Monday, June 30, 2014

Love (?) at First Sight

Posted by ceritacurhatku at 9:32 AM
Oke ini cerita berawal dari seorang cowok dengan memakai kaos superman jaman SD dulu. iya, emang ini cerita semasa kecilku. yahh bisa dibilang cinta monyet sih. tapi waktu itu masih nggak paham sama begituan jadi go with the flow aja.
okay, cowok tinggi manis, cakep dan emm lucu hhaha begitulah kesan pertama waktu itu. aku melihatnya di lapangan bola dan pada saat itu aku bermain benteng-bentengan bersama teman-temanku. yahh aku akui temanku banyak cowoknya daripada cewek. aku juga nggak pernah main masak-masakkan atau rumah-rumahan mainannya ya gitu jumprit singit bahasa jawanya atau petak umpet kalo di bahasa Indonesia, terus gobak sodor bersama teman cowokku. oh iya belum aku perkenalkan, cowok yang duduk di pinggir lapangan itu bernama Dedy nggak usah lengkapnya yah ntar dia kege'eran. dia memakai kaos superman yang di punggungnya berkibar sayapnya atau apa ya sebutannya.
nah waktu itu aku nggak tahu dia siapa aku ajak deh dia main bareng dan kita bermain bersama. seharian kita main bareng sampai maghrib dan kita pulang ke rumah masing-masing. ternyata dia punya adik cewek bernama Nila dia adik kelasku. waktu itu aku kelas 4 SD, Dedy kelas 5 SD dan adiknya Nila kelas 3 SD. aku belum akrab dengan Nila karena memang aku belum pernah ketemu. tapi Nila akrab dengan Mbak Lia dia cewek kelas 6 SD, dia tetanggaku yang cantik, putih dan apa yahh (sok jeles) Nila selalu mengekor ke Mbak Lia dan aku masih belum bisa akrab dengan Nila.
nah seminggu kemudian kami bermain bersama aku, Dedy dan Nila. kita selalu bersama. aku nggak merasa kalau ada rasa suka, namanya aja anak kecil jadi main aja pikirannya. tapi rasa itu tetep ada, atau memang gara-gara kita selalu bersama. Nila juga sering bersamaku.
besoknya aku diajak Nila main ke rumahnya, dan itu pertama kalinya aku masuk ke rumah Dedy. di rumah juga aku mencuri-curi kesempatan untuk bersama Dedy hhahaha...
sampai akhirnya terdengar gosip kalau Dedy pacaran sama Mbak Lia. bagaimana perasaanmu kalau orang yang disukai malah jadian sama cewek lain, lebih tua pula. dan aku berusaha menjauh dari Dedy tapi aku masih sering bermain dengan Nila. sampai-sampai Nila berbicara seperti ini :
Nila : Mbak, santai saja aku lebih suka sama Mbak Tika kok.
Aku : (menggaruk kepala yang nggak gatal kemudian tersenyum puas)
ternyata emang tukang gosip si kakak beradik ini Berty dan Tomi memang memanas-manasiku karena mereka tahu kalau aku suka pada Dedy. dasar kompoooor...
sore kita mengaji bersama di musholla dekat rumah dan Tomi yang gencar menjodoh-jodohkan aku dengan Dedy. Berty yang tidak menghentikan saudaranya malah tertawa terkikik mendengarnya.
beberapa bulan kemudian kita sudah nggak begitu akrab karena Dedy sudah mau ulangan untuk naik ke kelas 6 dan aku masih tetap suka bermain sampai malam. dan Nila mengajakku lagi ke rumahnya, sore itu aku datang saat memencet bel Ibu Dedy datang membukakan pintu.
Ibu Dedy : Nyari Dedy ya... (sambil membuka pagar rumah)
Aku : (Meringis sungkan) Nggak Bu, mau nyari Nila.
Ibu Dedy : Apa nyari Mas Deni ? (Menyuruhku masuk masih sambil terkikik lucu.)
kemudian aku masuk dan tidak menemukan Dedy yang biasanya duduk diam menonton tivi. Nila datang dan menyeretku ke lantai dua, terlihat Dedy di dalam kamarnya sedang belajar serius. baru kali ini aku melihat sisi seriusnya, aneh hhaha...
aku berpapasan dengan Mas Deni saat mau menuju ke kamar mandi yang ada di lantai bawah. dan bertemu dengan Mbak Mila anak ketiga dari 5 bersaudara. ada lagi Mbak Ana dengan anak semata wayangnya. dipanggilnya aku dan disuruhnya duduk di dekat Mbak Ana.
Mbak Ana : Oh iya, minggu depan jadi Pager Ayu yah ?
Aku : Minggu depan jadi menikah Mbak ? (tanyaku polos)
Mbak Ana : (Mengangguk) iya, minggu depan harus jadi lho yah. awas kalau nggak...
Aku : Siap Boss. Aku aja nih Mbak ?
Mbak Ana : Sama Lia, sama Mila dong Tik.
aku cuma bisa ber"O" ria. aku nggak musuhan sama Mbak Lia, aku nggak membenci dia karena ketahuan kalau dia juga suka Dedy. aku cuma jeles melihat mereka bersama.
sebelum hari pernikahan Mbak Mila menyuruhku untuk datang ke rumah, katanya disuruh mencoba kebaya yang akan dipakai.
waktu itu aku masih langsing, nggak ada lemak yang bertebaran seperti sekarang jadi semua pakaian pantas di badanku. aku terlihat lebih langsing. kebaya merah tua dengan brokat bentuk bunga di lengan panjangnya. Mbak Lia dan Mila memakai kebaya berwarna sama yaitu pink. jadi aku yang paling waw diantara mereka. Dedy yang sudah ujian melihatku berpakaian kebaya sampai nggak berkedip (bukannya ge'er lho tapi asli kok) aku menyadarinya dan melihatnya langsung ke arah Dedy dia tersenyum puas melihatku. kata Mbak Mila ini kebaya yang memang khusus buat aku. ahh melting deh lihat senyumnya.
yakk hari H datang, orang-orang datang. semua tetangga juga datang Ibuku yang melihatku memakai kebaya dengan sanggul modren di kepalaku tersenyum dan bilang:
Ibuku : Ini Tika anak Ibu ? waaah dadi pangling deh.
Aku : (Tersipu malu)
Ayahku : Weh, cantike rek...
aku tertunduk malu dan hanya melihat ke arah tamu yang datang dan aku memberi souvenir untuk tamu yang hadir. datanglah Dedy dengan membawa keponakannya (anaknya Mbak Ana) menuju ke arahku dia tersenyum. dan aku hanya bisa membalas senyumnya unutk beberapa saat.
Dedy : Bagus deh kebayanya.
Aku : Ihh, bukan aku nih yang bagus pakai kebayanya ?
Dedy : (menggaruk kepalanya yang nggak gatal kemudian tersenyum malu) iya deh iya bagus...
Keponakannya yang bernama Leo datang dan ingin duduk dipangkuanku. aku mengangkatnya dan mendudukkan ke pangkuanku. Dedy yang melihatku nggak menghilangkan senyumannya.
Aku : Nggak capek meringis terus ? ntar giginya kering lho.
Dedy : (Langsung mengatupkan bibirnya dan seolah-olah dia ngambek) disenyumin malah nggak seneng.
Aku : Hahaha iya, iya maaf.
Dedy mencubit pipi Leo yang manja di pelukanku. aku gemas dan mencium lembut pipi Leo. nggak sadar Mbak Ana sudah ada di depanku dan memotret kami yang sedang bercanda dengan Leo.
Mbak Ana : Ihh, anakku kalian apain tuh. (sambil menuju ke arah anaknya yang tertawa kegelian.)
Aku dan Dedy hanya diam dan kemudian tersenyum bersamaan.
Mas Deni : Makanya cepet dewasa biar bisa punya adik.
Kami berdua terbengong dan Mbak Ana dan Mas Deni tertawa keras. namanya juga masih anak kecil jadi belum pahamlah. selesai acara, aku dan Mbak Lia belum boleh pulang katanya Mbak Ana mau ngasih kita kado. sampai maghrib kami menunggu dan akhirnya Mbak Ana membawa kotak kecil warna putih dan merah. Putih untuk mbak Lia dan dibuka adalah jilbab bermotif bunga, dan aku kotak warna merah yang berisi baju lengan panjang yang lucu. aku menerima dengan senang dan menganggap kalau ini dari Dedy.
setelah beberapa bulan kami tetap akrab dan selalu bermain bersama. Dedy naik kelas 6, aku kelas 5, Nila kelas 4 dan Mbak Lia kelas 1 SMP. karena sudah merasa kalau kita ini remaja Dedy yang bermain dengan kumpulan cowok dan aku dengan kumpulan cewek. kita nggak bersama lagi dan rasa suka masih ada dan gosip kami yang selalu bersama sudah sampai satu perumahan. ya ampuun...
karena kita beda pergaulan Nila jadi jarang main bersamaku. dan gantinya aku yang bermain ke rumahnya. mungkin karena pergaulan kami dengan anak SMA jadi kami merasa kalau sudah remaja. Dedy berubah jadi mudah mengungkapkan sukanya dengan tindakan dan bikin aku jadi risih tapi juga suka. dan gosip jadi bertambah kuat saat melihat aku dan Dedy duduk berdua saat menyaksikan pentas seni di kompleksku.
tapi kedekatan kami nggak berlangsung lama setahun kemudian Dedy pindah rumah lagi karena Ayahnya ada proyek di Balikpapan. sebelum kelurga mereka pindah, Dedy yang naik kelas 1 SMP mendatangiku dan mengajakku mengobrol hanya berdua.
Dedy : Sori... aku tahu kamu suka aku dan kamu tahu kalau aku juga suka sama kamu. kita nggak bisa bareng lagi dan kemungkinan untuk selamanya.
Aku : (Tertunduk dalam diam)
Dedy : (mengulurkan tangannya) Kita masih bisa bersahabat, masih ada alat komunikasi.
Aku : Kita masih teman kan ? (menjabat tangannya)
Dedy : (Mengangguk dan tersenyum kemudian menggenggam tanganku erat)
Nggak lama Nila mendatangiku dan memelukku erat.
Nila : Mbak, aku nggak mau pindah (Katanya dengan menangis)
aku menggaguk dan membalas pelukannya. Dedy yang melihat adegan itu jadi ikut memeluk kami. sudah seperti keluarga sendiri. besoknya mereka sekeluarga berangkat. karena aku sekolah jadi tidak sempat ikut mengantarkan mereka. sorenya aku di datangi Tomi dan di berikannya surat dari Dedy katanya.

Hai Tika
Makasih sudah mau jadi temanku 2 tahun ini. kita main bersama sampai pada saat kita berpisah karena gender hhaha.. aku ikut gerombolan Mas Wayan karena aku dibilang sudah remaja, kalau bermain sama cewek di bilang cowok cemen.
Sori buat yang itu...
Sebenarnya aku masih pengen bareng kamu tapi apa daya kita nggak bisa bareng, semalaman Nila nangis bilang kalau nggak mau pindah sampai marah-marah.
Karena kita masih kecil dan nggak tahu apa itu cinta (kata-kata Mbak Ami) aku sudah menganggap kamu seperti keluarga sendiri. dan Lia, dia bukan siapa-siapaku kok kamu nggak usah ngambek yah. Aku cuma seneng sama kamu nggak yang lain hehehe
semoga kita tetap keep in touch ya...
from your Husband... Dady

Iya, dia di panggil "Suaminya Tika" oleh teman-temanku hanya untuk bercandaan. tapi aku marah saat dipanggil Istri oleh Dedy. "Kita kan masih kecil" kataku waktu itu.
yakk, sahabat dan sekaligus cinta pertamaku pergi tadi pagi tanpa pamit secara langsung. setelah kami berpisah aku dan Nila masih berhubungan baik lewat Facebook ataupun Twitter.

