Friday, June 20, 2014

I'm In Love (Part 17)

Posted by ceritacurhatku at 12:24 AM
Apa-apaan ini ? Elan nggak salah ngomong kan ? matanya masih menatapku dengan tatapan yang nggak kalah seriusnya.
"Mau sama aku ?" tanya Elan sekali lagi.
Aku yang melihat Elan dengan mata yang bingung akhirnya melemahkan pandangannya dan mengalihkan ke arah jalan. Elan berhenti bertanya dan mengajakku pulang.
sesampainya di rumah aku merebahkan badan yang capek lahir dan batin melayani pembicaraan Indri yang nggak penting. tiba-tiba ada telepon masuk dengan nomor yang tidak diketahui.
"Halo ?" tanya Lina dengan pelan.
"Dasar perebut cowok orang..." setelah perkataan itu sambungan telepon terputus. Aku langsung memencet tombol warna hijau pada nomor itu. dan nggak tersambung. ihh ini kerjaannya siapa sih, lebai deh.
nggak lama kemudian handphoneku berdering. nama Rina ada di layar HPku.
"Halo mbak ?" ehh, kenapa yang bicara bukan Rina?
"Iya Mas, ada apa yah ? kok bukan Rina yang bicara ?"
"Gini mbak, saya lihat mbak ini tergeletak di jalan. darah juga sudah kemana-mana" kata mas itu, tanpa menunggu lama aku langsung mengambil jaket dan menelpon seseirang yang bisa ngantar aku.
"Gimana dia sekarang mas?"
"Sudah saya antar pakai ambulance ke RS Sardjito mbak."
"Makasih ya mas, sekarang saya kesana." tanpa sadar aku memencet histori telepon aku ke Elan. dengan cepat Elan mengangkat.
"Ada apa Lin?" tanya Elan yang mungkin baru sampai rumah.
"Sorry Lan, kamu bisa antar aku ke rumah sakit ?"
tanpa Elan bertanya kemana rumah sakit yang kita tuju dia langsung berangkat lagi untuk menjemputku. 15 menit Elan sampai di rumah. nggak banyak bicara aku langsung masuk dan bilang ke RS Sardjito. nggak ada percakapan waktu itu, hanya diam dan pikiranku hanya ada di sahabat baikku Rina.
"Tenang Lin..." kata Elan menengakanku sambil mengusap-usap kepalakku.
sesampainya di rumah sakit, aku langsung menuku UGD dan Rina masih di dalam sana. semoga nggak kenapa-kenapa. kok bisa sampai seperti itu bagaimana ceritanya.
2 jam aku dan Elan menunggu di depan. dokter yang memeriksanya datang menuju ke arahku.
"Mbak Rina cuma luka ringan, sudah dijahit jadi sudah nggak apa-apa." kata dokter itu. aku langsung menghela napas panjang. aku nggak sadar kalau sedaritadi tangan Elan merangkulku dari samping, dia berusaha untuk membuatku tenang. keluarga Rina tidak ada yang datang, karena mereka sudah tidak ada hanya Neneknya yang setia menemani Rina.
aku ingin menemani Rina di rumah sakit. aku nggak bisa pulang kalau Rina masih belum sadar begini. Elan juga tidak ingin pulang. telepon Elan berdering dan ternyata itu Mas Ari yang berbicara.
"Lan, kamu di rumah sakit ? kata ibumu kamu sama Lina?" hanya sampai itu aku mendengar suara Mas Ari di telepon. Elan mengatakan kalau Mas Ari akan datang menemani kita. nggak lama Mas Ari datang sambil membawa makanan. aku disuruhnya untuk makan dan Elan menungguku di luar kamar Rina. sebelum keluar Mas Ari mengelus punggungku memintaku tenang. setelah mereka berdua keluar aku melihat keadaan Rina yang pucat. kata mas yang tadi menelepon tidak ada orang disekitar Rina jadi nggak ada saksi mata kenapa Rina bisa terluka. kepalanya masih diperban dan masih ada sisa darah yang menembus perbannya.
"Lin, pulang yuk. Biar aku yang nemanin Rina." kata Mas Ari yang muncul dari balik pintu. aku melihat Elan hanya terdiam di depan sana. "Yuk pulang..." kata Mas Ari lagi.
"Nanti kamu sakit, besok sekalian ambil bajunya Rina terus kita kesini lagi." kali ini Elan yang membuka suaranya. dengan terpaksa aku mengikuti ajakan Elan dan Mas Ari.
Mas Ari tiba-tiba datang ke arahku dan memelukku. entah apa yang dipikirkan Mas Ari sampai dia bertingkah seperti ini.
"Jangan sampai kamu sakit. Nanti nggak ada yang jaga Rina." ucap Mas Ari sambil melepaskan pelukannya.
aku sudah ada di dalam mobil. Mas Ari yang menjaga Rina di dalam sana, dan aku pulang dengan Elan.
Elan tiba-tiba memecah keheningan kami. dia bertanya "Kamu kelihatan deket banget sama Ari ?"
aku menoleh ke arahnya dan menyipitkan mataku. apa yang dia bilang ?
"Aku nggak ada hubungan apa-apa kok. udah kayak adik kakak aja." jelasku. Elan diam tidak berkata apapun.
sesampai di rumah aku langsung menuju tempat tidur. nggak lama Mas Ari menelepon.
"Harusnya aku yang ngantar kamu pulang Lin." katanya. apa-apaan sih orang dua ini, kenapa tiba-tiba bicara aneh.
"Nggak apa-apa kok mas, aku sudah di rumah." kataku.
"Yawes, ndang tidur besok kan masih ke rumah sakit lagi." katanya. aku mengiyakan teruns memutuskan sambungan telepon.
keesokan paginya Elan sudah di depan rumah, kita langsung menuju ke rumah Rina untuk membawakan baju ganti. setelah itu kita pergi ke rumah sakit. di dalam sana ada Rina yang masih tertidur dan Mas Ari yang tidur di sofa sebelah Rina. Mas Ari pasti capek banget semalaman jagain Rina.
Elan membangunkan Mas Ari dan menyuruhnya mandi. aku menunggu di samping Rina menggantikan Mas Ari. nggak lama Rina bangun dan tersenyum ke arahku.
"Kamu nggak apa-apa ?" tanyaku. Rina menggeleng dan tersenyum. entah kenapa aku merasa ada keganjilan. "kenapa kamu bisa ada disana Rin?"
"Waktu itu aku sama Abri, pas itu di amarah besar Lin. dan mukul aku paling dikiranya nggak kenapa-napa terus aku turun dan berjalan kaki sendiri tapi ternyata dahiku berdarah." jelasnya dengan menangis.
"Udah jangan nangis ahh..." kataku sambil memegang erat tangan Rina. "putusin aja dia."
"Aku sudah putus seminggu yang lalu." jelasnya. ohh kenapa sih cewek susah banget ngelupain cowok yang udah nyakitin dia. malah cewek itu selalu baik dan beranggapan nggak terjadi apa-apa. Abri memang terlihat kasar kepada Rina, tapi Rina selalu bilang kalau Abri tuh nggak seperti itu aslinya. Sebel jadinya...
Elan yang duduk di sofa nggak peduli sama cerita Rina langsung buka mulut.
"Tuh cowok udah kelihatan brengsek masih lo peduliin." kata Elan dengan muka yang nggak tertarik. Rina yang menangis jadi terdiam. Cowok yang dia kira nggak peduli bisa bilang seperti itu. padahal dia nggak kenal namanya Abri.
"Dia nggak gitu kok..." bela Rina.
"Gue cowok Rin, gue bisa menilai cowok dari cerita lo." jelasnya. aku yang melihat pembicaraan Rina dan Elan hanya sesekali menoleh ke arah mereka.
"Aku setuju sama Elan, Rin. udah jangan hubungin dia." kataku melihat ke arah Rina yang sudah berhenti menangis. "sudah kelihatan kalau dia kasar, sudah berani mukul kamu sampai dapat jahitan begitu." jelasku. kali ini Rina terdiam dan menunduk. mungkin dia sedang mencerna omonganku dan Elan.
Setelah Mas Ari selesai mandi dia kembali ke dalam ruangan dan duduk di sebelah Elan. dia melihat kami semua dengan muka yang bad mood.
"Ini kenapa suasananya jelek gini ?" tanya Mas Ari yang nggak tahu apa-apa.
Seharian aku bersama dua cowok itu masih menemani Rina. perban di kepalanya belum di lepas jadi dia berasa seperti ninja gitu. Elan masih dengan kesibukkannya sendiri, Mas Ari menemani aku dan Rina mengobrol.
