Monday, June 30, 2014

Love (?) at First Sight

Posted by ceritacurhatku at 9:32 AM 0 comments
Oke ini cerita berawal dari seorang cowok dengan memakai kaos superman jaman SD dulu. iya, emang ini cerita semasa kecilku. yahh bisa dibilang cinta monyet sih. tapi waktu itu masih nggak paham sama begituan jadi go with the flow aja.
okay, cowok tinggi manis, cakep dan emm lucu hhaha begitulah kesan pertama waktu itu. aku melihatnya di lapangan bola dan pada saat itu aku bermain benteng-bentengan bersama teman-temanku. yahh aku akui temanku banyak cowoknya daripada cewek. aku juga nggak pernah main masak-masakkan atau rumah-rumahan mainannya ya gitu jumprit singit bahasa jawanya atau petak umpet kalo di bahasa Indonesia, terus gobak sodor bersama teman cowokku. oh iya belum aku perkenalkan, cowok yang duduk di pinggir lapangan itu bernama Dedy nggak usah lengkapnya yah ntar dia kege'eran. dia memakai kaos superman yang di punggungnya berkibar sayapnya atau apa ya sebutannya.
nah waktu itu aku nggak tahu dia siapa aku ajak deh dia main bareng dan kita bermain bersama. seharian kita main bareng sampai maghrib dan kita pulang ke rumah masing-masing. ternyata dia punya adik cewek bernama Nila dia adik kelasku. waktu itu aku kelas 4 SD, Dedy kelas 5 SD dan adiknya Nila kelas 3 SD. aku belum akrab dengan Nila karena memang aku belum pernah ketemu. tapi Nila akrab dengan Mbak Lia dia cewek kelas 6 SD, dia tetanggaku yang cantik, putih dan apa yahh (sok jeles) Nila selalu mengekor ke Mbak Lia dan aku masih belum bisa akrab dengan Nila.
nah seminggu kemudian kami bermain bersama aku, Dedy dan Nila. kita selalu bersama. aku nggak merasa kalau ada rasa suka, namanya aja anak kecil jadi main aja pikirannya. tapi rasa itu tetep ada, atau memang gara-gara kita selalu bersama. Nila juga sering bersamaku.
besoknya aku diajak Nila main ke rumahnya, dan itu pertama kalinya aku masuk ke rumah Dedy. di rumah juga aku mencuri-curi kesempatan untuk bersama Dedy hhahaha...
sampai akhirnya terdengar gosip kalau Dedy pacaran sama Mbak Lia. bagaimana perasaanmu kalau orang yang disukai malah jadian sama cewek lain, lebih tua pula. dan aku berusaha menjauh dari Dedy tapi aku masih sering bermain dengan Nila. sampai-sampai Nila berbicara seperti ini :
Nila : Mbak, santai saja aku lebih suka sama Mbak Tika kok.
Aku : (menggaruk kepala yang nggak gatal kemudian tersenyum puas)
ternyata emang tukang gosip si kakak beradik ini Berty dan Tomi memang memanas-manasiku karena mereka tahu kalau aku suka pada Dedy. dasar kompoooor...
sore kita mengaji bersama di musholla dekat rumah dan Tomi yang gencar menjodoh-jodohkan aku dengan Dedy. Berty yang tidak menghentikan saudaranya malah tertawa terkikik mendengarnya.
beberapa bulan kemudian kita sudah nggak begitu akrab karena Dedy sudah mau ulangan untuk naik ke kelas 6 dan aku masih tetap suka bermain sampai malam. dan Nila mengajakku lagi ke rumahnya, sore itu aku datang saat memencet bel Ibu Dedy datang membukakan pintu.
Ibu Dedy : Nyari Dedy ya... (sambil membuka pagar rumah)
Aku : (Meringis sungkan) Nggak Bu, mau nyari Nila.
Ibu Dedy : Apa nyari Mas Deni ? (Menyuruhku masuk masih sambil terkikik lucu.)
kemudian aku masuk dan tidak menemukan Dedy yang biasanya duduk diam menonton tivi. Nila datang dan menyeretku ke lantai dua, terlihat Dedy di dalam kamarnya sedang belajar serius. baru kali ini aku melihat sisi seriusnya, aneh hhaha...
aku berpapasan dengan Mas Deni saat mau menuju ke kamar mandi yang ada di lantai bawah. dan bertemu dengan Mbak Mila anak ketiga dari 5 bersaudara. ada lagi Mbak Ana dengan anak semata wayangnya. dipanggilnya aku dan disuruhnya duduk di dekat Mbak Ana.
Mbak Ana : Oh iya, minggu depan jadi Pager Ayu yah ?
Aku : Minggu depan jadi menikah Mbak ? (tanyaku polos)
Mbak Ana : (Mengangguk) iya, minggu depan harus jadi lho yah. awas kalau nggak...
Aku : Siap Boss. Aku aja nih Mbak ?
Mbak Ana : Sama Lia, sama Mila dong Tik.
aku cuma bisa ber"O" ria. aku nggak musuhan sama Mbak Lia, aku nggak membenci dia karena ketahuan kalau dia juga suka Dedy. aku cuma jeles melihat mereka bersama.
sebelum hari pernikahan Mbak Mila menyuruhku untuk datang ke rumah, katanya disuruh mencoba kebaya yang akan dipakai.
waktu itu aku masih langsing, nggak ada lemak yang bertebaran seperti sekarang jadi semua pakaian pantas di badanku. aku terlihat lebih langsing. kebaya merah tua dengan brokat bentuk bunga di lengan panjangnya. Mbak Lia dan Mila memakai kebaya berwarna sama yaitu pink. jadi aku yang paling waw diantara mereka. Dedy yang sudah ujian melihatku berpakaian kebaya sampai nggak berkedip (bukannya ge'er lho tapi asli kok) aku menyadarinya dan melihatnya langsung ke arah Dedy dia tersenyum puas melihatku. kata Mbak Mila ini kebaya yang memang khusus buat aku. ahh melting deh lihat senyumnya.
yakk hari H datang, orang-orang datang. semua tetangga juga datang Ibuku yang melihatku memakai kebaya dengan sanggul modren di kepalaku tersenyum dan bilang:
Ibuku : Ini Tika anak Ibu ? waaah dadi pangling deh.
Aku : (Tersipu malu)
Ayahku : Weh, cantike rek...
aku tertunduk malu dan hanya melihat ke arah tamu yang datang dan aku memberi souvenir untuk tamu yang hadir. datanglah Dedy dengan membawa keponakannya (anaknya Mbak Ana) menuju ke arahku dia tersenyum. dan aku hanya bisa membalas senyumnya unutk beberapa saat.
Dedy : Bagus deh kebayanya.
Aku : Ihh, bukan aku nih yang bagus pakai kebayanya ?
Dedy : (menggaruk kepalanya yang nggak gatal kemudian tersenyum malu) iya deh iya bagus...
Keponakannya yang bernama Leo datang dan ingin duduk dipangkuanku. aku mengangkatnya dan mendudukkan ke pangkuanku. Dedy yang melihatku nggak menghilangkan senyumannya.
Aku : Nggak capek meringis terus ? ntar giginya kering lho.
Dedy : (Langsung mengatupkan bibirnya dan seolah-olah dia ngambek) disenyumin malah nggak seneng.
Aku : Hahaha iya, iya maaf.
Dedy mencubit pipi Leo yang manja di pelukanku. aku gemas dan mencium lembut pipi Leo. nggak sadar Mbak Ana sudah ada di depanku dan memotret kami yang sedang bercanda dengan Leo.
Mbak Ana : Ihh, anakku kalian apain tuh. (sambil menuju ke arah anaknya yang tertawa kegelian.)
Aku dan Dedy hanya diam dan kemudian tersenyum bersamaan.
Mas Deni : Makanya cepet dewasa biar bisa punya adik.
Kami berdua terbengong dan Mbak Ana dan Mas Deni tertawa keras. namanya juga masih anak kecil jadi belum pahamlah. selesai acara, aku dan Mbak Lia belum boleh pulang katanya Mbak Ana mau ngasih kita kado. sampai maghrib kami menunggu dan akhirnya Mbak Ana membawa kotak kecil warna putih dan merah. Putih untuk mbak Lia dan dibuka adalah jilbab bermotif bunga, dan aku kotak warna merah yang berisi baju lengan panjang yang lucu. aku menerima dengan senang dan menganggap kalau ini dari Dedy.
setelah beberapa bulan kami tetap akrab dan selalu bermain bersama. Dedy naik kelas 6, aku kelas 5, Nila kelas 4 dan Mbak Lia kelas 1 SMP. karena sudah merasa kalau kita ini remaja Dedy yang bermain dengan kumpulan cowok dan aku dengan kumpulan cewek. kita nggak bersama lagi dan rasa suka masih ada dan gosip kami yang selalu bersama sudah sampai satu perumahan. ya ampuun...
karena kita beda pergaulan Nila jadi jarang main bersamaku. dan gantinya aku yang bermain ke rumahnya. mungkin karena pergaulan kami dengan anak SMA jadi kami merasa kalau sudah remaja. Dedy berubah jadi mudah mengungkapkan sukanya dengan tindakan dan bikin aku jadi risih tapi juga suka. dan gosip jadi bertambah kuat saat melihat aku dan Dedy duduk berdua saat menyaksikan pentas seni di kompleksku.
tapi kedekatan kami nggak berlangsung lama setahun kemudian Dedy pindah rumah lagi karena Ayahnya ada proyek di Balikpapan. sebelum kelurga mereka pindah, Dedy yang naik kelas 1 SMP mendatangiku dan mengajakku mengobrol hanya berdua.
Dedy : Sori... aku tahu kamu suka aku dan kamu tahu kalau aku juga suka sama kamu. kita nggak bisa bareng lagi dan kemungkinan untuk selamanya.
Aku : (Tertunduk dalam diam)
Dedy : (mengulurkan tangannya) Kita masih bisa bersahabat, masih ada alat komunikasi.
Aku : Kita masih teman kan ? (menjabat tangannya)
Dedy : (Mengangguk dan tersenyum kemudian menggenggam tanganku erat)
Nggak lama Nila mendatangiku dan memelukku erat.
Nila : Mbak, aku nggak mau pindah (Katanya dengan menangis)
aku menggaguk dan membalas pelukannya. Dedy yang melihat adegan itu jadi ikut memeluk kami. sudah seperti keluarga sendiri. besoknya mereka sekeluarga berangkat. karena aku sekolah jadi tidak sempat ikut mengantarkan mereka. sorenya aku di datangi Tomi dan di berikannya surat dari Dedy katanya.

Hai Tika
Makasih sudah mau jadi temanku 2 tahun ini. kita main bersama sampai pada saat kita berpisah karena gender hhaha.. aku ikut gerombolan Mas Wayan karena aku dibilang sudah remaja, kalau bermain sama cewek di bilang cowok cemen.
Sori buat yang itu...
Sebenarnya aku masih pengen bareng kamu tapi apa daya kita nggak bisa bareng, semalaman Nila nangis bilang kalau nggak mau pindah sampai marah-marah.
Karena kita masih kecil dan nggak tahu apa itu cinta (kata-kata Mbak Ami) aku sudah menganggap kamu seperti keluarga sendiri. dan Lia, dia bukan siapa-siapaku kok kamu nggak usah ngambek yah. Aku cuma seneng sama kamu nggak yang lain hehehe
semoga kita tetap keep in touch ya...
from your Husband... Dady

Iya, dia di panggil "Suaminya Tika" oleh teman-temanku hanya untuk bercandaan. tapi aku marah saat dipanggil Istri oleh Dedy. "Kita kan masih kecil" kataku waktu itu.
yakk, sahabat dan sekaligus cinta pertamaku pergi tadi pagi tanpa pamit secara langsung. setelah kami berpisah aku dan Nila masih berhubungan baik lewat Facebook ataupun Twitter.

***

Mas Agung : Tik, pujaan hatimu masa kecil dateng lho.
Aku : (bingung dan masuk ke rumah)
Dasar punya kakak tukang bohong ckckck. nggak lama setelah Mas Agung bilang seperti itu datanglah Dedy dengan kaos jersey dan jeansnya. dia terlihat lebih tinggi daripada aku, padahal dulu aku lebih tinggi dari dia. dedy ternyata ingin bertemu dengan Mas Agung dan bukan aku.
Dedy : Hai, Tik...
aku yang mendengar suaranya yang tidak berubah masih dengan suara rendahnya khas Dedy waktu itu. dan aku hanya diam di tempat saat aku akan melepaskan tasku. seperti slow motion aku melihat setiap gerakan dia sambil tersenyum sempurna. Oh My God senyumnya nggak berubah sama sekali masih tetap sama. tapi apa yang ada di lidah Dedy ? bulatan kecil seperti kelereng menempel di lidahnya. dia menindik lidahnya...
Oh My God lagi, dan itu membuat aku ilfell  setengah mati. dia tetap sama, tapi nggak dengan tindikan di lidahnya. Dia bukan Dedy yang polos seperti waktu itu. dia cowok yang berubah dewasa tapi dengan penampilan bikin aku geleng-geleng kepala. meskipun sedikit rapi tapi tindikan itu membuatku... sedikit aneh.
Aku : Oh.. Ha..Hai Ded (kataku dengan terbata-bata kemudian lari ke dalam kamar)
aku harus bagaimana bersikap di depannya. aku benar-benar salting melihat penampilannya sekarang. Mas Agung yang memanggilku dari arah ruang tamu sampai tidak terdengar di telingaku sampai dia memanggilku beberapa kali. aku mendengar percakapan mereka dan pertama kali yang aku dengar adalah :
Mas Agung : Sejak kapan nindik lidah lo ded ?
Dedy : Sejak SMA Bang, hhehehe... gara-gara ikutan temen tuh.
Aku yang diam di kamar tidak berani keluar, tiba-tiba Mas Agung masuk tanpa ada suara kaki yang terdengar. Dan ...
Mas Agung : Bikinin Dedy minum dong Tik.
Aku : (Berdiri kemudian dengan malas menuju ke dapur)
tanpa protes aku membuatkan teh untuk Mas Agung dan Dedy. kebetulan juga Ibu sama Ayah pergi ke Bali liburan bareng sama guru dan staf sekolah Ayah. Aku bengong sampai teh yang aku buat terciprat ke tangan dan itu masih air mendidih dan baru aku tuang ke gelas.
Aku : Adudududuuuuh... (sambil memegang tanganku)
Mas Agung : Kenapa Tik ? (tanyanya sambil bingung mau nolongin aku kayak gimana)
Dedy : (Datang ke dapur kemudian meraih tanganku dan meletakkan tanganku dibawah kucuran air keran) nggak apa-apa kan ?
Aku : Nggak kok...
Parfumnya, yang menggunakan parfum cowok menyalurkan sensasi maskulin. nggak seperti dulu yang pakainya parfum anak kecil.
Mas Agung : Asik banget nih adegannya. (langsung meninggalkan kami dengan pose yang bisa bikin salah paham)
Dedy melepaskan genggamannya kemudian kembali ke ruang tamu dan mengobrol dengan Mas Agung lagi. aku yang masih melongo dan masih teringat wangi parfumnya jadi bikin muka panas dan memerah.
Mas Agung : Tika, sini...
Aku : Apaan Mas?
Mas Agung : Ajak ngobrol Dedy ya, aku ada janji sama Melani kencan setengah jam lagi.
Aku : Ihh, jadi cowok ngaret mulu. di putusin ntar galau... (masih tetap berdiri dan kagok untuk duduk)
Dedy : Nggak mau duduk ?
Dengan pertanyaan itu aku langsung duduk tanpa protes lagi. entah kenapa hari ini aku jadi penurut banget. hening sejenak, Dedy sibuk dengan ponselnya. aku berdiri dan bermaksud menuju ke kamar untuk mengambil ponselku juga. saat beranjak dari kursiku, Dedy menggenggam lagi tanganku dan menyuruhku untuk tetap duduk.
Aku : Kayaknya kamu cari kesempatan mulu, daritadi udah berapa kali megang tanganku ?
Dedy : Sorry... gue cuma mau ngobrol sama lo.
Aku : Oh sudah berubah pakai "gue lo" gitu ? sekarang juga udah berubah pakai tindik di lidah ?
Dedy : (menatap lebih lekat ke arahku) kalau memang kamu nggak suka bisa aku copot kok.
Sekarang Dedy lebih "mirip" Dedy yang dulu, yang sopan dan nggak neko-neko.
Dedy : Besok mau ikut aku ke Kawah Putih?
Aku : Haa ? ngapain kesana ?
Dedy : Pengen kesana tapi nggak bisa, kan aku di Kalimantan jadi gak begitu bisa sering kesini...
Aku : Lihat besok ya ?
Dedy : Oke besok aku telepon kamu...
Aku : (Mengangkat alis) kok bisa tahu nomor ponselku ?
Dedy : Minta ke Bang Agung laah...
Dan dari situlah, kami mulai akrab lagi. dia bercerita banyak soal Kalimantan, tapi nggak lama dia pulang soalnya nginepnya bukan di sini, tapi di rumah Mas Deni yang masih di Jawa.
sesampainya Kawah Putih aku duduk sebentar di saung pinggir jalan. menuruni anak tangga kita sudah sampai ke kawahnya. sudah ke 2 kalinya aku kesini, bersama Anto dan teman-temannya. di pinggir-pinggir kawah banyak sekali pohon yang masih hijau ataupun yang sudah mati. Dedy menggandengku ketempat yang menurutnya indah. aku juga suka tempat itu. luas di kelilingi bukit dan kawah berasa seperti kolam renang yang airnya bewarna kehijauan.
Dedy : Thanks, udah mau nemenin aku kesini tepat dihari ulang tahunku.
aku terdiam dan mencerna perkataan Dedy tadi. kemudian aku ingat. inikan tanggal 11 Juli ? ulang tahun Dedy..ya ampuun kok bisa lupa sih...
Aku : (Terdiam sebentar...) emm, Ded... sori aku lupa kalau sekarang ualng tahunmu.
Dedy : Wajar kok, kita kan udah 7 tahun nggak pernah komunikasi lagi.
Aku terdiam lagi. dan aku punya ide untuk memberikan kado buat Dedy. aku ingat lagu ulang tahun teromantis. dan aku nyanyikan lagu Ten2Five - Happy Birthday

Hari ini saat bahagia untukmu
Bertambah 1 tahun usiamu
Kunyanyikan sebuah lagu
Agar istimewa harimu

Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday to you

Hari ini istimewa
Karena ini ulang tahunmu
Hari ini berbahagia

Nikmati saja

Hening...
Dedy melihatku dengan tenang dan ucapan terimakasih yang sangat tulus, aku merasa bersalah gara-gara lupa ulang tahunnya.
Dedy : Tik, Kamu tahu... aku sudah suka kamu dari kecil... aku datang kesini juga mau nemuin kamu. aku nggak bisa diam aja padahal dalam hati ada kamu Tik selama tujuh tahun ini.
Aku diam mendengar pengakuan Dedy yang memang selama ini ada hati buatku. aku juga sayang apalagi surprice banget dia bisa ke sini bareng aku.
Dedy : Mau nggak jadi pacar aku ?
Aku : (Diam dan menunduk) emm Ded.. aku memang sayang banget sama kamu. Tapi mungkin saat itu hanya perasaan sesaat yang bisa dibilang cinta monyet. Kamu memang cinta pertama aku, tapi lama kelamaan itu menghilang dan buat aku itu kenangan yang indah meskipun kita masih kecil dan nggak tahu apa-apa soal cinta. Apalagi, aku sudah bertunangan seminggu yang lalu, sebelum kamu datang...
Dedy : Siapa cowok yang beruntung bisa dapetin kamu Tik ?
Aku : Dia teman SMA aku, sudah 5 tahun kita pacaran.
Dedy : (Terdiam dan melihat ke sekitar kawah dengan tatapan yang sedih) Aku tahu Tik... kalau memang nggak bisa kita tetap bersahabat kan ?
Aku : Pasti Ded... pasti itu.

***
Seminggu berlalu setelah Dedy mengungkapkan semua perasaannya kepadaku. aku nggak tahu harus bersikap bagaimana ke dia. aku sudah menyakiti dia, apalagi dia ke sini hanya untuk menemuiku. kita masih berteman, dan malah katanya pas aku wisuda nanti dia bakal dateng ke sini lagi.
Dedy : Thanks udah di antar Tik...
Aku : Iya, kamu hati-hati yah. Oh iya kenalin ini Anto dia tunanganku yang aku ceritain. (aku memperkenalkan Anto pada Dedy)
Dedy : Long lasting kalian...
setelah perpisahan itu Dedy memelukku sebentar pelukan pertemanan dan menyalami Anto yang ada di sebelahku.
Anto : Ati-ati Bro
Dan kisah cinta pertamaku akan jadi kenangan, dan semoga kisah cinta terakhirku akan selamanya dan nggak akan termakan usia. Thanks Ded, sudah mau menyukaiku, menyayangiku dan bersahabat denganku. Makasih buat ungkapan hati kamu yang selama 7 tahun baru aku mengerti.
Thanks a lot for you, Dedy Chandra :)




Friday, June 20, 2014

I'm In Love (Part 17)

Posted by ceritacurhatku at 12:24 AM 0 comments
Apa-apaan ini ? Elan nggak salah ngomong kan ? matanya masih menatapku dengan tatapan yang nggak kalah seriusnya.
"Mau sama aku ?" tanya Elan sekali lagi.
Aku yang melihat Elan dengan mata yang bingung akhirnya melemahkan pandangannya dan mengalihkan ke arah jalan. Elan berhenti bertanya dan mengajakku pulang.
sesampainya di rumah aku merebahkan badan yang capek lahir dan batin melayani pembicaraan Indri yang nggak penting. tiba-tiba ada telepon masuk dengan nomor yang tidak diketahui.
"Halo ?" tanya Lina dengan pelan.
"Dasar perebut cowok orang..." setelah perkataan itu sambungan telepon terputus. Aku langsung memencet tombol warna hijau pada nomor itu. dan nggak tersambung. ihh ini kerjaannya siapa sih, lebai deh.
nggak lama kemudian handphoneku berdering. nama Rina ada di layar HPku.
"Halo mbak ?" ehh, kenapa yang bicara bukan Rina?
"Iya Mas, ada apa yah ? kok bukan Rina yang bicara ?"
"Gini mbak, saya lihat mbak ini tergeletak di jalan. darah juga sudah kemana-mana" kata mas itu, tanpa menunggu lama aku langsung mengambil jaket dan menelpon seseirang yang bisa ngantar aku.
"Gimana dia sekarang mas?"
"Sudah saya antar pakai ambulance ke RS Sardjito mbak."
"Makasih ya mas, sekarang saya kesana." tanpa sadar aku memencet histori telepon aku ke Elan. dengan cepat Elan mengangkat.
"Ada apa Lin?" tanya Elan yang mungkin baru sampai rumah.
"Sorry Lan, kamu bisa antar aku ke rumah sakit ?"
tanpa Elan bertanya kemana rumah sakit yang kita tuju dia langsung berangkat lagi untuk menjemputku. 15 menit Elan sampai di rumah. nggak banyak bicara aku langsung masuk dan bilang ke RS Sardjito. nggak ada percakapan waktu itu, hanya diam dan pikiranku hanya ada di sahabat baikku Rina.
"Tenang Lin..." kata Elan menengakanku sambil mengusap-usap kepalakku.
sesampainya di rumah sakit, aku langsung menuku UGD dan Rina masih di dalam sana. semoga nggak kenapa-kenapa. kok bisa sampai seperti itu bagaimana ceritanya.
2 jam aku dan Elan menunggu di depan. dokter yang memeriksanya datang menuju ke arahku.
"Mbak Rina cuma luka ringan, sudah dijahit jadi sudah nggak apa-apa." kata dokter itu. aku langsung menghela napas panjang. aku nggak sadar kalau sedaritadi tangan Elan merangkulku dari samping, dia berusaha untuk membuatku tenang. keluarga Rina tidak ada yang datang, karena mereka sudah tidak ada hanya Neneknya yang setia menemani Rina.
aku ingin menemani Rina di rumah sakit. aku nggak bisa pulang kalau Rina masih belum sadar begini. Elan juga tidak ingin pulang. telepon Elan berdering dan ternyata itu Mas Ari yang berbicara.
"Lan, kamu di rumah sakit ? kata ibumu kamu sama Lina?" hanya sampai itu aku mendengar suara Mas Ari di telepon. Elan mengatakan kalau Mas Ari akan datang menemani kita. nggak lama Mas Ari datang sambil membawa makanan. aku disuruhnya untuk makan dan Elan menungguku di luar kamar Rina. sebelum keluar Mas Ari mengelus punggungku memintaku tenang. setelah mereka berdua keluar aku melihat keadaan Rina yang pucat. kata mas yang tadi menelepon tidak ada orang disekitar Rina jadi nggak ada saksi mata kenapa Rina bisa terluka. kepalanya masih diperban dan masih ada sisa darah yang menembus perbannya.
"Lin, pulang yuk. Biar aku yang nemanin Rina." kata Mas Ari yang muncul dari balik pintu. aku melihat Elan hanya terdiam di depan sana. "Yuk pulang..." kata Mas Ari lagi.
"Nanti kamu sakit, besok sekalian ambil bajunya Rina terus kita kesini lagi." kali ini Elan yang membuka suaranya. dengan terpaksa aku mengikuti ajakan Elan dan Mas Ari.
Mas Ari tiba-tiba datang ke arahku dan memelukku. entah apa yang dipikirkan Mas Ari sampai dia bertingkah seperti ini.
"Jangan sampai kamu sakit. Nanti nggak ada yang jaga Rina." ucap Mas Ari sambil melepaskan pelukannya.
aku sudah ada di dalam mobil. Mas Ari yang menjaga Rina di dalam sana, dan aku pulang dengan Elan.
Elan tiba-tiba memecah keheningan kami. dia bertanya "Kamu kelihatan deket banget sama Ari ?"
aku menoleh ke arahnya dan menyipitkan mataku. apa yang dia bilang ?
"Aku nggak ada hubungan apa-apa kok. udah kayak adik kakak aja." jelasku. Elan diam tidak berkata apapun.
sesampai di rumah aku langsung menuju tempat tidur. nggak lama Mas Ari menelepon.
"Harusnya aku yang ngantar kamu pulang Lin." katanya. apa-apaan sih orang dua ini, kenapa tiba-tiba bicara aneh.
"Nggak apa-apa kok mas, aku sudah di rumah." kataku.
"Yawes, ndang tidur besok kan masih ke rumah sakit lagi." katanya. aku mengiyakan teruns memutuskan sambungan telepon.
keesokan paginya Elan sudah di depan rumah, kita langsung menuju ke rumah Rina untuk membawakan baju ganti. setelah itu kita pergi ke rumah sakit. di dalam sana ada Rina yang masih tertidur dan Mas Ari yang tidur di sofa sebelah Rina. Mas Ari pasti capek banget semalaman jagain Rina.
Elan membangunkan Mas Ari dan menyuruhnya mandi. aku menunggu di samping Rina menggantikan Mas Ari. nggak lama Rina bangun dan tersenyum ke arahku.
"Kamu nggak apa-apa ?" tanyaku. Rina menggeleng dan tersenyum. entah kenapa aku merasa ada keganjilan. "kenapa kamu bisa ada disana Rin?"
"Waktu itu aku sama Abri, pas itu di amarah besar Lin. dan mukul aku paling dikiranya nggak kenapa-napa terus aku turun dan berjalan kaki sendiri tapi ternyata dahiku berdarah." jelasnya dengan menangis.
"Udah jangan nangis ahh..." kataku sambil memegang erat tangan Rina. "putusin aja dia."
"Aku sudah putus seminggu yang lalu." jelasnya. ohh kenapa sih cewek susah banget ngelupain cowok yang udah nyakitin dia. malah cewek itu selalu baik dan beranggapan nggak terjadi apa-apa. Abri memang terlihat kasar kepada Rina, tapi Rina selalu bilang kalau Abri tuh nggak seperti itu aslinya. Sebel jadinya...
Elan yang duduk di sofa nggak peduli sama cerita Rina langsung buka mulut.
"Tuh cowok udah kelihatan brengsek masih lo peduliin." kata Elan dengan muka yang nggak tertarik. Rina yang menangis jadi terdiam. Cowok yang dia kira nggak peduli bisa bilang seperti itu. padahal dia nggak kenal namanya Abri.
"Dia nggak gitu kok..." bela Rina.
"Gue cowok Rin, gue bisa menilai cowok dari cerita lo." jelasnya. aku yang melihat pembicaraan Rina dan Elan hanya sesekali menoleh ke arah mereka.
"Aku setuju sama Elan, Rin. udah jangan hubungin dia." kataku melihat ke arah Rina yang sudah berhenti menangis. "sudah kelihatan kalau dia kasar, sudah berani mukul kamu sampai dapat jahitan begitu." jelasku. kali ini Rina terdiam dan menunduk. mungkin dia sedang mencerna omonganku dan Elan.
Setelah Mas Ari selesai mandi dia kembali ke dalam ruangan dan duduk di sebelah Elan. dia melihat kami semua dengan muka yang bad mood.
"Ini kenapa suasananya jelek gini ?" tanya Mas Ari yang nggak tahu apa-apa.
Seharian aku bersama dua cowok itu masih menemani Rina. perban di kepalanya belum di lepas jadi dia berasa seperti ninja gitu. Elan masih dengan kesibukkannya sendiri, Mas Ari menemani aku dan Rina mengobrol.
"Oh, Iya besok ada tamu kehormatan sanggar kita dari luar negeri." kata Mas Ari. Aku melihat dengan muka penasaran siapa yang akan datang besok. "besok kamu harus ke sanggar ya, nyambut tamunya." pinta Mas Ari kepadaku. "kamu juga ikut Lan, jadi seksi dokumentasi." kata Mas Ari kepada Elan yang masih sibuk dengan korannya.
"Besok nggak nemenin aku dong ?" kata Rina kecewa.
"Nggak, besok habis dari sanggar aku langsung ke sini kok." kataku menghibur Rina.
Malam ini Rina sendirian di rumah sakit. aku, Elan dan Mas Ari besok pagi harus sudah ada di sanggar. Mas Ari bilang ini tamu yang sudah ditunggu-tunggu dari dulu. aku nggak sabar untuk menyambut tamu agung kita.
Keesokan harinya Mas Ari yang menjemputku ke rumah. katanya Elan lagi ada urusan sebentar dengan keluarganya. sesampainya di sanggar kamu masih menunggu, jam 9 mereka baru sampai Indonesia. dan sekarng masih jam setengah 9 belum lagi perjalanan kesini nanti mereka samai jam berapa, kasihan Rina sendirian di Rumah Sakit. Setelah menerima telepon dari manager tamunya dengan cepat kita bersiap-siap karena 15 menit lagi mereka datang, Elan yang 5 menit tadi baru sampai langsung mempersiapkan kamera yang sudah dia bawa.
Mobil Sedan keluaran terbaru datang di halaman depan sanggar. kamu semua merapikan pakaian yang sedaritadi berantakan karena duduk menunggu tamu datang.
Saat tamu itu keluar, aku seperti melihat seseorang yang aku kenal. kakinya yang jenjang menggunakan heels, badan yang langsing dan rambut coklat sebahu. sepertinya aku tahu siapa dia...
"Hai Lizz..." peluk Mas Ari dan Mbak Mila.
Aku beneran nggak salah lihat kan ? dia Mbakku yang sudah 2 tahun ada di Eropa dan sekarang sudah ada di depanku ?
"Sayaaangku Lina..." sapa Mbak Lizzy dengan memelukku erat. aku yang bingung masih terdiam di pelukannya. "ihh, sombong.. pelukannya nggak dibales."
Nggak sadar air mataku turung dan sesenggukan sewaktu membalas pelukan saudara kandungku yang sangat aku sayang. "Kok, nggak bilang kalau pulang sih ? hhuhuhu..." isakku nggak tertahan lagi.
Selesai nangis bombai bersama Mbak Lizzy kita semua masuk ke dalam sanggar. Ibu dan Ayah datang setelah setengah jam kemudian, sebenarnya mereka tahu kalau putri sulungnya akan pulang ke Indonesia. Saat Elan memotret moment yang terjadi Mbak Lizzy menanyakan soal Elan.
"Dia pacarmu Lin ?" tanya Mbak Lizzy.
"Ihh bukan kok..." jawabku dengan salting.
"Bukan, apa masih belum. Calon pacar kan... ciye ciyeee." goda Mbak Lizzy sambil menyikut lenganku pelan. Aku terdiam karena nggak nyangka kalau Elan melihat aku dan Mbak Lizzy yang sedang menggosip. dan ternyata Mbak Lizzy tahu kalau Elan menatap kami, Mbak Lizzy tiba-tiba menyert aku ke arah Elan.
"Hai..." sapa Mbak Lizzy.
"Halo Mbak..." balas Elan.
"Emm, anu..." kataku belibet, karena Mbak Lizzy pengen banget kenalan sama Elan. "kenalin Lan, ini Kakakku yang pernah aku ceritain." lanjutku sambil malu-malu kucing.
"Hai, aku Lizzy. Kakaknya Lina..." kata Mbak Lizzy memperkenalkan diri, dan Elan menyambut jabatan tangan mbak Lizzy. "Lina sering cerita soal kamu lho..." bisik mbak Lizzy, dan aku langsung memukul pelan punggungnya.
setelah makan-makan, aku di tinggal Mbak Lizzy sendirian di teras sanggar. tiba-tiba ada seseorang menepuk pundakku. ternyata Elan... dia tersenyum sambil mencuri wajahku untuk dipotretnya.
"Ahh, apaan sih Lan..." kataku menutup wajahku.
Elan tersenyum puas meihat hasil fotoku dilayar kamera LSRnya. dia ketawa melihat hasilnya, mukaku yang menoleh ke arahnya dan mataku berkedip arrgh pokoknya hancur. dia kemudian berdiri di sebelahku, dia terdiam sebentar kemudian mulai memanggilku.
"Lina..." aku menoleh ke arahnya lagi dan melihat wajahnya yang melihat ke arah jalan raya.
"Lina..."
"Hemm.. apa Lan ?" jawabku kali ini.
"Lin," sekarang dia sudah mengahadap ke arahku. wajahnya menunjukkan khawatir dan bingung. "kalau gue ninggalin kamu, lo kangen nggak sama gue?" tanyanya, dan membuatku salah tingkah. aku hanya mengangguk pelan. "semester depan gue pindah ke Sulawesi, ada proyek bokap disana."
perkataan dia begitu membuatku shock, kenapa baru dia kasih tahu sekarang disaat aku sudah sangat sayang kepadanya.
"Ohh, dua bulan lagi ?" tanyaku yang kali ini menatap ke arah yang lain. Elan membalasnya dengan anggukan dan kami berdua melamun memikirkan apa yang ada di kepala masing-masing.
"Heii Lin, Lan..." teriak Mbak Lizzy yang ada di dalam sanggar. "jodoh banget sih panggilannya Lin sama Lan hhaha." apaan sih mbakku ini, nggak penting deh. "aku disuruh nari nih sama bosmu." mendengar kata-kata bos aku melihat ke arah Mas Ari yang berdiri di sebelah Mbak Mila dengan tersenyum.
"Kamu duet sama Mbakmu yah..." pinta Mas Ari kepadaku. aku mengguk dan mengikuti Mbak Lizzy yang masuk ke ruang ganti.
Setelah menari gambyong yang benar-benar penuh konsentrasi karena gerakkannya harus super halus. dan untungnya aku berhasil, kalau dibandingkan sama Mbak Lizzy yang bener-bener halus banget gerakannya aku belum ada apa-apanya.
Elan masih ada disanggar untuk memotret semuanya, kejadian lucu, sampai yang mengharukan. sewaktu acara selesai, aku mengajak Mbak Lizzy untuk menjenguk Rina yang ada di rumah sakit. ayah ibu juga ingin ikut kesana. aku dan Elan menaiki mobil sendiri, ayah ibu dan Mbak Lizzy ada di mobil yang dibawa ayah. Mas Ari yang menyusul nanti akan bersama Mbak Mila yang juga ingin ikut menjenguk.
sesampainya di rumah sakit, Rina bingung melihat banyak orang yang datang. Ibu Lina membawakan banyak jajan dan buah. Rina sampai nggak bisa ngomong apa-apa, dia cuma berterimakasih. perbannya sudah di lepas tinggal perban kecil yang menempel di dahinya.
"Rina..." panggil Mbak Lizzy dan langsung memeluknya.
"Mbaaak..." sambutnya, dengan membalas pelukan Mbak Lizzy. "kapan dateng ?" tanya Rina yang nggak tahu kalau aku dikerjain sama Mbak Lizzy.
"Aslinya sih sudah kemarin aku sampai, tapi nggak langsung pulang aku ngerjain Lina dulu dan kerjasama bareng Ari sama Mila." jelasnya sambil merangkulku.
"Elan mana Lin ?" tanya Ibunya yang dari tadi mengobrol dengan Elan saat di sanggar. Aku mencari Elan tapi nggak ketemu, bukannya tadi bareng kita masuh ke kamar Rina.
"Nyari siapa Lin ?" tanya seseorang di belakangku. Mas Ari ternyata dengan Mbak Mila di sampingnya membawa buah.
"Elan, Mas. ketemu dibawah nggak tadi ?" tanyaku. tapi dibalas gelengan oleh Mas Ari. teleponku berdering dan di layar muncul nomor nggak dikenal.
"Gue udah ambil Elan, dia nggak akan ke lo." kata seorang cewek diseberang sana.
"Indri ?" tanyaku dan dengan cepat dia memutuskan sambungan teleponnya. nggak sabar aku langsung menelpon Elan yang entah dimana.
"Halo Lin.." jawab Elan yang sepertinya ada di jalan.
"Kamu dimana ?" agak lama Elan tidak menjawab pertanyaanku. "Halo Lan ? kamu dimana?" tanyaku lagi.
"A..aku ke studio sebentar, katanya Indri jatuh ketimpa kamera dan payung reflect." jelasnya.
"Oh, Oke hati-hati di jalan." kataku sambil memutuskan sambungan telepon. aku langsung masuk ke kamar Rina dan tidak memperdulikan telepon Elan.
sudah 10 misscall dari Elan, sampai rumah aku masih nggak mau nerima teleponnya. kenapa malah mikirin mantannya sih, udah sok-sok bilang ngerebut dia malah pilih Indri. jadi males deh...
ada suara langkah kaki dari belakangku, dan...
"Bbaaaa !!" teriak Mbak Lizzy yang mengagetkanku dari belakang sambil menepuk pundakku keras.
"Aduuh Mbaaak, sakit tau..." sahutku sambil memijit pelan bahuku.
"Bengong aja sih. gara-gara Elan nih ?" tanya Mbak Lizzy, dan itu buat mukaku memerah. "gara-gara dia nggak ada di RS nemenin kamu ?"
"Ihh, sok tau deh. Udah sana mandi..." kataku dengan mendorong Mbak Lizzy keluar kamarku. yang didorong malah ketawa kuda.
"Oh iya lupa, Elan ada di bawah tuh nyari kamu." langsung saja mukaku jadi kepiting rebus merah nggak karuan. ngapain dia ke rumah...
aku turun dari kamarku di lantai dua, dan di ruang tamu sudah ada Elan yang duduk mengobrol dengan Ayah dan Ibuku. ihh, kayak acara lamaran aja ortu ikut-ikutan duduk di sana.
"Lha, iki sing di enten-enteni... sini, Elan sudah lama nunggu kamu lho."
"Tadi Lina lagi mandi Bu..." jawabku, dan kemudian duduk di sofa sebelah kanan Elan. aku nggak berani duduk sebelah dia paa nanti dikira ngapaon lagi.
nggak lama, Ayah Ibu keluar rumah. katanya ada janji sama temannya untuk makan malam. dan Mbak Lizzy gak tau sedang apa.
"Ada apa kamu kesini ? bukannya sama Indri ?" tanyaku sambil melihat ke arah lain, pokoknya nggak lihat mata Elan.
"Indri bohongin gue, katanya dia pingsan atau terluka parah." katanya sambil mengubah posisi duduk menghadap ke arahku. "katanya dia cuma pengen ketemu gue, apalagi dia nggak ada saudara di sini." jelasnya. aku menghadap ke arah Elan sesekali, tapi aku tetap saja nggak seneng dengernya. ehh tunggu, apa jangan-jangan aku cemburu ? oh my God...
"Lin, mau keluar sebentar sama aku ?" yakk, kali ini Elan menggunakan jurus dengan memakai kata aku kamu ahh senjata yang benar-benar ampuh untukku.
"Aku ambil jaket sebentar..." setelah itu aku bertemu dengan Mbak Lizzy yang berkedip dengan salah satu matanya. dia pasti denger obrolan kami.
Elan mengajakku jalan sebentar ke arah taman kompleksku, kita duduk di ayunan dengan ice cream di tangan masing-masing. nggak sadar Elan meletakkan salah satu kakinya ke tanah dan mengakat tangannya mengeluarkan kotak kecil dari sakunya.
"Lin, mau sama aku. ?" tanyanya sambil membuka kotak itu. "maksudku, mau jadi pacarku ?" tanyanya lagi. untung nggak ada ice cream yang ada di dalam mulutku dan nggak bikin aku tersedak karena kaget.
"Kamu bohongan kan ?" tanyaku nggak percaya.
"Nggak, kalau aku bohong aku nggak akan ada di sini sekarang." jelasnya. dari dalam kotak kecil itu ada kalung yang bertuliskan LanLin. kepanjangan dari Elan dan Lina. aargh.. aku nggak nyangka bakal dikasih kalung yang lucu ini.
"Ini buat aku ?" tanyaku bengong.
"Iyah... aku juga udah pakai kok kalungnya." di lehernya ada kalung bertuliskan LinLan. ahh couple necklace. Elan memakaikan kalung itu ke leherku dengan rambut di tengkuk masih mencuat keluar.
"Aku belum jawab kan ? kenapa sudah dipakaikan ke sini..." aku menunjuk ke arah leherku, dan Elan tertawa pelan melihat tingkahku.
"Aku tahu kamu jealous dengan Indri, aku tahu itu." katanya. dan itu membuat wajahku jadi panas, untung aja di taman ini nggak begitu terang jadi nggak begitu tahu warna mukaku.



