"Bibeh, lagi-lagi gue ditembak cewek tau." curhat Renald sambil meminum es jeruknya.
"Salah lu sendiri ngondek tapi cakep." ejek Lia yang hampir kena pukul si Renald. Dua sahabat gue ini emang paling pinter banget bikin gue puyeng gara-gara mereka sering berantem.
"Udah ahh, berantem mulu sih..." kata gue sambil melerai mereka berdua yang masih tengkar sampai mulut Lia kelihatan monyong.
Seperti biasa, Renald yang memang suka fashion dia nggak lupa bawa peralatan perang cewek alias make up. "Bibeeh, gue bawa kutex lho, warnanya cocok banget buat Lu Vin." Renald sambil menyodorkan kutex warna ungu ke depan gue.
"Kenapa harus ungu sih warnanya, gue kan bukan janda." protes gue sambil menyingkirkan tangan gue dari Renald.
"Ahh elu, temen gue nggak ada yang janda. Ungu tuh bukan warna janda, tapi warna kemewahan tau." jelas Renald sambil mengambil tanganku yang tadi ogah dikutex-in. "Sini gue pakai.in" kata Renald mengusapkan kutex ungu itu di jari-jari gue.
"Uwaah, kelihatan mewah Vin." kata Lia dengan memegang tangan gue ke atas biar blink-blink kata Lia.
yapp, percobaan Renald akhirnya berhasil, tangan gue jadi seperti mewah, berkilauan karena catnya. dan gue merasa, warna ungu bukanlah warna janda. gue menjadi berbeda dengan cat kuku kali ini karena memang gue jarang pakai warna ini.
"Vin, gebetan lu dateng tuh." kata Renald sambil mengangkat dagunya ke arah Leo. dia gebetanku semenja masuk kampus ini. dia satu jurusan denganku tapi gue jarang ketemu dengan dia gara-gara kita beda kelas.
kata temanku yang satu kelas dengannya, Leo benar-benar seperti seniman. rambut yang gondrong sebahu, kemeja yang tidak terlalu rapi membuat dia menandakan seniman sejati. tapi gue suka gaya dia, entah kenapa gue semakin dekat dengan dia karena satu organisasi.
"Hai Vin..." sapa dia dan kemudian pergi menuju mejanya. dia makan dengan teman cowok lainnya, tapi hanya dia yang paling berkilauan, seperti jari gue sekarang.
"Eciee yang disapa gebetan." gue langsung menutup mulut Renald yang mengjekku bersamaan dengan Lia. dasar dua orang ini, kadang tengkar mulu, kadang kalau udah jahil bareng-bareng.
"Kenapa nggak lu tembak sih Vin, ntar ada yang nyamber patah hati lho." kata Renald lagi dengan senyum jahilnya.
"Gara-gara ada lu sih disini, cowok sendiri, badan gedhe dikira dia kan lu bodyguardnya si Vina." tembak Lia yang langsung dibalas pukulan ringan di kening Lia. hhahaha dasar mereka ini.
"Dasar lu, gue timpuk pake mangkok rasain." balas Renald yang sifat kekanakannya muncul.
bukannya gue nggak berani, dia bakal nggak inget gue kalau nggak ada event dari organisasi gue. tepat hari ini kita jadi satu tim makanya Leo nyapa gue.
ada pameran lukisan dan patung yang dibuat untuk merayakan ulang tahun kampus gue. jadi jurusannya si Renald bikin baju dan juga dipamerin. jurusan gue sama Lia ya itu tadi bikin lukisan dan patung. dan gue bareng Leo buat jadi satu tim yang ngurusin pengumpulan hasil karya temen-temen. agak susah sih maksa temen-temen buat tepatin deadline.
setelah kita berpisah karena ada kuliah di kelas masing-masing, kuliah hari ini begitu menyenangkan. bikin luisan yang ngelihat dari sudut pandang mana aja. dan yang jadi modelnya itu Linda cewek songong yang sok jadi model lukisan kita. dia bisa seenaknya jadi model, harusnya nggak boleh bergerak sampai selesai, tapi dia yang gerak mau minum atau apalah. jadi nggak selesai-selesai dong kuliahnya.
selesai ngelukis model songong yang nggak bisa diatur, akhirnya gue dan Lia pergi menuju rumah gue untuk ngelanjutin lukisan yang bakal dipamerin di kampus. nggak sengaja gue menabrak seorang cowok yang membawa banyak kanvas.
"Sori bangeet, gue nggak ngelihat." dan pas gue ngelihat muka cowok itu tadi ekspresi gue seakan-akan hilang dan berubah jadi bengong. untung aja nggak begitu lama, dengan sadar gue ngebantu cowok itu yang ternyata adalah Leo.
"Cat kuku lu bagus..." kata Leo, entah dia muji atau apa gue bener-bener nggak nyangka dia ngobrol sama gue. tapi bodohnya, gue lupa kalau sebagian lukisan yang dia bawa ada di gue. akhirnya sebagai permintaan maaf gue ngabantu dia untuk mengantar lukisan ke sekretariat organisasi gue.
"Semangat Vin.." bisik Lia dari kejauhan, gue hanya melihat gerakan mulutnya.
"Gue harus gimana??" tanya gue panik sambil berjalan mengikuti langkah Leo.
***
keesokan harinya event pameran sudah dimulai. lagi-lagi gue harung angkat-angkat kanvas untuk diletakkan pada ruangan pameran. tiba-tiba kanvas yang gue pegang terangkat setengah, dan ternyata yang mengangkat sebagian kanvas yang gue bawa itu Leo.
"Thanks..."
"Cat kuku lu jangan dihapus, bagus kok warnanya menandakan kalau itu elu." hiyaaa.. kenapa tiba-tiba Leo ngomong begini lagi sih.
setelah kejadian tadi pagi yang mengankat kanvas, gue semakin canggung kalau kerjasama dengan Leo. gue salting setiap bareng Leo gara-gara dia ngebahas kutex gue. jangan-jangan dia suka warna ungu, pikir gue bego.
"Banyak pengunjung Vin ?" tanya Renald di seberang kelas gue.
Sstt.. gue meletakkan jari telunjuk gue ke bibir dan kemudian menunjuk ke Leo yang berjalan di depan gue. si Renald malah cengar-cengir lihat gue salting begini.
***
Akhirnya pameran berhasil dengan lancar karena adanya kerjasama yang baik antara satu tim. satu organisasi berkumpul dan mengadakan evaluasi, apa saja yang kurang dari acara tadi, dan apa saja kesalah atau ketidaktelitian para panitia.
untung tidak ada yang dipermasalahkan, setelah evaluasi kami satu organisasi setuju untuk mengadakan pesta syukuran untuk keberhasilan pameran tadi. kita semua pergi ke tempat karaoke, dengan 14 anak yang menadi panitia. ruangan karaokepun menjadi tempat pentasnya anak-anak.
Leo yang sedari tadi diam karena mungkin nggak tertaik dengan menyanyi akhirnya menjadi remot anak-anak untuk memilih lagu.
"Vin, lu mau nyanyi apa ?" tanya Leo tiba-tiba. sial, untung aja karaoke tempatnya gelap, jadi dia nggak tahu kalau pipi gue memerah.
semua teman-teman pada heboh menyanyi, ada yang lagu Korea, Indonesia samapai yang kebetulan pacaran menyanyikan duet, dan parahnya lagi ada yang goyang ngebor buat nyanyiin dangdut. astagaaaaa....
gue ngelihat Leo yang barusan dari kamar mandi, tiba-tiba duduk disebelah gue dan mengajak ngobrol gue. karena temen-temen nyanyinya keras banget, Leo sampai mendekatkan bibirnya ke telinga gue reflek gue sedikit bergeser karena takut ada yang salah paham. Leo mengajak gue keluar entah karena apa. setelah keluar dari ruangan Leo tiba-tiba jadi salah tingkah. gue jadi ikutan salah tingkah.
"Vin, mau jadi pacar gue ? gue suka sama lu" tanya Leo tegas. dengan gaya khasnya yang sedikit cuek atau bisa dikatakan pemalu. dia menunggu gue yang lagi bengong nggak tahu mau jawab apa karena mendadak banget.
"Gue, sebenenya juga suka sama lu sudah lama." kata gue dengan memberikan sedikit keberanian.
"Gue suka cat kuku lu."
"Lu suka warna ungu ?" tanya gue polos. dengan cepat memukul bibir gue yang sudah asal ngomong.
"Gue suka semua yang ada di lu, apalagi pakai cat kuku warna ungu yang lu banget." jawab dia dengan kembali tenang. dia tenang tapi gue yang masih salah tingkah. nggak nyangka bakal ditembak di tempat karaoke. pas gue masuk ke dalam ruangan, temen-temen gue ngasih gue surprice dengan petasan kertas yang biasa untuk ulang tahun. ahhh, gue malu... ternyata semua anggota organisasi gue tahu kalau Leo mau nembak gue.
mimpi gue yang jadi kenyataan, gebetan gue yang jadi pacar beneran. makasih deh Lia sama Renald buat semangatnya. hhaha nggak sia-sia gue ngomong suka ke Leo. meskipun kita semua di marahin petugas karaokenya gara-gara ngotorin ruangan pakai petasan kertas, gue tetep seneng karena gue tetep jadi pacar Leo sampai sekarang. Renald yang dikira banci bisa juga nembak Lia yang cerewet dan nggak bisa damai sama dia. ternyata mereka udah saling suka semenjak Renald pernah bikinin baju Lia buat pesta pernikahan abang gue. Lia jadi penggemar sekaligus pengkritik Renald. ahh, genk kita akhirnya punya pasangan masing-masing. dan gue juga bersyukur banget pakai kutex ungu yang mempertemukan gue sama Leo :)

0 comments:
Post a Comment