Gue bingung harus ngomong apa ke Lina tentang ini, akhirnya dengan terburu-buru gue menelpon Ari yang mungkin dia sedang tidak sibuk.
"Hai Lan, ada apa?" tanya ari diseberang sana.
"Gue sama Lina sebenernya mau keluar bareng tapi tiba-tiba Indri telepon gue buat ngejemput dia di bandara. gue harus gimana? Lu bisa jemput Lina di sekolah ? " tanya gue bingung.
"Sori Lan, aku masih ada kerjaan di sanggar. ada yang mau keluar negeri lagi." jelas Ari yang bener-bener nggak bisa menolong gue. telpon langsung gue tutup dan kemudian menuju ke depan gerbang sekolah, tempat Lina menunggu.
Gue bener-bener merasa bersalah sama Lina. harusnya gue mentingin Lina daripada Indri yang bukan siapa-siapa gue. sekarang gue sudah berada di sampin Indri yang mengobrol entah tentang topik apa. gue cuma mikirin Lina yang gue lihat ekspresi dia yang kecewa banget. Bodohnya gue.
"Sayang, kamu dengerin aku kan ?" tanya Indri, sadar kalau gue nggak dengerin satupun cerita dia.
"Jangan panggil gue dengan kata-kata sayang. kita sudah putus sebelum gue datang ke kota ini." kata gue dengan dingin.
"Ada apa sih sama elu? gue salah apa ke elu? elu yang ninggalin gue, sekarang elu juga yang mutusin gue. maksud lu apa ?" cerca Indri dengan muka yang sudah merah padam gara-gara marah. gue memang salah, ini juga salah gue kenapa gue datang kesini.
"Lu udah ada hotel kan buat nginep, gue anter kesana aja." kata gue dengan tetap dingin. gue nggak menengok ke arah dia. entah dia marah atau nangis gue nggak peduli.
"Antar gue makan dulu Lan. Gue laper..." rengek dia.
akhirnya gue turunin dia di McD dekat hotelnya. kertas yang bertuliskan alamat rumah gue sudah gue sobek dan gue buang.dengan tega gue mengeluarkan koper dia dari bagasi mobil. dan langsung menuju ke depan gerbang sekolah. gue harap dia masih ada di sana. gue harap...
tapi harapan gue sirna, gara-gara gue lihat dia nggak ada di depan gerbang. gue nggak hilang akal. gue langsung menuju ke rumah Lina.
"Assalamualaikum..." kata gue.
"Waalaikumsalam.." sahut orang yang ada di dalam rumah. "Eh, Mas Elan to..." kata Ibu-ibu yang pernah gue lihat sebelumnya.
"Linanya ada Bu ?" tanyaku.
"Nggak ada Mas Elan. dari tadi siang belum pulang. Mungkin ada di sanggar." kata Ibu Lina.
gue cepat-cepat pamit dan langsung meluncur ke sanggar Lina. gue ngerasa kalau Ibunya Lina kebingungan lihat tingkah gue. semenatara itu handphone gue bergetar terus. dan gue lihat ternyata Indri yang menelpom. gue nggak mengangkat dan lanjut menuju ke sanggar.
sesampainya di sanggar gue mendengar alunan lagu jawa. gue lihat dari luar jendela, ternyata itu Lina sedang menari dengan luwesnya. tapi ekspresi dan lagu ini sangatlah sedih. gue tambah ngerasa bersalah.
gue sudah berbohong, dan gue juga ninggalin Lina sendirian. alunan musik jawa itu akhirnya berhenti, aku melihat Lina melamun. dengan memberanikan diri aku menghampirinya.
"Lin..." sapa gue. dia kelihatan kaget kalau gue ada di sini sekarang. dengan muka keringetan, dengan seragam yang masih gue pakai. dan paling buruknya dia mengacuhkan gue. "Gue tahu, gue salah Lin..." ungkap gue dengan muka menunduk.
"Aku tahu dari Mas Ari kalau kamu menjemput pacar kamu ke bandara."
arrgh si Ari, kenpa dia ember sih jadi cowok. "Iya, gue jemput Indri, tapi dia bukan pacar gue... Lo lihat gue sampai basah gara-gara keringetan nyari lo." kata gue memberanikan diri ngelihat Lina yang sekarang ada di depan gue. "Maafin gue Lin. sekarangpun kita jalan ke tempat kesukaan gue..."
"Sekarang aku yang lagi nggak pengen ke tempat kesukaanmu." balas dia dengan mengacuhkan gue lagi. dan langsung menuju ke kamar mandi cewek, gue nggak mungkin masuk buat nyusul dia.
arggh.. gue harus bagaimana. selagi gue masih emosi, handphone gue bergetar lagi. dengan sebal gue lepas batere handphone gue biar Indri nggak bisa nelpon gue.
"Maafin gue Lin..." kata gue lagi. sambil mengetok pintu kamar mandinya.
tiba-tiba seseorang menepuk pundak gue. dan itu Ari, dengan emosi gue mencengkram kerah ari yang tingginya hampir sama dengan gue.
"Tadi, lo bilang apa ke Lina. samapai dia marah."
"Kamu yang bikin dia marah Lan, kenapa nggak jujur saja kalau Indri datang ke sini." jelas Ari. gue langsung diam dan melepaskan cengkraman tangan gue. "Sebaiknya kamu pulang saja, sudah basah kuyup begitu, nanti masuk angin lho. Lina biar aku saja yang menenangkan."
gue tahu, hari ini maaf gue nggak bisa di terima oleh Lina. akhirnya gue pulang dengan basah kuyup karena keringat. entah sampai kapan gue harus minta maaf terus ke Lina.
Siapa aja ya...
Total Pageviews
Popular Posts
-
Dear Mantan Gebetan yang entah dimana... Halo gebetan, aku mau mengungkapkan semua yang ada di hatiku. Aku sudah suka kamu dari SMP tau. T...
-
Sebut saja aku Mike, aku mempunyai seorang pacar bernama Dina. dia baik hati, pintar, tidak sombong dan pasti rajin menabung. kita memiliki ...
-
aku ingin bercerita tentang seseorang yang sangat perhatian padaku. aku akui memang aku memiliki rasa suka padanya. tapi sayangnya dia hanya...
Monday, May 12, 2014
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
2 comments:
gak sabar nunggu kelanjutannya. .
ditunggu ya, ndug. .hehe
siap bu :p
Post a Comment