Saturday, June 14, 2014

Different Things

Posted by ceritacurhatku at 5:25 AM 0 comments
Girl's ...
"Makanya cari pacar sana..." kata Dea dengan muka yang bete karena bosan dengan curhatan gue.
"Please dong dengerin yang satu ini..." pinta gue ke Dea dengan muka memelas "Yah..yah ?"
Sudah setahun gue sama Hugo putus, tapi rasa ini nggak bisa dihapus. Gue masih pengen bareng dia, sejak 3 tahun gue bersama Hugo sampai saat ini gue masih bergantung ke dia.
Keluarga sudah akrab dengan gue, dan sebaliknya. saat putus, Ibu Hugo maksa gue buat ngajak balikan sama Hugo. tapi mau gimana lagi, di hati Hugo cuma ada kenanangan atau mungkin gue udah nggak ada di hatinya setitikpun. Dea, dia temen bai gue sejak kecil. dia tahu semua kelebihan gue dan kelemahan gue. dia tahu berapa mantan pacar gue dan berapa cowok yang udah gue tolak. semua Dea tahu. sampai sekarang Dea paling udah bosen banget gue ceritain soal Hugo yang saat ini "masih baik" ke gue.
"Udah deh Far, udah setahun pisah sama Hugo tuh harusnya lo harus bisa ngelupain dia." jelas Dea dengan muka yang khawatir, takut sahabatnya salah milih cowok lagi. Ya, Hugo mutusin gue dengan alasan gue lebih baik nggak sama dia. Perasaanya udah nggak ada untuk gue, entah karena hubungan kita yang terlalu lama atau memang perasaan manusia bisa berubah karena bosan. "inget, sekarang lo udah punya cowok...si Ari mau lo kemanain ?" lanjut dia.
iya, gue inget kalau gue punya cowok. Ari cowok pintar, baik setengah mati, selalu ngalah sama gue pokoknya seratus delapan puluh derajat beda banget sama Hugo.

Boy's ...
"Hei bro..." seseorang mukul pundak gue.
"Oh, gue kira siapa. Ada apa Zein ?" tanya gue ke temen satu kelas gue di kampus. sambil mesen bubur ke kantin sebelah dia melihat ke arah gue dan meletakkan tasnya ditempat duduk depan gue. "ada apa ?" tanya gue lagi.
"Kemarin gimana futsalnya ? jadi ?" tanya dia dengan meminum es tehnya sesekali. "baca apaan lo ? serius amat..." Zein memajukan kepalanya melihat smartphone yang gue pegang.
"Yaelah masih belum move on toh..." tanya Zein yang sekarang sudah melahap buburnya.
"Bukan gitu, gue masih ngerasa bersalah sama Farah." kata gue yang sekarang sudah memasukkan smartphone gue ke tas. "kenapa gue masih bersikap kayak sayang sama dia tapi perasaan gue nggak bisa lagi balik ke dia." nggak lama setelah gue bicara tentang Farah, dia muncul di kantin dengan Dea yang selalu ada di samping dia.
"Baru diomongin, panjang umur dia..." kata Zein saat melihat ke belakang dan menemukan Farah yang sedang tertawa lepas. "jangan ngasih harapan ke cewek bro... ntar lo yang susah." gue cuma diam dan nggak ngelihat ke arah Farah yang sekarang sudah bersama Ari cowoknya.

Girl's ...
Yak, gue tahu kalau Hugo ada di sana, melihat ke arah gue dan sekarang sedang mengobrol dengan Zein teman kelasnya.
"Hai sayang..." sapa Ari yang baru saja istirahat. dia mencium puncak kepala gue dengan sayang. gue udah terbiasa di cium di depan umum, terbiasa karena Hugo yang blak-blakan. eiits kenapa gue mikirin dia. sekarang gue lihat Hugo sudah nggak ada di sebelah sana.

To: Hugo
Kenapa ngilang ? gue tahu lo ada disana tadi.

Seperti biasa sms gue nggak dibalasnya. terkadang entah dia lagi good mood Hugo bakal membalas sms gue setiap kali gue mengiriminya pesan. udah dua minggu ini dia nggak pernah lagi membalas semuanya.
"Nyari siapa sayang ?" tanya Ari yang juga celingukan ke kanan kiri. Dea yang duduk depan gue langsung melotot ke arah gue.
"Nggak apa-apa sayang, tukang jual Es campurnya nggak kelihatan, pasti lagi nggak jual." jawab gue ngasal.
Saat di perjalanan menuju kelas Dea tertawa dengan terbahak-bahak. gue yang ngelihat jadi bete sendiri.
"Ihh, lo nih ketawa mulu..." protes gue.
Dea tertawa sampai memegang perutnya yang sakit akibat tertawa keras. "Lo tuh, bales pertanyaan Ari ngasal banget. aduuh, sampai nangis gue..." kata Dea sambil mengusap air matanya yang turun.

Boy's ...
Entah udah berapa banyak sms yang dikirim Farah buat gue. gue cuma bisa membaca dan nggak akan ngebales. gue pengen ngelupain dia, tapi kalau caranya seperti ini gimana gue bisa move on.

Girl's ...
Sms buat Hugo udah berkali-kali gue kirim, ntah itu sekedar nanya dia dimana, lagi ngapain atau nanya sudah makan apa belum. tapi kali ini dia ngebalis cuman satu.

From : Hugo
Besok ada waktu ? gue mau ngomong sesuatu ke lo.

Saat gue balas setuju dengan ajakannya, tapi Hugo nggak merespon apa-apa. arrgh dasar nyebelin.
Besoknya gue datang ke cafe yang biasanya kita kunjungi, meskipun sudah setahun nggak sama Hugo pelayan disini masih nganggep gue pelanggan sejati.
"Seperti biasa Bay ..." kata gue ke Bayu, dia pelayan cafe sini juga temennya Hugo. Nggak lama, minuman yang gue pesen datang. Caramel Machiatto buat gue dan Americano buat Hugo. "thanks Bay..."
"Mau ketemu Hugo ?" tanya Bayu, dan gue jawab dengan anggukan "ciyee yang balikan..." sindir Bayu yang kembali ke tempatnya bekerja. ihh apa-apan sih si Bayu, bikin ge.er aja deh. ini ketiga kalinya gue ketemu Hugo sejak kita putus.

Pertemuan Pertama
"Hai Far..." kata Hugo yang duduk rapi di meja cafe. gue duduk di depan dia, seperti kita masih bareng, cuma bedanya dia nggak manggil gue dengan sebutan sayang atau my sugar. minuman yang biasa kita pesen udah ada di meja, pasti dia yang memesan. 
"Gue mau kita temenan." kata Hugo membuka percakapan. gue bingung dengan apa yang dia omongin. "kita bisa jadi mantan pacar, tapi nggak mantan temen kan ?" tanya dia. "Gue mau cerita semuanya ke lo."
Tumben banget dia nyerocos banyak banget. biasanya dia mempersilahkan gue yang bicara duluan

Begitulah penjelasan Hugo. dan setelah itu kita dekat lagi tanpa ada status "pacaran", kita berteman tapi kita juga dekat dan selalu bareng.
Sampai saat Ari mendatangi Hugo dengan mengatakan kalau Hugo hanya pemberi harapan kosong ke gue. dan gue yang memang sayang ke Hugo masih memilih Hugo bukan Ari. Malam itu gue meminta maaf di depan kamar kost Hugo, dengan mengatakan kalau gue nggak bisa hidup tanpa Hugo.
"Gue udah kelamaan bareng lo Go, lo nggak seharusnya ninggalin gue pada saat itu. Please balik ke gue dan jangan pergi." begitulah kira-kira gue ingat pada kejadian itu.
karena cuaca pada saat itu hujan deras dan gue masih menangis di depan pintu, entah Hugo kasihan ke gue akhirnya dia menyuruh gue masuk ke dalam.
malam itu Hugo diam tanpa ada percakapan sama sekali.
"Kenapa lo kesini ?" tanyanya waktu itu.

Boy's ...
Gue inget saat itu, saat Farah nangis di depan kost gue. sampai Mas Bowo marah ke gue gara-gara nggak bawa masuk Farah. tapi gue udah nggak mau berurusan lagi sama Farah, dia udah punya pengganti yang jauh lebih baik dari gue.
Karena suasana malam itu sangat digin akibat hujan akhirnya gue suruh Farah masuk. hanya sekali itu gue bisa jadi sandaran dia. gue bisa nenangin dia, tapi nggak bisa selamanya. Menangislah sebanyak yang lo mau, kalau itu bisa ngehapus gue.
Paginya, gue suruh Farah pulang. dia menangis lagi dan nggak ingin pulang, dia ingin bareng gue terus.
"Ini terakhir kalinya gue bareng lo." kata gue pada saat itu.
Dan itu terakhir kalinya gue meluk dia dan mengantarkannya sampai depan rumah.

***
Sesampainya di cafe, tanpa basa-basi gue duduk di depan Farah. dengan mengontrol ekspersi gue akhirnya gue bisa mengumpukan keberanian gue buat ngomong ini.
"Please, jangan temuin atau ngehubungin gue." ucap gue dan mungkin perkataan gue membuat Farah kaget sampai mengangkat kepalanya yang sedaritadi menunduk. "gue nggak mau nyakitin lo lagi."
"Tapi lo kan udah ngejelasinnya dulu." katanya.
"Perasaan seseorang bisa berubah Far, gue nggak bisa bohong dan bilang kalo gue ngelepasin lo karena masih sayang." gue menjelaskan dengan serius, Farah yang mendengarkan gue cuma menggigit bibir nggak bisa berkata-kata karena syok dengan penjelasan gue. gue tahu dengan ekspresinya kali ini. "Gue nggak bisa jadi sandaran lo." itu kalimat gue terakhir, sampai gue meminta maaf ke Farah. tapi Farah hanya diam...
"Go, Please jangan pergi lagi." kata Farah dengan menarik kemeja gue yang sudah berdiri meninggalkan dia untuk kdua kalinya.
"Kita nggak bisa bareng dan lo tahu itu. lo nggak bisa bahagia bareng gue..." gue duduk kembali dan meepaskan genggamannya. "pergi dan temuin orang yang bikin lo senyum. dan bukan gue, gue nggak pantes buat lo."

Girl's ...
"Bahagialah, seolah-olah lo memiliki sesuatu untuk dibuktikan ke gue..."
Itu kalimat terakhir yang bikin gue jatuh. asli gue jatuh sampai nggak bisa bangkit. apa-apaan ini, mana sikap yang peduli ke gue, mana yang bilang kalau lo sayang ke gue. Gue nggak bisa bahagia kalau nggak ada lo. apa karena Ari ? atau karena perasaan yang dulu masih tetap saat dia mutusin gue. perasaan yang berubah tanpa ada ruang buat gue.


* Inspiration from Beast - No More










































Thursday, June 12, 2014

Gara-gara K-Pop

Posted by ceritacurhatku at 7:22 AM 0 comments
"Yoooo Beast...Beast... Anyeong!" teriak Dewi di kamarnya. Gue yang ada kamar sebelah langsung keluar ngelihat Dewi lagi mencak-mencak di kasur sambil memainkan video musik Beast. idola k-pop yang lagi santer diberitakan. Dewi temen gue dari semester 1 di kampus. awalnya dia nggak begitu tertarik sama yang namanya Korea. tapi sejak gue yang menyalurkan boyband dan girlband asal Korea, nih cewek akhirnya seneng banget liat video klip dan sebagainya apalagi yang namanya Beast sampai-sampai profil member aja sampai hafal "memang murid lebih pintar dari gurunya" ckck kayak istilah dalam belajar aja.
"Oii..oii kasur lo bisa jebol tuh." kata gue yang keluar dari kamar sambil menyisir rambut dan melihat tingkah Dewi pagi ini. setelah gue peringatkan dia berhenti lompat di kasur, tapi suaranya yang husky mirip cowok tetap menyanyi dengan penuh semangat. gue ninggalin Dewi yang masih nyanyi untung aja temen kost yang lain nggak ada yang protes.
"Eh gue berangkat dulu Wed..." pamit gue sambil mengunci pintu kamar.
"Okay..." balasnya masih sambil konsentrasi menyanyi.

***

Gue pulang dari kampus dan disambut Dewi dengan muka kebingungan. gue juga sampai bingung ada apa dengan Dewi, pulang-pulang disambut muka mewek gitu.
"Kenape lo, gue pulang disambut muka mewek kayak gitu..."
"Gue pengen dateng ke konsernya Beast..." kata Dewi dengan muka melas.
ahh dasaaar, gue kira laptopnya rusak gara-gara muterin video korea mulu. ckckck... gue cubit pipi Dewi yang tembem. "Dasaaar, gue kira apaan... yaudah dateng aja lagi." kata gue sambil melepas pelukan Dewi yang manja kepengen dateng ke konser idolanya. Gue masuk ke kamar dan diikuti Dewi dari belakang yang masih membahas soal konser Beast. "emang buat kapan sih ? kok udah panik gitu..."
"Tiga bulan lagi..."
"Kampret lo bocah.. udah sana nabung aje, duit kan banyak..." kata gue sambil mengumpat. ternyata konsernya masih lama tapi nih anak udah bingung gimana nontonnya.
"Duit banyak ?? kebutuhannya malah lebih banyak tau..." 
"Ya udah nabung aja Wed..." kataku pada Dewi yang lagi galau sambil mandi. "oh iya, besok anterin gue yah ?"
"Mau kemana ?"
"Besok gue mau ke K-Pop Star di mall sana."
"Beli apaan ?" tanya Dewi sambil memainkan smartphonenya.
"Mau lihat jaket Running Man brooh..." kata gue sambil mengguyur air ke badan.
"Ahh lo sama aja kayak gue, kalau ada running man udah heboh banget." protes Dewi "gue balik kamar dulu" pamit Dewi kemudian menutup pintu kamar gue. Gue terkikik di kamar mandi mendengar protes Dewi.

***

Sesampainya di K-pop Star yang kemarin gue bilang ke Dewi. ini toko isinya semua aksesoris, baju, jaket pokoknya semua yang berkaitan dengan Korea. kalo gue penggemar sejatinya Running Man, semua membernya lucu-lucu banget apalagi monday couple ahh fans berat mereka.
"Lo mau cari yang kayak gimana ?" tanya Dewi yang udah muterin semuanya dan gue masih di bagian barang running man. "Oii Rin, segitu fanatik banget sama running man sampe ngelamun senyum-senyum sendiri..." kata Dewi yang sekarang udah disebelah gue.
"Gue pengen beli yang ini." kata gue sambil menunjukkan jaket yang gue pengen.
"Kok kuning sih.." protes Dewi, "yang merah tuh bagus.." tunjuk Dewi ke jaket RM yang di sebelahnya. Gue menggeleng nggak setuju.
"Suka yang ini... name tag-nya Gary." 
Setelah perdebatan dan galau ngelihatin barang-barang yang lain. akhirnya gue beli tuh jaket dengan name tag-nya Gary oppa...
sampai di kost ngelihat dompet kesanyangan gue tinggal ada 20.000 men. gue buru-buru masuk ke kamar Dewi dengan muka panik.
"Gila lo... gue lagi ganti nih. maen buka pintu aja." teriak Dewi saat melihat gue dobrak pintu kamarnya.
"Wed, gawat Wed..." kata gue sambil memperlihatkan dompet gue yang kering kerontang. dewi melihat ke dalam dompet gue.
"Kenapa dompet lo ? sobek ?" tanya Dewi innocent.
"Iya sobek, sampai-sampai duit gue tinggal 20.000 rupiah coba." kata gue sambil duduk di depan pintu dengan muka memelas.
"Ya elo, udah tau duit pas-pas.an masih aja ngebet beli gituan." semprot Dewi dengan muka sewot. "kemarin nyuruh gue nabung, sekarang tuh liat duit tinggal berapa." sekali lagi gue lihat dompet yang menganga tanpa isi selain 20.000 rupiah.
"Makan apa dong gue besok. Numpang hidup ke elo yakk..." sekarang gue harus melancarkan serangan muka imut gue. "ya Wed, gue numpang hidup yahh." rengek gue sekali lagi dengan muka melas yang dibuat-buat.
"Ahh, elo matanya nggak usah kedip-kedip genit gitu napa..." balas Dewi nyerah, dia tahu kalo nggak di iya.in gue bakal mohon-mohon terus apalagi duit tinggal dikit begini. masih dua minggu lagi awal bulannya.

***

Udah dua bulan semenjak kejadian dompet tak berisi, akhirnya Ayah ngirimin gue duit buat bulan ini. Gue kena omel sama nyokap gara-gara duit cepet banget abisnya. sampe adik gue yang kuliah semester dua juga ikut ngomel-ngomel, katanya jatah duit berkurang sampai nggak bisa ngajak pacarnya makan bareng gara-gara duit Ayah dikasih sebagian buat gue. ya gimana lagi, namanya hidup ngekost.
Gue lagi santai-santai aja di kamar kost. kadang-kadang kedengeran si Dewi lagi nyanyi korea. ahh dasar noh cewek sampai-sampai tembok yang bersambungan sama kamar Dewi gue tendang dan syukurlah si Dewi berhenti, tapi nggak sampai 5 menit dia nyanyi lagi.
Tiba-tiba suara Dewi berhenti dan terdengan pintu kamarnya terbuka. langsung tanpa ketuk pintu dia masuk ke kamar gue, sampai loncat dari kasur gara-gara panggilan kerasnya.
"Dasar, ngapain sih ngedobrak pintu gue. mau balas dendam?" tanya gue sewot dengan muka yang sumringah dia bilang ke gue kalau Running Man bakal datang ke Indonesia. Gue langsung pergi dari kasur dan menerobos ke kamar Dewi.
"Mana? mana?" tanya gue dengan jantung yang deg-degan nggak karuan.
"Nih..." Dewi melihat berita kalau RM mau datang. "tanggal 2 Juni beh..." lanjut Dewi sambil melihat laptopnya.
"Sial, gue ada kuliah hari Senin. Full juga..." Gue langsung melorot ke lantai kamar Dewi. "Bolos aja gimana.."
Langsung pukulan ringan mendarat di kepala gue. "Ahh, sakit tau.." kata gue sambil mengelus kepala gue yang kena jitak.
"Lo tuh sekolah udah mahal jauh pula, mau berani bolos ? gue bilangin Bokap lo rasain." ancam Dewi.
Meskipun Dewi ini slengekannya sama kayak gue, tapi dia masih mentingin pendidikan. aslinya sih gue sama aja, gue nggak berani namanya bolos.
"Iya.. iya..." kata gue pasrah. "Oppa... maaf ya nggak bisa dateng, Jihyo Unnie baik-baik ya nanti disana." tanpa perlindungan, Dewi jitak gue untuk ke dua kalinya. lagi-lagi gue mengelus-elus kepala.

***
Akhirnya semua member RM datang dengan disambut hangat oleh penggemar dari semua negara. dan gue mantengin tivi buat nonton acara langsungnya. Dewi yang ngelihat gue cuman geleng-geleng nggak ngerti kenapa gue fanatik sama RM, ya sama aja kayak Dewi suka sama Beast.
"Yah sayangnya nggak ada Dojoon oppa..." Dewi kembali nyerocos tentang grup boyband kesukaanya.
"Sstt, gantian gue yang sekarang teriak-teriak."
Pas giliran member RM gue nggak henti-hentinya teriak manggilin satu-satu nama member sampai update twitter yang isinya siapa member yang lagi main dan memberinya semangat hhaha, meskipun nggak ngebaca mentionan gue tapi lumayanlah bisa ngasih semangat. Dewi sampai menutup telinganya saat gue teriak. biarin gantian lo yang dengerin suara keras gue. hhahaha...
dari jam 6 sore sampai jam setengah 9 akhirnya pertandingan selesai. sebenernya gue nggak ngelihat semua pertandingannya. kalau ada member yang main baru gue nonton. kalau Dewi teriak-teriak buat pertandingan aslinya. hhaha beda banget sama gue.
"Gue balik kamar duluan..." pamit Dewi sambil melangkah ke kamarnya.
"Jangan keras-keras nyanyinya. udah malem." kata gue mengingatkan Dewi yang suka nyanyi korea keras-keras.

***
Udah lama banget gue suka korea. awalnya gue suka semua boyband atau girlband, karena muncul banyak yang baru jadi gue nggak minat karena kebanyakan. dan gue beralih ke Running Man akibat jebakan Dicha, temen SMA gue.
"Hwahahahhaha... nih acara apaan sih Cha, sumpah lucu abis." kata gue sambil menutup mulut saat ketawa lebar.
"Nih yang lucu banget..." tunjuk Dicha pada RM episode 15 yang waktu itu gamesnya bikin Jihyo deg-degan dengan alat yang udah dipasang. Dan hebohnya saat Gary sang Monday's Boyfriend menyatakan cintanya ke Jihyo sang Moday's Girlfriend. asli gue ngakak abis sampai sungkan ke Ayah Ibunya Dicha hhahaha.
Makanya gue sampai nunggu setiap Senin buat ngedownload RM. kata Dewi gini, "Ati-ati ntar lo cepet bosen lho kalo nungguin tiap minggunya." ahh moga-moga aja nggak karena emang lucu banget. acara itu bikin gue bahagia meskipun saat itu gue sedih.
Sekarang gue lagi ngadep laptop buat ngerjain paper gue soal Sastra Inggris hhaha, tapi tiap hari sukanya sama Korea.
"Eh Rin gue udah dapet banyak nih di celengan gue." kata Dewi sambil menunjukkan celengannya yang lumayan berat.
"Lo isi berapa duit tuh ?"
"Banyak, ada yang ratusan ribu ada yang recehan hhaha. semua masuk deh..." jelas Dewi dengan excited.
Gue mendengar perkataan Dewi sambil mengerjakan paper gue. "Lo denger nggak sih gue ngomong.." kata Dewi sebal sampai menjambak rambutku pelan.
"Gila lo, rontok ntar rambut gue." protes gue sambil mengelus-elus rambut gue. Dasar, bisa botak kepala gue kalau deket Dewi yang dijambak, yang dijitak. Gue akhirnya bergeser sedikit menjauhi Dewi takut kalau di jambak lagi. "gue denger... lo mau beli tiket konser sama lightstick..."
"Official lightstick Beast sayaaaang..."
"Idiih iya iyaa... manggil-manggil gue sayang lagi." canda gue dan sekali lagi gue mendapatkan jambakan dari Dewi. "jangan pegang kepala gue!" teriak gue.
"Hahahah sori deh sayang..." balas Dewi sambil meninggalkan kamar gue.
"Panggil si Andre sayang sana. jangan gue..." teriak gue ke Dewi dan terdengar Dewi tertawa terbahak-bahak. Intermezzo aja, Andre itu cowok yang suka banget sama Dewi sejak semester 3 yang lalu. tapi dasar Dewi, dia nolak Andre gara-gara nggak mirip sama yang dia idolakan siapa lagi kalau bukan Dojoon yang dia kagumi. setelah Andre ditolak, mungkin aja sakit hati kali yee akhirnya tu cowok ngerubah penampilannya sama persis, untung cakep jadi pantes aja kalau jelek udah nggak dianggep sama Dewi kali. tapi nasib buruk menghampiri Dewi, Andre udah nggak se-excited dulu. gantian deh Andre yang jauhin Dewi... karma emang ada saudara-saudara. tapi menurut gue sih Andre cuma bohong-bohongan, buktinya dia rela buat ngubah penampilan hanya buat Dewi seorang.
yak kembali ke dunia nyata. gue masih berkutat dengan paper gue. dan nggak lama handphone gue bunyi. ringtone "Simple Plan - Welcome to My Live" pasti cowok gue deh.
"Halo ? ada apa sayang ?" tanya gue setelah mendengar suara pacar gue yang lagi kumpul sama temannya.
"Sayang, besok ikut yuk ke pantai Sawarna ?" tanya Reza yang ada di seberang sana.
"Hah ? sama siapa Za ?" tanya gue masih sambil ngetik paperku.
"Sama temenku." jawab Reza.
"Aku ajak Dewi yah Za. Sungkan kalau aku sendiri yang cewek..."
"Kan ada aku sayang. lagian cuma 3 orang temenku aja kok yang ikut."
"Aku ngerjain tugasku yah, biar bisa ikut. aku ajak Dewi yah?" tanya gue sekali lagi. dan untungnya di iyain sama Reza. Intermezzo lagi, Reza itu adik kelas gue yang bener-bener sayang banget sama gue. Gue bisa kenal dia dari temen gue namanya Dea, dia punya banyak temen dan akhirnya gue kenal sama Reza. pas dia nembak gue, dengan begonya gue nanya...
"Nggak apa-apa pacaran sama cewek yang lebih tua?" tanya gue saat itu di suatu cafe kesukaanya.
"Gue nggak mikirin umur kok." jelas Reza dengan muka yang serius. 
Karena emang gue suka Reza dari awal kita ketemu dengan senang hati gue nerima. dan alhamdulillah, udah 2 tahun gue pacaran sama Reza dan kita baik-baik aja. malah Reza yang lebih bisa bersikap dewasa daripada gue.

***
Akhirnya....
Setelah melewati jalan yang panjang dan gue sempet mabuk di mobil gara-gara jalan yang berkelok-kelok. sampai juga di pantai yang indah kami berenam mencari penginapan yang murah. setelah mendapatkan yang kita mau, kami semua beristirahat sebentar. Teman Reza yaitu Elan, Bagas dan Chandra memasuki kamar masing-masing. dan itu untuk 4 orang jadi para cowok di kamar depan dan kamar cewek buat gue dan Dewi ada di dalam.
Ke esokkan harinya kita pagi-pagi pergi ke pantai dan menikmati sunrise. karena gue bawa Dewi jadi gue nggak mungkin berduaan sama Reza doang. alhasil, Dewi selalu bareng gue. sampai siang kita berada di pantai, badan belang dan nggak seputih dulu. Dewi sampai membawa lulur untuk mengembalikan putih kulitnya. saat Dewi pergi mandi. Reza mengetuk pintu dan masuk ke kamarku.
"Sayang, ayo nonton RM ?" tanya Reza dengan senyumannya yang mencairkan hati gue.
"Bawa laptop kamu sayang ?"
"Nggak, pakai handphone aja. gue udah nyimpen disini kok..." kata Reza sambil menunjukkan handphonenya yang ada di tangannya. dengan duduk bersama di kasur Reza menyetel variety show RM. Gue yang mengajaknya biar suka RM dan alhasil ini buktinya kita ketawa lepas sambil melihat layar handphone.
Saat Reza tengkurap di sebelahku, Dewi datang sambil mengeringkan rambutnya yang basah habis keramas. saat membuka pintu Dewi kaget karena ada Reza di atas kasur bareng gue.
"Eh Wed, jangan berfikiran macem-macem. Gue lihat RM doang kok sama Reza." jelas gue sambil mengatur duduk gue. Reza salting dan akhirnya keluar dari kamar. gue tersenyum menyambut lambaian tangan Reza yang keluar dari kamar sambil meminta maaf ke Dewi. Dewi membalasnya dengan senyuman juga.
"Ihh lo nih, kalau gue nggak dateng tadi udah diapa-apain sama Reza lo."
"Dia tuh pacar gue, jadi wajar dong kalau pengen bareng terus, lagian kita tadi nonton RM kok."
"Nggak elit banget, mesra-mesraan sambil nonton RM, lagian ini Indonesia sayang bukan di sana yang bebas tidur bareng" protes Dewi sambil mengganti pakaiannya.
"Biarin sirik lo..." balasku.

***
"Rin, lihat nih harga lightstick Beastnya..." kata Dewi dengan menunjuk jarinya ke layar laptop.
"Gila... mahal banget cuma lampu doang." ejek gue.
"Oh My God... pesen album barunya juga bisa. ahhh gue mau beli !!" teriak Dewi dengan melihat lagi uang yang akan dikeluarkannya. "Rin..." panggil Dewi.
"Apaan ?" gue kaget ngelihat Dewi sekarang. mukanya H2C banget harap-harap cemas. "lo kenapa ? sakit perut ?"
dijitaknya kepala gue sambil mengelus-elus kepala, gue lihat Dewi nyerocos tentang duit. "Ntar kan gue beli ini sama ini..." kata Dewi sambil menunjuk album dan lightsticknya. "kalo nggak cukup gue pinjem duit lo dong. di ATM tinggal 400.000..." Dewi memohon dengan muka yang memelas dan menarik lenganku.
"Iye iye, serah lo deh..."
"Asiiik... makasih ya sayang." dan sekarang gue dicium sama Dewi. ahh, kalo gini mending gue dijitak atau dijambak aja deh. gue langsung menjauh dari muka Dewi dan mengapus ciuman dengan usapan tangan gue.
"Dasar lo..." umpat gue dalam hati... "mending gue lo jitak ato jambak daripada dicium tau..." protes gue dengan muka sewot.
"Iya...iya deh nggak lagi. kalau tadi gue jitak ntar lo nggak minjemin gue duit." sekarang giliran gue yang ngejitak kepala Dewi. sambil mengelus-elus kepalanya, Dewi masih menatap layar laptop berasa nggak ada kuat-kuatnya gue jitak dia.
"Enaknya, albumnya yang White apa Black yah ?"
"Serah lo..."
"Emm, lightsticknya 300.000 Rin. Besok gue makan apaan..."
"Serah lo..." jawab gue lagi.
Setelah 15 menit berlalu Dewi yang masih mencari dan membandingkan harga di olshop akhirnya menetapkan beli yang murah tapi bagus.
"Rin enakan beli lightstick doang apa sealbumnya."
"Ya terserah lo lah, kan lo yang beli bukan gue..." kata gue sambil melirik Dewi yang lagi galau.
15 menit lagi dia memikirkan itu sambil mengerjakan tugas kuliahnya. "ehh, enakan Lightstick doang apa sealbum Rin?"
"Yahh, nanya lagi. Udah beli semua sekalian" jawab gue sewot.
"Oh iya, gue punya tabungan di celengan gue. ntar duit lo gue ganti tapi bongkar itu dulu yah." kata Dewi dengan mata yang bersinar-sinar seakan dia punya harta karun yang tersembunyi.
Sampai di kost Dewi langsung berlari ke kamarnya dan mengambil celengan yang sudah dia isi banyak koin dan uang.
"Ini gimana bukanya..." gue yang ngelihat ke arah Dewi yang sibuk sama celengannya dengan bingung melihat bagaimana cara untuk membukanya. sampai obeng minus dia bawa buat mencongkel pinggiran celengan. nih anak niat banget sih. Dewi membuka dari pinggir dan pojokan celengan dengan sekuat tenaga dia buka dan dikeluarkannya uang yang kebanyakan adalah recehan.
"Dapet berapa ?"
"Dapet 100, 200, dapet 485 ribu Rin. ini doang duit gue sekarang. Oh iya tadi utang ke lo 100ribu yak.." sambil mengumpulkan uangnya lagi, Dewi ngasih gue duit yang tadi dia pinjem.
"Thanks... oh iya, jadi kata mbaknya tadi kapan dateng barangnya ?"
"Kan nanti di cek dulu barangnya ada apa nggak, terus buat albumnya itu kalau mau pesen harus sebelum tanggal 15..."
"Ohh, ada batesnya..."
"Iya, paling nanti nunggu albumnya rilis tanggal 16 terus dipesenin paling tanggal 17 nah nunggu barang ke Indonesia ini yang lama."
"Emang sampai berapa minggu ?" tanya gue sambil melihat Dewi mengembalikan bentuk celengan yang tadi dia bongkar.
"Tau... paling Juli datangnya." jawab Dewi yang sedang memasukkan kembali recehan itu ke dalam celengan.
Dasar kalau udah niat pasti dijabanin apapun halangannya.

***
Sejak beli lightstick sama albumnya Beast si Dewi jadi hemat banget. bisa dibilang pelit sama diri sendiri. sampai pada akhirnya pesanan yang sudah lama dia tunggu sudah ada di meja ruang makan dengan cantiknya. Dewi langsung menyambar paketan itu dan langsung membukanya. Dewi gue lihat berasa mau nangis, buka paket kayak gini sampai terharu ckckck...
"Gue seneng banget Rin... akhirnya dateng juga." kata Dewi mengusap air mata yang turun.
"Lebai lo..." gue dorong bahunya pelan dan dibalasnya dengan tawa. gue akhirnya jadi ikut ketawa melihat ekspresinya yang bahagia. sebahagia kalau dia dilamar orang...
2 hari gue sampai bosen denger cerita Dewi tentang album Beast yang dia beli dan lightstick yang dia beli tidak dibuat pada saat konser Beast. gara-gara tabungannya sudah abis buat ini. hahaha dasaaar..
jadi sebagai gantinya di depan laptop saat dia streaming konser Beast, lampu kamar mati hanya lightstick yang menyala dan suara dewi yang berteriak-teriak memanggil idolanya.
"Arrrgh Dojoon Oppa, Moshitta !! aaakkkk..." gue yang ada di kamar menutup telinga dengan bantal...
Dasar gara-gara K-Pop nih...



Tuesday, June 10, 2014

For You...

Posted by ceritacurhatku at 7:54 PM 2 comments
Dear Mantan Gebetan yang entah dimana...
Halo gebetan, aku mau mengungkapkan semua yang ada di hatiku. Aku sudah suka kamu dari SMP tau.
Tapi sahabatku yang kamu pilih, dan bukan aku.
Saat itu aku pasrah dan ikhlas ngerelain kamu buat sahabatku...
Tapi ternyata kamu menyakiti hati sahabatku. kamu tinggalkan dia dan pergi dengan adik kelas...
Dan setelah itu mantan pacarmu membencimu sampai ke akar-akar dan nggak memaafkanmu. tapi aku sebagai seorang teman setia percaya pada cowok yang aku suka.
Lima tahun berlalu...
Aku bertemu denganmu di kota Bandung tempatku mencari ilmu disana.
Kita dekat dan selalu bersama...
Dan lagi-lagi hanya aku yang dimanfaatkan. Kamu mencari informasi soal teman satu kostku yang kebetulan juga satu SMP dengan kita.
Di belakangku kamu kencan dengannya dan lebih buruknya aku tahu dari seorang temanku yang lain. aku berusaha untuk menjaga hatiku. tapi kali ini aku nggak bisa. aku melihatmu dengan dia di depan mataku.
Sori sudah menjauhimu, aku cuma nggak ingin sakit hati lagi...

Monday, June 9, 2014

Tried To Walk

Posted by ceritacurhatku at 9:05 AM 0 comments
Di rumah sakit, Bayu dan Oji menunggu di depan ruang operasi. disana terbaring dengan penuh darah yaitu Reni. dia menumpangi taxi dan menabrak bus yang berada di depan. nggak bisa ngehindar akhirnya muka taxi penyok hanya Reni yang terluka karena tidak memakai seat belt saat di dalam taxi. dia terburu-buru masuk dan lupa memasangnya. tidak lama orang tua Reni datang dari rumahnya yang lumayan jauh dari kota.
"Bay, keadaan Reni gimana?" tanya ibu Reni yang datang bersama adik Reni, Rani.
"Masih di operasi Te, kepalanya terluka..." jelas Bayu kepada ibu Reni yang dia panggil Tante Ina. Ibu Reni langsung terjatuh tapi Bayu sempat menahannya dan memapah ke tempat duduk.
selama 2 jam Bayu, Oji, Ibu Reni dan Rani menunggu selesainya operasi, tak lama dokter keluar dari ruang operasi. Bayu dan Ibunya Reni berdiri dan langsung meuju ke arah dokter yang masih melepaskan masker dari wajahnya.
"Gimana keadaan anak saya dok ?" tanya Ibu Reni dengan menahan tangis.
"Kita sudah berusaha semaksimal mungkin, setelah anak Ibu sadar nanti kita perjelas keadaannya." kata dokter itu sebelum meninggalkan mereka berdiri berharap yang terbaik.
masih di ICU sekarang giliran Bayu yang masuk ke sana untuk melihat keadaan Reni. dengan pakaian serba hijau Bayu masuk tanpa suara, dia melihat cewek terbaring di sana dengan jarum infus, alat bantu pernapasan dan kepala yang terbebat perban.
"Sakit banget ya Ren ?" tanya Bayu dan tanpa jawaban. Bayu tanpa sadar memegang tangan Reni, tangan yang sudah lama dia pegang tapi sebulan yang lalu dia melakukan hal yang bodoh yaitu memutuskan hubungan. "sori gue bego ninggalin lu, gue cuman pengen terbebas aja dari sifat ngekang lo. tapi gue tahu kalu lo nglakuin itu karena sayang sama gue." dia usap tangan Reni yang dingin dengan lembut. "lo nggak perlu ninggalin gue dengan cara ini. Lo harus sembuh..." mata Bayu terasa basah dan baru kali ini dia menangisi seorang cewek masih dengan menggenggam tangan Reni.
keluar dari ruangan itu Oji menyambut Bayu dengan pelukan seorang kawan, Oji menepuk pelan punggung temannya itu.
"Gue antar lo pulang."
"Ntar lo pulangnya gimana Ji ?" tanya Bayu yang kemudian dibalas oleh Oji dengan senyuman.
sepulangnya dari rumah dia berdiam diri di kamar. dia melihat lagi bayangan Reni yang tertidur pulas. ciuman seperti pangeran putri salju nggak akan sanggup bangunin Reni dari komanya. di dalam tidurnya Bayu seperti kembali dimasa lalu.

Mimpi
"Mau nggak jadi pacar gue ?" kata Bayu saat mengungkapkan perasaannya ke Reni yang waktu itu sedang makan di kantin sekolah.
teman-teman yang ada di kantin langsung heboh karena cowok idola itu menembak cewek ketua OSIS di sekolahnya. dengan muka yang memerah Reni menerima perasaan Bayu. karena memang Reni sudah menyukai Bayu sejak di kelas 1 dan baru di kelas 2 ini Bayu berani mengungkapkannya.
mereka jadi terkenal dengan the best couple di sekolah. Bayu yang digemari cewek-cewek dan Reni yang dikagumi cowok-cowok di sekolah mereka.
saat acara lulusan SMA mereka juga masih langgeng meskipun jarang mereka berantem. tapi tetap bersama.
menginjak kuliah dan beruntung mereka satu kampus, dan disinilah terjadi istilah kalau ada Bayu pasti ada Reni dan benar setiap istirahat datang dengan waktu yang sama mereka menyempatkan untuk bersama seperti tidak bisa dipisahkan. tapi sebulan lalu Bayu memutuskan hubungan mereka yang sudah terjalin selama 3 tahun. dan melihat Reni yang menangis hingga tidak sadarkan diri...


***
Bayu kemudian terbangun dan duduk dengan melihat ponselnya yang bergetar, dari Tante Ina.
"Halo Te ?" sapa Bayu.
"Bay, Reni sudah siuman, dia nyariin kamu terus." kata Tante Ina dengan perasaan campur aduk.
Bayu dengan cepat mengganti pakaian dan langsung meluncur ke rumah sakit. sesampainya di rumah sakit Bayu tetap tergesa-gesa.
"Bayuuuu..." teriak Reni. "Ma kenalin, itu Bayu dia pacar aku..." lanjut Reni dengan sikap yang aneh.
Bayu yang berjalan ke arah Reni juga bingung melihat ekspresi Tante Ina yang canggung. di peluknya Bayu yang ada di sebelahnya saat ini dengan erat. Bayu benar-benar bingung dengan sikap Reni.
saat di luar ruangan, Ibu Reni menjelaskan secara jelas bahwa Reni mengalami amnesia. Dia kembali ke ingatan sewaktu mereka kelas 2 dan baru saja mengenalkan Bayu kepada orang tua Reni.
"Jadi Reni kembali ke umur 18 gitu Te ?" tanya Bayu bingung.
"Iya, Tante tahunya kan kalian sudah putus." terlihat ekspresi sedih dari wajah Tante Ina. "ini malah mengenalkan kamu ke Tante, gara-gara nggak sadar 2 minggu." jelas Ibu Reni.
Bayu yang mendengar itu merasa senang sekaligus sedih. kenangan yang mereka bangun menghilang dan kembali ke awal hubungan.
"Kamu nggak apa-apa kan Bay ? bantuin Tante ngembaliin ingatan Reni yah ?" pinta Tante Ina dengan mata yang butuh pertolongan. Bayu tidak bisa menolak dan menyanggupinya.
sudah 3 bulan ini Bayu menemani Reni seperti biasa, awalnya Reni nggak mau masuk kuliah karena memang ingatan dia ada di usia 18 tahun. Bayu dan Ibu Reni selalu mendukung Reni terkadang Reni marah ke Bayu karena Bayu berusaha untuk menyuruhnya pergi ke kampus.
"aku masih SMA bay, nggak mungkin aku langsung masuk kuliah." kata Reni pada saat itu. sambil mengurung diri di kamar Bayu dan Tante Ina selalu menyuruhnya keluar kamar.
sampai-sampai Rani yang sudah tidak bisa menahan emosinya langsung meluapkannya di depan kamar Reni dengan menggedor pintu kamar.
"Kak, lo tuh udah gede, aslinya lo udah umur 24 tahun. gede kayak gini, sifat masih kayak gue. lo nggak malu apa... kak keluar nggak, gue malu kalau punya kakak macem lo." bentak Rani masih dengan menggedor pintu kamar Reni. dan akhirnya Reni keluar dengan muka sedih.
"Lo kok jadi ngomong gitu sih ?" mata Reni langsung berkaca-kaca dan disambutnya pelukan Rani yang juga ikut menangis.
Bayu melamun sambil melihat Reni makan dengan lahap, seperti saat itu. sebelum mereka putus, dan sebelum Reni kembali ke usia delapan belasnya.
"Ada apa Bay ? ngelihatin aku makan, kamu pengen ? nih..." sambil menyodorkan sendok penuh dengan nasi kuning yang dimakannya. Bayu dengan santai memakan suapan Reni dengan senyuman.
masih dengan lamumannya. dia bingung, kalau sewaktu-waktu Reni kembali keingatan sebenarnya. apa dia tetap seperti ini, manis dan masih belum seposesif waktu kuliah.
"Ecieee, balikan ni yee..." kata Oji yang datang sambil membawa map yang bertumpukan di mukanya. Oji belum tahu tentang keadaan Reni semenjak dia di rumah sakit. Bayu hanya bilang ke Oji, kalau Reni baik-baik saja. cuma Indra dan Lela yang tahu keadaan Reni, karena mereka berdua teman SMA Reni dan Bayu.
mendengar perkataan Oji, Reni menyipitkan matanya saat melihat ke arah Oji.
"Siapa ?" bisik Reni pelan ke arah Bayu.
"Oji, temennya Indra."
"Hai, Oji..." sapa Reni dengan senyum ramahnya.
"Tumben lo nyapa gue duluan hahaha... habis balikan jadi bahagia banget yak. ehh gue ke ruang dosen bentar disuruh Pak Bowo ngasihin nih map." pamit Oji sambil membawa map yang penuh sampai depan muka.
"Maksudnya balikan apa Bay ?" tanya Reni polos. dia tidak tahu kalau 3 bulan yang lalu mereka sudah putus. Bayu menggeleng dan mengalihkan pandangannya ke jam.
"Sayang, aku harus balik kelas nih. tunggu Lela bentar lagi yah. sorry..." kata Bayu sambil memeluk singkat Reni yang masih menuntaskan makanannya.

