"Oh iya ? siapa Dess?"
"Namanya, emm... dis, Yudhis ?" ohh, ternyata tetanggaku menjemputku pulang. tapi sayangnya aku sudah pulang duluan hhaha. "Eh iya, kenalin dong sama namanya Yudhis, dia cakep deh..." lanjut Desi dengan memuji Mas Yudhis.
aku Diah, masih kelas 3 SMP. Aku mempunyai 4 orang cowok yang aku anggap kakakku sendiri. Mas Yudis yang tadi dibicarakan Desi adalah yang paling muda diantara mereka dia kelas 2 SMA dan cowok paling cakep pertama menurutku dia itu putih, cakep, baik, suka bercanda, rajin sholatnya tapi dia nggak rajin menabung. terus ada lagi namanya Mas Agung, sebenarnya ada 2 nama Agung diantara mereka. Agung yang pertama namanya Agung Irdianto, kemudian yang satunya FX Agung Sefri. jadinya satu dipanggil Irdy, satunya Sefri. karena beda bentuk tubuh, Mas Irdy kurus dan Mas Sefri gendut jadi dipanggil saja Keceng dan Gendut hehe. dan satu lagi yang terakhir namanya Ardha Dwi. cowok yang paling bandel, sok keren, dan jangan bilang-bilang yah Mas Ardha ini pernah nembak aku lhoh *gosiiip...
mereka bertiga, maksudku Mas Irdy, Mas Sefri dan Mas Ardha mereka itu sama-sama kelas 3 SMA tapi berbeda sekolah.
2 hari yang lalu sebenarnya ke empat cowok itu mengingkari janjinya ke adik cewek yang paling imut ini *huek... iya, mereka berjanji mengajakku nonton ke bioskop bareng-bareng. tapi ternyata...
"Maaf ya Di..." kata Mas Ardha dengan meletakkan tangannya di depan mukanya. "Maaf ya Bu..." lanjut dia dengan meminta maaf ke Ibuku. hhahaha, mereka sudah kena omel ibuku karena membuatku menunggu.
1 jam aku menunggu di depan gerbang tapi mereka semua tidak menghubungiku dan menemuiku di depan sana.
"Kok, nggak jadi kenapa? Diah sudah nunggu lama lho di depan sampai balik pulang ke rumah."
begitu kata Ibu sampai membuat mereka berempat sungkan kepada Ibuku dan juga aku. di depan rumah saat mereka berpamitan untuk pulang Mas Yudis tiba-tiba nyeletuk "Iya bu, kemarin temennya Ardha sunatan." aku dan Ibuku mengangguk maklum dan kemudian diam untuk berpikir, seorang cowok udah kelas 3 SMA baru disunat.
"Ahh, alasan aja kamu Mas." teriakku ke Mas Yudis dan Mas Ardha disambut dengan tawaan mereka berempat. dasaar...
***
"Di, nanti pulang ke toko buku yuk. aku mau beli novel yang sudah aku incar." kata Liling yang teman sebangkuku. kerena tidak ada acara apa-apa aku mengiyakan ajakan Liling untuk ke toko buku.
sepulang sekolah aku berjalan ke arah toko buku yang memang jarak dari sekolah tidak begitu jauh. hampir masuk ke toko buku 3 motor meewatiku dengan samar-samar terdengar seseorang memanggilku. aku menoleh ke belakang ternyata Mas Ardha, Mas Sefri, Mas Irdy dan Mas Yudhis menghentikan motornya tepat di depan toko.
"Hee? Kalian ngapain ke sini ?" tanyaku terkejut melihat mereka lengkap ada di depanku.
"Ayo nonton, kan kemarin nggak jadi." kata Mas Sefri dengan mengulurkan helm yang ada dibawanya. aku bingung dan meihat ke arah Liling yang juga ikut berhenti di sebalahku.
"Tapi aku sama...."
"Udah sana nggak apa-apa kok, udah sampai ke tokonya juga aku sendirian nggak masalah kok."
"Tuh, temenmu nggak keberatan kok ya ... emm..." potong Mas Yudis karena dia tidak tahu nama Liling.
"Aku Liling Mas.." kata Liling memperkenalkan diri ke depan 4 cowok itu. aku melihat mereka berempat tersenyum dengan sumringah, ihh dasar cowok kalau lihat yang lebih cantik aja begitu.
