"Bay, keadaan Reni gimana?" tanya ibu Reni yang datang bersama adik Reni, Rani.
"Masih di operasi Te, kepalanya terluka..." jelas Bayu kepada ibu Reni yang dia panggil Tante Ina. Ibu Reni langsung terjatuh tapi Bayu sempat menahannya dan memapah ke tempat duduk.
selama 2 jam Bayu, Oji, Ibu Reni dan Rani menunggu selesainya operasi, tak lama dokter keluar dari ruang operasi. Bayu dan Ibunya Reni berdiri dan langsung meuju ke arah dokter yang masih melepaskan masker dari wajahnya.
"Gimana keadaan anak saya dok ?" tanya Ibu Reni dengan menahan tangis.
"Kita sudah berusaha semaksimal mungkin, setelah anak Ibu sadar nanti kita perjelas keadaannya." kata dokter itu sebelum meninggalkan mereka berdiri berharap yang terbaik.
masih di ICU sekarang giliran Bayu yang masuk ke sana untuk melihat keadaan Reni. dengan pakaian serba hijau Bayu masuk tanpa suara, dia melihat cewek terbaring di sana dengan jarum infus, alat bantu pernapasan dan kepala yang terbebat perban.
"Sakit banget ya Ren ?" tanya Bayu dan tanpa jawaban. Bayu tanpa sadar memegang tangan Reni, tangan yang sudah lama dia pegang tapi sebulan yang lalu dia melakukan hal yang bodoh yaitu memutuskan hubungan. "sori gue bego ninggalin lu, gue cuman pengen terbebas aja dari sifat ngekang lo. tapi gue tahu kalu lo nglakuin itu karena sayang sama gue." dia usap tangan Reni yang dingin dengan lembut. "lo nggak perlu ninggalin gue dengan cara ini. Lo harus sembuh..." mata Bayu terasa basah dan baru kali ini dia menangisi seorang cewek masih dengan menggenggam tangan Reni.
keluar dari ruangan itu Oji menyambut Bayu dengan pelukan seorang kawan, Oji menepuk pelan punggung temannya itu.
"Gue antar lo pulang."
"Ntar lo pulangnya gimana Ji ?" tanya Bayu yang kemudian dibalas oleh Oji dengan senyuman.
sepulangnya dari rumah dia berdiam diri di kamar. dia melihat lagi bayangan Reni yang tertidur pulas. ciuman seperti pangeran putri salju nggak akan sanggup bangunin Reni dari komanya. di dalam tidurnya Bayu seperti kembali dimasa lalu.
Mimpi
"Mau nggak jadi pacar gue ?" kata Bayu saat mengungkapkan perasaannya ke Reni yang waktu itu sedang makan di kantin sekolah.
teman-teman yang ada di kantin langsung heboh karena cowok idola itu menembak cewek ketua OSIS di sekolahnya. dengan muka yang memerah Reni menerima perasaan Bayu. karena memang Reni sudah menyukai Bayu sejak di kelas 1 dan baru di kelas 2 ini Bayu berani mengungkapkannya.
mereka jadi terkenal dengan the best couple di sekolah. Bayu yang digemari cewek-cewek dan Reni yang dikagumi cowok-cowok di sekolah mereka.
saat acara lulusan SMA mereka juga masih langgeng meskipun jarang mereka berantem. tapi tetap bersama.
menginjak kuliah dan beruntung mereka satu kampus, dan disinilah terjadi istilah kalau ada Bayu pasti ada Reni dan benar setiap istirahat datang dengan waktu yang sama mereka menyempatkan untuk bersama seperti tidak bisa dipisahkan. tapi sebulan lalu Bayu memutuskan hubungan mereka yang sudah terjalin selama 3 tahun. dan melihat Reni yang menangis hingga tidak sadarkan diri...
***
Bayu kemudian terbangun dan duduk dengan melihat ponselnya yang bergetar, dari Tante Ina."Halo Te ?" sapa Bayu.
"Bay, Reni sudah siuman, dia nyariin kamu terus." kata Tante Ina dengan perasaan campur aduk.
Bayu dengan cepat mengganti pakaian dan langsung meluncur ke rumah sakit. sesampainya di rumah sakit Bayu tetap tergesa-gesa.
"Bayuuuu..." teriak Reni. "Ma kenalin, itu Bayu dia pacar aku..." lanjut Reni dengan sikap yang aneh.
Bayu yang berjalan ke arah Reni juga bingung melihat ekspresi Tante Ina yang canggung. di peluknya Bayu yang ada di sebelahnya saat ini dengan erat. Bayu benar-benar bingung dengan sikap Reni.
saat di luar ruangan, Ibu Reni menjelaskan secara jelas bahwa Reni mengalami amnesia. Dia kembali ke ingatan sewaktu mereka kelas 2 dan baru saja mengenalkan Bayu kepada orang tua Reni.
"Jadi Reni kembali ke umur 18 gitu Te ?" tanya Bayu bingung.
"Iya, Tante tahunya kan kalian sudah putus." terlihat ekspresi sedih dari wajah Tante Ina. "ini malah mengenalkan kamu ke Tante, gara-gara nggak sadar 2 minggu." jelas Ibu Reni.
Bayu yang mendengar itu merasa senang sekaligus sedih. kenangan yang mereka bangun menghilang dan kembali ke awal hubungan.
"Kamu nggak apa-apa kan Bay ? bantuin Tante ngembaliin ingatan Reni yah ?" pinta Tante Ina dengan mata yang butuh pertolongan. Bayu tidak bisa menolak dan menyanggupinya.
sudah 3 bulan ini Bayu menemani Reni seperti biasa, awalnya Reni nggak mau masuk kuliah karena memang ingatan dia ada di usia 18 tahun. Bayu dan Ibu Reni selalu mendukung Reni terkadang Reni marah ke Bayu karena Bayu berusaha untuk menyuruhnya pergi ke kampus.
"aku masih SMA bay, nggak mungkin aku langsung masuk kuliah." kata Reni pada saat itu. sambil mengurung diri di kamar Bayu dan Tante Ina selalu menyuruhnya keluar kamar.
sampai-sampai Rani yang sudah tidak bisa menahan emosinya langsung meluapkannya di depan kamar Reni dengan menggedor pintu kamar.
"Kak, lo tuh udah gede, aslinya lo udah umur 24 tahun. gede kayak gini, sifat masih kayak gue. lo nggak malu apa... kak keluar nggak, gue malu kalau punya kakak macem lo." bentak Rani masih dengan menggedor pintu kamar Reni. dan akhirnya Reni keluar dengan muka sedih.
"Lo kok jadi ngomong gitu sih ?" mata Reni langsung berkaca-kaca dan disambutnya pelukan Rani yang juga ikut menangis.
Bayu melamun sambil melihat Reni makan dengan lahap, seperti saat itu. sebelum mereka putus, dan sebelum Reni kembali ke usia delapan belasnya.
"Ada apa Bay ? ngelihatin aku makan, kamu pengen ? nih..." sambil menyodorkan sendok penuh dengan nasi kuning yang dimakannya. Bayu dengan santai memakan suapan Reni dengan senyuman.
masih dengan lamumannya. dia bingung, kalau sewaktu-waktu Reni kembali keingatan sebenarnya. apa dia tetap seperti ini, manis dan masih belum seposesif waktu kuliah.
"Ecieee, balikan ni yee..." kata Oji yang datang sambil membawa map yang bertumpukan di mukanya. Oji belum tahu tentang keadaan Reni semenjak dia di rumah sakit. Bayu hanya bilang ke Oji, kalau Reni baik-baik saja. cuma Indra dan Lela yang tahu keadaan Reni, karena mereka berdua teman SMA Reni dan Bayu.
mendengar perkataan Oji, Reni menyipitkan matanya saat melihat ke arah Oji.
"Siapa ?" bisik Reni pelan ke arah Bayu.
"Oji, temennya Indra."
"Hai, Oji..." sapa Reni dengan senyum ramahnya.
"Tumben lo nyapa gue duluan hahaha... habis balikan jadi bahagia banget yak. ehh gue ke ruang dosen bentar disuruh Pak Bowo ngasihin nih map." pamit Oji sambil membawa map yang penuh sampai depan muka.
"Maksudnya balikan apa Bay ?" tanya Reni polos. dia tidak tahu kalau 3 bulan yang lalu mereka sudah putus. Bayu menggeleng dan mengalihkan pandangannya ke jam.
"Sayang, aku harus balik kelas nih. tunggu Lela bentar lagi yah. sorry..." kata Bayu sambil memeluk singkat Reni yang masih menuntaskan makanannya.
Sebulan Kemudian
beberapa minggu ini Tante Ina menghubungi Bayu terus. Beliau mengatakan kalau Reni sering mengeluh pusing pada kepalanya. kadang Reni sampai menangis saat menahan sakitnya.
"Tante, coba periksa ke rumah sakit mungkin nanti tahu penyebabnya..."
"Tapi, Reni nggak mau balik ke rumah sakit Bay." jelas Tante Ina yang ada di seberang telepon.
"Bayu besok masih nggak bisa ngantar Te, kalau besok habis sholat Jumat nanti saya bujuk Reni biar mau ke rumah sakit."
"Makasih ya Bay, masih mau nolongin Reni..." kata Tante Ina dengan terisak-isak.
selesai sholat Jumat, Bayu langsung melesat ke rumah Reni. di dalam rumah sudah terburu-buru, entah apa yang sedang terjadi. Bayu berlari memasuki rumah Reni. dan ternyata Reni sudah terbaring di lantai, tante Ina yang panik berusaha untuk mengangkat Reni sendirian. waktu itu Rani masih ada pelajaran di sekolahnya.
"Tante, Reni kenapa ?" Bayu mendatangi dan membopong Reni ke mobil Bayu untuk menuju ke rumah sakit.
Tante Ina yang menangis dan Reni yang sedang terbaring diam membuat Bayu semakin ikut panik.
sesampainya di sana Reni memasuki UGD dan menjalani pemeriksaan.tidak berapa lama Rani datang sambil berlari dan menahan tas yang ada di punggunganya. sambil memeluk Ibunya dia mengelu-elus punggung Tante Ina yang masih terisak.
"Udah Bu, jangan nangis ahh... nanti kalau Kak Reni denger, dia jadi ikutan sedih." perkataan Rani membuat tangis Tante Ina terhenti. masih mengusap-usap punggung Ibunya. datanglah Indra, Lela dan Oji yang ngos-ngosan berlari dari depan rumah sakit yang luas.
"Gimana Reni, Bay ?" tanya Lela sesampainya di depan Bayu dan Ibu Reni. Bayu hanya menunjukkan ruang operasi yang ada di sebelah kanan mereka. Oji duduk menghibur Ibu Reni dan Indra yang menghibur Bayu dengan menepuk punggungnya pelan.
setelah 2 jam pintu operasi tertutup, akhirnya keluarlah dokter dari dalam ruangan itu. mereka mengatakan Reni masih koma karena tindakan operasi yang terjadi. keadaan sama pada waktu itu, Bayu dan Ibu Reni memasukki ruang dokter tersebut.
"Anak ibu mengalami hematoma, pembuluh darah yang menggumpal pecah di otak. akibat dari kecelakaan anak ibu waktu itu. kita tunggu sampai dia siuman ya Bu, Ibu dan Mas harus tabah apapun yang terjadi." kata dokter itu.
keluar dari ruang dokter, Tante Ina menangis nggak bisa tertahan lagi. Bayu yang masih di sampingnya membantu Tante Ina duduk di kursi sebelah ruangan tersebut.
