Wednesday, May 7, 2014

I'm In Love (Part 9)

Posted by ceritacurhatku at 4:26 AM
Yak, praktis aku jadi salting begini gara-gara melihat Elah ada di rumah ini. ya memang ini rumah dia sih. tapi kenapa Mas Ari mengajakku ke sini sih.. dan benar, lagi-lagi aku di cuekin sama Elan. sebal...
"Mas Ari, kenapa nggak bilang sih kalau mau ke rumah Elan. aku kira mau ke rumahmu." bisikku pelan. takut kalau Ibunya Elan dengar.
lama aku mengobrol dengan Ibunya Elan dan Mas Ari, sampai-sampai nggak kerasa si Elan nggak balik-balik dari kamarnya.
baru saja di obrolin, orangnya datang. Elan dengan wangi khasnya dan senyumannya datang menuju ke ruang tamu menemui Mas Ari juga aku.
Mulailah sifat jahil Mas Ari muncul. yang bilang kita salting, yang ngungkapin kalau aku pernah ditolong Elan sewaktu jatuh dulu. iih, mas Ari nih ember ternyata. Apa-apa di ceritain dengan senyum jahil. aku cemberut dan kadang memukul pelan Mas Ari.
"Ihh, Mas apaan sih..." kataku pelan sambil memukul pundaknya pelan.
tapi tetap saja namanya Mas Ari selalu nggak berhenti-berhenti menggoda kami. setelah lama mengobrol dengan Ibu Elan dan juga Elan. aku dan Mas Ari diajak Ibu Elan untuk sekalian makan malam di sini. aduuh, aku berasa ingin pulang saja, kalau lama-lama dekat Elan saltingku nggak akan hilang.
dan keadaan lebih canggung karena Mas Ari tiba-tiba ditelepon oleh Mbak Mila karena ada tamu dari luar negeri yang datang.
"Tante aku ke sanggar dulu ya, ini ada tamu dari Perancis datang." kata Mas Ari dengan terburu-buru. sambil mengambil kunci motornya dia berpesan kepadaku "Aku cuma sebentar kok, nanti aku kesini lagi. nanti aku sms yah." kata dia dengan menjalankan motornya sedikit lebih cepat.
aduh, bagaimana ini. aku nggak bisa basa-basi ke Ibunya Elan.
"Lina, ayo sini makan dulu. kan kata Ari, dia balik kesini lagi." kata Ibu Elan sambil menata piring ke meja makan. aku nggak bisa diam dan akhirnya membantu Ibunya Elan untuk menyiapkan makan malamnya.
stelah semua beres, kami bertiga menyantap makan malam. dalam keadaan diam aku dan Elan makan makanan yang sudah disiapkan Ibunya.
"Gimana Lina ? enak nggak masakan Tante ?" tanya Ibunya Elan. "panggil saja Tante Sari gitu ya Lin." lanjut Ibunya Elan dengan lanjut makannya.
"Enak kok Tante masakkannya." jawabku dengan sedikit melirik ke arah Elan.
dia tetap saja makan dengan diam dan mengambil makanan yang disukainya. aku nggak tahu apa yang dia pikirkan kalau sudah sama-sama diam begini.
selesai makan, ternyata Tante Sari enak kalau di ajak ngobrol. maklum saja dia masih muda. umurnya baru 40 tahun. masih lebih tua Ibuku, batinku.
"Kapan-kapan kesini lagi ya Lin, nanti Tante ajarin masak ayam creamnya." pinta Tante Sari dengan harapan aku bisa datang lagi ke sini. "Oh iya, si Kiki kalau di sekolah bagaimana dia Lin? " tanya Tante Sari.
"Ohh, kita sih nggak sering ngobrol Tan, hhehe..." kataku dengan sedikit cengengesan. "Dia cuek orangnya Te."
"Kata siapa Gue cuek Lin?" tanya Elan yang baru saja membereskan meja makan. bergiliran dengan Tante yang tadi memesak untuk kami. sebenarnya aku mau membantu mereka tapi aku diminta untuk duduk saja mengobrol dengan Tante Sari. "Udah tugasnya dia buat bersih-bersih meja makan kalau selesai makan malam" kata Tante Sari tadi. mendengar suara Elan aku jadi kaget dan bingung mau ngomong apa.
"Kataku barusan Lan." jawabku dengan memebranikan diri, takut kalau Elan tersinggung. dia tidak menjawab dan langsung melengos pergi ke kamarnya.
"Oh Tante ngomong-ngomong kok Omm nggak di rumah ?" tanyaku penasaran karena dari tadi dan sampai malam jam 9 malam begini belum pulang.
"Oh, Ayahnya Elan lagi ada proyek di Pati Lin, jadi Tante sama Elan disuruh tinggal di Yogyakarta saja." jawab Tante Sari.
Tante juga bercerita kemana saja mereka berpindah-pindah tempat, pokoknya dari sabang sampai merauke deh. Omm Rendra bener sibuk orangnya -Nama Ayahnya Elan- karena sayang keluarganya makanya meminta Tante Sari pindah-pindah kota sekalipun.
"Yuk, udah malem. gue anter lu pulang." kata Elan dengan tiba-tiba memutus obrolanku dengan Tante Sari yang lagi seru-serunya. dengan terpaksa aku berpamitan pada Tante Sari dan berjanji kapan-kapan ke rumah beliau lagi. aku melihat dari dalam mobil, Tante Sari melambaikan tangannya kepadaku. dan aku membalasnya dengan senyuman juga.
setelah mobil Elan berjalan rasanya aku sampai bisa mendengar suara mobil Elan yang melaju dengan lambat. entah karena memang dia sering menyetir dengan kecepatan lambat atau apalah...
diam, kami tetap diam sampai aku memulai percakapan terlebih dulu. aku meminta maaf kare sudah salah menekan tombol yang lain sampai aku melihat foto dia dengan pacarnya yang ada di Bandung. tapi jawaban dia malah foto itu sudah dia hapus, dan katanya lagi dia sudah putus dengan pacarnya itu. mungkin karena kita masih canggung, Elan menanyakan luka yang ada sewaktu aku jatuh dari sepedaku. aku dengan reflek mengangkat rokku sedikit sampai luka di kakiku terlihat. aduuh... salting juga nggak gitu juga, rutukku dalam hati. sesampainya di rumah aku merasakan kalau mobil Elan belum pergi-pergi sampai aku masuk rumahpun dia masih ada di depan. ahh dia gentle banget... pikirku dengan imajinasiku sendiri.

0 comments:

Post a Comment

 

Freedom... Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review