Gue pulang dengan perasaan menyesal. sampai nyokap jadi ikutan bingung dengan ulah gue. malah gue yang kena marah nyokap gara-gara bikin marah Lina.
Ke esokan harinya gue dengan cepat sudah bangun pagi, sudah wangi langsung berangkat menuju ke rumah Lina untuk menjemput dia. dengan niat baik untuk meminta maaf juga. semoga dia mau gue antar.
sesampainya disana Ibu Lina yang menyambut gue dengan muka sumringah dan semangat paginya. tiba-tiba gue disuruh duduk bareng Ayahnya Lina buat sarapan. gila, gue mimpi apa semalam.
gue lihat Lina terkejut kalau gue ada di ruang makannya. sebelum terlambat masuk kelas, gue pamit buat ngantar Lina ke sekolah.
suasana pagi ini bener-bener dingin, Lina nggak ngomong atau komentar apa-apa soal masalah kemarin. semenjak gue tinggal, Indri sudah nggak pernah ngehubungin gue lagi. dan artinya gue bebas.
"Gue minta maaf ya Lin soal yang kemarin. udah bohong ke elu" kata gue dengan rasa ikhlas. Lina hanya mengangguk dan memaafkan gue. asik akhirnya gue nggak canggung lagi ke dia.
tapi sampai di sekolah, dia ninggalin gue jalan sendiri ke kelas. yahh, harapan gue sirna biar bisa jalan berdua bareng dia.
sewaktu pelajaran Matematika tiba-tiba saja Lina masang muka takut dan nemuin Pak Irdy di depan kelas. katanya dia nggak bawa buku Matematikannya, jadi nggak bisa ngumpulin. gue jadi penasarn, katanya dia peringkat satu terus. siswi berprestasi, tapi kok nggak bawa buku PRnya.
dengan muka sebal dia menghampiri Tiara yang duduk sebangku sama gue. dia tanya kalau Tiara yang ngambil buku PR Matematikanya di laci meja atau bukan. memangnya tadi Tiara ke mejanya Lina yah. ahh dasar, tadi kan gue ditinggalin sama Lina, pantesan aja nggak tahu apa-apa. dengan muka innocentnya Tiara dia bilang, buka dia yang ngambil. dan gue juga percaya sama Tiara, masa iya dia tega ngambil buku temennya.
sewaktu mau pulang, gue ngelihat buku Tiara yang terjatuh di lantai. tapi kok namanya bukan nama Tiara. kemudian gue dengan muka serius meminta untuk melihat nama yang tertera di buku itu. tapi Tiara dengan terburu-buru memasukkan buku itu ke dalam tas.
"Gue lihat tadi bukan nama lu Tir..." kata gue sambil tetap melihat buku itu di dalam tasnya.
"Itu bukuku," kata Tiara, dan kali ini didekapnya tas itu dengan erat.
"Jangan bohong Tir, itu buku Lina kan?"
dan nggak sangkaTiara merubat raut mukanya jadi kaget dan setengah takut gara-gara ketahuan. dengan muka ketakutan, dia menyerahkan buku itu ke gue. "jangan curang gini dong kalau mau saingan lu kalah. pakai cara yang lebih bagus." kata gue sambil mengambil tas untuk kemudian ke rumah Lina memberikan buku ini.
gue lihat dari belakang muka Tiara yang tertunduk dan dengan menyesal atau dia kecewa karena niatnya untuk menjatuhkan Lina gagal. ternyata gue tahu sifat temen sebangku gue ini. di depan gue dia menyanjung Lina dengan pujian, tapi ternyata dia punya niat tersendiri.
sesampainya di depan rumah Lina gue deg-degan. gue takut kalau gue diusir dari rumahnya. tapi kan tadi pagi dia sudah maafin gue. setelah dibuka pintunya, Lina terlihat kaget dengan apa yang gue bawa. Lina sempat menuduh gue kalau gue yang ambil buku dia. dengan malu gara-gara tebakan dia salah dia mengambil buku yang gue bawa.
