Saturday, May 31, 2014

Not A Play Boy

Posted by ceritacurhatku at 8:15 AM 2 comments
Satu semester ini aku tidak pernah terganggu oleh Gilang yang biasanya selalu berada di dekatku. entah kenapa aku merasa ada yang hilang, aku merasa sendirian meskipun ada Mia yang selalu bersamaku. dan saat ini Mia sedang dilanda kebingungan. pacarnya yang di Belanda minggu depan akan datang ke Indonesia, dia ingin melihat Mia secara langsung. karena dari kenal dulu mereka hanya berbincang lewat video call, bukannya wajah Mia udah kelihatan yah pikirku bingung.
"What should I do Sa..." tanya dia bingung.
saat ini aku ada di kamar Mia yang sekarang sedang bingung ingin merencanakan tentang sambutan untuk pacarmya yang datang ke Indonesia.
"Nggak usah bingung keleus... kamu kan banyak baju yang cantik-cantik." kataku sambil membuka lemari Mia yang gede dan berisi banyak baju dan aksesorisnya. semuanya made in Belanda sampai ada sepatu kayu yang canti hadiah dari pacarnya asli juga made in Belanda.
"Semua itu nggak ada yang bagus tau..." kata dia sedikit berteriak dan menutup lemari yang aku buka. nih anak apa-apaan sih. bukannya bajunya banyak banget, kalau aku jadi Mia bakal bingung milih yang mana dan nggak repot buat beli lagi.
"Kamu tuh nggak bersyukur deh Mii, ini bagus..." aku keluarkan bajunya yang menurutku masih pantas untuk dipakai. "ini juga bagus..." sekarang aku keluarkan baju terusan panjang  sampai mata kaki dan tidak berlengan tapi cantik banget gaunnya. "kenapa sih, ini kan baju semuanya bisa kamu pakai..." kataku sewot sambil menyentil dahi Mia sampai kesakitan.
"Sakit tauuuu..." dibalasnya dengan gelitikan kecil di perutku. Mia memang tahu tempat sensitifku. aku tertawa sambil teriak karena geli. terdengar bunyi ponselku yang tergeletak di kasur Mia. dia sambil mengembalikan baju-baju yang aku keluarkan, dan aku yang sibuk melihat layar ponselku tiba-tiba tersentak melihat sms dari Gilang.

From : Gilang
Aku mau ngelanjutin kuliah ke Australia... sori baru ngasih tahu, besok bisa temenin aku ke bandara.

jantungku seakan berhenti melihat pesan dari Gilang. kenapa baru kasih tahu sih...
"Kenapa ?" Mia mendatangiku dan melihat ke arah layar ponselku. "Gilaaa, dia mau ke Australi ? nggak nyangka..." kata Mia sambil kembali ke depan lemari dan melanjutkan yang tadi. "emang sih, dia hebat banget bahasa Inggrisnya, nggak kaget kalau dia ke Austra... Hei Sa..." Mia kaget dan langsung kembali berjalan ke arahku, kali ini langkahnya cepat dan langsung merangkulku. "Sasha, kamu kenapa ? Sa..." aku mendengar suara Mia, tapi aku tidak bisa menghentikan air mata yang keluar. kenapa harus nangiiis... saat ini Mia memelukku dan mengelus punggungku agar aku tenang.
besoknya aku tidak berani datang, pasti Lena datang untuk mengantar. dan aku hanya dianggap temannya jadi buat apa aku mengantarnya. aku tidak bisa memeluknya hanya bisa berjabat tangan. aku mengurung diri di kamar sampai Kiki marah-marah karena sarapan yang tadi dimasaknya tidak aku sentuh.
sebenarnya aku ini bodoh atau bagaimana sih. harusnya paling tidak aku bisa mengucapkan sampai bertemu kembali. aku menyambar ponsel yang daritadi aku pegang.

To : Gilang
I'm so sorry, I can not take you away. Be careful, dont sick at your home, you must eat with health dish, dont cut your class. ahh I feel like your mother, always concerned about you.
meet you again Gilang... I Love You, ever and forever...

langsung aku kirimkan pesan itu tanpa melihat apa yang aku tulis. kemudian aku sadar kalimat terakhir itu, harusnya aku tidak menulisnya. aku ingin mereka bahagia. lagi-lagi aku meringkuk di kasurku dengan ponsel yang masih aku pegang. aku menangis sejadinya, menyesal dengan perbuatan bodohku.

***

4 tahun kemudian...
"Sashaaa..." teriak Mia dan pacarnya Narve menuju ke tempat aku duduk.
Mia akhirnya bertunangan dengan Narve tahun lalu. dia menunggu lulus kuliah kemudian langsung menikah. ahh enaknya yang punya pacar. aku selama 4 tahun ini putus sambung dengan beberapa cowok, nggak banyak kok cuman 2, asli deh nggak bohong hhehe...
"Darimana kamu ?" tanyaku ke Mia dan kemudian tersenyum ke arah Narve.
"Just for lunch Sa..." jawab Narve sambil menepikan Mia dari panasnya siang ini.
"Are you going to stay in Indonesia Narve?" tanyaku kepada Narve yang sedang mengusap keringat tunangannya itu.
"He must live here with me" kata Mia merajuk di rangkulan Narve. dasar mereka hanya membuatku iri saja. aku mengalihkan pandanganku ke arah buku yang aku baca.
"Baca apa Sa ?" tanya Narve dengan bahasa Indonesia yang masih kacau pronounce-nya.
aku memperlihatkan buku tentang Asutralia kepada mereka. langsung mereka berdua kaget dan menatapku dengan serius. Mia langsung mengubah pandanganya dengan mata yang kasihan kepadaku.
"Masih ingat-ingat Gilang Sa ?" tanya Mia langsung.
aku diam dan hanya melihat ke arah buku itu. mungkin mereka kira aku sedang membaca buku itu dengan serius. padahal pikiranku entah kemana.
iya, aku masih ingat dengan Gilang. apalagi tahun kemarin aku mendapatkan pesan yang sangat mengejutkan. dan itu dari Gilang.

Flash back 1 Tahun lalu...
aku duduk di bangku kelasku. yang kemudian datang semua teman-teman kuliahku. aku mengambil sastra Inggris untuk percabangan jurusan bahasa Inggris yang aku ambil. aku suka dengan sastra Inggris yang membahas tentang Public Relations. waktu kuliah dimulai, ponselku bergetar dan di layar terpampang nama Gilang yang memberi pesan singkat kepadaku. sudah 3 tahun ini aku menunggu pesan atau telepon dari Gilang. dan akhirnya...

From : Gilang
I had broken up with Lena...

Pesan yang benar-benar singkat tapi bisa membuat aku bingung dan panik harus membalas apa pesan Gilang ini.

To : Gilang
I'm sorry to hear that

Begoooo, kenapa aku jadi salting begini. membalas pesan Gilang juga seperti anak SD. I'm Sorry to hear that ?? ...
Oh My God...
benar-benar aku melakukannya tanpa berpikir. yang waktu itu juga begitu, mengirimkan kata-kata I Love you ke seorang teman yang punya pacar. asli bego 100%
sampai pulang ke rumah Gilang tidak membalas pesanku yang bego itu. aku langsung menuju kamar dan menempelkan bantal ke mukaku kemudian teriak sekuat-kuatnya.
"Begoooooooooo..." panjang sampai kehabisan napas.
tok tok tok... terdengan ketukan pintu kamarku.
"Apa Ki ?"
"Ayo makan malam Mbak..." kata adikku yang menghentikan tindakanku yang aslinya nggak pantas diperbuat cewek umur 24 tahun ini.
Kiki yang sekarang sudah kelas 3 SMA sudah berubah menjadi gadis yang manis. pasti banyak cowok yang mengejarnya.
"Oh iya kak, ada paket dari Australi. itu siapa namanya... Mas Gilang." kata Kiki sambil mengambilkan lauk kesukaanku dan meletakkannya di piring. saat mendengarkan perkataan Kiki barusan aku hampir saja tersedak. aku ambil segelas air putih dan meminumnya sampai habis.
"Mana paketnya ?" tanyaku cepat. Kiki menunjukkan ke arah ruang tamu, dengan jalan cepat aku membuka paketan itu. ternyata ada sarung tangan yang manis disana, tertuliskan nama Sasha. aku melihat ada sebuah kartu ucapan.

sorry, selama ini nggak pernah hubungin kamu lagi. sudah 3 tahun sejak kita berpisah. ohh iya paket ini nyampainya kapan ya? kalau sudah sampai bisa kamu hubugin aku di nomor ini.
sorry juga waktu itu aku nggak bales smsmu karena...
ahh sudahlah, pasti kamu sudah bahagia dengan cowok idamanmu disana.
tapi hal ini nggak berubah, meskipun itu sudah lama atau baru bersemi saat ini.
-Gilang-

aku tersenyum bahagia. nggak menyangka air mataku menetes lagi. aku lihat lagi tulisan tangannya dan kubaca sekali lagi. aku nggak bosan-bosan melihat tulisan Gilang yang seperti ceker ayam. tapi sekarang berbeda, tulisannya rapi dan indah. apa dia seperti itu sekarang.
"Mbak ngapain ?" tanya Kiki dari arah dapur dan mengintip apa yang aku lakukan. cepat-cepat aku menghapus air mata dengan kedua punggung telapak tanganku. aku menggeleng kemudian kembali ke meja makan sambil membawa bingkisan dari Gilang.

Saat ini ...
"Mbak, ada Mas-mas ganteng datang ke rumah." kata Kiki sambil membuka pintu kamarku dengan terburu-buru. mukanya terlihat senang karena melihat cowok cakep. ya ampuun adikku ini...
siapa yang malam-malam begini datang ke rumah. apa si Leo yang minta balikan terus itu? ahh, nggak...nggak mungkin Kiki setakjub itu melihat wajah ganteng, dia pasti mengenali kalau itu Leo.
saat aku turun ke bawah. aku mematung di tangga dan melihat ke arah ruang tamu yang kedatangan seorang cowok dengan kaos polo dan jeansnya dengan posisi duduk menunduk melihat kakinya dan sesekali melihat luar rumah. aku langsung tahu siapa yang ada di hadapanku. setelah dia tahu kedatanganku. dia menoleh ke arahku dan tersenyum. senyum yang aku rindukan dan gaya pakaian yang sering aku anggap keren.
itu Gilang... iya itu Gilang, aku mengusap mataku dan melihat ke arahnya lagi. iya itu cowok yang aku tinggalkan dan berbalik meninggalkanku ke luar benua. aku jalan perlahan menuju ke Gilang dan aku melihat lebih jelas senyumnya yang indah.
"Ini bukan mimpi kok Sa..." kata dia membuka pembicaraan dan membuyarkan semua takjubku. "Gimana kabarnya ?" tanya dia sambil melihat keadaanku. sambil duduk aku tidak melepaskan pandangan ke arah Gilang yang sekarang ada di depanku. "jangan bengong dong. ngomong sesuatu kek..." katanya sambil melambaikan tangannya tepat di depan mukaku.
kemudian aku sadar dan kembali terkaget. "Kok kamu bisa ada di sini ? bukannya di Australi ?" lagi-lagi pertanyaan bego muncul dari mulutku. Gilang tertawa geli melihat tingkahku.
"Pengen ketemu kamu aja." jawab dia dengan senyum yang sama.
"Habis ini kamu balik ke Australi ?" tanyaku bego.
Gilang menggeleng dengan tawa yang makin keras. mendengar semua pertanyaan yang dia anggap lucu.
"Aku sudah selesai. jadi aku balik ke Indonesia."
aku mmengedipkan kedua mataku dan kemudian tersenenyum lebar... lebaaar sekali sampai-sampai Kiki yang ada di dapur yang mengintip kita berdua terbengong melihat tingkahku yang ternyata begonya minta ampun.

Play Boy (?)

Posted by ceritacurhatku at 6:07 AM 2 comments
"Hei Sa... mau bareng ?" tanya seorang cowok di sampingku dan memberhentikan motor satrianya.
aku melihat cowok tinggi, dengan muka tertutup helm full facenya. saat diangkat kaca helmnya hanya terlihat matanya dan terkstur hidungnya yang mancung.
"Nggak Lang, aku bareng Mia aja naik bus." kataku sambil menggandeng teman yang berjalan di sampingku.
"Beneran ? rumah kita kan searah..." kata dia lagi sambil sesekali mengegas motornya. aku menggeleng lagi ke arahnya. aku nggak mau terlibat lagi dengan dia yang sudah punya pacar.
cowok itu bernama Gilang, temanku SMA dan sekarang satu kelas. dulu kita berteman baik sampai pada akhirnya dia punya pacar namanya Lena, cewek itu kakak kelasku. Gilang dan aku di kelas 2 dan lena di kelas 3. aku akui memang dia lebih modis daripada aku yang biasa-biasa saja dengan satu teman yang aku akrab dari kecil, dia Mia. cewek keturunan Belanda yang cantiknya minta ampun dia sudah punya pacar tapi lebih sering keluar bersamaku karena memang cowoknya asli orang Belanda yang dijodohkan oleh neneknya, ternyata masih ada Siti Nurbaya yah. untung aja Mianya mau.
ahh, balik ke Gilang...
kenapa aku menghindarinya ? bukan... bukannya takut sama Lena. tapi aku lebih baik menghindar biar mereka bahagia. tapi tetap saja Gilang sering bersamaku sampai-sampai kena labrak Lena. aiih eskipun aku nggak ngegubris dia tapi tetap aja di mata temen-temen serasa aku ini pengambil cowok orang.
"Kamu ngelamunin apa ?" tanya Mia yang ternyata sedari tadi melihatku yang menatap jalan lurus-lurus. aku menggeleng lalu tersenyum, sesampainya di halte aku menaiki bus yang lewat dan searah dengan rumahku.
"Masih berharap kalau Gilang dekat sama kamu ? nggak takut sama Lena." tanya Mia membuyarkan lamunanku.
"Nope,I just thought, why is he still chasing me" kataku tetap dengan tatapan yang nggak bisa dibaca Mia. "Sudah tahu punya Lena masih aja ngejar-ngejar."
ditepuknya pundakku oleh Mia yang membuatku menoleh ke arahnya.
"Sudah nggak usah di jabanin cowok macam Gilang tuh..."
aku mencoba untuk menjauh dari Gilang, tapi tetap saja dia menawarkanku makan bareng, pulang bareng. oh my.. harus gimana aku ngadeppin dia tuh.
sesampainya di rumah aku masuk ke kamar dan membuka laptop untuk mengupdate blogku. terdengar ketukan dari arah pintu kamarku.
"Mbak, ada temennya..."
"Siapa Ki ?" tanyaku pada Kiki yang ada di depan pintu. aku buka pintu kamarku dan melihat di ruang tamu ada Gilang sudah duduk anteng. apa-apaan ini.
aku melihat dia sudah ganti baju dengan kaos polo hijau dan celana jeans abu-abu. kenapa dia sudah ada di rumahku. ada apa dengan ekspresinya yang tersenyum itu.
"Ada apa Lang ?" tanyaku dengan ogah-ogahan dan duduk di sofa berjauhan dari Gilang.
"Nggak, mau tanya aja. kok beberapa bulan ini kamu jauhin aku ?" tanya Gilang dengan memainkan tangannya seperti kebiasaannya kalau dia sedang penasaran.
aku menghela napas dan melihat ke arah Gilang yang sekarang sudah menatapku. "Ngobrol di luar aja yuk.." pintanya dengan mata yang penuh harap dan masih dengan rasa penasarannya.
aku mengiyakan kemudian masuk ke kamar untuk mengambil kardigan dan berganti dengan celana jeans. aku bergegas menaiki motor yang sudah dinyalakan mesinnya oleh Gilang. tidak lama dia memberhentikan motornya di depan taman kompleks. dia menuntunku duduk di bangku dekat pohon yang rindang. dulu kita sering mengobrol dan bercanda di sini.
"Mau ngomong apa ? aku sibuk mau update blogku." kataku tidak menatap Gilang yang menatapku dengan mata meminta jawaban. "Apa ?" karena risih aku melihat ke arah Gilang dengan sebal.
"Kan aku tadi udah tanya, kamu kenapa ? sepertinya kamu menjauhiku."
"Nggak kok... biasa aja." kataku sambil mengalihkan pandanganku di sandalku.
"Bohoooong...." kata dia sambil menyenggol pelan bahuku. ahh seperti waktu itu, dia selalu menggodaku dengan candaan dan senggolan seperti ini...
"Lang, kamu kan tahu aku dilabrak sama Lena gara-gara kamu deket sama aku. jadi please tahu diri... kalau kamu sudah punya cewek..." jelasku masih sambil melihat ke arah sandalku.
"Nggak usah khawatir, kamu sudah aku anggap saudara sendiri. kita kan teman baik wajar dong kalau kita akrab." balas Gilang dengan senyuman. ahh sial, lagi-lagi kata "TEMAN" itu muncul. kali ini aku melihatnya dengan tatapan yang memohon. aku nggak mau ngerusak hubungan orang, apalagi kamu yang aku sayang sejak tahun terakhir. kataku dalam hati. aku menahan agar mataku tidak berkaca-kaca karena memohon ke Gilang untuk menjauhinya.
"Kita nggak usah sedeket sebelum kamu jadian sama Lena, aku juga menjaga perasaan Lena dan perasaanku Lang." kataku dengan sedikit serak. "antarin aku pulang..." pintaku sambil melangkah maju meninggalkan Gilang yang masih bingung dengan tindakanku. akhirnya Gilang mengantarkanku pulang dan tidak mengatakan apa-apa kemudian dia melajukan motornya pergi dari rumahku. ahh... apa yang sudah kuperbuat...
keesokan harinya di sekolah. perkataanku ternyata jadi nyata. Gilang hanya melewatiku dengan senyuman setelah itu dia melewatiku dan menuju ke kelas Lena.
"Kok, tumben ?" tanya Mia yang berjalan di belakangku. aku kaget dan menoeh ke arah Mia yang melambaikan tangannya dan berlari ke arahku. aku hanya tersenyum menjawab pertanyaan Mia tadi.
hanya memanggil seperti itu. tidak ada rangkulan, tidak ada candaan dan tidak ada tawa seperti biasa. itu memang keinginanku, aku harus menerimanya. mungkin saja mereka akan jadi pasangan yang paling cocok di sekolah ini. Gilang yang cakep dan Lena yang cantik tinggi bak model. kalau dia sama aku, aahhh jadi apa dia nanti bisa-bisa diolok-olok seluruh sekolah. imajinasiku kenapa jadi ngawur begini.

Monday, May 26, 2014

바보 소녀 Stupid Girl

Posted by ceritacurhatku at 3:06 AM 4 comments
ditahun ketiga semenjak masuk SMA kita semakin menjauh. beda kelas, dan beda kegiatan membuat kita nggak pernah bersama lagi. mungkin kalau kita kebetulan bertemu di koridor kelas, kita hanya berbicara atau sekedar menyapa. Filia, dia berubah menjadi gadis cantik, tinggi dan badannya yang langsing memperlihatkan kakinya yang cantik. dia menjadi cheersleader di sekolah kami. gue yang berpindah minat sebagai pelukis sudah meninggalkan hobi gue sebagai pemain basket.
"Reza, yuk pulang." kata Melly cewek gue. yang sudah gue pacari selama dua tahun. meskipun gue punya cewek tapi gue nggak melupakan kesan pertama bertemu Filia.

Flashback
gadis cilik berumur 7 tahun, dia berambut panjang dan badan yang berisi. berlari-lari mengelilingi taman dengan membawa anjing kecilnya. gue yang tidak sengaja lewat di sekitar sana hanya terdiam melihat senyuman gadis kecil itu. gue yang sama-sama berumur 7 tahun hanya kagum melihat energi cewek itu bersama anjing peliharaannya. nggak biasa seorang cewek manis seperti dia bermain lari-larian, anak kecil apalagi cewek biasanya suka dengan boneka, rumah-rumahan atau masak-masakan. tapi dia lain.
gue memberanikan diri mendekati gadis kecil itu. aku membelai anjingnya yang kecapaian mengikuti majikannya yang masih berlari-lari. 
"Kamu suka anjing ?" tanya gadis itu dengan mata yang berbinar-binar.
gue menengadahkan kepala melihat dia yang tersenyum. entah apa yang gue rasakan, seperti sinetron yang nyokap gue lihat efek angin datang ketika gadis cilik itu tersenyum memandang ke arah gue. gue lupa apa yang terjadi setelah gadis itu memberikan senyuman paling manis buat gue, pokoknya gue langsung akrab dengannya dan bermain dengan anjingnya.

iya dia Filia yang gue kenal 11 tahun yang lalu.
"Mau pulang Za ?" tanya seseorang dari belakang gue dan Melly. gue menoleh ke arah suara yang manggil gue, ternyata Filia datang ke arahku dengan badan dan muka yang berkeringat. pasti selesai latihan cheers. gue mengangguk lalu tersenyum. "Eh, ada Melly juga, ati-ati yah." lanjut dia yang berdiri di sebelah Melly kemudian meninggalkan kita.
setelah gue ngantar Melly pulang, motor gue melaju ke arah rumah. sebelum sampai rumah, gue ngelewatin taman yang waktu itu gue sama Filia bertemu. samar-samar gue lihat dari pinggir taman ada seorang cewek yang berayun di ayunan di tengah taman. gue tahu itu siapa.
"Fil, lo nggak pulang ?" tanya gue yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Lagi suntuk di rumah, tadi gue udah sampai di rumah. tapi... ahh males ceritanya."
"Kenapa ? Ada apa ?" tanya gue penasaran, soalnya ekspresi Filia udah nggak seceria biasanya.
"Gue, sebenernya udah mau curhat. tapi gue nggak tahu mau cerita ke siapa, lo sibuk kakak gue juga nggak mau ikut campur dan milih buat keluar dari rumah. jadi gue pendam sendiri."
gue lihat wajah Filia yang menunduk lesu. gue juga lihat matanya yang mulai berkaca-kaca. refleks gue menunduk ke depan Filia yang sedang menunduk sedih. gue angkat wajah Filia pelan-pelan...
"Cerita ke gue..." kata gue langsung. wajah Filia masih sedih, tapi dia berani menceritakan semuanya. dia cuma bingung mau menyalurkan kesedihannya dengan bercerita kesiapa. ternyata Ayah dan Ibu Filia sudah tidak harmonis semenjak 6 bulan yang lalu. gue sebagai temen seperti nggak berguna, gue yang mengira Filia sibuk dengan kegiatannya ternyata menyimpan beban karena keluarganya. Bang Nino juga sudah bosan dengan orang tua mereka sampai memilih untuk keluar dari rumah. jadi hanya Filia yang bertahan dengan pertengkaran ayah dan ibunya.
"Gue udah kasih tahu mereka biar nggak berantem setiap hari, nyokap gue selalu tidur bareng gue dan pisah dari ayah gue. gue bingung harus gimana ngadepin mereka." gue melihat mata Filia sudah nggak kuat menahan air mata yang sejak tadi di bendungnya. akhirnya pertahanan Filia gagal dan dia menangis sejadi-jadinya. "Sekarang bokap udah nggak ada di rumah, udah ninggalin nyokap dan juga anak-anaknya. bokap macam apa itu.."  protes Filia yang mencoba menghapus air matanya. gue memeluk dia agar air matanya berhenti, tapi tangisnya makin menjadi.
"Udah Fil, nggak usah nangis... lo harus siap ngehibur nyokap lo yang sedang terpuruk juga. nggak cuma lo yang sedih dan marah, nyokap lo pasti lebih sedih daripada lo." hibur gue dengan mengusap sayang kepala teman gue yang sudah 11 tahun gue sayang.

Flashback
"Za, lo harus bantuin gue dapetin Ozi."
kata cewek itu dengan seragam SMPnya dengan kaos kakinya yang selutut seperti orang mau main futsal.
gue yang ogah-ogahan ngebantu Filia yang lagi jatuh cinta atau tepatnya lagi mengalami cinta monyet merengek minta untuk membantu dia. gue bingung harus bantuin gimana, yang satu kelas kan dia gue beda kelas mau bantu kayak apa.
"Lo kan yang harusnya akrab sama dia Fil, kenapa harus gue yang bilang." 
"Lo kan cowok Za, pastinya bisa langsung akrab."
"Lo yang udah kenal, Lo yang udah 2 tahun 1 kelas sama dia. kan udah gampang deketin dia."
Filia melengos dan pergi ninggalin gue yang melongo. bingung yang salah ini siapa, kenapa dia yang ngambek.
setelah 2 bulan semenjak Filia minta bantuan gue, akhirnya dengan hebohnya dia bercerita kalau tadi siang dia ditembak Ozi. dan benar-benar gue terlupakan dan digantikan Ozi setiap kali dia pergi.

"Aku nggak mau kemana-mana, aku nggak bisa milih satu diantara kalian." teriak Filia yang gue dengar dari depan rumah dia. nggak sengaja gue lewat depan rumah Filia sampai gue kaget gara-gara Filia melompat dari pintu rumahnya dan menuju ke arah gue. untung aja gue masih bisa seimbang nopang badan Filia yang tiba-tiba nabrak gue.
"Lo kenapa Fil..." kata gue sambil berlari mengikuti arah Filia yang saat ini sedang narik gue. dasar ni cewek seenaknya aja narik-narik orang, untung aja yang ditabrak gue. kalau orang lain gimana. ckckck
sesampainya di dalam rumah Filia membuka pintu dan terkejut kalau Melly ada di dalam rumah. FIlia yang masih menangis pergi ke arah belakang rumah dan ketemu nyokap gue yang lagi beresin tanamannya.
"Kamu kenapa Fil ?" tanya nyokap gue yang kaget karena Filia tiba-tiba datang dan meluk nyokap gue. gue yang ngelihat dari dalam rumah ikut kebingungan. Melly yang tadi anteng baca majalah di ruang tamu jadi ikut melihat Filia yang lagi histeris.
"Mel, aku antar pulang yah. suasana lagi nggak enak nih." kata gue sambil menggandeng tangan Melly. untungnya dia tanggap dengan apa yang terjadi.
gue nggak tahu apa yang diceritakan Filia ke nyokap gue. sampai-sampai gue pulang, gue ngelihat nyokap meluk Filia erat sambil mengelus-elus rambut panjangnya.
"Sudah... nggak apa-apa sayang, jangan nangis lagi ahh nanti jelek." hibur nyokap ke Filia dengan cara menghentikan tangisan anak kecil, ckckck nyokap gara-gara nggak punya anak cewek jadi begini manjain Filia terus. "Reza dulu juga begitu kok sewaktu ditinggal ayahnya." jelas nyokap yang nggak tahu kalau gue udah di depan pintu rumah.

Flashback
gue duduk di depan rumah mendengar bokap nyokap berantem. mereka perang dingin sampai terdengar suara tamparan.
gue langsung masuk rumah dan melihat tajam ke depan wajah bokap gue. saat itu gue ingat masih SMP kelas 1. gue melihat bokap nampar nyokap hampir setiap hari. apalagi saat bokap bangkrut dan menyalahkan semuanya ke nyokap. nyokap yang masih bersabar ngadepin bokap dengan pasrah menerima semua perlakuan bokap gue.
setelah insiden itu gue keluar dari rumah, gue berjalan ke taman dan duduk di depan taman. nggak lama Filia dengan anjing kesayangannya datang dengan ceria. dia bertanya ke gue apa yang udah terjadi. gue bercerita semua yang nyokap alami, gue nggak menangis gue merasa udah gedhe jadi nangis itu dilarang. nggak disangka Filia nangis sambil meluk gue. dan baru hari itu semenjak gue berjanji nggak akan nangis lagi, gue melepaskan semua emosi gue ke pundak Filia yang juga ikut menangis.

pagi jam 7 pagi, gue menunggu FIlia di depan rumahnya. gue udah mempersiapkan semuanya untuk perjalanan kita. seminggu yang lalu, setelah lama curhat ke nyokap gue dan berpikir jalan keluar untuk keluarganya, Filia gue ajak jalan-jalan ke Bandung demi merefresh otak dan emosi Filia yang masih labil. gue mengajak Filia menaiki kereta jurusan Jakarta - Bandung. karena seminggu ini libur jadinya kita punya waktu untuk bersantai dan jalan-jalan
"Wah, bagusnya pemandangan Lembang..." kata Filia takjub.
kita menuju ke Lembang menggunakan mobil sewaan, jadi tadi sewaktu di kota Bandung kami menyewa mobil untuk 3 hari. alhasil sampailah kita ke kebun teh dengan hawa yang sangat dingin.
"Eh, Melly nggak cemburu nih, lo ngajak gue pergi sampai ke lembang begini ?" tanya dia dengan wajah khawatir.
"Tenang aja..." kata gue menenangkan Filia yang wajahnya masih suntuk dengan urusannya. padahal Melly marah-marah akibat gue ngurus masalah Filia. yang katanya gue nggak perhatian, malah perhatian sama cewek lain. padahal awal kita jadian dia udah gue wanti-wanti biar nggak jalous ke Filia. tapi tetap saja dia nggak bisa percaya gue. sebenernya 2 hari ini gue nggak pernah hubungan lagi sama Melly, dia juga nggak ngerti kalau gue ke Lembang sama Filia.
malamnya kita menginap ke penginapan sederhana, kita memesan 2 kamar yang untungnya tidak penuh pengunjung. setelah beristirahat sebentar dan membersihkan diri, kita bertemu lagi di depan penginapan untuk mencari makanan.
"Gue mau yang anget-anget Za." gue mengangguk dan mencari makanan yang disukai Filia. gue mencari tempat yang asik dengan pemandangan malam yang indah.
tanpa bertanya ke Filia gue ngerti makanan dan minuman apa aja yang dia suka. dengan santai duduk dan mengobrol kami menunggu pesanan datang.
"Beneran nggak apa-apa nih Za ?"
"Udah sampai sini, malah tanya begituan, gue udah putus sama Melly."
"Hah? serius Za? kenapa ? gara-gara gue ya?" rentetan pertanyaan Filia yang muncul dari mulutnya, dan dengan kekhawatiran yang berlebih. sampai-sampai dia mau menelepon Melly, Gila ajaa !
"Santai aja dong, udah keputusan akhir Fil..." jelas gue sambil meminum cappuccino hangat kesukaan gue yang barusan datang.
"Sebenernya gue menjauh ke lo karena ada Melly, gue nggak berani deket-deket lagi ke lo takut dikira ada apa-apa..." jelas dia dengan mengaduk-aduk nggak jelas coklat panasnya.
"Jadi gitu, gue nggak masalah kok lo masih deket-deket sama gue."
"Sebenernya gue ngajak lo kesini karena mau ada yang mau gue kasih tau ke lo..." refleks gue berdiri dari tempat duduk gue dan menatap banyak pengunjung yang datang di kedai itu.
"Selamat Malam..." kata gue dengan sedikit berteriak sampai orang disekitar melihat ke arah kita berdua. Filia yang masih mengaduk minumannya sampai melihat ke arahku dengan bingung sesekali dia melihat ke arah orang-orang yang memperhatikan kita.
"Saya Reza Dio Atmaja, dan di sebelah saya Filia Rahmasari adalah teman saya sejak 11 tahun yang lalu." gue melihat dan tersenyum ke arah Filia yang melongo hebat. dia nggak tahu apa yang dilakuin temennya yang berdiri mengungkapkan semuanya. "Teman saya ini sangatlah bodoh, dia tidak mengetahui perasaan saya selama 11 tahun ini. dan sekarang saya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaan saya di depan pengunjung semua." semua orang melihat ke arah kami dan mulai bertepuk tangan, ada yang tidak tertarik, ada yang menyuruh gue untuk cepat-cepat menembak Filia. gue kemudian bersimpuh dengan satu kaki dan memegang tangan Filia. gue lihat Filia bener-bener salting dan nggak ngerti apa yang harus dia lakukan. "Mau nggak jadi pacar gue ?" tanya gue dengan perasaan campur aduk. Filia yang nggak nyangka menangis saat memintanya menjadi pacar akhirnya mengangguk dan tersenyum ke gue. sebenernya gue nggak ada niat untuk nembak Filia hari ini. maksud gue, gue pengen Filia jadi pacar gue tapi nggak dengan cara ini, hari ini pada saat Filia memiliki beban masalah yang banyak. ahh semoga dengan adanya gue, bisa bantu mengurangi beban Filia.
sudah sebulan gue pacaran dengan temen dan sahabat gue dari kecil. Melly yang sudah gue putusin sewaktu kita ke Lembang akhirnya mengerti tentang keputusan gue untuk ngelepasin Melly. awalnya Melly nggak rela dia sudah tahu kalau gue ada rasa ke Filia. Melly emang cewek yang bisa ngerti keadaan.
akhirnya bokap nyokap Filia cerai, dia tidak tinggal dengan orang tuanya tapi dia memilih untuk keluar dari rumah. dia bekerja paruh waktu untuk membayar sewa rumah dan bayar SPP. sedikit-sedikit gue juga ngebantu dia untuk bekerja paruh waktu. meskipun keadaan seperti ini, gue dan Filia tetap menikmati dan bahagia.

Saturday, May 24, 2014

I'm In Love (Part 16)

Posted by ceritacurhatku at 8:36 AM 3 comments
Gue ngelihat sosok Lina yang cantik. nggak kalah saat dia memakai pakaian tarinya. dengan baju terusan bermotif bunga-bunga, Lina terlihat sangat cantik. aku berpamitan ke Ibu Lina dan tidak menunggu lama kita langsung menuju ke studio foto gue, tempat nongkrong gue sejak gue pindah di Yogya.
"Lu cantik banget hari ini, emang mau kemana" canda gue dan melihat Lina dengan ekspresi yang sangat lucu. dia kaget dan melihat kembali pakaian yang dia pakai.
"Nggak salah dresscode kan ?" tanya Lina dengan panik. dikiranya gue mau ngajak lu ke pernikahan temen, pikir gue geli.
sesampainya di studio, gue menyapa temen-temen gue yang sedang sebuk mengadakan rapat bulanan untuk tema photo session besok. Rena Atma akan menjadi model kita besok, dia termasuk model yang potensial di Yogya. mungkin gue bisa mempromosikan Lina buat jadi model.
gue lihat Lina terkagum dengan hasil karya kita di Malioboro. banyak foto yang kita pajang di sepanjang jalan masuk. sesampainya di dalam ruangan gue ngelihat banyak orang sedang sibuk memotret model. dan saat gue lihat siapa yang menjadi model. cewek itu menghampiri kita. dan dengan santainya cewek itu mencium pipi gue dan itu membuat gue jadi salting di depan Lina yang nggak tahu apa-apa. gue tarik Indri yang sudah ngomong asal.
"Lu kok bisa ada disini ?"
"Ya kerjalah, lu nggak tahu kalau gue ke Yogya buat kerja."
"Apa-apan lu bilang dia gadis desalah, sikap lu perbaiki dulu baru ngadepin Lina."
"Jadi namanya Lina..." kata Indri sammbil melihat ke arah Lina yang juga melihat ke arah kita.
dengan sebal gue melihat ke arah Indri yang mengejek tentang Lina. apa-apaan dia ini, udah bukan siapa-siapa gue masih aja berani cipika-cipiki.
"Lain kali, nggak usah nyapa gue ataupun Lina." terang gue ke hadapan Indri yang masih saja cengar-cengir. kemudia dia pergi ke tempat pemotretan lagi. gue yang masih emosi dengan cepat menarik Lina pergi dari Indri. melihat kursi yang kosong di luar studio gue meninggalkan Lina membelikan minuman buat dia. setelah gue balik ke studio, ternyata Indri sudah ada di depan Lina dan entah apa yang mereka bicarakan.
"Ahh, pangerannya sudah datang. nggak usah datang ke gue kalau lu udah bosan dengannya."
apa yang dimaksud dia, bosan? apa yang dimaksud bosan.
"Itu keputusan Elan, dia ke aku atau balik ke kamu." kata Lina yang berdiri di depan Indri.
"Lihat aja nanti." balas Indri, kemudian dia masuk lagi ke studio.
setetelah Indri meninggalkan Lina di depan sana, gue langsung memberikan minuman yang sudah gue bawa. gue mengajaknya duduk lagi. dia bertanya apa gue masih berhubungan dengan Indri. gue langsung menjelaskan semuanya. dan untungnya dia mengerti situasi yang sekarang.
"Lin, mau sama aku ?" tanya gue dengan hati-hati takut kalau dia salah mengira. gue lihat ekspresi dia kaget karena mendengar pertanyaan konyol gue. apa gue harus bilang cuma bercanda atau bilang saja lupakan pertanyaan gue.
"Emm, aku nggak tahu Lan." jawab dia polos. langsung saja dengan melihat wajah lucu Lina yang kebingungan akhirnya gue bilang kalau gue bercanda.
"Sekali lagi gue minta maaf, lagi-lagi berurusan sama Indri."
"Nggak kok, tadi kan kamu nggak bohong lagi. malah sekarang aku udah tahu siapa Indri." jelas dia dengan menyunggingkan senyumnya. "Emm, Lan mau aku ajak ke tempat kesukaanku ?" tanya Lina yang sekarang dengan perasaan tenang. tanpa basa-basi gue langsung mengantarkan Lina ke tempat kesukaan dia. ternyata tempatnya nyaman banget dan itu adalah toko ice cream.
"Masuk Lan, ice creamnya enak lhoh." gue mingikuti langkah Lina masuk ke toko ice cream.
"Lu, mau yang mana ?" tanya gue ke Lina yang udah exited banget dama ice creamnya. dia menunjukkan banana split dan gue langsung memesankan dua ice cream.
"ehh, kok banana split sih ? kan mahal..."
"Tadi kan lu yang milih." gue lihat Lina tambah exited dengan pesanannya.
Ternyata dia belum pernah makan banana split disini. jadi dia menantikan pesanannya datang. dengan nikmat dan ekspresi wajahnya yang menyenangkan dia melahap ice creamnya sambil sesekali mengatakan enak. tiba-tiba penjual ice cream yang tadi melayani kita.
"Rin, enak banget sing iki ..." kata dia dengan melahap ice creamnya lagi.
"Seperti nggak pernah makan ice cream ya Mas." kata cewek berhijab ini ke gue. gue ngelihat dia mirip banget dengan Lina, apa perasaan gue aja ya. gue membalas senyuman ke cewek itu kemudian melihat Lina lagi.
"Kayaknya lu seneng banget makan ice cream." tanpa berhenti memakan sesekali melihatku dan kembali memakannya lagi. cewek berhijab itu memukul kepala Lina pelan dan kembali ke tempat dia melayani pembeli. Dalam waktu setengah jam Lina menghabiskan banan split yang ada di depannya. tambah lucu aja ekspresi dia saat menikmati suapan terakhir.
"Hemm, enaknya... oh iya, cewek tadi itu temanku sejak kecil Lan. Namanya Rina." jelas Lina sambil mengusap sisa ice cream di sudut bibirnya. dilihatnya cewek tadi dan Lina melambaikan tangan ke cewek berhijab itu. gue yang melihat ke arah Rina langsung tersenyum.
setelah mengantarkan Lina pulang gue langsung berpamitan untuk pulang juga. tidak lama handphone gue berbunyi dan ada sms dari Lina.

From : Lina
Makasih buat hari ini. makasih sudah mempertemukan aku dengan Indri :)

ahh, gue harus balas apa kalau dia bilang seperti ini. bukan maksud gue buat nemuin dia dengan Indri...

I'm In Love (Part 15)

Posted by ceritacurhatku at 7:34 AM 3 comments
oke, saat ini sudah 5 pakaian yang sudah aku coba. aku melihat diriku di cermin kamar. entah sudah berapa menit aku mencoba pakaian bagus yang aku punya. ternyata hanya ada jins dan kaos fishion kesukaanku. Ibu sampai mondar-mandir depan kamarku dan melihatku berganti-ganti pakaian.
"Mau kemana to Lin ?" tanya ibu yang mungkin sudah tidak sabar melihatku berganti-ganti pakaian terus.
aku menyengir ke arah Ibuku yang terihat bingung dengan tumpukan baju yang tergeletak di tempat tidurku.
akhirnya setelah 45 menit aku memilih baju, aku memilih terusan selutut vintage dengan motif bunga-bunga kesukaanku dan sepatu flat warna biru.
selesai bersiap-siap, tidak lama Elan datang dengan mobilnya dan berpamitan dengan Ibuku. Elan memakai jins dan kaos polonya. waaah tambah cakep, aku kan jarang melihat dia pakai baju bebas...
di dalam mobil kami bercerita tentang tempat yang nanti kita datangi. waah nggak sabar datang ke studio fotonya Elan. nggak akan sama seperti studio foto biasa.
sesampainya di studio foto aku melihat banyak sekali foto yang terpajang di dinding. ada orang yang sedang makan, membantu pekerja yang sedang mengangkat pohon, anak-anak yang sedang bermain. sepertinya itu di malioboro. ahh Malioboro memang tempat yang indah.
Elan membawaku ke dalam studio yang ternyata ada orang yang sedang pemotretan. cewek itu berjalan e arah kami. dan kemudian mencium pipi Elan. aku terkejut melihat kejadian itu, apa-apaan ini. Ekspresi Elan seperti terganggu dan terlihat sedikit mendorong cewek itu.
"Oh, jadi ini gadis desa pacar baru loe itu." dia menatapku dengan pandangan yang takjub tapi terlihat kebenciannya kepadaku. Elan yang melihat adegan itu langsung menarik cewek itu jauh dariku. aku melihat Elan sangat marah dan terganggu dan cewek itu hanya tersenyum dan sesekali terlihat ekspresi marahnya. arrgh aku tidak tahu siapa cewek itu, kenapa sudah terlihat benci padaku. setelah meninggalkan cewek itu di belakangnya Elan menghampiriku dan mengajakku keluar dari tempat itu.
"Tadi siapa Lan ?" tanyaku heran. "Sepertinya dia nggak suka aku." lanjutku sambil melihat ekspresi Elan yang marah. aku nggak pernah lihat Elan semarah ini.
"Aku beli minum dulu." kata Elan dan meninggalkanku duduk di depan studio. apa yang dipikirkan Elan, siapa cewek itu tadi. semua berkumpul di pikiranku tentang cewek itu, apa dia Indri ? aku ingat dengan foto yang ada di kamera Elan. kemudian terdengar suara heels yang mendekat kepadaku, sesosok cewek jangkung itu mendatangiku dengan senyuman yang menyebalkan.
"Jangan senang dulu gadis cantik..." entah apa maksudnya dia memanggilku seperti itu. dengan wajah yang menatap ke jalanan dan kemudian melihat kearahku dengan tersenyum. "Dia nggak akan terus bersama kamu. dia akan kembali kepadaku..." lanjut dia.
"Nggak usah di dengerin omongan dia Lin." sahut Elan yang membawa minuman ditangannya.
"Ahh, pangerannya sudah datang. nggak usah datang ke gue kalau lu udah bosan dengannya."
apa yang dimaksud dia, bosan? apa yang dimaksud bosan. aku berdiri kemudian menatap cewek itu dengan melangkahkan kakiku mendekatinya.
"Itu keputusan Elan, dia ke aku atau balik ke kamu."
"Lihat aja nanti." balas dia sambil meninggalkan aku dan Elan.
Elan mendatangiku dengan muka yang menyesal. dia memberikan satu minumannya untukku. dan kemudian mengajakku duduk kembali di kursi tadi.
"Sori, udah ngajak lu ke sini." kata dia pertama kali membuka obrolan. aku menggeleng dan meneguk minuman sesekali. "Gue nggak tahu kalau ada Indri disini." benar perkiraanku kalau dia itu Indri.
"Masih dengan dia ?" tanyaku. yang mungkin terasa dingin untuk di dengar. "sori, tadi aku udah salah ngomong. kamu nggak akan sama aku." nggak sadar aku sudah bicara seperti itu. Elan yang mungkin terkejut menatapku lekat.
"Mau sama aku ?" giliran aku yang terkejut dengan pertanyaan Elan. baru pertama kali aku mendengarkan Elan menggunakan kata Aku Kamu, bukan Lu Gue yang biasanya yang dia gunakan untuk bicara padaku. aku sibuk mencerna pertanyaan yang di ucapkan Elan, dia yang sedaritadi menatapku masih tidak melepaskan tatapannya dan membuatku merasa salting. arhgh semoga ini suma bercanda. semoga Elan hanya bercanda.

Thursday, May 22, 2014

4Men

Posted by ceritacurhatku at 8:39 PM 0 comments
"Di, kamu di cari 2 cowok cakep di luar sekolah kemarin." kata seorang teman sekelasku.
"Oh iya ? siapa Dess?"
"Namanya, emm... dis, Yudhis ?" ohh, ternyata tetanggaku menjemputku pulang. tapi sayangnya aku sudah pulang duluan hhaha. "Eh iya, kenalin dong sama namanya Yudhis, dia cakep deh..." lanjut Desi dengan memuji Mas Yudhis.
aku Diah, masih kelas 3 SMP. Aku mempunyai 4 orang cowok yang aku anggap kakakku sendiri. Mas Yudis yang tadi dibicarakan Desi adalah yang paling muda diantara mereka dia kelas 2 SMA dan cowok paling cakep pertama menurutku dia itu putih, cakep, baik, suka bercanda, rajin sholatnya tapi dia nggak rajin menabung. terus ada lagi namanya Mas Agung, sebenarnya ada 2 nama Agung diantara mereka. Agung yang pertama namanya Agung Irdianto, kemudian yang satunya FX Agung Sefri. jadinya satu dipanggil Irdy, satunya Sefri. karena beda bentuk tubuh, Mas Irdy kurus dan Mas Sefri gendut jadi dipanggil saja Keceng dan Gendut hehe. dan satu lagi yang terakhir namanya Ardha Dwi. cowok yang paling bandel, sok keren, dan jangan bilang-bilang yah Mas Ardha ini pernah nembak aku lhoh *gosiiip...
mereka bertiga, maksudku Mas Irdy, Mas Sefri dan Mas Ardha mereka itu sama-sama kelas 3 SMA tapi berbeda sekolah.
2 hari yang lalu sebenarnya ke empat cowok itu mengingkari janjinya ke adik cewek yang paling imut ini *huek... iya, mereka berjanji mengajakku nonton ke bioskop bareng-bareng. tapi ternyata...
"Maaf ya Di..." kata Mas Ardha dengan meletakkan tangannya di depan mukanya. "Maaf ya Bu..." lanjut dia dengan meminta maaf ke Ibuku. hhahaha, mereka sudah kena omel ibuku karena membuatku menunggu.
1 jam aku menunggu di depan gerbang tapi mereka semua tidak menghubungiku dan menemuiku di depan sana.
"Kok, nggak jadi kenapa? Diah sudah nunggu lama lho di depan sampai balik pulang ke rumah." 
begitu kata Ibu sampai membuat mereka berempat sungkan kepada Ibuku dan juga aku. di depan rumah saat mereka berpamitan untuk pulang Mas Yudis tiba-tiba nyeletuk "Iya bu, kemarin temennya Ardha sunatan." aku dan Ibuku mengangguk maklum dan kemudian diam untuk berpikir, seorang cowok udah kelas 3 SMA baru disunat.
"Ahh, alasan aja kamu Mas." teriakku ke Mas Yudis dan Mas Ardha disambut dengan tawaan mereka berempat. dasaar...

***

"Di, nanti pulang ke toko buku yuk. aku mau beli novel yang sudah aku incar." kata Liling yang teman sebangkuku. kerena tidak ada acara apa-apa aku mengiyakan ajakan Liling untuk ke toko buku.
sepulang sekolah aku berjalan ke arah toko buku yang memang jarak dari sekolah tidak begitu jauh. hampir masuk ke toko buku 3 motor meewatiku dengan samar-samar terdengar seseorang memanggilku. aku menoleh ke belakang ternyata Mas Ardha, Mas Sefri, Mas Irdy dan Mas Yudhis menghentikan motornya tepat di depan toko.
"Hee? Kalian ngapain ke sini ?" tanyaku terkejut melihat mereka lengkap ada di depanku.
"Ayo nonton, kan kemarin nggak jadi." kata Mas Sefri dengan mengulurkan helm yang ada dibawanya. aku bingung dan meihat ke arah Liling yang juga ikut berhenti di sebalahku.
"Tapi aku sama...."
"Udah sana nggak apa-apa kok, udah sampai ke tokonya juga aku sendirian nggak masalah kok."
"Tuh, temenmu nggak keberatan kok ya ... emm..." potong Mas Yudis karena dia tidak tahu nama Liling.
"Aku Liling Mas.." kata Liling memperkenalkan diri ke depan 4 cowok itu. aku melihat mereka berempat tersenyum dengan sumringah, ihh dasar cowok kalau lihat yang lebih cantik aja begitu.
"Maaf ya Ling..." kataku sambil mengambil helm yang dipegang Mas Sefri. Liling mengangguk kemudian masuk ke Toko Buku. aku dan keempat lelaki ini langsung menuju ke bioskop dan ternyata mereka sudah beli tiket masuknya. asik ditraktir...
dengan menggunakan seragam SMPku dan mereka yang sudah ganti baju selain Mas Yudis yang masih memakai seragam sekolahnya masuk ke bioskop.
kami waktu itu menonton Thor, film apa itu aku tidak tahu tapi mereka berempat menikmatinya. aku melihat mereka serius menatap layar di depannya. harusnya film kesukaanku dong kalau mereka mengajakku.
selesai menonton, kami bersama pergi makan ke tempat favorit kami.
seperti biasa Mas Irdy dan Mas Ardha memesan Bakso dan Es Kelapa kesukaan mereka. Mas Sefri memesan Mie rebus istimewa dengan es teh manisnya. Mas Yudis dan aku yang mempunyai selera makan yang sama memilih untuk makan roti bakar dengan jus strawberry kesukaan kami disini. tanpa bicara kami langsung melahap pesanan yang datang.
"Gimana ? bagus kan filmnya? aku yang milih lho..." kata Mas Sefri sambil sesekali menyesap es tehnya.
"Harusnya kalau sama aku filmnya yang romantis dong Mas, tadi aja aku nggak tahu itu film apa..." jelasku dengan muka yang cemberut.
"Itu tadi film pahlawan berpalu.. hhahaha" kata Mas Yudis dengan candaan seperti biasa. aku sangat senang bersama mereka apalagi kalau Mas Yudis sudah bercanda, perut kami bisa sakit gara-gara mendengar candaannya harusnya Mas Yudis jadi komedian aja.
"Tadi mau nonton yang romantis Di, tapi kalau sama mereka ya nggak romantis dong." jelas Mas Ardha dengan suara beratnya. langsung saja Mas Irdy, Mas Yudis dan Mas Sefri mengusiliku dan kata-kata "cie"nggak akan berhenti, kalau mereka nggak ganti topik lainnya.
selesai mengobrol-ngobrol dengan mereka sampai mata berair gara-gara candaan Mas Yudis  mereka semua mangantarku pulang dan memastikan kalau aku sampai rumah dengan selamat. setelah aku masuk rumah mereka berempat meninggalkan rumahku dan pulang ke rumah masing-masing.
"Sudah nonton sama mereka ? tadi mereka ke rumah minta ijin ke Ibu kalau mau ngajak kamu pulang sore." jelas Ibu dengan tersenyum. Ibu sudah menganggap mereka anaknya sendiri. jadi mereka percaya-percaya saja sama mereka. pernah sutau hari aku ada janji dengan pacarku yang sekarang sudah jadi mantan *hiks... aku meminta bantuan Mas Sefri untuk mengantarku kesana. karena peraturan ketat untuk anak SMP sepertiku. Ibu mengijinkan pergi karena Mas Sefri yang meminta ijin ke Ibu. hhihi...
beberapa bulan, aku tidak bisa bertemmu dengan mereka, Mas Irdy, Mas Sefri dan Mas Ardha menghadapi ujian, dan aku juga minggu depan sudah UAN. ahh semoga kami berhasil...
acara pesta kelulusan kami dimulai. kami datang ke tempat Mas Sefri yang rumahnya lebih luas daripada rumah kami. di halaman belakang kami memulai acara makan-makannya. Mas Yudis yang terlambat datang ternyata membawa seorang perempuan. Dia bernama Lia, ternyata sudah 2 bulan ini semenjak kita tidak bertemu Mas Yudis menggebet cewek manis ini. untungnya aku tidak sendirian, maksudku ada cewek satu lagi di sini hhaha...
Mas Ardha masuk ke jeurusan teknik, Mas Sefri ke pendidikan IT, Mas Irdy ke DKV, aku masuk ke sekolah yang cukup jauh dari rumah. Mas Yudis mendapatkan pacar baru hhahahah...
pesta barbeque dimulai. aku dan Lia bertugas mengiris-iris semua bahan, Mas Yudis mempersiapkan alat bakarnya, kemudian trio Universitas mempersiapkan alat masaknya dan membantu kami membakar dagingnya.
makan malam ini termasuk yang terakhir buat kita, karena selanjutnya kami tidak pernah bertemu, Mas Ardha yang jarang pulang karena rumah dan kampusnya juga lumayan jauh. Mas Sefri yang tetap pulang juga sibuk dengan organisasi dan magangnya di kampusnya. Mas Irdy yang juga sibuk dengan bisnisnya jarang pulang dan bertemu denganku. Mas Yudis setelah lulus dari SMA dia melanjutkan ke Jogja untuk bekerja. ahh kita akhirnya berpisah.

***

Setelah 7 tahun kita tidak bertemu. kami sudah berubah, dari anak yang cengengesan menjadi seorang yang serius. Mas Irdy sukses dengan bisnisnya dan lulus sarjana, Mas Sefri menjadi dosen di sebuah universitas, dan Mas Yudis yang mendahului Mas Sefri, Mas Irdy dan Mas Ardha untuk menikah dengan perempuan Jogja setelah dia putus dengan Lia yang sudah dipacarinya selama 3 tahun karena LDR yang katanya tidak kuat dia lakukan. dan kami bertemu kembali setelah lama sibuk dengan keadaan masing-masing di pernikahan Mas Ardha dengan guru TK yang cantik dan lemah lembut. dan nggak disangka, mereka itu dijodohkan dan akhirnya menikah. aku baru tahu kalau Mas Ardha setuju di jodohkan padahal dia itu termasuk playboy lhoh. hhahaha...
karena Mas Yudis absen dengan kedatangannya ke pernikahan Mas Ardha, nggak disangka Mas Yudis meneleonku dengan video call. aku meihat dia dan istrinya yang ada disebelahnya tersenyum bahagia memberi selamat ke Mas Ardha yang sudah ada di samping kami semua.
"Woii, Dha... selamat yaah udah nikah, tinggal 2 orang nih yang masih perjaka." ejek Maa Yudis dengan nada candaan. disambut dengan tawaan dan cercaan dari Mas Irdy dan Mas Sefri. kemudian Mas Yudis memperkenalkan Istrinya dan juga bayi mungil yang ada dipangkuannya.
"Wah, nggak ngomong kalau udah punya anak..." kataku sambil tersenyum melihat mereka berdua tersenyum.
"Makanya cepet nyusul, udah lulus kuliah masih jomblo aja..."
""Kurang ajar..." aku hendak memukulu wajah Mas Yudis yang masih tetap konyol.
"Cepet nikah Mas berdua..." tunjuk Mas Yudis ke Mas Irdy dan Mas Sefri.
Mas Irdy yang sudah bertunangan dengan pacarnya yang sudah 2 tahun menjalin hubungan. dan Mas Sefri masih sibuk dengan tugasnya sebagai dosen, dan curhatnya dia bilang kalau dia seperti di untit sama cewek. dia naksir kamu kali Mas, batinku. dan aku yang barusan seminggu yang lalu sudah lulus dan sekarang akan melanjutkan S2 di Bandung. kita semua sudah memiliki tujuan hidup yang pasti.
Untuk Mas Ardha dan Mas Yudis yang sudah mempunyai pasangan selamat yaaah... semoga jadi keluarga sakinah mawadah warohmah. Mas Ardha semoga cepet-cepet dikasih momongan, dan Mas Yudis semoga dikasih anak lagi yang kedua. doaku menyertaimu...
selesai mendatangi acara pernikahan Mas Ardha, kita berempat dan ditambah istri Mas Ardha yang sudah akrab denganku menuju ke rumah Mas Ardha yang ternyata tidak jauh dari rumahku dan rumah Mas Sefri.
"Uwaaah, rumahnya bagus banget mbak ?" kataku sambil masuk ke rumah Mas Ardha dan Istrinya Lena.
"Iya, yang ngerancang Ibunya Mas Ardha." kemudian aku tidak sabar untuk mengelilingi rumahnya. benar-benar luas dan bagus banget. minimalis tapi mewah hhahaha.
di halaman belakang, kami berpesta barbeque lagi seperti dulu tapi bedanya sekarang kami berada di rumah pengantin baru. lama mengobrol aku lupa kalau besok harus sudah ke stasiun kereta untuk menuju ke Bandung tempat baru untukku.
"Mas, aku pamit pulang yah. aku lupa belum packing baju." kataku sambil pergi keluar rumah.
"Ayo, aku bantu..." kata mereka bertiga. Mbak Lena yang tidak tahu kalau kami semua sangat akrab bahkan celana dalam mereka berempat juga aku tahu apa saja warnanya. hhahahah bercanda, nggak sampai segitunya.
semalaman Mas Agung dan Mas Irdy yang masih "perjaka" membantuku memasikkan barang-barangku ke dalam koper. ahh, makasih banget deh buat mereka berdua. Mas Ardha dan Mbak Lena atidak ikut, takutnya kita ganggu mereka bulan madunya hhihi...
ke esokan harinya. aku berangkat ke stasiun diantarkan dengan Ayahku. sesampainya di stasiun aku melihat Mas Irdy dan tunangannya, Mas Ardha dengan istrinya, dan Mas Sefri yang sedirian berdiri di depan dan membantuku membawakan barang bawaanku.
"Hati-hati dijalan yaah..." kata Mas Irdy dengan mengusap kepalaku.
"Kalau ada apa-apa telepon aja yah..." kata Mas Sefri.
"Hati-hati dijalan Di..." kali ini giliran Mas Ardha yang mengusap kepalaku.
"Semoga sukses yah..." ucap mereka bertiga bersamaan. aku terharu mendengarkan pesan mereka satu-persatu. kamudian aku refleks memeluk mereka, karena mereka sudah seperti bagian keluargaku, saudaraku, dan teman yang paling baik dalam hidupku. aku berjalan mundur dan melambaikan tanganku masuk ke dalam stasiun. Aku akan merindukan masa-masa kita bersama Mas Ardha, Mas Sefri, Mas Yudis, Mas Irdy. sukses semuanya :')