Sebulan Kemudian
beberapa minggu ini Tante Ina menghubungi Bayu terus. Beliau mengatakan kalau Reni sering mengeluh pusing pada kepalanya. kadang Reni sampai menangis saat menahan sakitnya.
"Tante, coba periksa ke rumah sakit mungkin nanti tahu penyebabnya..."
"Tapi, Reni nggak mau balik ke rumah sakit Bay." jelas Tante Ina yang ada di seberang telepon.
"Bayu besok masih nggak bisa ngantar Te, kalau besok habis sholat Jumat nanti saya bujuk Reni biar mau ke rumah sakit."
"Makasih ya Bay, masih mau nolongin Reni..." kata Tante Ina dengan terisak-isak.
selesai sholat Jumat, Bayu langsung melesat ke rumah Reni. di dalam rumah sudah terburu-buru, entah apa yang sedang terjadi. Bayu berlari memasuki rumah Reni. dan ternyata Reni sudah terbaring di lantai, tante Ina yang panik berusaha untuk mengangkat Reni sendirian. waktu itu Rani masih ada pelajaran di sekolahnya.
"Tante, Reni kenapa ?" Bayu mendatangi dan membopong Reni ke mobil Bayu untuk menuju ke rumah sakit.
Tante Ina yang menangis dan Reni yang sedang terbaring diam membuat Bayu semakin ikut panik.
sesampainya di sana Reni memasuki UGD dan menjalani pemeriksaan.tidak berapa lama Rani datang sambil berlari dan menahan tas yang ada di punggunganya. sambil memeluk Ibunya dia mengelu-elus punggung Tante Ina yang masih terisak.
"Udah Bu, jangan nangis ahh... nanti kalau Kak Reni denger, dia jadi ikutan sedih." perkataan Rani membuat tangis Tante Ina terhenti. masih mengusap-usap punggung Ibunya. datanglah Indra, Lela dan Oji yang ngos-ngosan berlari dari depan rumah sakit yang luas.
"Gimana Reni, Bay ?" tanya Lela sesampainya di depan Bayu dan Ibu Reni. Bayu hanya menunjukkan ruang operasi yang ada di sebelah kanan mereka. Oji duduk menghibur Ibu Reni dan Indra yang menghibur Bayu dengan menepuk punggungnya pelan.
setelah 2 jam pintu operasi tertutup, akhirnya keluarlah dokter dari dalam ruangan itu. mereka mengatakan Reni masih koma karena tindakan operasi yang terjadi. keadaan sama pada waktu itu, Bayu dan Ibu Reni memasukki ruang dokter tersebut.
"Anak ibu mengalami hematoma, pembuluh darah yang menggumpal pecah di otak. akibat dari kecelakaan anak ibu waktu itu. kita tunggu sampai dia siuman ya Bu, Ibu dan Mas harus tabah apapun yang terjadi." kata dokter itu.
keluar dari ruang dokter, Tante Ina menangis nggak bisa tertahan lagi. Bayu yang masih di sampingnya membantu Tante Ina duduk di kursi sebelah ruangan tersebut.
"Te, udah jangan nangis lagi. berdoa saja yang terbaik buat Reni." kata Bayu sambil merangkul Tante Ina yang sudah dia anggap sebagai ibunya.
Reni sudah di pindahkan ke ruangan intensif. Bayu masuk ke dalam terlebih dulu, karena Tante Ina masih menangis di depan sana.
"Ren, gue sebenernya pengen bareng sama lo. gue cuma ngikutin ego gue dan nyari kesalahan-kesalahan lo." kata Bayu sambil menggenggam tangan Reni yang dingin. "Gue egois sudah ngehancurin hati lo sampai kayak gini. Ren, bangun yahh... please, Tante Ina disana nangis dan berdoa buat kesembuhan lo." lanjut Bayu yang sekarang menundukkan kepalanya ke tangan Reni yang terbaring lemah.

***

Keadaan rumah Reni ramai dengan orang. saudara dan Ayah Reni yang pulang lebih cepat dari pelayarannya ke Eropa. dengan pakaian hitam mereka datang dengan muka yang bersedih dan menangis. hanya Bayu yang bisa tegar dengan kematian Reni yang koma 1 bulan di rumah sakit. kerena tidak bisa bertahan akhirnya Reni melepaskan semuanya. Keluarganya, teman-temannya dan orang yang dia cintai. Reni mengikhlaskan semuanya. jadi Bayu mengikuti apa yang dimau Reni yaitu mengikhlaskan.
Lela yang datang menangis sampai terjatuh dan dipapah oleh Indra yang ada disampingnya. Oji yang datang menemaniku di depan rumah Reni.
"Lo yang sabar ya Bay."
"Emang gue kelihatan nggak sabar gitu ?" tanya Bayu dengan tawa yang dipaksakan.
"Lo kelewat sabar, sampai-sampai lo nggak nangis sama sekali saat Reni meninggal." kata Oji menyadarkan Bayu yang saat ini mengulangi kebiasaan buruknya, yaitu merokok. Bayu benar-benar frustasi dan menganggap dia yang menyebabkan kematian Reni.
"Udah, lo pulang mandi terus ganti baju biar lo kelihatan seger nggak kayak gini. lo bener-bener berantakan." sekarang nagehat Oji dia dengarkan. Bayu pamit ke orang tua Reni untuk pulang dan nanti akan kembali lagi untuk memakamkan Reni.
sesampainya di rumah, Bayu menuju ke kamar dan mengobrak-abrik isi lemarinya. Bayu mencari kemeja putih, dasi biru yang diberikan Reni untuk Bayu. Bayu membersihkan diri dan memakai baju yang sedari tadi dia cari. dengan rapi dan mata yang sudah tidak sembab Bayu meluncur dengan cepat sebelum Reni diatarkan keperistirahatannya yang terakhir. hanya Bayu yang memakai kemeja putih dengan dasi birunya. dengan ikhlas Bayu menaburkan bunga ke dalam makam Reni. Ibu Reni yang menangis sambil dipeluk Rani yang sedah berhenti menangis.
satu persatu pengantar Reni pulang masing-masing. hanya ada Bayu, Oji, Lela yang masih menangis dengan Indra yang merangkul Lela sambil menepuk pelan punggung Lela.
"Ren, gue pakai baju yang lo bikin. gue cakep kan pakai ini, lo nggak pernah muji gue cakep sewaktu pakai kemeja ini..." kata Bayu disambut tawa pelan Oji dan Lela. "gue nggak akan ngelupain lo, gue udah ngikhlasin lo. Lo baik-baik ya disana, jangan jelous sama gue lagi. karena di hati gue cuma ada lo" lanjut Bayu sambil mengusap nisan Reni.
selesainya Bayu memberi ucapan untuk Reni yang ada disana Lela juga nggak lupa untuk berpamitan ke Reni.
"Baik-baik ya Ren, Gue sayang Lo ..." kata Lela dengan air mata yang masih mengalir.






Tuesday, June 3, 2014

Lonely

Posted by ceritacurhatku at 7:41 PM 0 comments
"Bay, Reni mana ?" tanya Lela temen SMA Reni dulu. Bayu kemudian menggeleng dengan cuek dan kembali menghabiskan makanan di depannya. Reni, sudah tidak asing di mata mereka. kalau ada Bayu pasti ada Reni di sebelahnya. tapi sekarang mereka tidak bersama entah mengapa. teman baiknya saja tidak tahu tentang masalah mereka.

***

Flash Back 1 minggu yang lalu.
Di sebuah cafee dengan konsep vintage, muncul seorang cewek dengan dress selutut motif vintage juga sama dengan suasana di cafee ini. Bayu melambaikan tangan kepadanya dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak. cewek itu menuju ke arahnya dan kemudian duduk dengan muka yang sedikit menyimpan suatu rahasia.
"Kita putus aja ya Ren. Gue nggak bisa nerusin hubungan ini."
please, jangan nunjukin ekspresi seperti itu batin Bayu saat melihat ekspresi Reni.
Reni yang tadi disebut oleh Bayu adalah cewek berumur 22 tahun yang sudah menjadi pacarnya selama tiga tahun. entah karena kesibukan masing-masing atau perbedaan pendapat yang selalu jadi permasalahan. sudah 6 bulan lalu mereka sering berdebat, entah karena sifat cemburu Reni yang makin menjadi. dan sikap Bayu yang sekarang berasa leluasa untuk berteman atau dekat dengan cewek lain karena memang sifat Bayu yang easy going kepada teman-temannya termasuk cewek.
"Gue sudah berusaha buat nggak deket sama temen-temen gue di kampus apalagi cewek. tapi kenapa cewek yang minta ajarin mata kuliah yang dia nggak ngerti kenapa harus lo cemburuin. gue udah jelasin kalau nggak ada apa-apa. kalau dicemburuin tapi sampai kayak gini gue nggak bisa." jelas Bayu dengan melihat langsung ke arah Reni yang sedang memainkan sedotan minumannya. 5 menit mereka diam akhirnya Reni angkat bicara.
"Gue emang cemburuan, gue ngelihat loemang deket banget sama siapapun. tapi di mata gue nggak, gue marah ketika lo bersama cewek siapapun." jelas Reni masih dengan memainkan sedotannya. "gue cuma pengen lo sadar kalau lo tuh masih punya gue..." sekarang dia menghentikan jarinya yang tadi memainkan sedotan minumannya. kemudia dia melihat Bayu yang masih dengan tenang mendengarkan penjelasan Reni. "Kita break aja yah.. please jangan putus..." pinta Reni dengan muka yang ingin menangis. cowok yang sudah dia pacari selama 3 tahun memilih untuk meninggalkannya.
Bayu menghela napas kemudian masih dengan keputusan awal Bayu memutuskan hubungan itu. Reni yang masih duduk di meja itu diam tanpa menoleh ke arah Bayu yang sudah meninggalkannya di belakang.
saat di mobil, Bayu menundukkan wajahnya di setir mobil tanpa menjalankannya, dia melihat Reni juga masih tertunduk melihat minumannya yang sedari tadi di aduk-aduk. sama seperti hatinya yang kini teraduk-aduk oleh keputusan Bayu.

***

Saat Bayu bersantai-santai tanpa Reni yang biasa menemaninya selalu. paling kalau jam kuliah beda mereka nggak bertemu untuk sekedar makan atau membahas kuliah masing-masing.
"Bay, mana si Reni ? tumben sendirian hari gini..." kata seseorang teman baiknya dari SMA juga, namanya Indra. Indra menemani Bayu yang duduk santai di kantin sambil ngegame. meskipun baru seminggu Bayu dan Reni putus, Bayu tetap nggak bisa ngilangin badmoodnya.
"Lo kenape ?" tanya Oji, kali ini dia menepuk punggung Bayu keras.
"Sialan lo, sakit tau..." keluh Bayu sambil mengusap-usap punggungnya yang terasa panas.
"Iya, tumben muka lo di tekuk kayak karpet aje." kata Oji lagi. Oji langsung memposisikan duduk di depan Bayu, mungkin aja dia bakal cerita tentang apa yang terjadi.
"Lo putus sama Reni ?" saat ini Indra yang meng-skak mat Bayu yang sedang minum es sirupnya sampai hampir tersedak. lalu menoleh ke arah Indra dengan tatapan nggak percaya.
"Lo sebenernya dukun Ndra ?" tanya Bayu yang sekarang terbatuk-batuk. lalu merubah sorotan matanya seperti orang sedang kehilangan anaknya. "Gue putus sama Reni baru seminggu yang lalu." jelas Bayu dan di sambut biasa oleh kawan-kawannya. "Kok nggak ada yang buka suara sih ?" tanya Bayu bingung karena melihat teman-temannya tidak ada yang merespon.
"Sebenernya sih gue tahu dari Lela, Bay... " kata Oji sambil menyruput es teh manisnya. "cuman mau tahu aja langsung dari mulut lo." lanjut Oji yang kali ini sibuk dengan gorengannya. tanpa membahasnya lagi mereka bertiga mengerjakan kesibukan masing-masing.

***

Di rumah, Bayu ingin membereskan semua benda yang di berikan oleh Reni untuknya. di dalam lemari masih ada dasi biru untukku saat magang 3 bulan yang lalu. kemudian ada kemeja putih bertuliskan Bayu di kantongnya, itu adalah buatan Reni sendiri. semua barang itu Bayu tumpuk di satu kardus.
setelah membereskan semuanya, Bayu berbaring di kasurnya. dilihatnya ponsel yang selalu setia sejak dia masih SMA, iseng-iseng Bayu membuka folder foto, disana banyak sekali kenangan tentang teman-temannya dan juga Reni sewaktu masuk kuliah bersama. ada foto Bayu dan Reni yang berangkulan dengan memakai toga saat lulus SMA. mereka berdua tersenyum dengan bahagia. dan kali ini adalah kebalikannya.
selain itu Reni yang di kamarnya juga sedang menyendiri. yah beginilah dia tidak secerewet dulu, dan sekarang hanya diam kadang menatap ponselnya melihat kalau ada sms atau telepon dari Bayu.
"Kak Reni, ayo makan..." teriak adiknya dari ruang makan. tapi tidak ada jawaban dari Reni, saat ini dia tertidur karena capai mengingat-ingat kejadian waktu itu.

***

Sudah sebulan Bayu dan Reni tidak berhubungan dan bertemu. Saat di kampus, dan kebetulan waktu itu Bayu dan Reni dalam satu gedung dan nggak disangka bakalan ketemu. Oji yang melihat kejadian itu berusaha menggoda Reni yang berjalan bersama Lela.
"Hai ceweeekk..." sapa Oji ganjen.
"Ihh, lo tumben keganjenan kayak begitu." sela Lela yang merasa terganggu dengan sikap Oji tersebut.
"Udah dari dulu ganjennye..." potong Indra saat melihat Oji mau menjawab pertanyaan Lela.
Oji yang hanya sekedar mengenal Reni asli SKSD di depan Reni. Bayu yang melihat itu hanya tersenyum geli. temen kelasnya ini kenapa berubah jadi keganjenan gitu, udah tahu Reni dulu pacar Bayu.
"Ren, nanti istirahat makan bareng gue yuk." ajak Oji dengan senyum-senyum nggak jelas. melihat Reni yang bingung mau ngelakuin apa akhirnya Bayu menggeret teman satu kelasnya itu menjauh dari 2 cewek itu.
"Sorry yah girls..." kata Oji yang terdengar sampai ujung koridor kelas. Bayu yang meenggeret Oji tidak bisa menahan tawanya. saat merasa jauh dari Reni dan Lela akhhirnya tawa Bayu meledak sampai memegangi perut karena sakit. Indra yang melihat Bayu teratwa jadi ikut tertawa juga. akhirnya Bayu bisa tertawa lagi.
Reni yang sedari tadi tidak memperhatikan Oji, ternyata dia melihat Bayu yang tadi ada di depannya. Bayu hanya tersenyum dan selebihnya Bayu hanya melihay Oji yang menjadi ganjen tiba-tiba.
"Ngelamun aja Ren..." tanya Lela yang memang tadi khawatir kalau Reni bertemu Bayu.
Reni yang ketahuan kalau lagi melamun akhirnya sadar dan menggeleng kepada Lela yang menatapnya khawatir. "udah lupain aja Bayu. dia tanpa sebab juga mutusin kamu..." lanjut Lela memberi nasihat pada Reni yang sekarang mulai murung.
sesampainya di rumah Reni mencoba untuk menghubungi Bayu yang sekarang entah dimana. dia ingin mengembalikan semua barang-barang yang diberikan cowok itu selama 3 tahun yang lalu.

To : Ren's Guy
Bay, kamu ada di rumah ? bisa ketemu sebentar nggak ?

ahh, nama kontak masih Ren's Guy. itu nama dari SMA nggak pernah Reni ganti. Reni berharap Bayu masih mau bertemu.

From : Ren's Guy
Oke, kita ketemu di cafee biasanya.

Bayu akhirnya membalas. dia langsung merapikan barang-barang yang siap untuk diberikan ke Reni. itu barang yang mempunyai kenangan untuk mereka berdua.
sesampainya di cafee, Oji sudah memulai kerja part timenya sebagai barista. karena dia memang suka sekali dengan kopi, maka dari itu dia memilih pekerjaan ini.
"Hei Ji..." sapa Bayu yang sudah datang awal di cafee tersebut.
"Oii Bro, mau kopi ?"
"Cappuccino Frappe satu sama Caramel Machiato satu yakk." pesan bayu sambil duduk di depan Oji yang ada di bar. sepuluh menit menunggu akhirnya Reni datang sambul membawa box besar. Bayu memindah tempat duduk di meja untuk 2 orang. terduduklah mantan pasangan itu. Oji yang dari tadi melihat mereka langsung menjadi khawatir dengan keadaan mereka. Indra yang menceritakan soal Bayu dan Reni. mereka pasangan yang paling serasi di SMA dulu dan nggak nyangka Bayu yang dulu punya banyak temen jadi memilih atu cewek yang dipacarinya sampai 3 tahun ini tapi akhirnya putus.
"Ini pesanannya guys..." Oji meletakkan pesanan Bayu tadi. beginilah kalau putus sama pacar yang 3 tahun udah bersama. apa yang disuka, apa yang nggak disuka mereka pasti tahu. Reni memang dari dulu suka Caramel Machiato karena kopinya nggak pahit. kalau Bayu memang suka manis, jadi terkadang dia meminta creamnya lebih banyak.
"Ini buat lo..." mereka berbica berbarengan dengan memberikan box masing-masing.
Oji menggelengkan kepalanya yang melihat sampai mengelus-elus dahinya... "udah kompak begitu kenapa harus putus, ckckck" bisik Oji sambil melayani pelanggan.
"Lo duluan..." Bayu mengalah dan meletakkan box itu di baeah meja.
"Gue balikin semuanya ke lo. karena memang kita udah nggak ada apa-apa. mungkin aja ini bakal lo buang atau lo simpan." Reni menjelaskan semuanya sambil meletakkan box itu di depan Bayu. Reni melihat Bayu dengan wajah yang menyesal. "sebenernya gue nggak mau balikin. tapi kalau kita emang nggak bisa bareng lagi lebih baik gue kasih yang punya."  lagi-lagi Reni menunduk saat Bayu menggerakkan tangannya untuk mengambil. diraihnya box itu tapi ditahan oleh Reni. "lo bisa ngasih gue kesempatan ?" tanya Reni berharap ini semua hanya mimpi. genggaman Reni melemah saat Bayu menggeleng menandakan tidak bisa. kemudian giliran Bayu meletakkan box yang tadi dibawanya dari rumah.
"Ini dari lo semua, tapi sori... sekarang baju ini yang gue pakai nggak bisa gue kasih. sorry..." kata Bayu menahan malu.
"Nggak apa-apa kok gue seneng lo masih mau pakai." kata Reni, sekarang tersungging senyuman tipis darinya.

***

sesampainya di rumah, Bayu merebahkan diri di kasur. kemudian dia mendengarkan lagu dari ponselnya. terdengar lagu A thousand Year punya Christina Perri. Bayu ingat itu adalah lagu kesukaan Reni dari awal-awal muncul film Twilight. biasanya mereka berduet kalau sedang suntuk di rumah. kadang kalau sedang karaoke bersama Indra dan Lela mereka pasti menyanyikan itu. sampai Indra dan Lela terkadang bilang jangan nyanyi itu karena sudah bosan.
bunyi lagu Secondhand Serenade Your Call berbunyi tanda ringtone dari Oji. dengan ogah-ogahan dia mengangkat teleponnya.
"Halo? ada apa Ji ?" tanya Bayu. terdengar di seberang sana suara kendaraan yang ramai dan ada suara ambulance. "Halo Ji ?" kali ini Bayu bangun dari tempat tidurnya.
"Bay, Reni kecelakaan. Taxi yang dia tumpangi nabrak bus pas di perempatan cafee..." jelas Oji yang langsung di tutup Bayu. tanpa basa-basi Bayu langsung menuju ketempat kejadian.


To Be Continued Tried To Walk


Monday, June 2, 2014

That Play Boy

Posted by ceritacurhatku at 6:11 PM 0 comments
Hari ini aku ada di kamar Mia yang segede ruang tamu, ruang makan dan dapurku kalau digabungkan. dia sedang sibuk memilah-milah baju mana yang bagus untuk aku pakai nanti malam.
minggu lalu aku benar-benar terkejut melihat Gilang ada di rumahku. dan setelah itu Gilang akan mengajakku ke pertunjukan sandiwara di GOR dekat kampusku besok sore. aku tahu ini pertama kalinya aku keluar bersama Gilang dan hanya berdua, sampai-sampai Mia meminjamiku baju bagus punyanya. aslinya kalau aku pakai kaos dan jeans juga udah cantik kali ppfft...
"Ihh, ketawa-ketawa sendiri..." kata Mia sambil memilih baju yang ada di lemari besarnya. aku langsung sadar dan melihat kembali ke arah baju-baju yang tergantung di sana. dan melihat baju yang sudah tergeletak di kasur Mia karena menurut dia pantas buat aku.
"Banyak banget pilihannya Mii ? aku pinjam yang ini saja..." baju terusan selutut dengan kerut-kerut di bagian pinggangnya, biar terlihat langsing hhehe.
"Pinter banget kalau milih. itu baju yang kemarin aku pakai buat nemuin Nerve pertama kali." kata Mia sambil merebut baju itu dariku.
"Yaelaah, lagian Nerve kan gak ikut aku sama Gilang." aku kembali mengambil baju itu lagi. "Dia nggak tahu kalau aku pakai itu.." dan aku pasang ke badanku apakah cocok atau tidak. ternyata aku langsing yess !!
"Iya deh pakai aja, lagian pantes kok kalau dipakai sama kamu." kata Mia di belakangku yang ikut terpantul cermin di depanku.
besok sorenya aku sudah bersiap-siap rapi dengan wedgesku yang sudah terpasang dikakiku. aku menunggu Gilang datang di ruang tamu aku melihat lagi penampilanku. dress warna khaki yang selutut dengan wedges warna abu-abu.
tidak lama mobil Jazz datang di depan rumah. kemudian turun seorang cowok dengan kaos polo warna merah dengan jeans warna biru tua. ahh, harusnya aku juga berpakaian seperti itu. tapi Mia ngomel kalau aku harus mengeluarkan sisi femininku. ckckck
di perjalanan kami banyak diamnya, karena aku yang sangat gugup keluar bersama Gilang yang sudah aku sukai dari SMA dan Gilang yang keren.
"Tumben cantik..." kata Gilang membuka suara.
"Sialan... aku dari dulu memang cantik..." balasku dengan salting. aku lihat Gilang tertawa geli mendengar jawabanku sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
sesampainya di tempat pertunjukan, banyak orang yang sudah mengantre untuk masuk dan begitu ramainya sampai aku hampir terseret arus orang yang masuk. dengan cepat Gilang menraikku dari kumoulan manusia itu. aku merasakan tangan Gilang yang besar menggandeng tanganku yang mengapung diantara orang-orang tadi. aku benar-benar tidak sadar dan melihat sendiri tanganku yang sedang digenggamnya. ahh lumeeer...
masuk ruangan, aku merasakan kalau masih digenggam oleh Gilang. sampai pertunjukan mulai hingga selesai masih digenggamnya tanganku. aku ini mimpi atau bagaimana ??
saat keluar ruangan aku mencoba melepaskan tangannya tapi pada saat itu orang berhamburan keluar dan aku terseret oleh arus. aku menunggu di seberang sana sampi tidak melihat adanya Gilang. kemana dia...
kemudian terasa tanganku tertarik sampai aku hampir terjatuh dan ditangkapnya pundakku oleh Gilang yang sudah ada di sebelahku.
sesampainya di parkiran, aku melihat seorang cewek yang bergandengan dengan laki-laki dan tertawa bahagia. aku memicingkan mata kulihat cewek itu dan mengingat-ingat sepertinya aku mengenalnya.
"Lena ?" tanyaku saat cewek itu melintas di depanku.
"Ohh ??" dia menoleh tapi tidak berjalan ke arahku, melainkan Gilang yang sedang membuka pintu mobil. "Gilaaaang..." dia menghambur ke pelukan Gilang. apa-apaan ini ?? aku terdiam di depan mobil dengan pandangan masih terpaku di mereka. aku melihat Gilang melepaskan pelukan cewek itu dengan paksa.
kemudian Lena melihatku yang masih terbengong melihat adegan itu.
"Sorry, gue nggak lihat ada lo." kata dia dengan muka yang masih takjub dengan Gilang. dia tetap di samping Gilang padahal ada cowoknya yang sedang menunggu di seberang sana. gila nih cewek...
"Gue seneng banget bisa liat lo disini." lanjut Lena sambil menyenderkan kepalanya di bahu Gilang. ihh ganjen banget sih. rasanya aku ingin melepaskan kepala yang menempel di pundak Gilangitu. malam ini kan Gilang punyaku.
"Lo, udah punya pacar baru kenapa masih nempel-nempel ke gue sih." kata Gilang sambil mendorong kepala Lena yang menyandar. Ok Nice !
Lena masih tetap menempel pada Gilang, nggak lama Gilang menerobos Lena dan menarikku masuk ke mobil. Lena yang bengong melihat tingkat Gilang langsung menepikan dirinya. dan terlihat seseorang yang menunggu Lena di seberang sana dengan muka yang menyimpan amarah.
"Sorry..." kata Gilang membuka suara. aku menggeleng cepat kemudian mengatakan kalau tidak apa-apa. ahh biarlah yang penting Gilang nggak sama Lena lagi.
Gilang tidak mengajakku pulang, tapi mengajakku pergi kesebuah taman yang di tengahnya ada danau dan gasebo disetiap pinggirnya. romantis sekali suasananya, bulan yang bersinar terang lampu jalan yang menyala yang memantulkan cahaya ke danau. kita duduk digasibu dan melihat danau yang tenang malam ini. entah apa yang Gilang pikirkan saat ini setelah bertemu Lena tadi.
"Kamu tahu kenapa aku putusin dia ?" tanya Gilang tiba-tiba. aku langsung menoleh ke arahnya dengan muka bingung. aku menggeleng tidak tahu harus bereaksi apa, kenapa harus ngobrolin Lena sih. "dia yang ninggalin aku dulu."
"Jadi aslinya masih sayang ?" tanyaku harap-harap cemas. dia mengangguk dan aku tidak tahan untuk melihat ekspresinya sekarang. mata yang dingin, menatap ke danau. seakan danau itu bisa menjadi es karenanya. aku mengalihkan penglihatanku ke arah wedgesku yang ada di bawah. "terus kamu sekarang maksutnya apa ngajak aku keluar."
"Nggak ada maksud apa-apa. kangen aja main sama kamu." glekk... sialan kenapa harus seperti ini. kenapa jawabanmu seperti itu. terus hadiahmu untukku yang waktu itu tanda apa ?
aku terdiam dan meminta Gilang mengantarkanku pulang. sudahlah jangan berharap ternyata dia masih sayang Lena.


 

Freedom... Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review