Saturday, June 14, 2014

Different Things

Posted by ceritacurhatku at 5:25 AM
Girl's ...
"Makanya cari pacar sana..." kata Dea dengan muka yang bete karena bosan dengan curhatan gue.
"Please dong dengerin yang satu ini..." pinta gue ke Dea dengan muka memelas "Yah..yah ?"
Sudah setahun gue sama Hugo putus, tapi rasa ini nggak bisa dihapus. Gue masih pengen bareng dia, sejak 3 tahun gue bersama Hugo sampai saat ini gue masih bergantung ke dia.
Keluarga sudah akrab dengan gue, dan sebaliknya. saat putus, Ibu Hugo maksa gue buat ngajak balikan sama Hugo. tapi mau gimana lagi, di hati Hugo cuma ada kenanangan atau mungkin gue udah nggak ada di hatinya setitikpun. Dea, dia temen bai gue sejak kecil. dia tahu semua kelebihan gue dan kelemahan gue. dia tahu berapa mantan pacar gue dan berapa cowok yang udah gue tolak. semua Dea tahu. sampai sekarang Dea paling udah bosen banget gue ceritain soal Hugo yang saat ini "masih baik" ke gue.
"Udah deh Far, udah setahun pisah sama Hugo tuh harusnya lo harus bisa ngelupain dia." jelas Dea dengan muka yang khawatir, takut sahabatnya salah milih cowok lagi. Ya, Hugo mutusin gue dengan alasan gue lebih baik nggak sama dia. Perasaanya udah nggak ada untuk gue, entah karena hubungan kita yang terlalu lama atau memang perasaan manusia bisa berubah karena bosan. "inget, sekarang lo udah punya cowok...si Ari mau lo kemanain ?" lanjut dia.
iya, gue inget kalau gue punya cowok. Ari cowok pintar, baik setengah mati, selalu ngalah sama gue pokoknya seratus delapan puluh derajat beda banget sama Hugo.

Boy's ...
"Hei bro..." seseorang mukul pundak gue.
"Oh, gue kira siapa. Ada apa Zein ?" tanya gue ke temen satu kelas gue di kampus. sambil mesen bubur ke kantin sebelah dia melihat ke arah gue dan meletakkan tasnya ditempat duduk depan gue. "ada apa ?" tanya gue lagi.
"Kemarin gimana futsalnya ? jadi ?" tanya dia dengan meminum es tehnya sesekali. "baca apaan lo ? serius amat..." Zein memajukan kepalanya melihat smartphone yang gue pegang.
"Yaelah masih belum move on toh..." tanya Zein yang sekarang sudah melahap buburnya.
"Bukan gitu, gue masih ngerasa bersalah sama Farah." kata gue yang sekarang sudah memasukkan smartphone gue ke tas. "kenapa gue masih bersikap kayak sayang sama dia tapi perasaan gue nggak bisa lagi balik ke dia." nggak lama setelah gue bicara tentang Farah, dia muncul di kantin dengan Dea yang selalu ada di samping dia.
"Baru diomongin, panjang umur dia..." kata Zein saat melihat ke belakang dan menemukan Farah yang sedang tertawa lepas. "jangan ngasih harapan ke cewek bro... ntar lo yang susah." gue cuma diam dan nggak ngelihat ke arah Farah yang sekarang sudah bersama Ari cowoknya.

Girl's ...
Yak, gue tahu kalau Hugo ada di sana, melihat ke arah gue dan sekarang sedang mengobrol dengan Zein teman kelasnya.
"Hai sayang..." sapa Ari yang baru saja istirahat. dia mencium puncak kepala gue dengan sayang. gue udah terbiasa di cium di depan umum, terbiasa karena Hugo yang blak-blakan. eiits kenapa gue mikirin dia. sekarang gue lihat Hugo sudah nggak ada di sebelah sana.

To: Hugo
Kenapa ngilang ? gue tahu lo ada disana tadi.

Seperti biasa sms gue nggak dibalasnya. terkadang entah dia lagi good mood Hugo bakal membalas sms gue setiap kali gue mengiriminya pesan. udah dua minggu ini dia nggak pernah lagi membalas semuanya.
"Nyari siapa sayang ?" tanya Ari yang juga celingukan ke kanan kiri. Dea yang duduk depan gue langsung melotot ke arah gue.
"Nggak apa-apa sayang, tukang jual Es campurnya nggak kelihatan, pasti lagi nggak jual." jawab gue ngasal.
Saat di perjalanan menuju kelas Dea tertawa dengan terbahak-bahak. gue yang ngelihat jadi bete sendiri.
"Ihh, lo nih ketawa mulu..." protes gue.
Dea tertawa sampai memegang perutnya yang sakit akibat tertawa keras. "Lo tuh, bales pertanyaan Ari ngasal banget. aduuh, sampai nangis gue..." kata Dea sambil mengusap air matanya yang turun.

Boy's ...
Entah udah berapa banyak sms yang dikirim Farah buat gue. gue cuma bisa membaca dan nggak akan ngebales. gue pengen ngelupain dia, tapi kalau caranya seperti ini gimana gue bisa move on.

Girl's ...
Sms buat Hugo udah berkali-kali gue kirim, ntah itu sekedar nanya dia dimana, lagi ngapain atau nanya sudah makan apa belum. tapi kali ini dia ngebalis cuman satu.

From : Hugo
Besok ada waktu ? gue mau ngomong sesuatu ke lo.