"Lagi ngapain Lin ?" tanya gue memecah keheningan kita.
"Ngerjain ini nih. pusing, nggak bisa-bisa." kata dia sambil menunjuk buku cetak Matematika.
ternyata dia mengulang kembali pelajaranyang tadi pagi dibahas di kelas.
"Mau gue ajarin ?" tawar gue. dengan muka yang lega, karena ada yang mengajarinya gue dipersilahkan duduk dekat dia untuk menjelaskan persamaan Matematika yang memang lumayan bingung. "kalau yang itu begini nih..." gue menjelaskana sampai Lina tersenyum mengerti.
"Ternyata kamu emang jenius ya Lan." kata Lina yang gue anggap sebagai pujian. gue menggaruk--garuk kepala gue yang nggak gatal tanda gue malu.
tidak lama, Ibu Lina datang dengan membawa sayuran yang baru beliau beli.
"Eh, ada Mas Elan."
"Kok, diajak duduk di bawah to ndug ?" tanya Ibu Lina yang langsung menyuruhku untuk duduk di atas sofa.
"Mumpung Mas Elan ada di rumah, nanti makan siang bareng yah." ajak Ibu Lina dengan senyum yang mengharapkan gue untuk makan di sini.
"Iya-in aja Lan ajakan Ibu, kalau nggak nanti ngambek" bisik Lina mengenai Ibunya. dengan senyum puas, Ibu Lina menuju dapur dan memasak dengan bahan yang dibawanya.
"Nyokap lu ngambekan ?" tanya gue penasaran.
"Iya, kalau ditolak ngambeknya lama. apalagi yang datang kamu." kata Lina dengan pura-pura mengerjakan soal Matematika tadi.
setelah Ibu Lina manggil gue untuk makan, akhirnya gue tahu gimana perasaan Lina saat diajak makan sama nyokap. Ibu Lina sama cerewetnya sama nyokap gue. yang nanya masakannya enak apa nggak, pastinyalah kan udah sering masak pastinya enak. iya kalau gue, masak bisanya bikin mie instan kalau nyokap lagi jenguk ke bokap di Pati.
akhirnya gue bisa ngobrol berdua lagi sama Lina. banyak banget topik kita hari ini, dari soal tarian kesukaan dia sampai soal fotografi yang gue suka. malam ini bener-bener bikin gue lebih tahu soal Lina.
"Lin, malam minggu ngapain ?" tanya gue dengan hati-hati.
"Paling ngumpul sama Ayah sama Ibu nonton tivi di rumah." jawab dia polos. pengen banget gue cubit pipinya yang chubby itu.
"Mau nggak gue ajak ke studio foto gue. aslinya sih bukan punya gue tapi temen gue yang sempet kenal gara-gara fotografi juga." jelas gue. gue harap-harap cemas, Lina mau nerima ajakan gue. dan semoga kejadiannya nggak seperti kemarin.
"nggak ada acara bohong-bohongan lagi kan ?" tanya Lina memastika kejadian kemarin nggak terjadi lagi. gue mengangguk pasti. gue jamin nggak bakal seperti itu.
karena sudah malam, gue akhirnya pamit ke Ayah dan Ibunya Lina. dan gue seneng banget Lina akhirnya mau ngasih gue kesempatan buat ngajak dia keluar bareng.
harapan gue semoga rencananya berhasil.
Siapa aja ya...
Total Pageviews
Popular Posts
-
Dear Mantan Gebetan yang entah dimana... Halo gebetan, aku mau mengungkapkan semua yang ada di hatiku. Aku sudah suka kamu dari SMP tau. T...
-
Sebut saja aku Mike, aku mempunyai seorang pacar bernama Dina. dia baik hati, pintar, tidak sombong dan pasti rajin menabung. kita memiliki ...
-
aku ingin bercerita tentang seseorang yang sangat perhatian padaku. aku akui memang aku memiliki rasa suka padanya. tapi sayangnya dia hanya...
Tuesday, May 13, 2014
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment