11 Juli ? ulang tahun Dedy..ya ampuun kok bisa lupa sih...
Aku : (Terdiam sebentar...) emm, Ded... sori aku lupa kalau sekarang ualng tahunmu.
Dedy : Wajar kok, kita kan udah 7 tahun nggak pernah komunikasi lagi.
Aku terdiam lagi. dan aku punya ide untuk memberikan kado buat Dedy. aku ingat lagu ulang tahun teromantis. dan aku nyanyikan lagu Ten2Five - Happy Birthday
Hari ini saat bahagia
untukmu
Bertambah 1 tahun
usiamu
Kunyanyikan sebuah lagu
Agar istimewa harimu
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Hari ini istimewa
Karena ini ulang
tahunmu
Hari ini berbahagia
Nikmati saja
Hening...
Dedy melihatku dengan tenang dan ucapan terimakasih yang sangat tulus, aku merasa bersalah gara-gara lupa ulang tahunnya.
Dedy : Tik, Kamu tahu... aku sudah suka kamu dari kecil... aku datang kesini juga mau nemuin kamu. aku nggak bisa diam aja padahal dalam hati ada kamu Tik selama tujuh tahun ini.
Aku diam mendengar pengakuan Dedy yang memang selama ini ada hati buatku. aku juga sayang apalagi surprice banget dia bisa ke sini bareng aku.
Dedy : Mau nggak jadi pacar aku ?
Aku : (Diam dan menunduk) emm Ded.. aku memang sayang banget sama kamu. Tapi mungkin saat itu hanya perasaan sesaat yang bisa dibilang cinta monyet. Kamu memang cinta pertama aku, tapi lama kelamaan itu menghilang dan buat aku itu kenangan yang indah meskipun kita masih kecil dan nggak tahu apa-apa soal cinta. Apalagi, aku sudah bertunangan seminggu yang lalu, sebelum kamu datang...
Dedy : Siapa cowok yang beruntung bisa dapetin kamu Tik ?
Aku : Dia teman SMA aku, sudah 5 tahun kita pacaran.
Dedy : (Terdiam dan melihat ke sekitar kawah dengan tatapan yang sedih) Aku tahu Tik... kalau memang nggak bisa kita tetap bersahabat kan ?
Aku : Pasti Ded... pasti itu.
***
Seminggu berlalu setelah Dedy mengungkapkan semua perasaannya kepadaku. aku nggak tahu harus bersikap bagaimana ke dia. aku sudah menyakiti dia, apalagi dia ke sini hanya untuk menemuiku. kita masih berteman, dan malah katanya pas aku wisuda nanti dia bakal dateng ke sini lagi.
Dedy : Thanks udah di antar Tik...
Aku : Iya, kamu hati-hati yah. Oh iya kenalin ini Anto dia tunanganku yang aku ceritain. (aku memperkenalkan Anto pada Dedy)
Dedy : Long lasting kalian...
setelah perpisahan itu Dedy memelukku sebentar pelukan pertemanan dan menyalami Anto yang ada di sebelahku.
Anto : Ati-ati Bro
Dan kisah cinta pertamaku akan jadi kenangan, dan semoga kisah cinta terakhirku akan selamanya dan nggak akan termakan usia. Thanks Ded, sudah mau menyukaiku, menyayangiku dan bersahabat denganku. Makasih buat ungkapan hati kamu yang selama 7 tahun baru aku mengerti.
Thanks a lot for you, Dedy Chandra :)
Friday, June 20, 2014
I'm In Love (Part 17)
Apa-apaan ini ? Elan nggak salah ngomong kan ? matanya masih menatapku dengan tatapan yang nggak kalah seriusnya.
"Mau sama aku ?" tanya Elan sekali lagi.
Aku yang melihat Elan dengan mata yang bingung akhirnya melemahkan pandangannya dan mengalihkan ke arah jalan. Elan berhenti bertanya dan mengajakku pulang.
sesampainya di rumah aku merebahkan badan yang capek lahir dan batin melayani pembicaraan Indri yang nggak penting. tiba-tiba ada telepon masuk dengan nomor yang tidak diketahui.
"Halo ?" tanya Lina dengan pelan.
"Dasar perebut cowok orang..." setelah perkataan itu sambungan telepon terputus. Aku langsung memencet tombol warna hijau pada nomor itu. dan nggak tersambung. ihh ini kerjaannya siapa sih, lebai deh.
nggak lama kemudian handphoneku berdering. nama Rina ada di layar HPku.
"Halo mbak ?" ehh, kenapa yang bicara bukan Rina?
"Iya Mas, ada apa yah ? kok bukan Rina yang bicara ?"
"Gini mbak, saya lihat mbak ini tergeletak di jalan. darah juga sudah kemana-mana" kata mas itu, tanpa menunggu lama aku langsung mengambil jaket dan menelpon seseirang yang bisa ngantar aku.
"Gimana dia sekarang mas?"
"Sudah saya antar pakai ambulance ke RS Sardjito mbak."
"Makasih ya mas, sekarang saya kesana." tanpa sadar aku memencet histori telepon aku ke Elan. dengan cepat Elan mengangkat.
"Ada apa Lin?" tanya Elan yang mungkin baru sampai rumah.
"Sorry Lan, kamu bisa antar aku ke rumah sakit ?"
tanpa Elan bertanya kemana rumah sakit yang kita tuju dia langsung berangkat lagi untuk menjemputku. 15 menit Elan sampai di rumah. nggak banyak bicara aku langsung masuk dan bilang ke RS Sardjito. nggak ada percakapan waktu itu, hanya diam dan pikiranku hanya ada di sahabat baikku Rina.
"Tenang Lin..." kata Elan menengakanku sambil mengusap-usap kepalakku.
sesampainya di rumah sakit, aku langsung menuku UGD dan Rina masih di dalam sana. semoga nggak kenapa-kenapa. kok bisa sampai seperti itu bagaimana ceritanya.
2 jam aku dan Elan menunggu di depan. dokter yang memeriksanya datang menuju ke arahku.
"Mbak Rina cuma luka ringan, sudah dijahit jadi sudah nggak apa-apa." kata dokter itu. aku langsung menghela napas panjang. aku nggak sadar kalau sedaritadi tangan Elan merangkulku dari samping, dia berusaha untuk membuatku tenang. keluarga Rina tidak ada yang datang, karena mereka sudah tidak ada hanya Neneknya yang setia menemani Rina.
aku ingin menemani Rina di rumah sakit. aku nggak bisa pulang kalau Rina masih belum sadar begini. Elan juga tidak ingin pulang. telepon Elan berdering dan ternyata itu Mas Ari yang berbicara.
"Lan, kamu di rumah sakit ? kata ibumu kamu sama Lina?" hanya sampai itu aku mendengar suara Mas Ari di telepon. Elan mengatakan kalau Mas Ari akan datang menemani kita. nggak lama Mas Ari datang sambil membawa makanan. aku disuruhnya untuk makan dan Elan menungguku di luar kamar Rina. sebelum keluar Mas Ari mengelus punggungku memintaku tenang. setelah mereka berdua keluar aku melihat keadaan Rina yang pucat. kata mas yang tadi menelepon tidak ada orang disekitar Rina jadi nggak ada saksi mata kenapa Rina bisa terluka. kepalanya masih diperban dan masih ada sisa darah yang menembus perbannya.
"Lin, pulang yuk. Biar aku yang nemanin Rina." kata Mas Ari yang muncul dari balik pintu. aku melihat Elan hanya terdiam di depan sana. "Yuk pulang..." kata Mas Ari lagi.
"Nanti kamu sakit, besok sekalian ambil bajunya Rina terus kita kesini lagi." kali ini Elan yang membuka suaranya. dengan terpaksa aku mengikuti ajakan Elan dan Mas Ari.
Mas Ari tiba-tiba datang ke arahku dan memelukku. entah apa yang dipikirkan Mas Ari sampai dia bertingkah seperti ini.
"Jangan sampai kamu sakit. Nanti nggak ada yang jaga Rina." ucap Mas Ari sambil melepaskan pelukannya.
aku sudah ada di dalam mobil. Mas Ari yang menjaga Rina di dalam sana, dan aku pulang dengan Elan.
Elan tiba-tiba memecah keheningan kami. dia bertanya "Kamu kelihatan deket banget sama Ari ?"
aku menoleh ke arahnya dan menyipitkan mataku. apa yang dia bilang ?
"Aku nggak ada hubungan apa-apa kok. udah kayak adik kakak aja." jelasku. Elan diam tidak berkata apapun.
sesampai di rumah aku langsung menuju tempat tidur. nggak lama Mas Ari menelepon.
"Harusnya aku yang ngantar kamu pulang Lin." katanya. apa-apaan sih orang dua ini, kenapa tiba-tiba bicara aneh.
"Nggak apa-apa kok mas, aku sudah di rumah." kataku.
"Yawes, ndang tidur besok kan masih ke rumah sakit lagi." katanya. aku mengiyakan teruns memutuskan sambungan telepon.
keesokan paginya Elan sudah di depan rumah, kita langsung menuju ke rumah Rina untuk membawakan baju ganti. setelah itu kita pergi ke rumah sakit. di dalam sana ada Rina yang masih tertidur dan Mas Ari yang tidur di sofa sebelah Rina. Mas Ari pasti capek banget semalaman jagain Rina.
Elan membangunkan Mas Ari dan menyuruhnya mandi. aku menunggu di samping Rina menggantikan Mas Ari. nggak lama Rina bangun dan tersenyum ke arahku.
"Kamu nggak apa-apa ?" tanyaku. Rina menggeleng dan tersenyum. entah kenapa aku merasa ada keganjilan. "kenapa kamu bisa ada disana Rin?"
"Waktu itu aku sama Abri, pas itu di amarah besar Lin. dan mukul aku paling dikiranya nggak kenapa-napa terus aku turun dan berjalan kaki sendiri tapi ternyata dahiku berdarah." jelasnya dengan menangis.
"Udah jangan nangis ahh..." kataku sambil memegang erat tangan Rina. "putusin aja dia."
"Aku sudah putus seminggu yang lalu." jelasnya. ohh kenapa sih cewek susah banget ngelupain cowok yang udah nyakitin dia. malah cewek itu selalu baik dan beranggapan nggak terjadi apa-apa. Abri memang terlihat kasar kepada Rina, tapi Rina selalu bilang kalau Abri tuh nggak seperti itu aslinya. Sebel jadinya...
Elan yang duduk di sofa nggak peduli sama cerita Rina langsung buka mulut.
"Tuh cowok udah kelihatan brengsek masih lo peduliin." kata Elan dengan muka yang nggak tertarik. Rina yang menangis jadi terdiam. Cowok yang dia kira nggak peduli bisa bilang seperti itu. padahal dia nggak kenal namanya Abri.
"Dia nggak gitu kok..." bela Rina.
"Gue cowok Rin, gue bisa menilai cowok dari cerita lo." jelasnya. aku yang melihat pembicaraan Rina dan Elan hanya sesekali menoleh ke arah mereka.
"Aku setuju sama Elan, Rin. udah jangan hubungin dia." kataku melihat ke arah Rina yang sudah berhenti menangis. "sudah kelihatan kalau dia kasar, sudah berani mukul kamu sampai dapat jahitan begitu." jelasku. kali ini Rina terdiam dan menunduk. mungkin dia sedang mencerna omonganku dan Elan.
Setelah Mas Ari selesai mandi dia kembali ke dalam ruangan dan duduk di sebelah Elan. dia melihat kami semua dengan muka yang bad mood.
"Ini kenapa suasananya jelek gini ?" tanya Mas Ari yang nggak tahu apa-apa.
