Dia yang aku kenal, tidak bersikap seperti itu. dia tenang, murah senyum dan berbeda dengan Rio yang aku tahu. cowok itu mengantarkan ke kamar Rio yang ada di lantai 2. aku menaiki tangga dan masih bingung dengan jawaban yang aneh.
"Aku Leo, saudara kembarnya Rio..." kata cowok itu dengan ramah dan tersenyum.
aku juga melihat di dinding tangga terdapat 3 foto yang terpasang. gambar 2 orang laki-laki yang kembar identik sampai aku tidak bisa membedakan mana yang arogan dan mana yang lemah lembut. sesampainya di kamar Kak Rio, aku melihat action figure yang terpajang rapi di stiap sudut lemarinya.
"Tunggu saja, sebentar lagi dia pulang kok." kata cowok itu yang meninggalkanku sendirian di kamar saudara kembarnya itu. kak Rio ini kemana sih, yang punya tugas kan dia aku cuma membantu saja.
langkah kaki terdengar menyusuri tangga, dan sesosok Rio yang tampilannya lebih berantakan dari Kak Leo datang.
"Sori, gue telat. habis beli ini..." dia mengangkat plastik yang berisian makanan untuk cemilan. "Buat lu." kata dia dengan lebih tenang dan matanya nggak menunjukkan dia berandalan di sekolah. ahh andaikan sikap Kak Rio seperti ini di sekolah, aku mungkin mengenali dia seperti Kak Leo. "Ketemu Leo ?" tanya Kak Rio tanpa ekspresi, seperti bertemu Kak Leo itu dilarang.
"Mana yang harus dibantu ?" tanyaku mempersingkat waktu, aku nggak boleh menyianyiakan waktu untuk tidak belajar.
"Ini, ini, dan yang buku tebal itu..." tunjuk Kak Rio dengan senyum lega karena ada yang membantu dia. dasaar... banyak banget tugasnya pikirku.
aku berpikir keras untuk menjelaskannya pada Kak Rio. dan yang dijelaskan hanya manggut-manggut entah ngerti atau nggak. "Kalau ada yang nggak ngerti tanya aja kak..." akhirnya aku bilang seperti itu ke Kak Rio. daripada aku jelasin sampai berbusa dia cuma manggut-manggut tapi nggak paham sama saja bohong.
seperti di rumah sebesar ini cuma ada Kak Rio dan Kak Leo.
"Kak, Ayah sama Ibu kakak nggak ada di rumah ?"
"Kenapa ? takut gue apa-apain ?" ahhh mulai lagi pertanyaan yang bikin males. aku tidak menjawab pertanyaan Kak Rio dan lanjut menjelaskan ke buku tebal yang tadi ditunjuk olehnya.
"Mereka keluar negeri, gue cuma sama Leo dan pembantu." tiba-tiba Kak Rio menjelaskan dimana orang tua mereka. giliran aku yang manggut-manggut. "gantian nih ceritanya lu yang manggut-manggut." lanjut dia disambung dengan candaan.
setelah membantu Kak Rio mengerjakan tugasnya, aku langsung pamit pulang. saat turun ke bawah dan melihat Kak Leo yang duduk bersila di sofa dengan menggunakan earphone yang nangkring di telinganya dengan wajah tanpa ekspresi dan tenang. tidak lama Kak Leo dengan posisi seperti itu mengingatkanku dengan cowok halte waktu itu. iya, mirip banget... aku beranikan diri untuk mendekat ke arah Kak Leo dan Kak Rio yang ada di belakangku hanya diam di tempatku sambil melihatku menuju ke sana.
"Emm, Kak..." sapaku dengan tenang. saat Kak Leo bergerak melihatku dia menyunggingkan senyuman yang membuatku tenang.
"Ada apa ? emmm..."
"Oh iya, aku tadi belum memperkenalkan diri. aku Rena... salam kenal Kak." aku menjulurkan tanganku untuk berjabat tangan tanda pertemanan. sedikit lemot Kak Leo merespon tanganku, akhirnya dia menjabat tanganku dengan memanggil namaku..
"Rena ya, ehmm ada apa ?"
"Kakak, sering ke Halte di seberang sana Kak ?" tanyaku dengan sedikit takut, takut kalau aku menyinggung perasaan dia. cowok cakep begini kok nongkrongnya di halte. tapi belum aku mendengarkan alasan Kak Leo, tangan yang ada di belakangku menarikku dengan sedikit kasar. "Aduuuh..." aku mengaduh kesakitan, tapi memang Kak Rio kalau narik sakit banget.
"Nggak usah tanya seperti itu ke Leo." jelas Kak Rio masih sambil melihat lurus ke jalanan. aku malah jari penasaran, ada apa dengan saudara kembar ini.
Ke esokkan paginya, lagi-lagi aku melihat cowok yang duduk di halte dengan mendengarkan musiknya lewat earphone. saat ini aku sudah bisa mengenalinya. itu Kak Leo...
"Kak Leo sedang apa disini ?" seperti biasa dia dengan tenang melihat ke arahku lalu tersenyum.
"Rena ya?" tanya dia memastikan siapakah yang ada di depannya sekarang. aku mengangguk kemudian menemani dia duduk di sampingnya. "Dulu Cindy pernah kecelakan di sini." mendengar perkataan Kak Leo bulu kudukku langsung berdiri. "Dia sahabat kita dari kecil... gara-gara..." lagi, dia tidak meneruskan ceritanya. aku melihat matanya, tatapannya kosong entah dia memikirkan siapa. Cindy, aku baru tahu ada nama itu dikehidupan mereka. ahh beruntungnya Cindy bisa akrab dengan mereka berdua. tidak lama bus yang biasa aku tumpangi datang, aku melihat Kak Leo yang masih menatap dengan tatapan kosong dan meninggalnya menaiki bus yang tadi datang. ekspresinya tidak berubah...
sesampainya di sekolah karena aku penasaran dengan cerita Kak Leo yang terputus tadi, akhirnya aku menuju ke kelas Kak Rio yang ada di lantai dua. aku mencari kelas yang di tempatinya, tapi aku tidak melihat batang hidungnya di sana. karena tidak ketemu akhirnya aku kembali ke kelas. dan pada saat perjalanan ke kelasku, aku bertemu Kak Rio yang berjalan dengan anak buahnya.
"Kak, aku mau tanya..." kataku dengan mata yang penasaran meminta jawaban yang sebenarnya.
"Soal Leo ? gue nggak bisa ceritain ke lu, apalagi di sekolah."
aku sadar kalau seisi sekolah pimpinan sekolahku Rio tidak tahu kalau dia punya saudara kembar yang cool abiss. dengan tangan hampa, aku kembali ke kelas dengan membawa penolakan dari Kak Rio, tapi dasar tukang penasaran aku tetap membrondongi pertanyaan soal Kak Leo.
selesai sekolah aku masuk ke mobil Kak Rio yang ada di parkiran sekolah. semua melihat ke arahku seakan aku ini manusia yang menular. mereka heran kali, kenapa seorang nerd sepertiku bisa jalan dengan Kak Rio siswa terpopuler karena kenakalannya.
di dalam mobil Kak Rio memasang wajah serius, dan pertama kali ini aku melihat wajah seorang Kak Rio yang sedang serius.
"Jadi gini ceritanya..."
dia menjelaskan semua dan membuatku bengong. ternyata begitu kisah Kak Leo yang menyebabkan aku penasaran.
"So, lu bakal bantuin gue lagi kan ngerjain ini..." dia mengeluarkan buku tebal yang ada di tasnya. berasa dia Doraemon yang tasnya bisa memnuculkan apa saja. arrrgh, pantas saja dia tenang dan serius banget sewaktu menceritakan kisah Kak Leo. dasaaaar...
Siapa aja ya...
Total Pageviews
Popular Posts
-
Dear Mantan Gebetan yang entah dimana... Halo gebetan, aku mau mengungkapkan semua yang ada di hatiku. Aku sudah suka kamu dari SMP tau. T...
-
Sebut saja aku Mike, aku mempunyai seorang pacar bernama Dina. dia baik hati, pintar, tidak sombong dan pasti rajin menabung. kita memiliki ...
-
aku ingin bercerita tentang seseorang yang sangat perhatian padaku. aku akui memang aku memiliki rasa suka padanya. tapi sayangnya dia hanya...
Monday, May 19, 2014
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment