Elan akhirnya pergi ninggalin aku sendirian di depan gerbang sekolah. tiba-tiba Mas Ari datang dengan motornya dan mengantarkanku pulang. tapi aku malas pulang ke rumah, akhirnya Mas Ari mengantarkanku ke sanggar. kebetulan juga aku membawa selendang tariku. aku mencari lagu untuk mengiringi tarianku. aku memilih lagu yang slow mengikuti suasana hatiku sekarang.
aku sadar, kalau Elan bohong padaku dengan mengatakan kalau dia menjemput temannya yang habis kecelakaan. tapi siapa temannya, cuman teman sekelas dan Mas Ari yang dia kenal. semuanya Mas Ari yang menceritakan, kalau Elan menjemput pacarnya ke bandara. kenapa nggak jujur saja, lagipula aku nggak keberatan kalau dia bersama Indri, toh memang Indri pacarnya dia.
aku menari mengikuti irama lagu jawa yang mellow, ekspresiku juga pas dengan lagunya. mungkin kalau orang yang melihat aku menari seperti ini mereka bakal menyangka kalau aku orang stress berat.
tiba-tiba setelah menari, Elan sudah ada di belakangku dengan mengucapkan maaf. aku sudah tidak percaya lagi dengannya. prinsipku adalah sekali bohong orang itu pasti akan mencari alasan lain untuk berbohong, dan aku benci itu.
aku melepaskan genggaman Elan, aku tahu aku nggak bisa marah seperti ini. tapi aku juga nggak bisa maafin dia sekarang. dengan menghindari dia, aku masuk ke ruang ganti wanita. aku duduk tepat belakang pintu, sampai aku bisa mendengar Elan berteriak ke arah Mas Ari yang menjelaskan bagaimana perasaanku saat ini. iya, memang Mas Ari yang bisa menenangkanku.
"Lin, dia udah pulang kok." ketuk Mas Ari di seberang sana.
aku keluar dengan menutup mataku yang hampir saja menangis. aku nggak boleh cengeng, lagian Elan bukan siapa-siapaku. Mas Ari merangkulku duduk di depan sanggar yang waktu itu hanya ada aku dan Mas Ari.
"Sudah, nggak perlu nangis ahh. masa soal cowok begini kamu nangis." kata Mas Ari yang masih merangkulku.
"Nggak nangis kok aku." kataku dengan mengusap sedikit air mata yang muncul. di tepuknya kepalaku dengan sayang. Mas Ari sudah aku anggap Mas-ku sendiri. dia sudah membantu Mbak Lizzy untuk ke Swiss menyalurkan bakat tarinya disana. dan aku dekat dengan Mas Ari sudah lama sekali, semenjak Mas Ari, Mbak Mila dan Mbak Lizzy bersahabat sewaktu kuliah.
sudah tenang, aku diantar Mas Ari ke tempat Rina. aku dibelikannya ice cream kesukaanku. Mas Ari menghibur sampai aku bisa tertawa lagi. Rina juga ikut nimbrung, karena Rina juga kenal sama Mas Ari.
"Sudah, jangan bete lagi yah. duit bisa abis nraktir kamu makan ice cream terus." canda Mas Ari dengan senyum jahil seperti biasa.
untung ada Mas Ari yang bisa menghiburku, aku jadi terlupakan dengan masalah Elan. dan aku berpikir untuk memaafkannya. dan menyerah saja, toh pacar Elan ada disini.
Ke esokannya, Elan datang pagi-pagi untuk menjemputku, aku sampai kaget kalau dia datang pagi-pagi dan ikut sarapan bersama ayah. Ibu selalu baik dan matanya selalu berbinar-binar kalau melihat Elan datang ke rumah. dengan canggung aku masuk ke mobilnya untuk menuju ke sekolah. di perjalanan aku hanya diam, sampai Elan memulai pembicaraan yang kemarin.
"Maafin aku ya Lin, gue udah bohong ke lu." kata Elan meminta maaf lagi.
"Nggak apa-apa kok Lan, aku sudah maafin kamu." jawabku dengan muka yang bersalah juga. aku harus sadar diri. mendengar perkataanku Elan sudah bisa tersenyum lagi.