***

Mas Agung : Tik, pujaan hatimu masa kecil dateng lho.
Aku : (bingung dan masuk ke rumah)
Dasar punya kakak tukang bohong ckckck. nggak lama setelah Mas Agung bilang seperti itu datanglah Dedy dengan kaos jersey dan jeansnya. dia terlihat lebih tinggi daripada aku, padahal dulu aku lebih tinggi dari dia. dedy ternyata ingin bertemu dengan Mas Agung dan bukan aku.
Dedy : Hai, Tik...
aku yang mendengar suaranya yang tidak berubah masih dengan suara rendahnya khas Dedy waktu itu. dan aku hanya diam di tempat saat aku akan melepaskan tasku. seperti slow motion aku melihat setiap gerakan dia sambil tersenyum sempurna. Oh My God senyumnya nggak berubah sama sekali masih tetap sama. tapi apa yang ada di lidah Dedy ? bulatan kecil seperti kelereng menempel di lidahnya. dia menindik lidahnya...
Oh My God lagi, dan itu membuat aku ilfell  setengah mati. dia tetap sama, tapi nggak dengan tindikan di lidahnya. Dia bukan Dedy yang polos seperti waktu itu. dia cowok yang berubah dewasa tapi dengan penampilan bikin aku geleng-geleng kepala. meskipun sedikit rapi tapi tindikan itu membuatku... sedikit aneh.
Aku : Oh.. Ha..Hai Ded (kataku dengan terbata-bata kemudian lari ke dalam kamar)
aku harus bagaimana bersikap di depannya. aku benar-benar salting melihat penampilannya sekarang. Mas Agung yang memanggilku dari arah ruang tamu sampai tidak terdengar di telingaku sampai dia memanggilku beberapa kali. aku mendengar percakapan mereka dan pertama kali yang aku dengar adalah :
Mas Agung : Sejak kapan nindik lidah lo ded ?
Dedy : Sejak SMA Bang, hhehehe... gara-gara ikutan temen tuh.
Aku yang diam di kamar tidak berani keluar, tiba-tiba Mas Agung masuk tanpa ada suara kaki yang terdengar. Dan ...
Mas Agung : Bikinin Dedy minum dong Tik.
Aku : (Berdiri kemudian dengan malas menuju ke dapur)
tanpa protes aku membuatkan teh untuk Mas Agung dan Dedy. kebetulan juga Ibu sama Ayah pergi ke Bali liburan bareng sama guru dan staf sekolah Ayah. Aku bengong sampai teh yang aku buat terciprat ke tangan dan itu masih air mendidih dan baru aku tuang ke gelas.
Aku : Adudududuuuuh... (sambil memegang tanganku)
Mas Agung : Kenapa Tik ? (tanyanya sambil bingung mau nolongin aku kayak gimana)
Dedy : (Datang ke dapur kemudian meraih tanganku dan meletakkan tanganku dibawah kucuran air keran) nggak apa-apa kan ?
Aku : Nggak kok...
Parfumnya, yang menggunakan parfum cowok menyalurkan sensasi maskulin. nggak seperti dulu yang pakainya parfum anak kecil.
Mas Agung : Asik banget nih adegannya. (langsung meninggalkan kami dengan pose yang bisa bikin salah paham)
Dedy melepaskan genggamannya kemudian kembali ke ruang tamu dan mengobrol dengan Mas Agung lagi. aku yang masih melongo dan masih teringat wangi parfumnya jadi bikin muka panas dan memerah.
Mas Agung : Tika, sini...
Aku : Apaan Mas?
Mas Agung : Ajak ngobrol Dedy ya, aku ada janji sama Melani kencan setengah jam lagi.
Aku : Ihh, jadi cowok ngaret mulu. di putusin ntar galau... (masih tetap berdiri dan kagok untuk duduk)
Dedy : Nggak mau duduk ?
Dengan pertanyaan itu aku langsung duduk tanpa protes lagi. entah kenapa hari ini aku jadi penurut banget. hening sejenak, Dedy sibuk dengan ponselnya. aku berdiri dan bermaksud menuju ke kamar untuk mengambil ponselku juga. saat beranjak dari kursiku, Dedy menggenggam lagi tanganku dan menyuruhku untuk tetap duduk.
Aku : Kayaknya kamu cari kesempatan mulu, daritadi udah berapa kali megang tanganku ?
Dedy : Sorry... gue cuma mau ngobrol sama lo.
Aku : Oh sudah berubah pakai "gue lo" gitu ? sekarang juga udah berubah pakai tindik di lidah ?
Dedy : (menatap lebih lekat ke arahku) kalau memang kamu nggak suka bisa aku copot kok.
Sekarang Dedy lebih "mirip" Dedy yang dulu, yang sopan dan nggak neko-neko.
Dedy : Besok mau ikut aku ke Kawah Putih?
Aku : Haa ? ngapain kesana ?
Dedy : Pengen kesana tapi nggak bisa, kan aku di Kalimantan jadi gak begitu bisa sering kesini...
Aku : Lihat besok ya ?
Dedy : Oke besok aku telepon kamu...
Aku : (Mengangkat alis) kok bisa tahu nomor ponselku ?
Dedy : Minta ke Bang Agung laah...
Dan dari situlah, kami mulai akrab lagi. dia bercerita banyak soal Kalimantan, tapi nggak lama dia pulang soalnya nginepnya bukan di sini, tapi di rumah Mas Deni yang masih di Jawa.
sesampainya Kawah Putih aku duduk sebentar di saung pinggir jalan. menuruni anak tangga kita sudah sampai ke kawahnya. sudah ke 2 kalinya aku kesini, bersama Anto dan teman-temannya. di pinggir-pinggir kawah banyak sekali pohon yang masih hijau ataupun yang sudah mati. Dedy menggandengku ketempat yang menurutnya indah. aku juga suka tempat itu. luas di kelilingi bukit dan kawah berasa seperti kolam renang yang airnya bewarna kehijauan.
Dedy : Thanks, udah mau nemenin aku kesini tepat dihari ulang tahunku.
aku terdiam dan mencerna perkataan Dedy tadi. kemudian aku ingat. inikan tanggal 11 Juli ? ulang tahun Dedy..ya ampuun kok bisa lupa sih...
Aku : (Terdiam sebentar...) emm, Ded... sori aku lupa kalau sekarang ualng tahunmu.
Dedy : Wajar kok, kita kan udah 7 tahun nggak pernah komunikasi lagi.
Aku terdiam lagi. dan aku punya ide untuk memberikan kado buat Dedy. aku ingat lagu ulang tahun teromantis. dan aku nyanyikan lagu Ten2Five - Happy Birthday

Hari ini saat bahagia untukmu
Bertambah 1 tahun usiamu
Kunyanyikan sebuah lagu
Agar istimewa harimu

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday to you

Hari ini istimewa
Karena ini ulang tahunmu
Hari ini berbahagia

Nikmati saja

Hening...
Dedy melihatku dengan tenang dan ucapan terimakasih yang sangat tulus, aku merasa bersalah gara-gara lupa ulang tahunnya.
Dedy : Tik, Kamu tahu... aku sudah suka kamu dari kecil... aku datang kesini juga mau nemuin kamu. aku nggak bisa diam aja padahal dalam hati ada kamu Tik selama tujuh tahun ini.
Aku diam mendengar pengakuan Dedy yang memang selama ini ada hati buatku. aku juga sayang apalagi surprice banget dia bisa ke sini bareng aku.
Dedy : Mau nggak jadi pacar aku ?
Aku : (Diam dan menunduk) emm Ded.. aku memang sayang banget sama kamu. Tapi mungkin saat itu hanya perasaan sesaat yang bisa dibilang cinta monyet. Kamu memang cinta pertama aku, tapi lama kelamaan itu menghilang dan buat aku itu kenangan yang indah meskipun kita masih kecil dan nggak tahu apa-apa soal cinta. Apalagi, aku sudah bertunangan seminggu yang lalu, sebelum kamu datang...
Dedy : Siapa cowok yang beruntung bisa dapetin kamu Tik ?
Aku : Dia teman SMA aku, sudah 5 tahun kita pacaran.
Dedy : (Terdiam dan melihat ke sekitar kawah dengan tatapan yang sedih) Aku tahu Tik... kalau memang nggak bisa kita tetap bersahabat kan ?
Aku : Pasti Ded... pasti itu.

***
Seminggu berlalu setelah Dedy mengungkapkan semua perasaannya kepadaku. aku nggak tahu harus bersikap bagaimana ke dia. aku sudah menyakiti dia, apalagi dia ke sini hanya untuk menemuiku. kita masih berteman, dan malah katanya pas aku wisuda nanti dia bakal dateng ke sini lagi.
Dedy : Thanks udah di antar Tik...
Aku : Iya, kamu hati-hati yah. Oh iya kenalin ini Anto dia tunanganku yang aku ceritain. (aku memperkenalkan Anto pada Dedy)
Dedy : Long lasting kalian...
setelah perpisahan itu Dedy memelukku sebentar pelukan pertemanan dan menyalami Anto yang ada di sebelahku.
Anto : Ati-ati Bro
Dan kisah cinta pertamaku akan jadi kenangan, dan semoga kisah cinta terakhirku akan selamanya dan nggak akan termakan usia. Thanks Ded, sudah mau menyukaiku, menyayangiku dan bersahabat denganku. Makasih buat ungkapan hati kamu yang selama 7 tahun baru aku mengerti.
Thanks a lot for you, Dedy Chandra :)




0 comments:

Post a Comment

 

Freedom... Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review