Seharian aku bersama dua cowok itu masih menemani Rina. perban di kepalanya belum di lepas jadi dia berasa seperti ninja gitu. Elan masih dengan kesibukkannya sendiri, Mas Ari menemani aku dan Rina mengobrol.
"Oh, Iya besok ada tamu kehormatan sanggar kita dari luar negeri." kata Mas Ari. Aku melihat dengan muka penasaran siapa yang akan datang besok. "besok kamu harus ke sanggar ya, nyambut tamunya." pinta Mas Ari kepadaku. "kamu juga ikut Lan, jadi seksi dokumentasi." kata Mas Ari kepada Elan yang masih sibuk dengan korannya.
"Besok nggak nemenin aku dong ?" kata Rina kecewa.
"Nggak, besok habis dari sanggar aku langsung ke sini kok." kataku menghibur Rina.
Malam ini Rina sendirian di rumah sakit. aku, Elan dan Mas Ari besok pagi harus sudah ada di sanggar. Mas Ari bilang ini tamu yang sudah ditunggu-tunggu dari dulu. aku nggak sabar untuk menyambut tamu agung kita.
Keesokan harinya Mas Ari yang menjemputku ke rumah. katanya Elan lagi ada urusan sebentar dengan keluarganya. sesampainya di sanggar kamu masih menunggu, jam 9 mereka baru sampai Indonesia. dan sekarng masih jam setengah 9 belum lagi perjalanan kesini nanti mereka samai jam berapa, kasihan Rina sendirian di Rumah Sakit. Setelah menerima telepon dari manager tamunya dengan cepat kita bersiap-siap karena 15 menit lagi mereka datang, Elan yang 5 menit tadi baru sampai langsung mempersiapkan kamera yang sudah dia bawa.
Mobil Sedan keluaran terbaru datang di halaman depan sanggar. kamu semua merapikan pakaian yang sedaritadi berantakan karena duduk menunggu tamu datang.
Saat tamu itu keluar, aku seperti melihat seseorang yang aku kenal. kakinya yang jenjang menggunakan heels, badan yang langsing dan rambut coklat sebahu. sepertinya aku tahu siapa dia...
"Hai Lizz..." peluk Mas Ari dan Mbak Mila.
Aku beneran nggak salah lihat kan ? dia Mbakku yang sudah 2 tahun ada di Eropa dan sekarang sudah ada di depanku ?
"Sayaaangku Lina..." sapa Mbak Lizzy dengan memelukku erat. aku yang bingung masih terdiam di pelukannya. "ihh, sombong.. pelukannya nggak dibales."
Nggak sadar air mataku turung dan sesenggukan sewaktu membalas pelukan saudara kandungku yang sangat aku sayang. "Kok, nggak bilang kalau pulang sih ? hhuhuhu..." isakku nggak tertahan lagi.
Selesai nangis bombai bersama Mbak Lizzy kita semua masuk ke dalam sanggar. Ibu dan Ayah datang setelah setengah jam kemudian, sebenarnya mereka tahu kalau putri sulungnya akan pulang ke Indonesia. Saat Elan memotret moment yang terjadi Mbak Lizzy menanyakan soal Elan.
"Dia pacarmu Lin ?" tanya Mbak Lizzy.
"Ihh bukan kok..." jawabku dengan salting.
"Bukan, apa masih belum. Calon pacar kan... ciye ciyeee." goda Mbak Lizzy sambil menyikut lenganku pelan. Aku terdiam karena nggak nyangka kalau Elan melihat aku dan Mbak Lizzy yang sedang menggosip. dan ternyata Mbak Lizzy tahu kalau Elan menatap kami, Mbak Lizzy tiba-tiba menyert aku ke arah Elan.
"Hai..." sapa Mbak Lizzy.
"Halo Mbak..." balas Elan.
"Emm, anu..." kataku belibet, karena Mbak Lizzy pengen banget kenalan sama Elan. "kenalin Lan, ini Kakakku yang pernah aku ceritain." lanjutku sambil malu-malu kucing.
"Hai, aku Lizzy. Kakaknya Lina..." kata Mbak Lizzy memperkenalkan diri, dan Elan menyambut jabatan tangan mbak Lizzy. "Lina sering cerita soal kamu lho..." bisik mbak Lizzy, dan aku langsung memukul pelan punggungnya.
setelah makan-makan, aku di tinggal Mbak Lizzy sendirian di teras sanggar. tiba-tiba ada seseorang menepuk pundakku. ternyata Elan... dia tersenyum sambil mencuri wajahku untuk dipotretnya.
"Ahh, apaan sih Lan..." kataku menutup wajahku.
Elan tersenyum puas meihat hasil fotoku dilayar kamera LSRnya. dia ketawa melihat hasilnya, mukaku yang menoleh ke arahnya dan mataku berkedip arrgh pokoknya hancur. dia kemudian berdiri di sebelahku, dia terdiam sebentar kemudian mulai memanggilku.
"Lina..." aku menoleh ke arahnya lagi dan melihat wajahnya yang melihat ke arah jalan raya.
"Lina..."
"Hemm.. apa Lan ?" jawabku kali ini.
"Lin," sekarang dia sudah mengahadap ke arahku. wajahnya menunjukkan khawatir dan bingung. "kalau gue ninggalin kamu, lo kangen nggak sama gue?" tanyanya, dan membuatku salah tingkah. aku hanya mengangguk pelan. "semester depan gue pindah ke Sulawesi, ada proyek bokap disana."
perkataan dia begitu membuatku shock, kenapa baru dia kasih tahu sekarang disaat aku sudah sangat sayang kepadanya.
"Ohh, dua bulan lagi ?" tanyaku yang kali ini menatap ke arah yang lain. Elan membalasnya dengan anggukan dan kami berdua melamun memikirkan apa yang ada di kepala masing-masing.
"Heii Lin, Lan..." teriak Mbak Lizzy yang ada di dalam sanggar. "jodoh banget sih panggilannya Lin sama Lan hhaha." apaan sih mbakku ini, nggak penting deh. "aku disuruh nari nih sama bosmu." mendengar kata-kata bos aku melihat ke arah Mas Ari yang berdiri di sebelah Mbak Mila dengan tersenyum.
"Kamu duet sama Mbakmu yah..." pinta Mas Ari kepadaku. aku mengguk dan mengikuti Mbak Lizzy yang masuk ke ruang ganti.
Setelah menari gambyong yang benar-benar penuh konsentrasi karena gerakkannya harus super halus. dan untungnya aku berhasil, kalau dibandingkan sama Mbak Lizzy yang bener-bener halus banget gerakannya aku belum ada apa-apanya.
Elan masih ada disanggar untuk memotret semuanya, kejadian lucu, sampai yang mengharukan. sewaktu acara selesai, aku mengajak Mbak Lizzy untuk menjenguk Rina yang ada di rumah sakit. ayah ibu juga ingin ikut kesana. aku dan Elan menaiki mobil sendiri, ayah ibu dan Mbak Lizzy ada di mobil yang dibawa ayah. Mas Ari yang menyusul nanti akan bersama Mbak Mila yang juga ingin ikut menjenguk.
sesampainya di rumah sakit, Rina bingung melihat banyak orang yang datang. Ibu Lina membawakan banyak jajan dan buah. Rina sampai nggak bisa ngomong apa-apa, dia cuma berterimakasih. perbannya sudah di lepas tinggal perban kecil yang menempel di dahinya.
"Rina..." panggil Mbak Lizzy dan langsung memeluknya.
"Mbaaak..." sambutnya, dengan membalas pelukan Mbak Lizzy. "kapan dateng ?" tanya Rina yang nggak tahu kalau aku dikerjain sama Mbak Lizzy.
"Aslinya sih sudah kemarin aku sampai, tapi nggak langsung pulang aku ngerjain Lina dulu dan kerjasama bareng Ari sama Mila." jelasnya sambil merangkulku.
"Elan mana Lin ?" tanya Ibunya yang dari tadi mengobrol dengan Elan saat di sanggar. Aku mencari Elan tapi nggak ketemu, bukannya tadi bareng kita masuh ke kamar Rina.
"Nyari siapa Lin ?" tanya seseorang di belakangku. Mas Ari ternyata dengan Mbak Mila di sampingnya membawa buah.
"Elan, Mas. ketemu dibawah nggak tadi ?" tanyaku. tapi dibalas gelengan oleh Mas Ari. teleponku berdering dan di layar muncul nomor nggak dikenal.
"Gue udah ambil Elan, dia nggak akan ke lo." kata seorang cewek diseberang sana.
"Indri ?" tanyaku dan dengan cepat dia memutuskan sambungan teleponnya. nggak sabar aku langsung menelpon Elan yang entah dimana.
"Halo Lin.." jawab Elan yang sepertinya ada di jalan.
"Kamu dimana ?" agak lama Elan tidak menjawab pertanyaanku. "Halo Lan ? kamu dimana?" tanyaku lagi.
"A..aku ke studio sebentar, katanya Indri jatuh ketimpa kamera dan payung reflect." jelasnya.
"Oh, Oke hati-hati di jalan." kataku sambil memutuskan sambungan telepon. aku langsung masuk ke kamar Rina dan tidak memperdulikan telepon Elan.
sudah 10 misscall dari Elan, sampai rumah aku masih nggak mau nerima teleponnya. kenapa malah mikirin mantannya sih, udah sok-sok bilang ngerebut dia malah pilih Indri. jadi males deh...
ada suara langkah kaki dari belakangku, dan...
"Bbaaaa !!" teriak Mbak Lizzy yang mengagetkanku dari belakang sambil menepuk pundakku keras.
"Aduuh Mbaaak, sakit tau..." sahutku sambil memijit pelan bahuku.
"Bengong aja sih. gara-gara Elan nih ?" tanya Mbak Lizzy, dan itu buat mukaku memerah. "gara-gara dia nggak ada di RS nemenin kamu ?"
"Ihh, sok tau deh. Udah sana mandi..." kataku dengan mendorong Mbak Lizzy keluar kamarku. yang didorong malah ketawa kuda.
"Oh iya lupa, Elan ada di bawah tuh nyari kamu." langsung saja mukaku jadi kepiting rebus merah nggak karuan. ngapain dia ke rumah...
aku turun dari kamarku di lantai dua, dan di ruang tamu sudah ada Elan yang duduk mengobrol dengan Ayah dan Ibuku. ihh, kayak acara lamaran aja ortu ikut-ikutan duduk di sana.
"Lha, iki sing di enten-enteni... sini, Elan sudah lama nunggu kamu lho."
"Tadi Lina lagi mandi Bu..." jawabku, dan kemudian duduk di sofa sebelah kanan Elan. aku nggak berani duduk sebelah dia paa nanti dikira ngapaon lagi.
nggak lama, Ayah Ibu keluar rumah. katanya ada janji sama temannya untuk makan malam. dan Mbak Lizzy gak tau sedang apa.
"Ada apa kamu kesini ? bukannya sama Indri ?" tanyaku sambil melihat ke arah lain, pokoknya nggak lihat mata Elan.
"Indri bohongin gue, katanya dia pingsan atau terluka parah." katanya sambil mengubah posisi duduk menghadap ke arahku. "katanya dia cuma pengen ketemu gue, apalagi dia nggak ada saudara di sini." jelasnya. aku menghadap ke arah Elan sesekali, tapi aku tetap saja nggak seneng dengernya. ehh tunggu, apa jangan-jangan aku cemburu ? oh my God...
"Lin, mau keluar sebentar sama aku ?" yakk, kali ini Elan menggunakan jurus dengan memakai kata aku kamu ahh senjata yang benar-benar ampuh untukku.
"Aku ambil jaket sebentar..." setelah itu aku bertemu dengan Mbak Lizzy yang berkedip dengan salah satu matanya. dia pasti denger obrolan kami.
Elan mengajakku jalan sebentar ke arah taman kompleksku, kita duduk di ayunan dengan ice cream di tangan masing-masing. nggak sadar Elan meletakkan salah satu kakinya ke tanah dan mengakat tangannya mengeluarkan kotak kecil dari sakunya.
"Lin, mau sama aku. ?" tanyanya sambil membuka kotak itu. "maksudku, mau jadi pacarku ?" tanyanya lagi. untung nggak ada ice cream yang ada di dalam mulutku dan nggak bikin aku tersedak karena kaget.
"Kamu bohongan kan ?" tanyaku nggak percaya.
"Nggak, kalau aku bohong aku nggak akan ada di sini sekarang." jelasnya. dari dalam kotak kecil itu ada kalung yang bertuliskan LanLin. kepanjangan dari Elan dan Lina. aargh.. aku nggak nyangka bakal dikasih kalung yang lucu ini.
"Ini buat aku ?" tanyaku bengong.
"Iyah... aku juga udah pakai kok kalungnya." di lehernya ada kalung bertuliskan LinLan. ahh couple necklace. Elan memakaikan kalung itu ke leherku dengan rambut di tengkuk masih mencuat keluar.
"Aku belum jawab kan ? kenapa sudah dipakaikan ke sini..." aku menunjuk ke arah leherku, dan Elan tertawa pelan melihat tingkahku.
"Aku tahu kamu jealous dengan Indri, aku tahu itu." katanya. dan itu membuat wajahku jadi panas, untung aja di taman ini nggak begitu terang jadi nggak begitu tahu warna mukaku.
"Mau sama aku ?" tanya Elan sekali lagi.
Aku yang melihat Elan dengan mata yang bingung akhirnya melemahkan pandangannya dan mengalihkan ke arah jalan. Elan berhenti bertanya dan mengajakku pulang.
sesampainya di rumah aku merebahkan badan yang capek lahir dan batin melayani pembicaraan Indri yang nggak penting. tiba-tiba ada telepon masuk dengan nomor yang tidak diketahui.
"Halo ?" tanya Lina dengan pelan.
"Dasar perebut cowok orang..." setelah perkataan itu sambungan telepon terputus. Aku langsung memencet tombol warna hijau pada nomor itu. dan nggak tersambung. ihh ini kerjaannya siapa sih, lebai deh.
nggak lama kemudian handphoneku berdering. nama Rina ada di layar HPku.
"Halo mbak ?" ehh, kenapa yang bicara bukan Rina?
"Iya Mas, ada apa yah ? kok bukan Rina yang bicara ?"
"Gini mbak, saya lihat mbak ini tergeletak di jalan. darah juga sudah kemana-mana" kata mas itu, tanpa menunggu lama aku langsung mengambil jaket dan menelpon seseirang yang bisa ngantar aku.
"Gimana dia sekarang mas?"
"Sudah saya antar pakai ambulance ke RS Sardjito mbak."
"Makasih ya mas, sekarang saya kesana." tanpa sadar aku memencet histori telepon aku ke Elan. dengan cepat Elan mengangkat.
"Ada apa Lin?" tanya Elan yang mungkin baru sampai rumah.
"Sorry Lan, kamu bisa antar aku ke rumah sakit ?"
tanpa Elan bertanya kemana rumah sakit yang kita tuju dia langsung berangkat lagi untuk menjemputku. 15 menit Elan sampai di rumah. nggak banyak bicara aku langsung masuk dan bilang ke RS Sardjito. nggak ada percakapan waktu itu, hanya diam dan pikiranku hanya ada di sahabat baikku Rina.
"Tenang Lin..." kata Elan menengakanku sambil mengusap-usap kepalakku.
sesampainya di rumah sakit, aku langsung menuku UGD dan Rina masih di dalam sana. semoga nggak kenapa-kenapa. kok bisa sampai seperti itu bagaimana ceritanya.
2 jam aku dan Elan menunggu di depan. dokter yang memeriksanya datang menuju ke arahku.
"Mbak Rina cuma luka ringan, sudah dijahit jadi sudah nggak apa-apa." kata dokter itu. aku langsung menghela napas panjang. aku nggak sadar kalau sedaritadi tangan Elan merangkulku dari samping, dia berusaha untuk membuatku tenang. keluarga Rina tidak ada yang datang, karena mereka sudah tidak ada hanya Neneknya yang setia menemani Rina.
aku ingin menemani Rina di rumah sakit. aku nggak bisa pulang kalau Rina masih belum sadar begini. Elan juga tidak ingin pulang. telepon Elan berdering dan ternyata itu Mas Ari yang berbicara.
"Lan, kamu di rumah sakit ? kata ibumu kamu sama Lina?" hanya sampai itu aku mendengar suara Mas Ari di telepon. Elan mengatakan kalau Mas Ari akan datang menemani kita. nggak lama Mas Ari datang sambil membawa makanan. aku disuruhnya untuk makan dan Elan menungguku di luar kamar Rina. sebelum keluar Mas Ari mengelus punggungku memintaku tenang. setelah mereka berdua keluar aku melihat keadaan Rina yang pucat. kata mas yang tadi menelepon tidak ada orang disekitar Rina jadi nggak ada saksi mata kenapa Rina bisa terluka. kepalanya masih diperban dan masih ada sisa darah yang menembus perbannya.
"Lin, pulang yuk. Biar aku yang nemanin Rina." kata Mas Ari yang muncul dari balik pintu. aku melihat Elan hanya terdiam di depan sana. "Yuk pulang..." kata Mas Ari lagi.
"Nanti kamu sakit, besok sekalian ambil bajunya Rina terus kita kesini lagi." kali ini Elan yang membuka suaranya. dengan terpaksa aku mengikuti ajakan Elan dan Mas Ari.
Mas Ari tiba-tiba datang ke arahku dan memelukku. entah apa yang dipikirkan Mas Ari sampai dia bertingkah seperti ini.
"Jangan sampai kamu sakit. Nanti nggak ada yang jaga Rina." ucap Mas Ari sambil melepaskan pelukannya.
aku sudah ada di dalam mobil. Mas Ari yang menjaga Rina di dalam sana, dan aku pulang dengan Elan.
Elan tiba-tiba memecah keheningan kami. dia bertanya "Kamu kelihatan deket banget sama Ari ?"
aku menoleh ke arahnya dan menyipitkan mataku. apa yang dia bilang ?
"Aku nggak ada hubungan apa-apa kok. udah kayak adik kakak aja." jelasku. Elan diam tidak berkata apapun.
sesampai di rumah aku langsung menuju tempat tidur. nggak lama Mas Ari menelepon.
"Harusnya aku yang ngantar kamu pulang Lin." katanya. apa-apaan sih orang dua ini, kenapa tiba-tiba bicara aneh.
"Nggak apa-apa kok mas, aku sudah di rumah." kataku.
"Yawes, ndang tidur besok kan masih ke rumah sakit lagi." katanya. aku mengiyakan teruns memutuskan sambungan telepon.
keesokan paginya Elan sudah di depan rumah, kita langsung menuju ke rumah Rina untuk membawakan baju ganti. setelah itu kita pergi ke rumah sakit. di dalam sana ada Rina yang masih tertidur dan Mas Ari yang tidur di sofa sebelah Rina. Mas Ari pasti capek banget semalaman jagain Rina.
Elan membangunkan Mas Ari dan menyuruhnya mandi. aku menunggu di samping Rina menggantikan Mas Ari. nggak lama Rina bangun dan tersenyum ke arahku.
"Kamu nggak apa-apa ?" tanyaku. Rina menggeleng dan tersenyum. entah kenapa aku merasa ada keganjilan. "kenapa kamu bisa ada disana Rin?"
"Waktu itu aku sama Abri, pas itu di amarah besar Lin. dan mukul aku paling dikiranya nggak kenapa-napa terus aku turun dan berjalan kaki sendiri tapi ternyata dahiku berdarah." jelasnya dengan menangis.
"Udah jangan nangis ahh..." kataku sambil memegang erat tangan Rina. "putusin aja dia."
"Aku sudah putus seminggu yang lalu." jelasnya. ohh kenapa sih cewek susah banget ngelupain cowok yang udah nyakitin dia. malah cewek itu selalu baik dan beranggapan nggak terjadi apa-apa. Abri memang terlihat kasar kepada Rina, tapi Rina selalu bilang kalau Abri tuh nggak seperti itu aslinya. Sebel jadinya...
Elan yang duduk di sofa nggak peduli sama cerita Rina langsung buka mulut.
"Tuh cowok udah kelihatan brengsek masih lo peduliin." kata Elan dengan muka yang nggak tertarik. Rina yang menangis jadi terdiam. Cowok yang dia kira nggak peduli bisa bilang seperti itu. padahal dia nggak kenal namanya Abri.
"Dia nggak gitu kok..." bela Rina.
"Gue cowok Rin, gue bisa menilai cowok dari cerita lo." jelasnya. aku yang melihat pembicaraan Rina dan Elan hanya sesekali menoleh ke arah mereka.
"Aku setuju sama Elan, Rin. udah jangan hubungin dia." kataku melihat ke arah Rina yang sudah berhenti menangis. "sudah kelihatan kalau dia kasar, sudah berani mukul kamu sampai dapat jahitan begitu." jelasku. kali ini Rina terdiam dan menunduk. mungkin dia sedang mencerna omonganku dan Elan.
Setelah Mas Ari selesai mandi dia kembali ke dalam ruangan dan duduk di sebelah Elan. dia melihat kami semua dengan muka yang bad mood.
"Ini kenapa suasananya jelek gini ?" tanya Mas Ari yang nggak tahu apa-apa.
Seharian aku bersama dua cowok itu masih menemani Rina. perban di kepalanya belum di lepas jadi dia berasa seperti ninja gitu. Elan masih dengan kesibukkannya sendiri, Mas Ari menemani aku dan Rina mengobrol.
"Oh, Iya besok ada tamu kehormatan sanggar kita dari luar negeri." kata Mas Ari. Aku melihat dengan muka penasaran siapa yang akan datang besok. "besok kamu harus ke sanggar ya, nyambut tamunya." pinta Mas Ari kepadaku. "kamu juga ikut Lan, jadi seksi dokumentasi." kata Mas Ari kepada Elan yang masih sibuk dengan korannya.
"Besok nggak nemenin aku dong ?" kata Rina kecewa.
"Nggak, besok habis dari sanggar aku langsung ke sini kok." kataku menghibur Rina.
Malam ini Rina sendirian di rumah sakit. aku, Elan dan Mas Ari besok pagi harus sudah ada di sanggar. Mas Ari bilang ini tamu yang sudah ditunggu-tunggu dari dulu. aku nggak sabar untuk menyambut tamu agung kita.
Keesokan harinya Mas Ari yang menjemputku ke rumah. katanya Elan lagi ada urusan sebentar dengan keluarganya. sesampainya di sanggar kamu masih menunggu, jam 9 mereka baru sampai Indonesia. dan sekarng masih jam setengah 9 belum lagi perjalanan kesini nanti mereka samai jam berapa, kasihan Rina sendirian di Rumah Sakit. Setelah menerima telepon dari manager tamunya dengan cepat kita bersiap-siap karena 15 menit lagi mereka datang, Elan yang 5 menit tadi baru sampai langsung mempersiapkan kamera yang sudah dia bawa.
Mobil Sedan keluaran terbaru datang di halaman depan sanggar. kamu semua merapikan pakaian yang sedaritadi berantakan karena duduk menunggu tamu datang.
Saat tamu itu keluar, aku seperti melihat seseorang yang aku kenal. kakinya yang jenjang menggunakan heels, badan yang langsing dan rambut coklat sebahu. sepertinya aku tahu siapa dia...
"Hai Lizz..." peluk Mas Ari dan Mbak Mila.
Aku beneran nggak salah lihat kan ? dia Mbakku yang sudah 2 tahun ada di Eropa dan sekarang sudah ada di depanku ?
"Sayaaangku Lina..." sapa Mbak Lizzy dengan memelukku erat. aku yang bingung masih terdiam di pelukannya. "ihh, sombong.. pelukannya nggak dibales."
Nggak sadar air mataku turung dan sesenggukan sewaktu membalas pelukan saudara kandungku yang sangat aku sayang. "Kok, nggak bilang kalau pulang sih ? hhuhuhu..." isakku nggak tertahan lagi.
Selesai nangis bombai bersama Mbak Lizzy kita semua masuk ke dalam sanggar. Ibu dan Ayah datang setelah setengah jam kemudian, sebenarnya mereka tahu kalau putri sulungnya akan pulang ke Indonesia. Saat Elan memotret moment yang terjadi Mbak Lizzy menanyakan soal Elan.
"Dia pacarmu Lin ?" tanya Mbak Lizzy.
"Ihh bukan kok..." jawabku dengan salting.
"Bukan, apa masih belum. Calon pacar kan... ciye ciyeee." goda Mbak Lizzy sambil menyikut lenganku pelan. Aku terdiam karena nggak nyangka kalau Elan melihat aku dan Mbak Lizzy yang sedang menggosip. dan ternyata Mbak Lizzy tahu kalau Elan menatap kami, Mbak Lizzy tiba-tiba menyert aku ke arah Elan.
"Hai..." sapa Mbak Lizzy.
"Halo Mbak..." balas Elan.
"Emm, anu..." kataku belibet, karena Mbak Lizzy pengen banget kenalan sama Elan. "kenalin Lan, ini Kakakku yang pernah aku ceritain." lanjutku sambil malu-malu kucing.
"Hai, aku Lizzy. Kakaknya Lina..." kata Mbak Lizzy memperkenalkan diri, dan Elan menyambut jabatan tangan mbak Lizzy. "Lina sering cerita soal kamu lho..." bisik mbak Lizzy, dan aku langsung memukul pelan punggungnya.
setelah makan-makan, aku di tinggal Mbak Lizzy sendirian di teras sanggar. tiba-tiba ada seseorang menepuk pundakku. ternyata Elan... dia tersenyum sambil mencuri wajahku untuk dipotretnya.
"Ahh, apaan sih Lan..." kataku menutup wajahku.
Elan tersenyum puas meihat hasil fotoku dilayar kamera LSRnya. dia ketawa melihat hasilnya, mukaku yang menoleh ke arahnya dan mataku berkedip arrgh pokoknya hancur. dia kemudian berdiri di sebelahku, dia terdiam sebentar kemudian mulai memanggilku.
"Lina..." aku menoleh ke arahnya lagi dan melihat wajahnya yang melihat ke arah jalan raya.
"Lina..."
"Hemm.. apa Lan ?" jawabku kali ini.
"Lin," sekarang dia sudah mengahadap ke arahku. wajahnya menunjukkan khawatir dan bingung. "kalau gue ninggalin kamu, lo kangen nggak sama gue?" tanyanya, dan membuatku salah tingkah. aku hanya mengangguk pelan. "semester depan gue pindah ke Sulawesi, ada proyek bokap disana."
perkataan dia begitu membuatku shock, kenapa baru dia kasih tahu sekarang disaat aku sudah sangat sayang kepadanya.
"Ohh, dua bulan lagi ?" tanyaku yang kali ini menatap ke arah yang lain. Elan membalasnya dengan anggukan dan kami berdua melamun memikirkan apa yang ada di kepala masing-masing.
"Heii Lin, Lan..." teriak Mbak Lizzy yang ada di dalam sanggar. "jodoh banget sih panggilannya Lin sama Lan hhaha." apaan sih mbakku ini, nggak penting deh. "aku disuruh nari nih sama bosmu." mendengar kata-kata bos aku melihat ke arah Mas Ari yang berdiri di sebelah Mbak Mila dengan tersenyum.
"Kamu duet sama Mbakmu yah..." pinta Mas Ari kepadaku. aku mengguk dan mengikuti Mbak Lizzy yang masuk ke ruang ganti.
Setelah menari gambyong yang benar-benar penuh konsentrasi karena gerakkannya harus super halus. dan untungnya aku berhasil, kalau dibandingkan sama Mbak Lizzy yang bener-bener halus banget gerakannya aku belum ada apa-apanya.
Elan masih ada disanggar untuk memotret semuanya, kejadian lucu, sampai yang mengharukan. sewaktu acara selesai, aku mengajak Mbak Lizzy untuk menjenguk Rina yang ada di rumah sakit. ayah ibu juga ingin ikut kesana. aku dan Elan menaiki mobil sendiri, ayah ibu dan Mbak Lizzy ada di mobil yang dibawa ayah. Mas Ari yang menyusul nanti akan bersama Mbak Mila yang juga ingin ikut menjenguk.
sesampainya di rumah sakit, Rina bingung melihat banyak orang yang datang. Ibu Lina membawakan banyak jajan dan buah. Rina sampai nggak bisa ngomong apa-apa, dia cuma berterimakasih. perbannya sudah di lepas tinggal perban kecil yang menempel di dahinya.
"Rina..." panggil Mbak Lizzy dan langsung memeluknya.
"Mbaaak..." sambutnya, dengan membalas pelukan Mbak Lizzy. "kapan dateng ?" tanya Rina yang nggak tahu kalau aku dikerjain sama Mbak Lizzy.
"Aslinya sih sudah kemarin aku sampai, tapi nggak langsung pulang aku ngerjain Lina dulu dan kerjasama bareng Ari sama Mila." jelasnya sambil merangkulku.
"Elan mana Lin ?" tanya Ibunya yang dari tadi mengobrol dengan Elan saat di sanggar. Aku mencari Elan tapi nggak ketemu, bukannya tadi bareng kita masuh ke kamar Rina.
"Nyari siapa Lin ?" tanya seseorang di belakangku. Mas Ari ternyata dengan Mbak Mila di sampingnya membawa buah.
"Elan, Mas. ketemu dibawah nggak tadi ?" tanyaku. tapi dibalas gelengan oleh Mas Ari. teleponku berdering dan di layar muncul nomor nggak dikenal.
"Gue udah ambil Elan, dia nggak akan ke lo." kata seorang cewek diseberang sana.
"Indri ?" tanyaku dan dengan cepat dia memutuskan sambungan teleponnya. nggak sabar aku langsung menelpon Elan yang entah dimana.
"Halo Lin.." jawab Elan yang sepertinya ada di jalan.
"Kamu dimana ?" agak lama Elan tidak menjawab pertanyaanku. "Halo Lan ? kamu dimana?" tanyaku lagi.
"A..aku ke studio sebentar, katanya Indri jatuh ketimpa kamera dan payung reflect." jelasnya.
"Oh, Oke hati-hati di jalan." kataku sambil memutuskan sambungan telepon. aku langsung masuk ke kamar Rina dan tidak memperdulikan telepon Elan.
sudah 10 misscall dari Elan, sampai rumah aku masih nggak mau nerima teleponnya. kenapa malah mikirin mantannya sih, udah sok-sok bilang ngerebut dia malah pilih Indri. jadi males deh...
ada suara langkah kaki dari belakangku, dan...
"Bbaaaa !!" teriak Mbak Lizzy yang mengagetkanku dari belakang sambil menepuk pundakku keras.
"Aduuh Mbaaak, sakit tau..." sahutku sambil memijit pelan bahuku.
"Bengong aja sih. gara-gara Elan nih ?" tanya Mbak Lizzy, dan itu buat mukaku memerah. "gara-gara dia nggak ada di RS nemenin kamu ?"
"Ihh, sok tau deh. Udah sana mandi..." kataku dengan mendorong Mbak Lizzy keluar kamarku. yang didorong malah ketawa kuda.
"Oh iya lupa, Elan ada di bawah tuh nyari kamu." langsung saja mukaku jadi kepiting rebus merah nggak karuan. ngapain dia ke rumah...
aku turun dari kamarku di lantai dua, dan di ruang tamu sudah ada Elan yang duduk mengobrol dengan Ayah dan Ibuku. ihh, kayak acara lamaran aja ortu ikut-ikutan duduk di sana.
"Lha, iki sing di enten-enteni... sini, Elan sudah lama nunggu kamu lho."
"Tadi Lina lagi mandi Bu..." jawabku, dan kemudian duduk di sofa sebelah kanan Elan. aku nggak berani duduk sebelah dia paa nanti dikira ngapaon lagi.
nggak lama, Ayah Ibu keluar rumah. katanya ada janji sama temannya untuk makan malam. dan Mbak Lizzy gak tau sedang apa.
"Ada apa kamu kesini ? bukannya sama Indri ?" tanyaku sambil melihat ke arah lain, pokoknya nggak lihat mata Elan.
"Indri bohongin gue, katanya dia pingsan atau terluka parah." katanya sambil mengubah posisi duduk menghadap ke arahku. "katanya dia cuma pengen ketemu gue, apalagi dia nggak ada saudara di sini." jelasnya. aku menghadap ke arah Elan sesekali, tapi aku tetap saja nggak seneng dengernya. ehh tunggu, apa jangan-jangan aku cemburu ? oh my God...
"Lin, mau keluar sebentar sama aku ?" yakk, kali ini Elan menggunakan jurus dengan memakai kata aku kamu ahh senjata yang benar-benar ampuh untukku.
"Aku ambil jaket sebentar..." setelah itu aku bertemu dengan Mbak Lizzy yang berkedip dengan salah satu matanya. dia pasti denger obrolan kami.
Elan mengajakku jalan sebentar ke arah taman kompleksku, kita duduk di ayunan dengan ice cream di tangan masing-masing. nggak sadar Elan meletakkan salah satu kakinya ke tanah dan mengakat tangannya mengeluarkan kotak kecil dari sakunya.
"Lin, mau sama aku. ?" tanyanya sambil membuka kotak itu. "maksudku, mau jadi pacarku ?" tanyanya lagi. untung nggak ada ice cream yang ada di dalam mulutku dan nggak bikin aku tersedak karena kaget.
"Kamu bohongan kan ?" tanyaku nggak percaya.
"Nggak, kalau aku bohong aku nggak akan ada di sini sekarang." jelasnya. dari dalam kotak kecil itu ada kalung yang bertuliskan LanLin. kepanjangan dari Elan dan Lina. aargh.. aku nggak nyangka bakal dikasih kalung yang lucu ini.
"Ini buat aku ?" tanyaku bengong.
"Iyah... aku juga udah pakai kok kalungnya." di lehernya ada kalung bertuliskan LinLan. ahh couple necklace. Elan memakaikan kalung itu ke leherku dengan rambut di tengkuk masih mencuat keluar.
"Aku belum jawab kan ? kenapa sudah dipakaikan ke sini..." aku menunjuk ke arah leherku, dan Elan tertawa pelan melihat tingkahku.
"Aku tahu kamu jealous dengan Indri, aku tahu itu." katanya. dan itu membuat wajahku jadi panas, untung aja di taman ini nggak begitu terang jadi nggak begitu tahu warna mukaku.
Categories
I'm In Love
Subscribe to:
Comments (Atom)