"Te, udah jangan nangis lagi. berdoa saja yang terbaik buat Reni." kata Bayu sambil merangkul Tante Ina yang sudah dia anggap sebagai ibunya.
Reni sudah di pindahkan ke ruangan intensif. Bayu masuk ke dalam terlebih dulu, karena Tante Ina masih menangis di depan sana.
"Ren, gue sebenernya pengen bareng sama lo. gue cuma ngikutin ego gue dan nyari kesalahan-kesalahan lo." kata Bayu sambil menggenggam tangan Reni yang dingin. "Gue egois sudah ngehancurin hati lo sampai kayak gini. Ren, bangun yahh... please, Tante Ina disana nangis dan berdoa buat kesembuhan lo." lanjut Bayu yang sekarang menundukkan kepalanya ke tangan Reni yang terbaring lemah.
***
Keadaan rumah Reni ramai dengan orang. saudara dan Ayah Reni yang pulang lebih cepat dari pelayarannya ke Eropa. dengan pakaian hitam mereka datang dengan muka yang bersedih dan menangis. hanya Bayu yang bisa tegar dengan kematian Reni yang koma 1 bulan di rumah sakit. kerena tidak bisa bertahan akhirnya Reni melepaskan semuanya. Keluarganya, teman-temannya dan orang yang dia cintai. Reni mengikhlaskan semuanya. jadi Bayu mengikuti apa yang dimau Reni yaitu mengikhlaskan.
Lela yang datang menangis sampai terjatuh dan dipapah oleh Indra yang ada disampingnya. Oji yang datang menemaniku di depan rumah Reni.
"Lo yang sabar ya Bay."
"Emang gue kelihatan nggak sabar gitu ?" tanya Bayu dengan tawa yang dipaksakan.
"Lo kelewat sabar, sampai-sampai lo nggak nangis sama sekali saat Reni meninggal." kata Oji menyadarkan Bayu yang saat ini mengulangi kebiasaan buruknya, yaitu merokok. Bayu benar-benar frustasi dan menganggap dia yang menyebabkan kematian Reni.
"Udah, lo pulang mandi terus ganti baju biar lo kelihatan seger nggak kayak gini. lo bener-bener berantakan." sekarang nagehat Oji dia dengarkan. Bayu pamit ke orang tua Reni untuk pulang dan nanti akan kembali lagi untuk memakamkan Reni.
sesampainya di rumah, Bayu menuju ke kamar dan mengobrak-abrik isi lemarinya. Bayu mencari kemeja putih, dasi biru yang diberikan Reni untuk Bayu. Bayu membersihkan diri dan memakai baju yang sedari tadi dia cari. dengan rapi dan mata yang sudah tidak sembab Bayu meluncur dengan cepat sebelum Reni diatarkan keperistirahatannya yang terakhir. hanya Bayu yang memakai kemeja putih dengan dasi birunya. dengan ikhlas Bayu menaburkan bunga ke dalam makam Reni. Ibu Reni yang menangis sambil dipeluk Rani yang sedah berhenti menangis.
satu persatu pengantar Reni pulang masing-masing. hanya ada Bayu, Oji, Lela yang masih menangis dengan Indra yang merangkul Lela sambil menepuk pelan punggung Lela.
"Ren, gue pakai baju yang lo bikin. gue cakep kan pakai ini, lo nggak pernah muji gue cakep sewaktu pakai kemeja ini..." kata Bayu disambut tawa pelan Oji dan Lela. "gue nggak akan ngelupain lo, gue udah ngikhlasin lo. Lo baik-baik ya disana, jangan jelous sama gue lagi. karena di hati gue cuma ada lo" lanjut Bayu sambil mengusap nisan Reni.
selesainya Bayu memberi ucapan untuk Reni yang ada disana Lela juga nggak lupa untuk berpamitan ke Reni.
"Baik-baik ya Ren, Gue sayang Lo ..." kata Lela dengan air mata yang masih mengalir.
0 comments:
Post a Comment