"Makasih ya Lin." kata Elan.
aku kembali diam kembali sampai masuk ke kelas. meskipun kita berangkat bersama tapi aku meninggalkannya ke kelas.
Tiara lagi-lagi ketahuan membuka laci mejaku. entah apa yang dia cari, tapi perbuatannya sangat menggangguku.
"Ada apa Tir ?" tanyaku tiba-tiba, karena Tiara membelakangiku dia sampai kaget kalau aku ada di belakangnya.
"Nggak ada apa-apa." kata Tiara, kemudian dia pergi ke mejanya.
nyari apa sih si Tiara sampai merogoh laci mejaku. apa ada buku yang lupa aku kembalikan. pikirku.
selesai istirahat, buku PR Matematikaku sudah tidak ada di laci. padahal tadi sudah aku letakkan di laci meja. aku mencari sampa Pak Irdy datang dan menanyakan bagaimana PR Matematika yang minggu lalu. giliran aku yang dipanggil Pak Irdy untuk mengerjakan soal yang ada di papan. aku mengerjakan dengan benar dn teliti. pada saat pelajaran hampir selesai Pak Irdy meminta kita untuk mengumpulkan PR yang tadi di koreksi bersama. dengan takut-takut aku menghampiri Pak Irdy dan bilang kalau buku PR Matematikaku hilang entah kemana. baru kali ini aku dimarahin dan jadi topik baru di kelas. jarang-jarang aku tidak mengerjakan PRku. pasti ada yang mengambil bukuku.
"Ir, kamu pinjem buku PR Matematikaku ?" tanyaku pada Ira yang juga kaget melihatku tidak membawa buku PRku. gelengan kepala Ira membuatku tahu kalau dia tidak meminjam bukuku, dia nggak mungkin bohong padaku.
dengan hati-hati aku menanyakannya pada Tiara, yang waktu itu Elan juga masih ada di bangkunya. "Tir, kamu tadi pagi ngambil buku PR Matematikaku ?"
"Nggak kok Lin, kenapa nuduh aku?"
dengan gemas aku meninggalkan Tiara, Elan yang ada di samping Tiara menarik tanganku dan dengan terpaksa aku menengok ke belakang lagi.
"Ada apa Lan ?" tanyaku sebal.
"Tadi lu tumben dimarahin guru ?" tanya Elan yang sok polos. Tiara yang ada di sebelah Elan terdengar cekikikan. sialaan...
sepulang sekolah, aku mengerjakan PR yang tadi untuk dikumpulkan lagi besok ke Pak Irdy. harusnya aku nggak pernah seperti ini.
tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti tepat di depan rumahku. suara langkah kaki juga mengarah ke rumahku.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." aku membuka pintu dan terkejut ternyata Elan datang sambil membawa buku PR Matematikaku.
"Kamu, kok bisa bawa buku PRku? kamu yang ngambil ?" tanyaku sewot. padahal belum aku persilahkan masuk, Elan kemudian langsung masuk dan duduk di ruang tamuku. dasar nggak sopan.
"Gue tadi nanya ke Tiara soal buku PR lu, ternyata ada di tas dia. sewaktu dia memasukkan buku, buku yang ini jatuh juga dan ada nama lu" jelas Elan sambil memukul pelan buku itu ke keningku.
aku malu sambil menunduk, karena tiba-tiba menuduh Elan yang ngambil. lagipula buat apa dia ngambil bukuku sampai aku kena marah guru Matematika padahal dia sudah jenius dari dulu. akhirnya kita bisa mengobrol tanpa canggung lagi.
Siapa aja ya...
Total Pageviews
Popular Posts
-
Dear Mantan Gebetan yang entah dimana... Halo gebetan, aku mau mengungkapkan semua yang ada di hatiku. Aku sudah suka kamu dari SMP tau. T...
-
Sebut saja aku Mike, aku mempunyai seorang pacar bernama Dina. dia baik hati, pintar, tidak sombong dan pasti rajin menabung. kita memiliki ...
-
aku ingin bercerita tentang seseorang yang sangat perhatian padaku. aku akui memang aku memiliki rasa suka padanya. tapi sayangnya dia hanya...
Tuesday, May 13, 2014
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment