Saturday, May 31, 2014

Not A Play Boy

Posted by ceritacurhatku at 8:15 AM
Satu semester ini aku tidak pernah terganggu oleh Gilang yang biasanya selalu berada di dekatku. entah kenapa aku merasa ada yang hilang, aku merasa sendirian meskipun ada Mia yang selalu bersamaku. dan saat ini Mia sedang dilanda kebingungan. pacarnya yang di Belanda minggu depan akan datang ke Indonesia, dia ingin melihat Mia secara langsung. karena dari kenal dulu mereka hanya berbincang lewat video call, bukannya wajah Mia udah kelihatan yah pikirku bingung.
"What should I do Sa..." tanya dia bingung.
saat ini aku ada di kamar Mia yang sekarang sedang bingung ingin merencanakan tentang sambutan untuk pacarmya yang datang ke Indonesia.
"Nggak usah bingung keleus... kamu kan banyak baju yang cantik-cantik." kataku sambil membuka lemari Mia yang gede dan berisi banyak baju dan aksesorisnya. semuanya made in Belanda sampai ada sepatu kayu yang canti hadiah dari pacarnya asli juga made in Belanda.
"Semua itu nggak ada yang bagus tau..." kata dia sedikit berteriak dan menutup lemari yang aku buka. nih anak apa-apaan sih. bukannya bajunya banyak banget, kalau aku jadi Mia bakal bingung milih yang mana dan nggak repot buat beli lagi.
"Kamu tuh nggak bersyukur deh Mii, ini bagus..." aku keluarkan bajunya yang menurutku masih pantas untuk dipakai. "ini juga bagus..." sekarang aku keluarkan baju terusan panjang  sampai mata kaki dan tidak berlengan tapi cantik banget gaunnya. "kenapa sih, ini kan baju semuanya bisa kamu pakai..." kataku sewot sambil menyentil dahi Mia sampai kesakitan.
"Sakit tauuuu..." dibalasnya dengan gelitikan kecil di perutku. Mia memang tahu tempat sensitifku. aku tertawa sambil teriak karena geli. terdengar bunyi ponselku yang tergeletak di kasur Mia. dia sambil mengembalikan baju-baju yang aku keluarkan, dan aku yang sibuk melihat layar ponselku tiba-tiba tersentak melihat sms dari Gilang.

From : Gilang
Aku mau ngelanjutin kuliah ke Australia... sori baru ngasih tahu, besok bisa temenin aku ke bandara.

jantungku seakan berhenti melihat pesan dari Gilang. kenapa baru kasih tahu sih...
"Kenapa ?" Mia mendatangiku dan melihat ke arah layar ponselku. "Gilaaa, dia mau ke Australi ? nggak nyangka..." kata Mia sambil kembali ke depan lemari dan melanjutkan yang tadi. "emang sih, dia hebat banget bahasa Inggrisnya, nggak kaget kalau dia ke Austra... Hei Sa..." Mia kaget dan langsung kembali berjalan ke arahku, kali ini langkahnya cepat dan langsung merangkulku. "Sasha, kamu kenapa ? Sa..." aku mendengar suara Mia, tapi aku tidak bisa menghentikan air mata yang keluar. kenapa harus nangiiis... saat ini Mia memelukku dan mengelus punggungku agar aku tenang.
besoknya aku tidak berani datang, pasti Lena datang untuk mengantar. dan aku hanya dianggap temannya jadi buat apa aku mengantarnya. aku tidak bisa memeluknya hanya bisa berjabat tangan. aku mengurung diri di kamar sampai Kiki marah-marah karena sarapan yang tadi dimasaknya tidak aku sentuh.
sebenarnya aku ini bodoh atau bagaimana sih. harusnya paling tidak aku bisa mengucapkan sampai bertemu kembali. aku menyambar ponsel yang daritadi aku pegang.

To : Gilang
I'm so sorry, I can not take you away. Be careful, dont sick at your home, you must eat with health dish, dont cut your class. ahh I feel like your mother, always concerned about you.
meet you again Gilang... I Love You, ever and forever...

langsung aku kirimkan pesan itu tanpa melihat apa yang aku tulis. kemudian aku sadar kalimat terakhir itu, harusnya aku tidak menulisnya. aku ingin mereka bahagia. lagi-lagi aku meringkuk di kasurku dengan ponsel yang masih aku pegang. aku menangis sejadinya, menyesal dengan perbuatan bodohku.

***

4 tahun kemudian...
"Sashaaa..." teriak Mia dan pacarnya Narve menuju ke tempat aku duduk.
Mia akhirnya bertunangan dengan Narve tahun lalu. dia menunggu lulus kuliah kemudian langsung menikah. ahh enaknya yang punya pacar. aku selama 4 tahun ini putus sambung dengan beberapa cowok, nggak banyak kok cuman 2, asli deh nggak bohong hhehe...
"Darimana kamu ?" tanyaku ke Mia dan kemudian tersenyum ke arah Narve.
"Just for lunch Sa..." jawab Narve sambil menepikan Mia dari panasnya siang ini.
"Are you going to stay in Indonesia Narve?" tanyaku kepada Narve yang sedang mengusap keringat tunangannya itu.
"He must live here with me" kata Mia merajuk di rangkulan Narve. dasar mereka hanya membuatku iri saja. aku mengalihkan pandanganku ke arah buku yang aku baca.
"Baca apa Sa ?" tanya Narve dengan bahasa Indonesia yang masih kacau pronounce-nya.
aku memperlihatkan buku tentang Asutralia kepada mereka. langsung mereka berdua kaget dan menatapku dengan serius. Mia langsung mengubah pandanganya dengan mata yang kasihan kepadaku.
"Masih ingat-ingat Gilang Sa ?" tanya Mia langsung.
aku diam dan hanya melihat ke arah buku itu. mungkin mereka kira aku sedang membaca buku itu dengan serius. padahal pikiranku entah kemana.
iya, aku masih ingat dengan Gilang. apalagi tahun kemarin aku mendapatkan pesan yang sangat mengejutkan. dan itu dari Gilang.

Flash back 1 Tahun lalu...
aku duduk di bangku kelasku. yang kemudian datang semua teman-teman kuliahku. aku mengambil sastra Inggris untuk percabangan jurusan bahasa Inggris yang aku ambil. aku suka dengan sastra Inggris yang membahas tentang Public Relations. waktu kuliah dimulai, ponselku bergetar dan di layar terpampang nama Gilang yang memberi pesan singkat kepadaku. sudah 3 tahun ini aku menunggu pesan atau telepon dari Gilang. dan akhirnya...

From : Gilang
I had broken up with Lena...

Pesan yang benar-benar singkat tapi bisa membuat aku bingung dan panik harus membalas apa pesan Gilang ini.

To : Gilang
I'm sorry to hear that

Begoooo, kenapa aku jadi salting begini. membalas pesan Gilang juga seperti anak SD. I'm Sorry to hear that ?? ...
Oh My God...
benar-benar aku melakukannya tanpa berpikir. yang waktu itu juga begitu, mengirimkan kata-kata I Love you ke seorang teman yang punya pacar. asli bego 100%
sampai pulang ke rumah Gilang tidak membalas pesanku yang bego itu. aku langsung menuju kamar dan menempelkan bantal ke mukaku kemudian teriak sekuat-kuatnya.
"Begoooooooooo..." panjang sampai kehabisan napas.
tok tok tok... terdengan ketukan pintu kamarku.
"Apa Ki ?"
"Ayo makan malam Mbak..." kata adikku yang menghentikan tindakanku yang aslinya nggak pantas diperbuat cewek umur 24 tahun ini.
Kiki yang sekarang sudah kelas 3 SMA sudah berubah menjadi gadis yang manis. pasti banyak cowok yang mengejarnya.
"Oh iya kak, ada paket dari Australi. itu siapa namanya... Mas Gilang." kata Kiki sambil mengambilkan lauk kesukaanku dan meletakkannya di piring. saat mendengarkan perkataan Kiki barusan aku hampir saja tersedak. aku ambil segelas air putih dan meminumnya sampai habis.
"Mana paketnya ?" tanyaku cepat. Kiki menunjukkan ke arah ruang tamu, dengan jalan cepat aku membuka paketan itu. ternyata ada sarung tangan yang manis disana, tertuliskan nama Sasha. aku melihat ada sebuah kartu ucapan.

sorry, selama ini nggak pernah hubungin kamu lagi. sudah 3 tahun sejak kita berpisah. ohh iya paket ini nyampainya kapan ya? kalau sudah sampai bisa kamu hubugin aku di nomor ini.
sorry juga waktu itu aku nggak bales smsmu karena...
ahh sudahlah, pasti kamu sudah bahagia dengan cowok idamanmu disana.
tapi hal ini nggak berubah, meskipun itu sudah lama atau baru bersemi saat ini.
-Gilang-

aku tersenyum bahagia. nggak menyangka air mataku menetes lagi. aku lihat lagi tulisan tangannya dan kubaca sekali lagi. aku nggak bosan-bosan melihat tulisan Gilang yang seperti ceker ayam. tapi sekarang berbeda, tulisannya rapi dan indah. apa dia seperti itu sekarang.
"Mbak ngapain ?" tanya Kiki dari arah dapur dan mengintip apa yang aku lakukan. cepat-cepat aku menghapus air mata dengan kedua punggung telapak tanganku. aku menggeleng kemudian kembali ke meja makan sambil membawa bingkisan dari Gilang.

Saat ini ...
"Mbak, ada Mas-mas ganteng datang ke rumah." kata Kiki sambil membuka pintu kamarku dengan terburu-buru. mukanya terlihat senang karena melihat cowok cakep. ya ampuun adikku ini...
siapa yang malam-malam begini datang ke rumah. apa si Leo yang minta balikan terus itu? ahh, nggak...nggak mungkin Kiki setakjub itu melihat wajah ganteng, dia pasti mengenali kalau itu Leo.
saat aku turun ke bawah. aku mematung di tangga dan melihat ke arah ruang tamu yang kedatangan seorang cowok dengan kaos polo dan jeansnya dengan posisi duduk menunduk melihat kakinya dan sesekali melihat luar rumah. aku langsung tahu siapa yang ada di hadapanku. setelah dia tahu kedatanganku. dia menoleh ke arahku dan tersenyum. senyum yang aku rindukan dan gaya pakaian yang sering aku anggap keren.
itu Gilang... iya itu Gilang, aku mengusap mataku dan melihat ke arahnya lagi. iya itu cowok yang aku tinggalkan dan berbalik meninggalkanku ke luar benua. aku jalan perlahan menuju ke Gilang dan aku melihat lebih jelas senyumnya yang indah.
"Ini bukan mimpi kok Sa..." kata dia membuka pembicaraan dan membuyarkan semua takjubku. "Gimana kabarnya ?" tanya dia sambil melihat keadaanku. sambil duduk aku tidak melepaskan pandangan ke arah Gilang yang sekarang ada di depanku. "jangan bengong dong. ngomong sesuatu kek..." katanya sambil melambaikan tangannya tepat di depan mukaku.
kemudian aku sadar dan kembali terkaget. "Kok kamu bisa ada di sini ? bukannya di Australi ?" lagi-lagi pertanyaan bego muncul dari mulutku. Gilang tertawa geli melihat tingkahku.
"Pengen ketemu kamu aja." jawab dia dengan senyum yang sama.
"Habis ini kamu balik ke Australi ?" tanyaku bego.
Gilang menggeleng dengan tawa yang makin keras. mendengar semua pertanyaan yang dia anggap lucu.
"Aku sudah selesai. jadi aku balik ke Indonesia."
aku mmengedipkan kedua mataku dan kemudian tersenenyum lebar... lebaaar sekali sampai-sampai Kiki yang ada di dapur yang mengintip kita berdua terbengong melihat tingkahku yang ternyata begonya minta ampun.

2 comments:

Unknown said...

oww so sweet bingits. .
aku senyum senyum dewe paws moco e. .
haha
hope Sasha and Gilang will together forever. .
but this is the end. ? or will continue. ?

ceritacurhatku said...

belum selesai iki. onok sing lebih so sweet :p

Post a Comment

 

Freedom... Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review