"Maaf ya Ling..." kataku sambil mengambil helm yang dipegang Mas Sefri. Liling mengangguk kemudian masuk ke Toko Buku. aku dan keempat lelaki ini langsung menuju ke bioskop dan ternyata mereka sudah beli tiket masuknya. asik ditraktir...
dengan menggunakan seragam SMPku dan mereka yang sudah ganti baju selain Mas Yudis yang masih memakai seragam sekolahnya masuk ke bioskop.
kami waktu itu menonton Thor, film apa itu aku tidak tahu tapi mereka berempat menikmatinya. aku melihat mereka serius menatap layar di depannya. harusnya film kesukaanku dong kalau mereka mengajakku.
selesai menonton, kami bersama pergi makan ke tempat favorit kami.
seperti biasa Mas Irdy dan Mas Ardha memesan Bakso dan Es Kelapa kesukaan mereka. Mas Sefri memesan Mie rebus istimewa dengan es teh manisnya. Mas Yudis dan aku yang mempunyai selera makan yang sama memilih untuk makan roti bakar dengan jus strawberry kesukaan kami disini. tanpa bicara kami langsung melahap pesanan yang datang.
"Gimana ? bagus kan filmnya? aku yang milih lho..." kata Mas Sefri sambil sesekali menyesap es tehnya.
"Harusnya kalau sama aku filmnya yang romantis dong Mas, tadi aja aku nggak tahu itu film apa..." jelasku dengan muka yang cemberut.
"Itu tadi film pahlawan berpalu.. hhahaha" kata Mas Yudis dengan candaan seperti biasa. aku sangat senang bersama mereka apalagi kalau Mas Yudis sudah bercanda, perut kami bisa sakit gara-gara mendengar candaannya harusnya Mas Yudis jadi komedian aja.
"Tadi mau nonton yang romantis Di, tapi kalau sama mereka ya nggak romantis dong." jelas Mas Ardha dengan suara beratnya. langsung saja Mas Irdy, Mas Yudis dan Mas Sefri mengusiliku dan kata-kata "cie"nggak akan berhenti, kalau mereka nggak ganti topik lainnya.
selesai mengobrol-ngobrol dengan mereka sampai mata berair gara-gara candaan Mas Yudis mereka semua mangantarku pulang dan memastikan kalau aku sampai rumah dengan selamat. setelah aku masuk rumah mereka berempat meninggalkan rumahku dan pulang ke rumah masing-masing.
"Sudah nonton sama mereka ? tadi mereka ke rumah minta ijin ke Ibu kalau mau ngajak kamu pulang sore." jelas Ibu dengan tersenyum. Ibu sudah menganggap mereka anaknya sendiri. jadi mereka percaya-percaya saja sama mereka. pernah sutau hari aku ada janji dengan pacarku yang sekarang sudah jadi mantan *hiks... aku meminta bantuan Mas Sefri untuk mengantarku kesana. karena peraturan ketat untuk anak SMP sepertiku. Ibu mengijinkan pergi karena Mas Sefri yang meminta ijin ke Ibu. hhihi...
beberapa bulan, aku tidak bisa bertemmu dengan mereka, Mas Irdy, Mas Sefri dan Mas Ardha menghadapi ujian, dan aku juga minggu depan sudah UAN. ahh semoga kami berhasil...
acara pesta kelulusan kami dimulai. kami datang ke tempat Mas Sefri yang rumahnya lebih luas daripada rumah kami. di halaman belakang kami memulai acara makan-makannya. Mas Yudis yang terlambat datang ternyata membawa seorang perempuan. Dia bernama Lia, ternyata sudah 2 bulan ini semenjak kita tidak bertemu Mas Yudis menggebet cewek manis ini. untungnya aku tidak sendirian, maksudku ada cewek satu lagi di sini hhaha...
Mas Ardha masuk ke jeurusan teknik, Mas Sefri ke pendidikan IT, Mas Irdy ke DKV, aku masuk ke sekolah yang cukup jauh dari rumah. Mas Yudis mendapatkan pacar baru hhahahah...
pesta barbeque dimulai. aku dan Lia bertugas mengiris-iris semua bahan, Mas Yudis mempersiapkan alat bakarnya, kemudian trio Universitas mempersiapkan alat masaknya dan membantu kami membakar dagingnya.
makan malam ini termasuk yang terakhir buat kita, karena selanjutnya kami tidak pernah bertemu, Mas Ardha yang jarang pulang karena rumah dan kampusnya juga lumayan jauh. Mas Sefri yang tetap pulang juga sibuk dengan organisasi dan magangnya di kampusnya. Mas Irdy yang juga sibuk dengan bisnisnya jarang pulang dan bertemu denganku. Mas Yudis setelah lulus dari SMA dia melanjutkan ke Jogja untuk bekerja. ahh kita akhirnya berpisah.
***
Setelah 7 tahun kita tidak bertemu. kami sudah berubah, dari anak yang cengengesan menjadi seorang yang serius. Mas Irdy sukses dengan bisnisnya dan lulus sarjana, Mas Sefri menjadi dosen di sebuah universitas, dan Mas Yudis yang mendahului Mas Sefri, Mas Irdy dan Mas Ardha untuk menikah dengan perempuan Jogja setelah dia putus dengan Lia yang sudah dipacarinya selama 3 tahun karena LDR yang katanya tidak kuat dia lakukan. dan kami bertemu kembali setelah lama sibuk dengan keadaan masing-masing di pernikahan Mas Ardha dengan guru TK yang cantik dan lemah lembut. dan nggak disangka, mereka itu dijodohkan dan akhirnya menikah. aku baru tahu kalau Mas Ardha setuju di jodohkan padahal dia itu termasuk playboy lhoh. hhahaha...
karena Mas Yudis absen dengan kedatangannya ke pernikahan Mas Ardha, nggak disangka Mas Yudis meneleonku dengan video call. aku meihat dia dan istrinya yang ada disebelahnya tersenyum bahagia memberi selamat ke Mas Ardha yang sudah ada di samping kami semua.
"Woii, Dha... selamat yaah udah nikah, tinggal 2 orang nih yang masih perjaka." ejek Maa Yudis dengan nada candaan. disambut dengan tawaan dan cercaan dari Mas Irdy dan Mas Sefri. kemudian Mas Yudis memperkenalkan Istrinya dan juga bayi mungil yang ada dipangkuannya.
"Wah, nggak ngomong kalau udah punya anak..." kataku sambil tersenyum melihat mereka berdua tersenyum.
"Makanya cepet nyusul, udah lulus kuliah masih jomblo aja..."
""Kurang ajar..." aku hendak memukulu wajah Mas Yudis yang masih tetap konyol.
"Cepet nikah Mas berdua..." tunjuk Mas Yudis ke Mas Irdy dan Mas Sefri.
Mas Irdy yang sudah bertunangan dengan pacarnya yang sudah 2 tahun menjalin hubungan. dan Mas Sefri masih sibuk dengan tugasnya sebagai dosen, dan curhatnya dia bilang kalau dia seperti di untit sama cewek. dia naksir kamu kali Mas, batinku. dan aku yang barusan seminggu yang lalu sudah lulus dan sekarang akan melanjutkan S2 di Bandung. kita semua sudah memiliki tujuan hidup yang pasti.
Untuk Mas Ardha dan Mas Yudis yang sudah mempunyai pasangan selamat yaaah... semoga jadi keluarga sakinah mawadah warohmah. Mas Ardha semoga cepet-cepet dikasih momongan, dan Mas Yudis semoga dikasih anak lagi yang kedua. doaku menyertaimu...
selesai mendatangi acara pernikahan Mas Ardha, kita berempat dan ditambah istri Mas Ardha yang sudah akrab denganku menuju ke rumah Mas Ardha yang ternyata tidak jauh dari rumahku dan rumah Mas Sefri.
"Uwaaah, rumahnya bagus banget mbak ?" kataku sambil masuk ke rumah Mas Ardha dan Istrinya Lena.
"Iya, yang ngerancang Ibunya Mas Ardha." kemudian aku tidak sabar untuk mengelilingi rumahnya. benar-benar luas dan bagus banget. minimalis tapi mewah hhahaha.
di halaman belakang, kami berpesta barbeque lagi seperti dulu tapi bedanya sekarang kami berada di rumah pengantin baru. lama mengobrol aku lupa kalau besok harus sudah ke stasiun kereta untuk menuju ke Bandung tempat baru untukku.
"Mas, aku pamit pulang yah. aku lupa belum packing baju." kataku sambil pergi keluar rumah.
"Ayo, aku bantu..." kata mereka bertiga. Mbak Lena yang tidak tahu kalau kami semua sangat akrab bahkan celana dalam mereka berempat juga aku tahu apa saja warnanya. hhahahah bercanda, nggak sampai segitunya.
semalaman Mas Agung dan Mas Irdy yang masih "perjaka" membantuku memasikkan barang-barangku ke dalam koper. ahh, makasih banget deh buat mereka berdua. Mas Ardha dan Mbak Lena atidak ikut, takutnya kita ganggu mereka bulan madunya hhihi...
ke esokan harinya. aku berangkat ke stasiun diantarkan dengan Ayahku. sesampainya di stasiun aku melihat Mas Irdy dan tunangannya, Mas Ardha dengan istrinya, dan Mas Sefri yang sedirian berdiri di depan dan membantuku membawakan barang bawaanku.
"Hati-hati dijalan yaah..." kata Mas Irdy dengan mengusap kepalaku.
"Kalau ada apa-apa telepon aja yah..." kata Mas Sefri.
"Hati-hati dijalan Di..." kali ini giliran Mas Ardha yang mengusap kepalaku.
"Semoga sukses yah..." ucap mereka bertiga bersamaan. aku terharu mendengarkan pesan mereka satu-persatu. kamudian aku refleks memeluk mereka, karena mereka sudah seperti bagian keluargaku, saudaraku, dan teman yang paling baik dalam hidupku. aku berjalan mundur dan melambaikan tanganku masuk ke dalam stasiun. Aku akan merindukan masa-masa kita bersama Mas Ardha, Mas Sefri, Mas Yudis, Mas Irdy. sukses semuanya :')
0 comments:
Post a Comment