"Oh, Iya besok ada tamu kehormatan sanggar kita dari luar negeri." kata Mas Ari. Aku melihat dengan muka penasaran siapa yang akan datang besok. "besok kamu harus ke sanggar ya, nyambut tamunya." pinta Mas Ari kepadaku. "kamu juga ikut Lan, jadi seksi dokumentasi." kata Mas Ari kepada Elan yang masih sibuk dengan korannya.
"Besok nggak nemenin aku dong ?" kata Rina kecewa.
"Nggak, besok habis dari sanggar aku langsung ke sini kok." kataku menghibur Rina.
Malam ini Rina sendirian di rumah sakit. aku, Elan dan Mas Ari besok pagi harus sudah ada di sanggar. Mas Ari bilang ini tamu yang sudah ditunggu-tunggu dari dulu. aku nggak sabar untuk menyambut tamu agung kita.
Keesokan harinya Mas Ari yang menjemputku ke rumah. katanya Elan lagi ada urusan sebentar dengan keluarganya. sesampainya di sanggar kamu masih menunggu, jam 9 mereka baru sampai Indonesia. dan sekarng masih jam setengah 9 belum lagi perjalanan kesini nanti mereka samai jam berapa, kasihan Rina sendirian di Rumah Sakit. Setelah menerima telepon dari manager tamunya dengan cepat kita bersiap-siap karena 15 menit lagi mereka datang, Elan yang 5 menit tadi baru sampai langsung mempersiapkan kamera yang sudah dia bawa.
Mobil Sedan keluaran terbaru datang di halaman depan sanggar. kamu semua merapikan pakaian yang sedaritadi berantakan karena duduk menunggu tamu datang.
Saat tamu itu keluar, aku seperti melihat seseorang yang aku kenal. kakinya yang jenjang menggunakan heels, badan yang langsing dan rambut coklat sebahu. sepertinya aku tahu siapa dia...
"Hai Lizz..." peluk Mas Ari dan Mbak Mila.
Aku beneran nggak salah lihat kan ? dia Mbakku yang sudah 2 tahun ada di Eropa dan sekarang sudah ada di depanku ?
"Sayaaangku Lina..." sapa Mbak Lizzy dengan memelukku erat. aku yang bingung masih terdiam di pelukannya. "ihh, sombong.. pelukannya nggak dibales."
Nggak sadar air mataku turung dan sesenggukan sewaktu membalas pelukan saudara kandungku yang sangat aku sayang. "Kok, nggak bilang kalau pulang sih ? hhuhuhu..." isakku nggak tertahan lagi.
Selesai nangis bombai bersama Mbak Lizzy kita semua masuk ke dalam sanggar. Ibu dan Ayah datang setelah setengah jam kemudian, sebenarnya mereka tahu kalau putri sulungnya akan pulang ke Indonesia. Saat Elan memotret moment yang terjadi Mbak Lizzy menanyakan soal Elan.
"Dia pacarmu Lin ?" tanya Mbak Lizzy.
"Ihh bukan kok..." jawabku dengan salting.
"Bukan, apa masih belum. Calon pacar kan... ciye ciyeee." goda Mbak Lizzy sambil menyikut lenganku pelan. Aku terdiam karena nggak nyangka kalau Elan melihat aku dan Mbak Lizzy yang sedang menggosip. dan ternyata Mbak Lizzy tahu kalau Elan menatap kami, Mbak Lizzy tiba-tiba menyert aku ke arah Elan.
"Hai..." sapa Mbak Lizzy.
"Halo Mbak..." balas Elan.
"Emm, anu..." kataku belibet, karena Mbak Lizzy pengen banget kenalan sama Elan. "kenalin Lan, ini Kakakku yang pernah aku ceritain." lanjutku sambil malu-malu kucing.
"Hai, aku Lizzy. Kakaknya Lina..." kata Mbak Lizzy memperkenalkan diri, dan Elan menyambut jabatan tangan mbak Lizzy. "Lina sering cerita soal kamu lho..." bisik mbak Lizzy, dan aku langsung memukul pelan punggungnya.
setelah makan-makan, aku di tinggal Mbak Lizzy sendirian di teras sanggar. tiba-tiba ada seseorang menepuk pundakku. ternyata Elan... dia tersenyum sambil mencuri wajahku untuk dipotretnya.
"Ahh, apaan sih Lan..." kataku menutup wajahku.
Elan tersenyum puas meihat hasil fotoku dilayar kamera LSRnya. dia ketawa melihat hasilnya, mukaku yang menoleh ke arahnya dan mataku berkedip arrgh pokoknya hancur. dia kemudian berdiri di sebelahku, dia terdiam sebentar kemudian mulai memanggilku.
"Lina..." aku menoleh ke arahnya lagi dan melihat wajahnya yang melihat ke arah jalan raya.
"Lina..."
"Hemm.. apa Lan ?" jawabku kali ini.
"Lin," sekarang dia sudah mengahadap ke arahku. wajahnya menunjukkan khawatir dan bingung. "kalau gue ninggalin kamu, lo kangen nggak sama gue?" tanyanya, dan membuatku salah tingkah. aku hanya mengangguk pelan. "semester depan gue pindah ke Sulawesi, ada proyek bokap disana."
perkataan dia begitu membuatku shock, kenapa baru dia kasih tahu sekarang disaat aku sudah sangat sayang kepadanya.
"Ohh, dua bulan lagi ?" tanyaku yang kali ini menatap ke arah yang lain. Elan membalasnya dengan anggukan dan kami berdua melamun memikirkan apa yang ada di kepala masing-masing.
"Heii Lin, Lan..." teriak Mbak Lizzy yang ada di dalam sanggar. "jodoh banget sih panggilannya Lin sama Lan hhaha." apaan sih mbakku ini, nggak penting deh. "aku disuruh nari nih sama bosmu." mendengar kata-kata bos aku melihat ke arah Mas Ari yang berdiri di sebelah Mbak Mila dengan tersenyum.
"Kamu duet sama Mbakmu yah..." pinta Mas Ari kepadaku. aku mengguk dan mengikuti Mbak Lizzy yang masuk ke ruang ganti.
Setelah menari gambyong yang benar-benar penuh konsentrasi karena gerakkannya harus super halus. dan untungnya aku berhasil, kalau dibandingkan sama Mbak Lizzy yang bener-bener halus banget gerakannya aku belum ada apa-apanya.
Elan masih ada disanggar untuk memotret semuanya, kejadian lucu, sampai yang mengharukan. sewaktu acara selesai, aku mengajak Mbak Lizzy untuk menjenguk Rina yang ada di rumah sakit. ayah ibu juga ingin ikut kesana. aku dan Elan menaiki mobil sendiri, ayah ibu dan Mbak Lizzy ada di mobil yang dibawa ayah. Mas Ari yang menyusul nanti akan bersama Mbak Mila yang juga ingin ikut menjenguk.
sesampainya di rumah sakit, Rina bingung melihat banyak orang yang datang. Ibu Lina membawakan banyak jajan dan buah. Rina sampai nggak bisa ngomong apa-apa, dia cuma berterimakasih. perbannya sudah di lepas tinggal perban kecil yang menempel di dahinya.
"Rina..." panggil Mbak Lizzy dan langsung memeluknya.
"Mbaaak..." sambutnya, dengan membalas pelukan Mbak Lizzy. "kapan dateng ?" tanya Rina yang nggak tahu kalau aku dikerjain sama Mbak Lizzy.
"Aslinya sih sudah kemarin aku sampai, tapi nggak langsung pulang aku ngerjain Lina dulu dan kerjasama bareng Ari sama Mila." jelasnya sambil merangkulku.
"Elan mana Lin ?" tanya Ibunya yang dari tadi mengobrol dengan Elan saat di sanggar. Aku mencari Elan tapi nggak ketemu, bukannya tadi bareng kita masuh ke kamar Rina.
"Nyari siapa Lin ?" tanya seseorang di belakangku. Mas Ari ternyata dengan Mbak Mila di sampingnya membawa buah.
"Elan, Mas. ketemu dibawah nggak tadi ?" tanyaku. tapi dibalas gelengan oleh Mas Ari. teleponku berdering dan di layar muncul nomor nggak dikenal.
"Gue udah ambil Elan, dia nggak akan ke lo." kata seorang cewek diseberang sana.
"Indri ?" tanyaku dan dengan cepat dia memutuskan sambungan teleponnya. nggak sabar aku langsung menelpon Elan yang entah dimana.
"Halo Lin.." jawab Elan yang sepertinya ada di jalan.
"Kamu dimana ?" agak lama Elan tidak menjawab pertanyaanku. "Halo Lan ? kamu dimana?" tanyaku lagi.
"A..aku ke studio sebentar, katanya Indri jatuh ketimpa kamera dan payung reflect." jelasnya.
"Oh, Oke hati-hati di jalan." kataku sambil memutuskan sambungan telepon. aku langsung masuk ke kamar Rina dan tidak memperdulikan telepon Elan.
sudah 10 misscall dari Elan, sampai rumah aku masih nggak mau nerima teleponnya. kenapa malah mikirin mantannya sih, udah sok-sok bilang ngerebut dia malah pilih Indri. jadi males deh...
ada suara langkah kaki dari belakangku, dan...
"Bbaaaa !!" teriak Mbak Lizzy yang mengagetkanku dari belakang sambil menepuk pundakku keras.
"Aduuh Mbaaak, sakit tau..." sahutku sambil memijit pelan bahuku.
"Bengong aja sih. gara-gara Elan nih ?" tanya Mbak Lizzy, dan itu buat mukaku memerah. "gara-gara dia nggak ada di RS nemenin kamu ?"
"Ihh, sok tau deh. Udah sana mandi..." kataku dengan mendorong Mbak Lizzy keluar kamarku. yang didorong malah ketawa kuda.
"Oh iya lupa, Elan ada di bawah tuh nyari kamu." langsung saja mukaku jadi kepiting rebus merah nggak karuan. ngapain dia ke rumah...
aku turun dari kamarku di lantai dua, dan di ruang tamu sudah ada Elan yang duduk mengobrol dengan Ayah dan Ibuku. ihh, kayak acara lamaran aja ortu ikut-ikutan duduk di sana.
"Lha, iki sing di enten-enteni... sini, Elan sudah lama nunggu kamu lho."
"Tadi Lina lagi mandi Bu..." jawabku, dan kemudian duduk di sofa sebelah kanan Elan. aku nggak berani duduk sebelah dia paa nanti dikira ngapaon lagi.
nggak lama, Ayah Ibu keluar rumah. katanya ada janji sama temannya untuk makan malam. dan Mbak Lizzy gak tau sedang apa.
"Ada apa kamu kesini ? bukannya sama Indri ?" tanyaku sambil melihat ke arah lain, pokoknya nggak lihat mata Elan.
"Indri bohongin gue, katanya dia pingsan atau terluka parah." katanya sambil mengubah posisi duduk menghadap ke arahku. "katanya dia cuma pengen ketemu gue, apalagi dia nggak ada saudara di sini." jelasnya. aku menghadap ke arah Elan sesekali, tapi aku tetap saja nggak seneng dengernya. ehh tunggu, apa jangan-jangan aku cemburu ? oh my God...
"Lin, mau keluar sebentar sama aku ?" yakk, kali ini Elan menggunakan jurus dengan memakai kata aku kamu ahh senjata yang benar-benar ampuh untukku.
"Aku ambil jaket sebentar..." setelah itu aku bertemu dengan Mbak Lizzy yang berkedip dengan salah satu matanya. dia pasti denger obrolan kami.
Elan mengajakku jalan sebentar ke arah taman kompleksku, kita duduk di ayunan dengan ice cream di tangan masing-masing. nggak sadar Elan meletakkan salah satu kakinya ke tanah dan mengakat tangannya mengeluarkan kotak kecil dari sakunya.
"Lin, mau sama aku. ?" tanyanya sambil membuka kotak itu. "maksudku, mau jadi pacarku ?" tanyanya lagi. untung nggak ada ice cream yang ada di dalam mulutku dan nggak bikin aku tersedak karena kaget.
"Kamu bohongan kan ?" tanyaku nggak percaya.
"Nggak, kalau aku bohong aku nggak akan ada di sini sekarang." jelasnya. dari dalam kotak kecil itu ada kalung yang bertuliskan LanLin. kepanjangan dari Elan dan Lina. aargh.. aku nggak nyangka bakal dikasih kalung yang lucu ini.
"Ini buat aku ?" tanyaku bengong.
"Iyah... aku juga udah pakai kok kalungnya." di lehernya ada kalung bertuliskan LinLan. ahh couple necklace. Elan memakaikan kalung itu ke leherku dengan rambut di tengkuk masih mencuat keluar.
"Aku belum jawab kan ? kenapa sudah dipakaikan ke sini..." aku menunjuk ke arah leherku, dan Elan tertawa pelan melihat tingkahku.
"Aku tahu kamu jealous dengan Indri, aku tahu itu." katanya. dan itu membuat wajahku jadi panas, untung aja di taman ini nggak begitu terang jadi nggak begitu tahu warna mukaku.



0 comments:

Post a Comment

 

Freedom... Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review