Saat gue balas setuju dengan ajakannya, tapi Hugo nggak merespon apa-apa. arrgh dasar nyebelin.
Besoknya gue datang ke cafe yang biasanya kita kunjungi, meskipun sudah setahun nggak sama Hugo pelayan disini masih nganggep gue pelanggan sejati.
"Seperti biasa Bay ..." kata gue ke Bayu, dia pelayan cafe sini juga temennya Hugo. Nggak lama, minuman yang gue pesen datang. Caramel Machiatto buat gue dan Americano buat Hugo. "thanks Bay..."
"Mau ketemu Hugo ?" tanya Bayu, dan gue jawab dengan anggukan "ciyee yang balikan..." sindir Bayu yang kembali ke tempatnya bekerja. ihh apa-apan sih si Bayu, bikin ge.er aja deh. ini ketiga kalinya gue ketemu Hugo sejak kita putus.

Pertemuan Pertama
"Hai Far..." kata Hugo yang duduk rapi di meja cafe. gue duduk di depan dia, seperti kita masih bareng, cuma bedanya dia nggak manggil gue dengan sebutan sayang atau my sugar. minuman yang biasa kita pesen udah ada di meja, pasti dia yang memesan. 
"Gue mau kita temenan." kata Hugo membuka percakapan. gue bingung dengan apa yang dia omongin. "kita bisa jadi mantan pacar, tapi nggak mantan temen kan ?" tanya dia. "Gue mau cerita semuanya ke lo."
Tumben banget dia nyerocos banyak banget. biasanya dia mempersilahkan gue yang bicara duluan

Begitulah penjelasan Hugo. dan setelah itu kita dekat lagi tanpa ada status "pacaran", kita berteman tapi kita juga dekat dan selalu bareng.
Sampai saat Ari mendatangi Hugo dengan mengatakan kalau Hugo hanya pemberi harapan kosong ke gue. dan gue yang memang sayang ke Hugo masih memilih Hugo bukan Ari. Malam itu gue meminta maaf di depan kamar kost Hugo, dengan mengatakan kalau gue nggak bisa hidup tanpa Hugo.
"Gue udah kelamaan bareng lo Go, lo nggak seharusnya ninggalin gue pada saat itu. Please balik ke gue dan jangan pergi." begitulah kira-kira gue ingat pada kejadian itu.
karena cuaca pada saat itu hujan deras dan gue masih menangis di depan pintu, entah Hugo kasihan ke gue akhirnya dia menyuruh gue masuk ke dalam.
malam itu Hugo diam tanpa ada percakapan sama sekali.
"Kenapa lo kesini ?" tanyanya waktu itu.

Boy's ...
Gue inget saat itu, saat Farah nangis di depan kost gue. sampai Mas Bowo marah ke gue gara-gara nggak bawa masuk Farah. tapi gue udah nggak mau berurusan lagi sama Farah, dia udah punya pengganti yang jauh lebih baik dari gue.
Karena suasana malam itu sangat digin akibat hujan akhirnya gue suruh Farah masuk. hanya sekali itu gue bisa jadi sandaran dia. gue bisa nenangin dia, tapi nggak bisa selamanya. Menangislah sebanyak yang lo mau, kalau itu bisa ngehapus gue.
Paginya, gue suruh Farah pulang. dia menangis lagi dan nggak ingin pulang, dia ingin bareng gue terus.
"Ini terakhir kalinya gue bareng lo." kata gue pada saat itu.
Dan itu terakhir kalinya gue meluk dia dan mengantarkannya sampai depan rumah.

***
Sesampainya di cafe, tanpa basa-basi gue duduk di depan Farah. dengan mengontrol ekspersi gue akhirnya gue bisa mengumpukan keberanian gue buat ngomong ini.
"Please, jangan temuin atau ngehubungin gue." ucap gue dan mungkin perkataan gue membuat Farah kaget sampai mengangkat kepalanya yang sedaritadi menunduk. "gue nggak mau nyakitin lo lagi."
"Tapi lo kan udah ngejelasinnya dulu." katanya.
"Perasaan seseorang bisa berubah Far, gue nggak bisa bohong dan bilang kalo gue ngelepasin lo karena masih sayang." gue menjelaskan dengan serius, Farah yang mendengarkan gue cuma menggigit bibir nggak bisa berkata-kata karena syok dengan penjelasan gue. gue tahu dengan ekspresinya kali ini. "Gue nggak bisa jadi sandaran lo." itu kalimat gue terakhir, sampai gue meminta maaf ke Farah. tapi Farah hanya diam...
"Go, Please jangan pergi lagi." kata Farah dengan menarik kemeja gue yang sudah berdiri meninggalkan dia untuk kdua kalinya.
"Kita nggak bisa bareng dan lo tahu itu. lo nggak bisa bahagia bareng gue..." gue duduk kembali dan meepaskan genggamannya. "pergi dan temuin orang yang bikin lo senyum. dan bukan gue, gue nggak pantes buat lo."

Girl's ...
"Bahagialah, seolah-olah lo memiliki sesuatu untuk dibuktikan ke gue..."
Itu kalimat terakhir yang bikin gue jatuh. asli gue jatuh sampai nggak bisa bangkit. apa-apaan ini, mana sikap yang peduli ke gue, mana yang bilang kalau lo sayang ke gue. Gue nggak bisa bahagia kalau nggak ada lo. apa karena Ari ? atau karena perasaan yang dulu masih tetap saat dia mutusin gue. perasaan yang berubah tanpa ada ruang buat gue.


* Inspiration from Beast - No More










































0 comments:

Post a Comment

 

Freedom... Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review