Monday, May 19, 2014

Dia Yang Aku Kenal (Part 2)

Posted by ceritacurhatku at 8:13 AM 0 comments
Dia yang aku kenal, tidak bersikap seperti itu. dia tenang, murah senyum dan berbeda dengan Rio yang aku tahu. cowok itu mengantarkan ke kamar Rio yang ada di lantai 2. aku menaiki tangga dan masih bingung dengan jawaban yang aneh.
"Aku Leo, saudara kembarnya Rio..." kata cowok itu dengan ramah dan tersenyum.
aku juga melihat di dinding tangga terdapat 3 foto yang terpasang. gambar 2 orang laki-laki yang kembar identik sampai aku tidak bisa membedakan mana yang arogan dan mana yang lemah lembut. sesampainya di kamar Kak Rio, aku melihat action figure yang terpajang rapi di stiap sudut lemarinya.
"Tunggu saja, sebentar lagi dia pulang kok." kata cowok itu yang meninggalkanku sendirian di kamar saudara kembarnya itu. kak Rio ini kemana sih, yang punya tugas kan dia aku cuma membantu saja.
langkah kaki terdengar menyusuri tangga, dan sesosok Rio yang tampilannya lebih berantakan dari Kak Leo datang.
"Sori, gue telat. habis beli ini..." dia mengangkat plastik yang berisian makanan untuk cemilan. "Buat lu." kata dia dengan lebih tenang dan matanya nggak menunjukkan dia berandalan di sekolah. ahh andaikan sikap Kak Rio seperti ini di sekolah, aku mungkin mengenali dia seperti Kak Leo. "Ketemu Leo ?" tanya Kak Rio tanpa ekspresi, seperti bertemu Kak Leo itu dilarang.
"Mana yang harus dibantu ?" tanyaku mempersingkat waktu, aku nggak boleh menyianyiakan waktu untuk tidak belajar.
"Ini, ini, dan yang buku tebal itu..." tunjuk Kak Rio dengan senyum lega karena ada yang membantu dia. dasaar... banyak banget tugasnya pikirku.
aku berpikir keras untuk menjelaskannya pada Kak Rio. dan yang dijelaskan hanya manggut-manggut entah ngerti atau nggak. "Kalau ada yang nggak ngerti tanya aja kak..." akhirnya aku bilang seperti itu ke Kak Rio. daripada aku jelasin sampai berbusa dia cuma manggut-manggut tapi nggak paham sama saja bohong.
seperti di rumah sebesar ini cuma ada Kak Rio dan Kak Leo.
"Kak, Ayah sama Ibu kakak nggak ada di rumah ?"
"Kenapa ? takut gue apa-apain ?" ahhh mulai lagi pertanyaan yang bikin males. aku tidak menjawab pertanyaan Kak Rio dan lanjut menjelaskan ke buku tebal yang tadi ditunjuk olehnya.
"Mereka keluar negeri, gue cuma sama Leo dan pembantu." tiba-tiba Kak Rio menjelaskan dimana orang tua mereka. giliran aku yang manggut-manggut. "gantian nih ceritanya lu yang manggut-manggut." lanjut dia disambung dengan candaan.
setelah membantu Kak Rio mengerjakan tugasnya, aku langsung pamit pulang. saat turun ke bawah dan melihat Kak Leo yang duduk bersila di sofa dengan menggunakan earphone yang nangkring di telinganya dengan wajah tanpa ekspresi dan tenang. tidak lama Kak Leo dengan posisi seperti itu mengingatkanku dengan cowok halte waktu itu. iya, mirip banget... aku beranikan diri untuk mendekat ke arah Kak Leo dan Kak Rio yang ada di belakangku hanya diam di tempatku sambil melihatku menuju ke sana.
"Emm, Kak..." sapaku dengan tenang. saat Kak Leo bergerak melihatku dia menyunggingkan senyuman yang membuatku tenang.
"Ada apa ? emmm..."
"Oh iya, aku tadi belum memperkenalkan diri. aku Rena... salam kenal Kak." aku menjulurkan tanganku untuk berjabat tangan tanda pertemanan. sedikit lemot Kak Leo merespon tanganku, akhirnya dia menjabat tanganku dengan memanggil namaku..
"Rena ya, ehmm ada apa ?"
"Kakak, sering ke Halte di seberang sana Kak ?" tanyaku dengan sedikit takut, takut kalau aku menyinggung perasaan dia. cowok cakep begini kok nongkrongnya di halte. tapi belum aku mendengarkan alasan Kak Leo, tangan yang ada di belakangku menarikku dengan sedikit kasar. "Aduuuh..." aku mengaduh kesakitan, tapi memang Kak Rio kalau narik sakit banget.
"Nggak usah tanya seperti itu ke Leo." jelas Kak Rio masih sambil melihat lurus ke jalanan. aku malah jari penasaran, ada apa dengan saudara kembar ini.
Ke esokkan paginya, lagi-lagi aku melihat cowok yang duduk di halte dengan mendengarkan musiknya lewat earphone. saat ini aku sudah bisa mengenalinya. itu Kak Leo...
"Kak Leo sedang apa disini ?" seperti biasa dia dengan tenang melihat ke arahku lalu tersenyum.
"Rena ya?" tanya dia memastikan siapakah yang ada di depannya sekarang. aku mengangguk kemudian menemani dia duduk di sampingnya. "Dulu Cindy pernah kecelakan di sini." mendengar perkataan Kak Leo bulu kudukku langsung berdiri. "Dia sahabat kita dari kecil... gara-gara..." lagi, dia tidak meneruskan ceritanya. aku melihat matanya, tatapannya kosong entah dia memikirkan siapa. Cindy, aku baru tahu ada nama itu dikehidupan mereka. ahh beruntungnya Cindy bisa akrab dengan mereka berdua. tidak lama bus yang biasa aku tumpangi datang, aku melihat Kak Leo yang masih menatap dengan tatapan kosong dan meninggalnya menaiki bus yang tadi datang. ekspresinya tidak berubah...
sesampainya di sekolah karena aku penasaran dengan cerita Kak Leo yang terputus tadi, akhirnya aku menuju ke kelas Kak Rio yang ada di lantai dua. aku mencari kelas yang di tempatinya, tapi aku tidak melihat batang hidungnya di sana. karena tidak ketemu akhirnya aku kembali ke kelas. dan pada saat perjalanan ke kelasku, aku bertemu Kak Rio yang berjalan dengan anak buahnya.
"Kak, aku mau tanya..." kataku dengan mata yang penasaran meminta jawaban yang sebenarnya.
"Soal Leo ? gue nggak bisa ceritain ke lu, apalagi di sekolah."
aku sadar kalau seisi sekolah pimpinan sekolahku Rio tidak tahu kalau dia punya saudara kembar yang cool abiss. dengan tangan hampa, aku kembali ke kelas dengan membawa penolakan dari Kak Rio, tapi dasar tukang penasaran aku tetap membrondongi pertanyaan soal Kak Leo.
selesai sekolah aku masuk ke mobil Kak Rio yang ada di parkiran sekolah. semua melihat ke arahku seakan aku ini manusia yang menular. mereka heran kali, kenapa seorang nerd sepertiku bisa jalan dengan Kak Rio siswa terpopuler karena kenakalannya.
di dalam mobil Kak Rio memasang wajah serius, dan pertama kali ini aku melihat wajah seorang Kak Rio yang sedang serius.
"Jadi gini ceritanya..."
dia menjelaskan semua dan membuatku bengong. ternyata begitu kisah Kak Leo yang menyebabkan aku penasaran.
"So, lu bakal bantuin gue lagi kan ngerjain ini..." dia mengeluarkan buku tebal yang ada di tasnya. berasa dia Doraemon yang tasnya bisa memnuculkan apa saja. arrrgh, pantas saja dia tenang dan serius banget sewaktu menceritakan kisah Kak Leo. dasaaaar...

Alasan yang Beralaskan :p

Posted by ceritacurhatku at 12:34 AM 1 comments
Hari ini masuk ke 3 minggu aku dan kawan seperjuangan dari Malang, Dewi sedang melaksanakan PKL di rumah sakit...
tugas berjibun karena step-stepnya banyak...
karena itu dalam 3 bulan ini harus tuntas analisis sistem di rumah sakit itu...
makanya aku nggak bisa lancar nulis di blog ini gara-gara sibuk, sibuk ngerjain sama sibuk nonton anime :p
jadi maaf yaah yang lagi nunggu lanjutan cerpennya
kalau udah nggak sibuk dan ada inspirasi buat cerita yang lebih menarik, aku pasti update blog kok hhehe
maaf yaaah kalau buat kalian menunggu para fansku pfft .... :3

Friday, May 16, 2014

Dia Yang Aku Kenal (Part 1)

Posted by ceritacurhatku at 9:14 AM 0 comments
Aku bertemu dengan cowok yang bisa dibilang perfect. dia manis, baik hati, garis rahangnya yang kuat. aku suka dia. hanya saja aku tidak mengenalinya. setiap aku ke halte bus untuk berangkat ke sekolah, aku pasti bertemu dia sedang memakai earphone dan sepertinya dia melamun dengan wajah cakepnya. kalau nanti ada yang naksir dia bagaimana.
aku naik bus terlebih dahulu, tapi dia masih diam di sana duduk dan mendengarkan lagu, mungkin...
dia anak mana ya, sekolah dimana, rumahnya dimana?
"Kamu ngelihatin siapa Ren ?" tanya temanku yang berdiri di sampingku. dia heran kenapa aku bengong melihat ke arah jalanan. aku terkejut dengan pertanyaan Shella dan aku menjawab dengan gelengan kepala dan senyuman.
sesampainya di sekolah aku tidak sengaja menabrak kakak kelas yang kebetulan lewat bersebrangan denganku.
"Ahh, maaf Kak. nggak sengaja." kataku dengan membantu dia berdiri. dan kulihat dengan bengong kakak kelasku yang berdiri itu, dan bodohnya aku benar-benar terlihat seperti sapi ompong. dia cowok yang tadi ada di halte.
"Pakai mata dong kalau jalan, nggak lihat apa baju gue jadi kotor." bentak kakak kelas itu. aku kaget dengan betakan kakak kelas yang sudah pergi dengan menggerutu tak habis-habisnya. arrgh, tapi benar-benar mirip. apa mereka saudara kembar ? hanya saja pakaian cowok yang di halte itu rapi banget. dan ekspresi wajahnya tenang tidak seperti kakak kelas itu.
"Kenapa Ren ? kok bisa nabrak kak Rio sih, untung nggak kamu nggak diapa-apain."
"Memang kenapa dia ?"
akhirnya sepanjang perjalanan ke kelas Shella menceritakan gosip yang beredar di sekolah tentang kakak kelas itu. katanya cowok itu pernah menampar pacarnya sampai berdarah, kemudian memukuli cowok yang ternyata selingkuhan ceweknya. yahh itu mah, memang salah ceweknya kalau dia kalap. dan satu lagi, kakak kelas itu bakal nggak mengampuni siapapun yang berani macam-macam sama dia. ahh, untung aku nggak kenapa-kenapa.
jam istirahtpun dimulai, aku dan Shella langsung ke kantin untuk memesan bakso yang kita sukai, tapi nggak sering-sering kok makan baksonya. tapi karena lantai kantin licin akibat minuman yang terjatuh, akhirnya aku terjatuh dan mangkok baksoku tumpah ke celana seorang cowok yang kedengarannya kepanasan akibat kuahnya.
"Adooooh..." kata cowok itu kesakitan, aku langsung berdiri dan langsung mengambil lap kemudian membersihkan celananya.
"Maaf... aku nggak sengaja, tadi terpele..." belum perkataanku selesai, aku mendongak kearah wajah cowok itu. dan ternyata Oh My God dia Kak Rio yang tadi pagi baru saja aku dan Shella gosipin. asli deh, entah apa yang bakal dilakukan sama Kak Rio. teman-temannya yang berkumpul mengerubutu dia dengan marah menatapku juga. hari ini benar-benar hari sial buatku.
"Ohh, elo lagi. tadi pagi belum puas nabrak gue sampai jatuh, dan sekarang numpahin kuah panas ke celana gue?" tanya dia dengan mata yang hampir copot alias melotot. Ya Allah, aku pasrahkan nasib saya kepadaMu ya Allah...doaku dalam hati, semoga aku nggak dianiaya seperti yang diceritakan Shella. dan Shella yang tadi bersamaku sekarang menjauh ke pojokan kantin dan melihatku sambil berbisik dari jauh "cepet minta maaf terus lari..." aku hanya bisa melihat bibirnya yang berbicara tapi akunya yang nggak ngerti apa yang dikatakan Shella.
"Aku minta maaf Kak, tadi benar-benar terpeleset dari depan kantin sana." aku menunjuk arah lantai yang licin dan menyebabkan kuah baksoku jatuh.
"Lu, bener-bener keterlaluan, gue nggak bakal mau masuk ke kelas dengan celana basah dan bau kuah bakso." dengan cepat aku mengambil tisu basah dan mengusapkannya ke celana yang terkena kuah. "Lu apa-apaan berani banget nyentuh kaki gue.." kata dia masih dengan nada tinggi.
aku tetap memberanikan diri membersihkan celananya tanpa menyentuh kulitnya. setelah selesai membersihkan celana "Sang Raja" aku kemudian meminta maaf lagi dan langsung pergi.
sepulang sekolah aku bersma Shella berjalan dengan santai ke arah gerbang depan. tapi sampai disana ada Kakak kelas yang aku mengenalinya. mereka anak buah si Rio. ahh ada apa lagi sih...
"Elo Rena ya yang jatuhin kuah bakso ke celana Rio ?" tanya cowok dengan rambut cepak, tinggi dan jelek mukanya karena aku memang nggak suka dengan mereka. Shella yang pulang bersamaku harus menungguku di depan gerbang sampai urusan Rio dan aku selesai, ihh ini orang seenaknya aja sih.
sesampainya di sekretariat yang nggak terpakai. duduk seorang cowok yang mirip dengan cowok halte itu. tapi beda banget sifatnya 180 derajat.
"Ternyata elo, Rena anak kelas IX IPA yang kata guru-guru paling pinter satu sekolah. yang bisa ngerjain soal MIPA kelas XII dengan mudah."
ahh aku nggak suka bahas-bahas masalah itu. itu bukan urusanmu. aku ingin mengatakan seperti itu tapi aku diam tidak menjawab. ini orang apa masuk jurusan IPA ? ahh nggak mungkin.
"Elo nggak mau gue apa-appin kan disini ?"
"Maksudnya Kak ?" tanyaku bingung karena dia berkata yang tidak bisa aku pahami.
"Jadi gini, karena lu pinter di sekolah ini dan lu bisa ngerjain kelas XII gimna kalau lu bantuin gue buat ngerjain tugas apa aja dari guru."
aku hanya terdiam mencerna permintaan Rio. aku nggak paham biasanya orang yang suka bullying itu harus jahat dan menganiaya korbannya. tapi ini kenapa harus jadi guru prifat dia. aku memikirkan pertanyaan itu sambil menggaruk-garuk kepalaku yang gatal.
"Nggak mau. bukannya tugas kelas harus dikerjakan sendiri ya kak." kataku santai. aku melihat Rio nggak ada niat mau membullyku jadi aku santai-santai saja. tiba-tiba dia menengok ke arahku dan tersenyum mengejek. tepat 2cm mendekat ke wajahku dan kemudian mengatakan padaku.
"Lu mau banget gue bikin scandal biar nama baik lu tercoreng sebagai siswa teladan di sokal ini." katanya dengan senyum kemenangan. "Mau gue buat macem-macem di sini biar yang neglihat ngira lu lagi berduaan sama gue yang termasuk anak paling bandel di sini."
aku mendengarkan dengan seksama kata-kata yang menurutku itu adalah ancaman. saat wajahnya mendekat padaku. aku seperti teringat kembali oleh wajah cowok di halte itu. memang kembar identik, bentuk wajahnya, hidungnya, matanya dan bibirnya. ya ampuun aku mikirin apa sih. kemudian dengan cepat aku mundur 2 langkah ke belakang. sial, skakmat banget nih situasiku. aku nggak mau reputasiku jelek, sudah 2 tahun aku membangunnya dengan semua kerja kerasku. aku nggak mau hancur gara-gara Rio si anak bandel di sekolah.akhirnya dengan terpaksa aku menyanggupi permintaan dia, tapi aku nggak bisa setiap hari ada untuknya.
"Oke, setiap lo gue panggil ke rumah lu harus dateng dan bantuin gue ngerjain semuanya." perintah Rio dengan senyum penuh kemenangan. dengan paksa juga ponselku di ambilnya dan mengirimkan nomerku lewat sms ke nomor ponselnya. sialan, mau minta pulsa bilang saja.
setelah berurusan dengan Rio, aku pulang dengan tenang. malam harinya ada sms dari entah nomor siapa karena nomor itu tidak ada di kontak ponselku.

From : 081232xxxxxxxxx
Besok jam 10 harus datang ke rmh gue. alamatnya Jl.Kusuma No 23 dekat KFC

siall, pasti ini nomornya Rio. ahh malaas, besok kan waktuya berlibur kenapa harus berkutat sama tugas kakak kelas sih. malamnya aku nggak bisa tidur gara-gara memikirkan sms Rio barusan. aku membalasnya apa tidak yah. ahh biarinlah...
ke esokan harinya aku menuju ke alamat yang diberikan oleh Rio. rumahnya besar sekali...
setelah aku pendet bel yang ada di depan pagar. setelah menunggu 5 menit di hari yang panas ini keluarlah seorang cowok dengan kaos polo hijau dengan rambut yang sebahu. dan wajahnya aku mengenalinya. yakk itu pasti Rio. mukaku kembali cemberut dan tidak bersemangat setelah melihat wajah cowok songong itu.
"Lama banget sih Kak, jadi mau belajar apa nggak sih. buka pintunya lama lagi."
setelah aku berbicara seperti itu, cowok yang tadi membukakan pintu untukku langsung menatapku bingung. aku sampai kaget, kenapa Rio nggak beraksi saat aku berbicara kasar tadi.
"Silahkan masuk." kata cowok itu mempersilahkanku masuk ke rumahnya. ya ampun, baru kali ini aku melihat ruang tamu yang segede ruang tamu, ruang keluarga dan dapurku kalau di jadikan satu. ini rumah apa istana, pikirku.
"Kak, bisa lebih cepat nggak aku nanti sore masih mau mengerjakan pekerjaan rumahku." lagi-lagi kakak itu hanya diam dan dengan mata yang sama menatapku dengan bingung.
"Kamu nggak bisa bedain aku sama Rio yah."
lhah terus yang sama aku ini siapa kalau bukan Kak Rio. nggak ada gosip yang bilang kalau Kak Rio punya kembaran. jangan-jangan kakak ini siluman.
"Kakak siapa kalau bukan Kak Rio. jangan-jangan Kak Rio punya kepribadian ganda ya sampai bisa tenang dan selmbut ini." kataku yang masih nggak percaya kalau cowok yang di depanku ini bukan Kak Rio.
cowok itu membalikkan badannya dan menghadap kepadaku. ada hal yang tiba-tiba teringat olehku, iya wajah itu. aku pernah melihatnya disana...

Wednesday, May 14, 2014

Kutex Ungu

Posted by ceritacurhatku at 8:22 AM 0 comments
Pada saat kuliah belum dimulai gue bersama dua orang temen yang satu namanya Lia, satunya lagi cowok kekar pokoknya mirip kayak Irfan Gunawan gitulah tapi sukanya main sama kita berdua yang cewek semua. entah dia kerasukan hantu cewek, sampai dia bisa akrab sama kita dan update tentang fashion cewek. Renald sebenarnya anak designer, makanya dia sering gaul sama cewek gara-gara setiap hari dia nyari inspirasi buat design entah baju entah gaun yang pas buat cewek-cewek jaman sekarang. Gue dan Lina termasuk anak seni yang kerjaannya ngelukis, bikin seni patung dan lain sebagainya. Kadang kalau pada saat jadwal kuliah dan istirahat kita sama, kita sempatin untuk makan bareng dan ngegosip ataupun curhat.
"Bibeh, lagi-lagi gue ditembak cewek tau." curhat Renald sambil meminum es jeruknya.
"Salah lu sendiri ngondek tapi cakep." ejek Lia yang hampir kena pukul si Renald. Dua sahabat gue ini emang paling pinter banget bikin gue puyeng gara-gara mereka sering berantem.
"Udah ahh, berantem mulu sih..." kata gue sambil melerai mereka berdua yang masih tengkar sampai mulut Lia kelihatan monyong.
Seperti biasa, Renald yang memang suka fashion dia nggak lupa bawa peralatan perang cewek alias make up. "Bibeeh, gue bawa kutex lho, warnanya cocok banget buat Lu Vin." Renald sambil menyodorkan kutex warna ungu ke depan gue.
"Kenapa harus ungu sih warnanya, gue kan bukan janda." protes gue sambil menyingkirkan tangan gue dari Renald.
"Ahh elu, temen gue nggak ada yang janda. Ungu tuh bukan warna janda, tapi warna kemewahan tau." jelas Renald sambil mengambil tanganku yang tadi ogah dikutex-in. "Sini gue pakai.in" kata Renald mengusapkan kutex ungu itu di jari-jari gue.
"Uwaah, kelihatan mewah Vin." kata Lia dengan memegang tangan gue ke atas biar blink-blink kata Lia.


yapp, percobaan Renald akhirnya berhasil, tangan gue jadi seperti mewah, berkilauan karena catnya. dan gue merasa, warna ungu bukanlah warna janda. gue menjadi berbeda dengan cat kuku kali ini karena memang gue jarang pakai warna ini.
"Vin, gebetan lu dateng tuh." kata Renald sambil mengangkat dagunya ke arah Leo. dia gebetanku semenja masuk kampus ini. dia satu jurusan denganku tapi gue jarang ketemu dengan dia gara-gara kita beda kelas.
kata temanku yang satu kelas dengannya, Leo benar-benar seperti seniman. rambut yang gondrong sebahu, kemeja yang tidak terlalu rapi membuat dia menandakan seniman sejati. tapi gue suka gaya dia, entah kenapa gue semakin dekat dengan dia karena satu organisasi.
"Hai Vin..." sapa dia dan kemudian pergi menuju mejanya. dia makan dengan teman cowok lainnya, tapi hanya dia yang paling berkilauan, seperti jari gue sekarang.
"Eciee yang disapa gebetan." gue langsung menutup mulut Renald yang mengjekku bersamaan dengan Lia. dasar dua orang ini, kadang tengkar mulu, kadang kalau udah jahil bareng-bareng.
"Kenapa nggak lu tembak sih Vin, ntar ada yang nyamber patah hati lho." kata Renald lagi dengan senyum jahilnya.
"Gara-gara ada lu sih disini, cowok sendiri, badan gedhe dikira dia kan lu bodyguardnya si Vina." tembak Lia yang langsung dibalas pukulan ringan di kening Lia. hhahaha dasar mereka ini.
"Dasar lu, gue timpuk pake mangkok rasain." balas Renald yang sifat kekanakannya muncul.
bukannya gue nggak berani, dia bakal nggak inget gue kalau nggak ada event dari organisasi gue. tepat hari ini kita jadi satu tim makanya Leo nyapa gue.
ada pameran lukisan dan patung yang dibuat untuk merayakan ulang tahun kampus gue. jadi jurusannya si Renald bikin baju dan juga dipamerin. jurusan gue sama Lia ya itu tadi bikin lukisan dan patung. dan gue bareng Leo buat jadi satu tim yang ngurusin pengumpulan hasil karya temen-temen. agak susah sih maksa temen-temen buat tepatin deadline.
setelah kita berpisah karena ada kuliah di kelas masing-masing, kuliah hari ini begitu menyenangkan. bikin luisan yang ngelihat dari sudut pandang mana aja. dan yang jadi modelnya itu Linda cewek songong yang sok jadi model lukisan kita. dia bisa seenaknya jadi model, harusnya nggak boleh bergerak sampai selesai, tapi dia yang gerak mau minum atau apalah. jadi nggak selesai-selesai dong kuliahnya.
selesai ngelukis model songong yang nggak bisa diatur, akhirnya gue dan Lia pergi menuju rumah gue untuk ngelanjutin lukisan yang bakal dipamerin di kampus. nggak sengaja gue menabrak seorang cowok yang membawa banyak kanvas.
"Sori bangeet, gue nggak ngelihat." dan pas gue ngelihat muka cowok itu tadi ekspresi gue seakan-akan hilang dan berubah jadi bengong. untung aja nggak begitu lama, dengan sadar gue ngebantu cowok itu yang ternyata adalah Leo.
"Cat kuku lu bagus..." kata Leo, entah dia muji atau apa gue bener-bener nggak nyangka dia ngobrol sama gue. tapi bodohnya, gue lupa kalau sebagian lukisan yang dia bawa ada di gue. akhirnya sebagai permintaan maaf gue ngabantu dia untuk mengantar lukisan ke sekretariat organisasi gue.
"Semangat Vin.." bisik Lia dari kejauhan, gue hanya melihat gerakan mulutnya.
"Gue harus gimana??" tanya gue panik sambil berjalan mengikuti langkah Leo.

***

keesokan harinya event pameran sudah dimulai. lagi-lagi gue harung angkat-angkat kanvas untuk diletakkan pada ruangan pameran. tiba-tiba kanvas yang gue pegang terangkat setengah, dan ternyata yang mengangkat sebagian kanvas yang gue bawa itu Leo.
"Thanks..." 
"Cat kuku lu jangan dihapus, bagus kok warnanya menandakan kalau itu elu." hiyaaa.. kenapa tiba-tiba Leo ngomong begini lagi sih. 
setelah kejadian tadi pagi yang mengankat kanvas, gue semakin canggung kalau kerjasama dengan Leo. gue salting setiap bareng Leo gara-gara dia ngebahas kutex gue. jangan-jangan dia suka warna ungu, pikir gue bego.
"Banyak pengunjung Vin ?" tanya Renald di seberang kelas gue.
Sstt.. gue meletakkan jari telunjuk gue ke bibir dan kemudian menunjuk ke Leo yang berjalan di depan gue. si Renald malah cengar-cengir lihat gue salting begini.

***

Akhirnya pameran berhasil dengan lancar karena adanya kerjasama yang baik antara satu tim. satu organisasi berkumpul dan mengadakan evaluasi, apa saja yang kurang dari acara tadi, dan apa saja kesalah atau ketidaktelitian para panitia.
untung tidak ada yang dipermasalahkan, setelah evaluasi kami satu organisasi setuju untuk mengadakan pesta syukuran untuk keberhasilan pameran tadi. kita semua pergi ke tempat karaoke, dengan 14 anak yang menadi panitia. ruangan karaokepun menjadi tempat pentasnya anak-anak.
Leo yang sedari tadi diam karena mungkin nggak tertaik dengan menyanyi akhirnya menjadi remot anak-anak untuk memilih lagu.
"Vin, lu mau nyanyi apa ?" tanya Leo tiba-tiba. sial, untung aja karaoke tempatnya gelap, jadi dia nggak tahu kalau pipi gue memerah.
semua teman-teman pada heboh menyanyi, ada yang lagu Korea, Indonesia samapai yang kebetulan pacaran menyanyikan duet, dan parahnya lagi ada yang goyang ngebor buat nyanyiin dangdut. astagaaaaa....
gue ngelihat Leo yang barusan dari kamar mandi, tiba-tiba duduk disebelah gue dan mengajak ngobrol gue. karena temen-temen nyanyinya keras banget, Leo sampai mendekatkan bibirnya ke telinga gue reflek gue sedikit bergeser karena takut ada yang salah paham. Leo mengajak gue keluar entah karena apa. setelah keluar dari ruangan Leo tiba-tiba jadi salah tingkah. gue jadi ikutan salah tingkah.
"Vin, mau jadi pacar gue ? gue suka sama lu" tanya Leo tegas. dengan gaya khasnya yang sedikit cuek atau bisa dikatakan pemalu. dia menunggu gue yang lagi bengong nggak tahu mau jawab apa karena mendadak banget.
"Gue, sebenenya juga suka sama lu sudah lama." kata gue dengan memberikan sedikit keberanian.
"Gue suka cat kuku lu."
"Lu suka warna ungu ?" tanya gue polos. dengan cepat memukul bibir gue yang sudah asal ngomong.
"Gue suka semua yang ada di lu, apalagi pakai cat kuku warna ungu yang lu banget." jawab dia dengan kembali tenang. dia tenang tapi gue yang masih salah tingkah. nggak nyangka bakal ditembak di tempat karaoke. pas gue masuk ke dalam ruangan, temen-temen gue ngasih gue surprice dengan petasan kertas yang biasa untuk ulang tahun. ahhh, gue malu... ternyata semua anggota organisasi gue tahu kalau Leo mau nembak gue.
mimpi gue yang jadi kenyataan, gebetan gue yang jadi pacar beneran. makasih deh Lia sama Renald buat semangatnya. hhaha nggak sia-sia gue ngomong suka ke Leo. meskipun kita semua di marahin petugas karaokenya gara-gara ngotorin ruangan pakai petasan kertas, gue tetep seneng karena gue tetep jadi pacar Leo sampai sekarang. Renald yang dikira banci bisa juga nembak Lia yang cerewet dan nggak bisa damai sama dia. ternyata mereka udah saling suka semenjak Renald pernah bikinin baju Lia buat pesta pernikahan abang gue. Lia jadi penggemar sekaligus pengkritik Renald. ahh, genk kita akhirnya punya pasangan masing-masing. dan gue juga bersyukur banget pakai kutex ungu yang mempertemukan gue sama Leo :)

Tuesday, May 13, 2014

I'm In Love (Part 14)

Posted by ceritacurhatku at 7:44 AM 0 comments
Gue pulang dengan perasaan menyesal. sampai nyokap jadi ikutan bingung dengan ulah gue. malah gue yang kena marah nyokap gara-gara bikin marah Lina.
Ke esokan harinya gue dengan cepat sudah bangun pagi, sudah wangi langsung berangkat menuju ke rumah Lina untuk menjemput dia. dengan niat baik untuk meminta maaf juga. semoga dia mau gue antar.
sesampainya disana Ibu Lina yang menyambut gue dengan muka sumringah dan semangat paginya. tiba-tiba gue disuruh duduk bareng Ayahnya Lina buat sarapan. gila, gue mimpi apa semalam.
gue lihat Lina terkejut kalau gue ada di ruang makannya. sebelum terlambat masuk kelas, gue pamit buat ngantar Lina ke sekolah.
suasana pagi ini bener-bener dingin, Lina nggak ngomong atau komentar apa-apa soal  masalah kemarin. semenjak gue tinggal, Indri sudah nggak pernah ngehubungin gue lagi. dan artinya gue bebas.
"Gue minta maaf ya Lin soal yang kemarin. udah bohong ke elu" kata gue dengan rasa ikhlas. Lina hanya mengangguk dan memaafkan gue. asik akhirnya gue nggak canggung lagi ke dia.
tapi sampai di sekolah, dia ninggalin gue jalan sendiri ke kelas. yahh, harapan gue sirna biar bisa jalan berdua bareng dia.
sewaktu pelajaran Matematika tiba-tiba saja Lina masang muka takut dan nemuin Pak Irdy di depan kelas. katanya dia nggak bawa buku Matematikannya, jadi nggak bisa ngumpulin. gue jadi penasarn, katanya dia peringkat satu terus. siswi berprestasi, tapi kok nggak bawa buku PRnya.
dengan muka sebal dia menghampiri Tiara yang duduk sebangku sama gue. dia tanya kalau Tiara yang ngambil buku PR Matematikanya di laci meja atau bukan. memangnya tadi Tiara ke mejanya Lina yah. ahh dasar, tadi kan gue ditinggalin sama Lina, pantesan aja nggak tahu apa-apa. dengan muka innocentnya Tiara dia bilang, buka dia yang ngambil. dan gue juga percaya sama Tiara, masa iya dia tega ngambil buku temennya.
sewaktu mau pulang, gue ngelihat buku Tiara yang terjatuh di lantai. tapi kok namanya bukan nama Tiara. kemudian gue dengan muka serius meminta untuk melihat nama yang tertera di buku itu. tapi Tiara dengan terburu-buru memasukkan buku itu ke dalam tas.
"Gue lihat tadi bukan nama lu Tir..." kata gue sambil tetap melihat buku itu di dalam tasnya.
"Itu bukuku," kata Tiara, dan kali ini didekapnya tas itu dengan erat.
"Jangan bohong Tir, itu buku Lina kan?"
dan nggak sangkaTiara merubat raut mukanya jadi kaget dan setengah takut gara-gara ketahuan. dengan muka ketakutan, dia menyerahkan buku itu ke gue. "jangan curang gini dong kalau mau saingan lu kalah. pakai cara yang lebih bagus." kata gue sambil mengambil tas untuk kemudian ke rumah Lina memberikan buku ini.
gue lihat dari belakang muka Tiara yang tertunduk dan dengan menyesal atau dia kecewa karena niatnya untuk menjatuhkan Lina gagal. ternyata gue tahu sifat temen sebangku gue ini. di depan gue dia menyanjung Lina dengan pujian, tapi ternyata dia punya niat tersendiri.
sesampainya di depan rumah Lina gue deg-degan. gue takut kalau gue diusir dari rumahnya. tapi kan tadi pagi dia sudah maafin gue. setelah dibuka pintunya, Lina terlihat kaget dengan apa yang gue bawa. Lina sempat menuduh gue kalau gue yang ambil buku dia. dengan malu gara-gara tebakan dia salah dia mengambil buku yang gue bawa.
"Lagi ngapain Lin ?" tanya gue memecah keheningan kita.
"Ngerjain ini nih. pusing, nggak bisa-bisa." kata dia sambil menunjuk buku cetak Matematika.
ternyata dia mengulang kembali pelajaranyang tadi pagi dibahas di kelas.
"Mau gue ajarin ?" tawar gue. dengan muka yang lega, karena ada yang mengajarinya gue dipersilahkan duduk dekat dia untuk menjelaskan persamaan Matematika yang memang lumayan bingung. "kalau yang itu begini nih..." gue menjelaskana sampai Lina tersenyum mengerti.
"Ternyata kamu emang jenius ya Lan." kata Lina yang gue anggap sebagai pujian. gue menggaruk--garuk kepala gue yang nggak gatal tanda gue malu.
tidak lama, Ibu Lina datang dengan membawa sayuran yang baru beliau beli.
"Eh, ada Mas Elan."
"Kok, diajak duduk di bawah to ndug ?" tanya Ibu Lina yang langsung menyuruhku untuk duduk di atas sofa.
"Mumpung Mas Elan ada di rumah, nanti makan siang bareng yah." ajak Ibu Lina dengan senyum yang mengharapkan gue untuk makan di sini.
"Iya-in aja Lan ajakan Ibu, kalau nggak nanti ngambek" bisik Lina mengenai Ibunya. dengan senyum puas, Ibu Lina menuju dapur dan memasak dengan bahan yang dibawanya.
"Nyokap lu ngambekan ?" tanya gue penasaran.
"Iya, kalau ditolak ngambeknya lama. apalagi yang datang kamu." kata Lina dengan pura-pura mengerjakan soal Matematika tadi.
setelah Ibu Lina manggil gue untuk makan, akhirnya gue tahu gimana perasaan Lina saat diajak makan  sama nyokap. Ibu Lina sama cerewetnya sama nyokap gue. yang nanya masakannya enak apa nggak, pastinyalah kan udah sering masak pastinya enak. iya kalau gue, masak bisanya bikin mie instan kalau nyokap lagi jenguk ke bokap di Pati.
akhirnya gue bisa ngobrol berdua lagi sama Lina. banyak banget topik kita hari ini, dari soal tarian kesukaan dia sampai soal fotografi yang gue suka. malam ini bener-bener bikin gue lebih tahu soal Lina.
"Lin, malam minggu ngapain ?" tanya gue dengan hati-hati.
"Paling ngumpul sama Ayah sama Ibu nonton tivi di rumah." jawab dia polos. pengen banget gue cubit pipinya yang chubby itu.
"Mau nggak gue ajak ke studio foto gue. aslinya sih bukan punya gue tapi temen gue yang sempet kenal gara-gara fotografi juga." jelas gue. gue harap-harap cemas, Lina mau nerima ajakan gue. dan semoga kejadiannya nggak seperti kemarin.
"nggak ada acara bohong-bohongan lagi kan ?" tanya Lina memastika kejadian kemarin nggak terjadi lagi. gue mengangguk pasti. gue jamin nggak bakal seperti itu.
karena sudah malam, gue akhirnya pamit ke Ayah dan Ibunya Lina. dan gue seneng banget Lina akhirnya mau ngasih gue kesempatan buat ngajak dia keluar bareng.
harapan gue semoga rencananya berhasil.

I'm In Love (Part 13)

Posted by ceritacurhatku at 7:03 AM 0 comments
Elan akhirnya pergi ninggalin aku sendirian di depan gerbang sekolah. tiba-tiba Mas Ari datang dengan motornya dan mengantarkanku pulang. tapi aku malas pulang ke rumah, akhirnya Mas Ari mengantarkanku ke sanggar. kebetulan juga aku membawa selendang tariku. aku mencari lagu untuk mengiringi tarianku. aku memilih lagu yang slow mengikuti suasana hatiku sekarang.
aku sadar, kalau Elan bohong padaku dengan mengatakan kalau dia menjemput temannya yang habis kecelakaan. tapi siapa temannya, cuman teman sekelas dan Mas Ari yang dia kenal. semuanya Mas Ari yang menceritakan, kalau Elan menjemput pacarnya ke bandara. kenapa nggak jujur saja, lagipula aku nggak keberatan kalau dia bersama Indri, toh memang Indri pacarnya dia.
aku menari mengikuti irama lagu jawa yang mellow, ekspresiku juga pas dengan lagunya. mungkin kalau orang yang melihat aku menari seperti ini mereka bakal menyangka kalau aku orang stress berat.
tiba-tiba setelah menari, Elan sudah ada di belakangku dengan mengucapkan maaf. aku sudah tidak percaya lagi dengannya. prinsipku adalah sekali bohong orang itu pasti akan mencari alasan lain untuk berbohong, dan aku benci itu.
aku melepaskan genggaman Elan, aku tahu aku nggak bisa marah seperti ini. tapi aku juga nggak bisa maafin dia sekarang. dengan menghindari dia, aku masuk ke ruang ganti wanita. aku duduk tepat belakang pintu, sampai aku bisa mendengar Elan berteriak ke arah Mas Ari yang menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini. iya, memang Mas Ari yang bisa menenangkanku.
"Lin, dia udah pulang kok." ketuk Mas Ari di seberang sana.
aku keluar dengan menutup mataku yang hampir saja menangis. aku nggak boleh cengeng, lagian Elan bukan siapa-siapaku. Mas Ari merangkulku duduk di depan sanggar yang waktu itu hanya ada aku dan Mas Ari.
"Sudah, nggak perlu nangis ahh. masa soal cowok begini kamu nangis." kata Mas Ari yang masih merangkulku.
"Nggak nangis kok aku." kataku dengan mengusap sedikit air mata yang muncul. di tepuknya kepalaku dengan sayang. Mas Ari sudah aku anggap Mas-ku sendiri. dia sudah membantu Mbak Lizzy untuk ke Swiss menyalurkan bakat tarinya disana. dan aku dekat dengan Mas Ari sudah lama sekali, semenjak Mas Ari, Mbak Mila dan Mbak Lizzy bersahabat sewaktu kuliah.
sudah tenang, aku diantar Mas Ari ke tempat Rina. aku dibelikannya ice cream kesukaanku. Mas Ari menghibur sampai aku bisa tertawa lagi. Rina juga ikut nimbrung, karena Rina juga kenal sama Mas Ari.
"Sudah, jangan bete lagi yah. duit bisa abis nraktir kamu makan ice cream terus." canda Mas Ari dengan senyum jahil seperti biasa.
untung ada Mas Ari yang bisa menghiburku, aku jadi terlupakan dengan masalah Elan. dan aku berpikir untuk memaafkannya. dan menyerah saja, toh pacar Elan ada disini.
Ke esokannya, Elan datang pagi-pagi untuk menjemputku, aku sampai kaget kalau dia datang pagi-pagi dan ikut sarapan bersama ayah. Ibu selalu baik dan matanya selalu berbinar-binar kalau melihat Elan datang ke rumah. dengan canggung aku masuk ke mobilnya untuk menuju ke sekolah. di perjalanan aku hanya diam, sampai Elan memulai pembicaraan yang kemarin.
"Maafin aku ya Lin, gue udah bohong ke lu." kata Elan meminta maaf lagi.
"Nggak apa-apa kok Lan, aku sudah maafin kamu." jawabku dengan muka yang bersalah juga. aku harus sadar diri. mendengar perkataanku Elan sudah bisa tersenyum lagi.
"Makasih ya Lin." kata Elan.
aku kembali diam kembali sampai masuk ke kelas. meskipun kita berangkat bersama tapi aku meninggalkannya ke kelas.
Tiara lagi-lagi ketahuan membuka laci mejaku. entah apa yang dia cari, tapi perbuatannya sangat menggangguku.
"Ada apa Tir ?" tanyaku tiba-tiba, karena Tiara membelakangiku dia sampai kaget kalau aku ada di belakangnya.
"Nggak ada apa-apa." kata Tiara, kemudian dia pergi ke mejanya.
nyari apa sih si Tiara sampai merogoh laci mejaku. apa ada buku yang lupa aku kembalikan. pikirku.
selesai istirahat, buku PR Matematikaku sudah tidak ada di laci. padahal tadi sudah aku letakkan di laci meja. aku mencari sampa Pak Irdy datang dan menanyakan bagaimana PR Matematika yang minggu lalu. giliran aku yang dipanggil Pak Irdy untuk mengerjakan soal yang ada di papan. aku mengerjakan dengan benar dn teliti. pada saat pelajaran hampir selesai Pak Irdy meminta kita untuk mengumpulkan PR yang tadi di koreksi bersama. dengan takut-takut aku menghampiri Pak Irdy dan bilang kalau buku PR Matematikaku hilang entah kemana. baru kali ini aku dimarahin dan jadi topik baru di kelas. jarang-jarang aku tidak mengerjakan PRku. pasti ada yang mengambil bukuku.
"Ir, kamu pinjem buku PR Matematikaku ?" tanyaku pada Ira yang juga kaget melihatku tidak membawa buku PRku. gelengan kepala Ira membuatku tahu kalau dia tidak meminjam bukuku, dia nggak mungkin bohong padaku.
dengan hati-hati aku menanyakannya pada Tiara, yang waktu itu Elan juga masih ada di bangkunya. "Tir, kamu tadi pagi ngambil buku PR Matematikaku ?"
"Nggak kok Lin, kenapa nuduh aku?"
dengan gemas aku meninggalkan Tiara, Elan yang ada di samping Tiara menarik tanganku dan dengan terpaksa aku menengok ke belakang lagi.
"Ada apa Lan ?" tanyaku sebal.
"Tadi lu tumben dimarahin guru ?" tanya Elan yang sok polos. Tiara yang ada di sebelah Elan terdengar cekikikan. sialaan...
sepulang sekolah, aku mengerjakan PR yang tadi untuk dikumpulkan lagi besok ke Pak Irdy. harusnya aku nggak pernah seperti ini.
tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti tepat di depan rumahku. suara langkah kaki juga mengarah ke rumahku.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." aku membuka pintu dan terkejut ternyata Elan datang sambil membawa buku PR Matematikaku.
"Kamu, kok bisa bawa buku PRku? kamu yang ngambil ?" tanyaku sewot. padahal belum aku persilahkan masuk, Elan kemudian langsung masuk dan duduk di ruang tamuku. dasar nggak sopan.
"Gue tadi nanya ke Tiara soal buku PR lu, ternyata ada di tas dia. sewaktu dia memasukkan buku, buku yang ini jatuh juga dan ada nama lu" jelas Elan sambil memukul pelan buku itu ke keningku.
aku malu sambil menunduk, karena tiba-tiba menuduh Elan yang ngambil. lagipula buat apa dia ngambil bukuku sampai aku kena marah guru Matematika padahal dia sudah jenius dari dulu. akhirnya kita bisa mengobrol tanpa canggung lagi.

Monday, May 12, 2014

I'm In Love (Part 12)

Posted by ceritacurhatku at 7:48 AM 2 comments
Gue bingung harus ngomong apa ke Lina tentang ini, akhirnya dengan terburu-buru gue menelpon Ari yang mungkin dia sedang tidak sibuk.
"Hai Lan, ada apa?" tanya ari diseberang sana.
"Gue sama Lina sebenernya mau keluar bareng tapi tiba-tiba Indri telepon gue buat ngejemput dia di bandara. gue harus gimana? Lu bisa jemput Lina di sekolah ? " tanya gue bingung.
"Sori Lan, aku masih ada kerjaan di sanggar. ada yang mau keluar negeri lagi." jelas Ari yang bener-bener nggak bisa menolong gue. telpon langsung gue tutup dan kemudian menuju ke depan gerbang sekolah, tempat Lina menunggu.
Gue bener-bener merasa bersalah sama Lina. harusnya gue mentingin Lina daripada Indri yang bukan siapa-siapa gue. sekarang gue sudah berada di sampin Indri yang mengobrol entah tentang topik apa. gue cuma mikirin Lina yang gue lihat ekspresi dia yang kecewa banget. Bodohnya gue.
"Sayang, kamu dengerin aku kan ?" tanya Indri, sadar kalau gue nggak dengerin satupun cerita dia.
"Jangan panggil gue dengan kata-kata sayang. kita sudah putus sebelum gue datang ke kota ini." kata gue dengan dingin.
"Ada apa sih sama elu? gue salah apa ke elu? elu yang ninggalin gue, sekarang elu juga yang mutusin gue. maksud lu apa ?" cerca Indri dengan muka yang sudah merah padam gara-gara marah. gue memang salah, ini juga salah gue kenapa gue datang kesini.
"Lu udah ada hotel kan buat nginep, gue anter kesana aja." kata gue dengan tetap dingin. gue nggak menengok ke arah dia. entah dia marah atau nangis gue nggak peduli.
"Antar gue makan dulu Lan. Gue laper..." rengek dia.
akhirnya gue turunin dia di McD dekat hotelnya. kertas yang bertuliskan alamat rumah gue sudah gue sobek dan gue buang.dengan tega gue mengeluarkan koper dia dari bagasi mobil. dan langsung menuju ke depan gerbang sekolah. gue harap dia masih ada di sana. gue harap...
tapi harapan gue sirna, gara-gara gue lihat dia nggak ada di depan gerbang. gue nggak hilang akal. gue langsung menuju ke rumah Lina.
"Assalamualaikum..." kata gue.
"Waalaikumsalam.." sahut orang yang ada di dalam rumah. "Eh, Mas Elan to..." kata Ibu-ibu yang pernah gue lihat sebelumnya.
"Linanya ada Bu ?" tanyaku.
"Nggak ada Mas Elan. dari tadi siang belum pulang. Mungkin ada di sanggar." kata Ibu Lina.
gue cepat-cepat pamit dan langsung meluncur ke sanggar Lina. gue ngerasa kalau Ibunya Lina kebingungan lihat tingkah gue. semenatara itu handphone gue bergetar terus. dan gue lihat ternyata Indri yang menelpom. gue nggak mengangkat dan lanjut menuju ke sanggar.
sesampainya di sanggar gue mendengar alunan lagu jawa. gue lihat dari luar jendela, ternyata itu Lina sedang menari dengan luwesnya. tapi ekspresi dan lagu ini sangatlah sedih. gue tambah ngerasa bersalah.
gue sudah berbohong, dan gue juga ninggalin Lina sendirian. alunan musik jawa itu akhirnya berhenti, aku melihat Lina melamun. dengan memberanikan diri aku menghampirinya.
"Lin..." sapa gue. dia kelihatan kaget kalau gue ada di sini sekarang. dengan muka keringetan, dengan seragam yang masih gue pakai. dan paling buruknya dia mengacuhkan gue. "Gue tahu, gue salah Lin..." ungkap gue dengan muka menunduk.
"Aku tahu dari Mas Ari kalau kamu menjemput pacar kamu ke bandara."
arrgh si Ari, kenpa dia ember sih jadi cowok. "Iya, gue jemput Indri, tapi dia bukan pacar gue... Lo lihat gue sampai basah gara-gara keringetan nyari lo." kata gue memberanikan diri ngelihat Lina yang sekarang ada di depan gue. "Maafin gue Lin. sekarangpun kita jalan ke tempat kesukaan gue..."
"Sekarang aku yang lagi nggak pengen ke tempat kesukaanmu." balas dia dengan mengacuhkan gue lagi. dan langsung menuju ke kamar mandi cewek, gue nggak mungkin masuk buat nyusul dia.
arggh.. gue harus bagaimana. selagi gue masih emosi, handphone gue bergetar lagi. dengan sebal gue lepas batere handphone gue biar Indri nggak bisa nelpon gue.
"Maafin gue Lin..." kata gue lagi. sambil mengetok pintu kamar mandinya.
tiba-tiba seseorang menepuk pundak gue. dan itu Ari, dengan emosi gue mencengkram kerah ari yang tingginya hampir sama dengan gue.
"Tadi, lo bilang apa ke Lina. samapai dia marah."
"Kamu yang bikin dia marah Lan, kenapa nggak jujur saja kalau Indri datang ke sini." jelas Ari. gue langsung diam dan melepaskan cengkraman tangan gue. "Sebaiknya kamu pulang saja, sudah basah kuyup begitu, nanti masuk angin lho. Lina biar aku saja yang menenangkan."
gue tahu, hari ini maaf gue nggak bisa di terima oleh Lina. akhirnya gue pulang dengan basah kuyup karena keringat. entah sampai kapan gue harus minta maaf terus ke Lina.


I'm In Love (Part 11)

Posted by ceritacurhatku at 7:10 AM 0 comments
Setelah melihat mobil Elan beranjak pergi, ternyata Ibu sudah ada di belakangku menatap sambil ikut-ikutan melihat ke luar jendela. entah apa yang dipikirkan Ibu sampai beliau senyum-senyum nggak jelas.
"*Sopo Ndug ?" tanya ibu sambil senyum-senyum tanda ingin tahu. aku menggeleng dan langsung cepat masuk ke kamarku.
ibu pasti tahu siapa yang tadi mengantarku pulang. tapi nggak mungkinlah ibu tahu, Elan tadi kan sudah pulang sewaktu aku melihat dia pergi. tapi ibu kan tahu mobil yang dipakai Elan, dan Ibu itu gampang hafal kalau sama teman-temanku. ahhh jadi banyak tapinya...
selesai mandi, aku langsung merebahkan badanku di kasur empukku. dan nggak sadar pula aku membayangkan kejadian tadi, bagaimana aku bisa ke rumah Elan, bagaimana aku mengobrol dengan Tante Sari dan bagaimana aku diantar pulang olehnya. aarrgh... aku menghilangkan pikiran itu tadi sambil memeluk guling dan membenamkan wajahku.
"Lin, kamu lagi ngapain ?" tanya seorang wanita di balik pintu kamarnya. itu pasti Ibu.
"Nggak lagi apa-apa bu, masuk saja.." kataku sambil membenahkan posisiku yang sedang guling-guling nggak karuan.
Ibu berjalan ke arahku dan kemudian duduk di sampingku. dengan mata yang sepertinya bertanya-tanya siapa yang mengantarku tadi.
"Tadi di antar sama siapa *Ndug ?" tanya Ibuku.
aku harus jawab jujur, dan nggak boleh bohong. kalau aku bohong Ibu nggak akan percaya padaku. "Itu tadi yang nganterin Elan bu, temen Lina yang waktu itu nolong Lina waktu jatuh dari sepeda."
"Oalaaah, mas-mas yang itu toh harusnya diajak mampir tadi." kata Ibuku dengan senyuman yang menandakan dia tertarik dengan seritaku.
"Tadi udah aku ajak mampir Bu, tapi katanya pamali sudah malam."
"Oalaah iyo bener, ini sudah jam 10 malam. Yawes kamu tidur sana, besok kesiangan bangunnya." Ibu berjalan sambil mematikan lampu kamarku dan menutup pintuku.
aku masih terheran-heran kenapa Ibu sebegitu tertariknya sama Elan, padahal waktu itu Ibu juga nggak kenal namanya siapa. batinku...
capai karena memikirkan soal Elan aku langsung terlelap tidur sampai paginya aku dibangunkan oleh Ibu. jam sudah hampir melebihi jam setengan 7. aku langsung bergegas mandi dan langsung srapan, menemui Ayahku yang sudah mulai sarapan lebih awal. tiba-tiba Ibuku membawakan sebuah kotak sepertinya makanan, tapi kenapa bungkusnya pakai pita begini.
"Lin, ini nanti kasihkan buat temenmu si Erlan ya."
"Elan Bu..." Ibu tidak menggubris penjelasanku dan langsung memberikan bingkisan itu kepadaku.
"Udah sana berangkat, nanti terlambat." kata Ibuku.
setelah itu aku langsung berpamitan kepada mereka dan dengan cepat aku berjalan sampai di halte dekat rumah.
sesampainya di sekolah Ira di depan pintu kelas sudah melambaikan tangan dengan raut muka yang terburu-buru. kemudian aku berlali sampai ke kelas.
"Lina, kamu sudah bikin PR Biologi yang kemarin." kata Ira dengan sigap menggandeng tanganku kemudian menyuruhku membuka buku PRku. Astaga ternyata masih kosong... aku belum mengerjakannya.
aku langsung mengerjakan sebisaku dan dengan secepat mungkin. sampai-sampai Elan yang datang menyapaku tidak aku gubris dan hanya menyapanya dengan singkat. 15 menit aku mengerjakan akhirnya selesai juga. untunglah, aku siswa dengan nilai terbaik ketahuan belum mengerjakan PR bisa bikin obrolan para guru nantinya.
sewaktu istirahat aku mengingat bingkisan dari Ibu yang diberikan ke Elan, tapi masa iya aku langsung bilang ini dari Ibuku untuk dia. akhirnya aku bilang itu untuk tante Sari.
dan dengan kagetnya, aku di ajak Elan untuk pergi ke tempat kesukaannya. asiik, kita bisa lebih mengenal dia lebih dekat. aku meng-iyakan ajakan Elan.
selesai sudah pelajaran hari ini. aku merasa hari ini cepat sekali, apa aku exited dengan ajakan Elan nanti sepulang sekolah.
hayooo, harus bersikap biasa...bersikap biasa..
"Lin, tunggu di gerbang depan yah..." kata Elan sambil keluar dari kelas, mendahuluiku.
melihat dia menghilang ke arah parkiran sekolah, Ira menemaniku di depan sekolah bersama. katanya dia mau menunggu Mas Indra yang sudah menjadi pacar Ira 3 hari yang lalu. akhirnya temanku yang satu ini tidak lagi menggerutu akibat dia menjomblo.
tiba-tiba Elan dengan mobilnya datang ke arahku, dan hanya membukakan jendela mobilnya. katanya dia ada urusan penting dengan tiba-tiba, temannya ada yang kecelakaan atau apa. hanya sekilas aku mendengarnya.
rencana kita jadi berantakan. aku langsung pulang setelah Ira bertemu Mas Indra.

***

*Sopo Ndug ? = Siapa Nak ?

*Ndug = Nak
 

Freedom... Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review