ditahun ketiga semenjak masuk SMA kita semakin menjauh. beda kelas, dan beda kegiatan membuat kita nggak pernah bersama lagi. mungkin kalau kita kebetulan bertemu di koridor kelas, kita hanya berbicara atau sekedar menyapa. Filia, dia berubah menjadi gadis cantik, tinggi dan badannya yang langsing memperlihatkan kakinya yang cantik. dia menjadi cheersleader di sekolah kami. gue yang berpindah minat sebagai pelukis sudah meninggalkan hobi gue sebagai pemain basket.
"Reza, yuk pulang." kata Melly cewek gue. yang sudah gue pacari selama dua tahun. meskipun gue punya cewek tapi gue nggak melupakan kesan pertama bertemu Filia.
Flashback
gadis cilik berumur 7 tahun, dia berambut panjang dan badan yang berisi. berlari-lari mengelilingi taman dengan membawa anjing kecilnya. gue yang tidak sengaja lewat di sekitar sana hanya terdiam melihat senyuman gadis kecil itu. gue yang sama-sama berumur 7 tahun hanya kagum melihat energi cewek itu bersama anjing peliharaannya. nggak biasa seorang cewek manis seperti dia bermain lari-larian, anak kecil apalagi cewek biasanya suka dengan boneka, rumah-rumahan atau masak-masakan. tapi dia lain.
gue memberanikan diri mendekati gadis kecil itu. aku membelai anjingnya yang kecapaian mengikuti majikannya yang masih berlari-lari.
"Kamu suka anjing ?" tanya gadis itu dengan mata yang berbinar-binar.
gue menengadahkan kepala melihat dia yang tersenyum. entah apa yang gue rasakan, seperti sinetron yang nyokap gue lihat efek angin datang ketika gadis cilik itu tersenyum memandang ke arah gue. gue lupa apa yang terjadi setelah gadis itu memberikan senyuman paling manis buat gue, pokoknya gue langsung akrab dengannya dan bermain dengan anjingnya.
iya dia Filia yang gue kenal 11 tahun yang lalu.
"Mau pulang Za ?" tanya seseorang dari belakang gue dan Melly. gue menoleh ke arah suara yang manggil gue, ternyata Filia datang ke arahku dengan badan dan muka yang berkeringat. pasti selesai latihan cheers. gue mengangguk lalu tersenyum. "Eh, ada Melly juga, ati-ati yah." lanjut dia yang berdiri di sebelah Melly kemudian meninggalkan kita.
setelah gue ngantar Melly pulang, motor gue melaju ke arah rumah. sebelum sampai rumah, gue ngelewatin taman yang waktu itu gue sama Filia bertemu. samar-samar gue lihat dari pinggir taman ada seorang cewek yang berayun di ayunan di tengah taman. gue tahu itu siapa.
"Fil, lo nggak pulang ?" tanya gue yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Lagi suntuk di rumah, tadi gue udah sampai di rumah. tapi... ahh males ceritanya."
"Kenapa ? Ada apa ?" tanya gue penasaran, soalnya ekspresi Filia udah nggak seceria biasanya.
"Gue, sebenernya udah mau curhat. tapi gue nggak tahu mau cerita ke siapa, lo sibuk kakak gue juga nggak mau ikut campur dan milih buat keluar dari rumah. jadi gue pendam sendiri."
gue lihat wajah Filia yang menunduk lesu. gue juga lihat matanya yang mulai berkaca-kaca. refleks gue menunduk ke depan Filia yang sedang menunduk sedih. gue angkat wajah Filia pelan-pelan...
"Cerita ke gue..." kata gue langsung. wajah Filia masih sedih, tapi dia berani menceritakan semuanya. dia cuma bingung mau menyalurkan kesedihannya dengan bercerita kesiapa. ternyata Ayah dan Ibu Filia sudah tidak harmonis semenjak 6 bulan yang lalu. gue sebagai temen seperti nggak berguna, gue yang mengira Filia sibuk dengan kegiatannya ternyata menyimpan beban karena keluarganya. Bang Nino juga sudah bosan dengan orang tua mereka sampai memilih untuk keluar dari rumah. jadi hanya Filia yang bertahan dengan pertengkaran ayah dan ibunya.
"Gue udah kasih tahu mereka biar nggak berantem setiap hari, nyokap gue selalu tidur bareng gue dan pisah dari ayah gue. gue bingung harus gimana ngadepin mereka." gue melihat mata Filia sudah nggak kuat menahan air mata yang sejak tadi di bendungnya. akhirnya pertahanan Filia gagal dan dia menangis sejadi-jadinya. "Sekarang bokap udah nggak ada di rumah, udah ninggalin nyokap dan juga anak-anaknya. bokap macam apa itu.." protes Filia yang mencoba menghapus air matanya. gue memeluk dia agar air matanya berhenti, tapi tangisnya makin menjadi.
"Udah Fil, nggak usah nangis... lo harus siap ngehibur nyokap lo yang sedang terpuruk juga. nggak cuma lo yang sedih dan marah, nyokap lo pasti lebih sedih daripada lo." hibur gue dengan mengusap sayang kepala teman gue yang sudah 11 tahun gue sayang.
Flashback
"Za, lo harus bantuin gue dapetin Ozi."
kata cewek itu dengan seragam SMPnya dengan kaos kakinya yang selutut seperti orang mau main futsal.
gue yang ogah-ogahan ngebantu Filia yang lagi jatuh cinta atau tepatnya lagi mengalami cinta monyet merengek minta untuk membantu dia. gue bingung harus bantuin gimana, yang satu kelas kan dia gue beda kelas mau bantu kayak apa.
"Lo kan yang harusnya akrab sama dia Fil, kenapa harus gue yang bilang."
"Lo kan cowok Za, pastinya bisa langsung akrab."
"Lo yang udah kenal, Lo yang udah 2 tahun 1 kelas sama dia. kan udah gampang deketin dia."
Filia melengos dan pergi ninggalin gue yang melongo. bingung yang salah ini siapa, kenapa dia yang ngambek.
setelah 2 bulan semenjak Filia minta bantuan gue, akhirnya dengan hebohnya dia bercerita kalau tadi siang dia ditembak Ozi. dan benar-benar gue terlupakan dan digantikan Ozi setiap kali dia pergi.
"Aku nggak mau kemana-mana, aku nggak bisa milih satu diantara kalian." teriak Filia yang gue dengar dari depan rumah dia. nggak sengaja gue lewat depan rumah Filia sampai gue kaget gara-gara Filia melompat dari pintu rumahnya dan menuju ke arah gue. untung aja gue masih bisa seimbang nopang badan Filia yang tiba-tiba nabrak gue.
"Lo kenapa Fil..." kata gue sambil berlari mengikuti arah Filia yang saat ini sedang narik gue. dasar ni cewek seenaknya aja narik-narik orang, untung aja yang ditabrak gue. kalau orang lain gimana. ckckck
sesampainya di dalam rumah Filia membuka pintu dan terkejut kalau Melly ada di dalam rumah. FIlia yang masih menangis pergi ke arah belakang rumah dan ketemu nyokap gue yang lagi beresin tanamannya.
"Kamu kenapa Fil ?" tanya nyokap gue yang kaget karena Filia tiba-tiba datang dan meluk nyokap gue. gue yang ngelihat dari dalam rumah ikut kebingungan. Melly yang tadi anteng baca majalah di ruang tamu jadi ikut melihat Filia yang lagi histeris.
"Mel, aku antar pulang yah. suasana lagi nggak enak nih." kata gue sambil menggandeng tangan Melly. untungnya dia tanggap dengan apa yang terjadi.
gue nggak tahu apa yang diceritakan Filia ke nyokap gue. sampai-sampai gue pulang, gue ngelihat nyokap meluk Filia erat sambil mengelus-elus rambut panjangnya.
"Sudah... nggak apa-apa sayang, jangan nangis lagi ahh nanti jelek." hibur nyokap ke Filia dengan cara menghentikan tangisan anak kecil, ckckck nyokap gara-gara nggak punya anak cewek jadi begini manjain Filia terus. "Reza dulu juga begitu kok sewaktu ditinggal ayahnya." jelas nyokap yang nggak tahu kalau gue udah di depan pintu rumah.
Flashback
gue duduk di depan rumah mendengar bokap nyokap berantem. mereka perang dingin sampai terdengar suara tamparan.
gue langsung masuk rumah dan melihat tajam ke depan wajah bokap gue. saat itu gue ingat masih SMP kelas 1. gue melihat bokap nampar nyokap hampir setiap hari. apalagi saat bokap bangkrut dan menyalahkan semuanya ke nyokap. nyokap yang masih bersabar ngadepin bokap dengan pasrah menerima semua perlakuan bokap gue.
setelah insiden itu gue keluar dari rumah, gue berjalan ke taman dan duduk di depan taman. nggak lama Filia dengan anjing kesayangannya datang dengan ceria. dia bertanya ke gue apa yang udah terjadi. gue bercerita semua yang nyokap alami, gue nggak menangis gue merasa udah gedhe jadi nangis itu dilarang. nggak disangka Filia nangis sambil meluk gue. dan baru hari itu semenjak gue berjanji nggak akan nangis lagi, gue melepaskan semua emosi gue ke pundak Filia yang juga ikut menangis.
pagi jam 7 pagi, gue menunggu FIlia di depan rumahnya. gue udah mempersiapkan semuanya untuk perjalanan kita. seminggu yang lalu, setelah lama curhat ke nyokap gue dan berpikir jalan keluar untuk keluarganya, Filia gue ajak jalan-jalan ke Bandung demi merefresh otak dan emosi Filia yang masih labil. gue mengajak Filia menaiki kereta jurusan Jakarta - Bandung. karena seminggu ini libur jadinya kita punya waktu untuk bersantai dan jalan-jalan
"Wah, bagusnya pemandangan Lembang..." kata Filia takjub.
kita menuju ke Lembang menggunakan mobil sewaan, jadi tadi sewaktu di kota Bandung kami menyewa mobil untuk 3 hari. alhasil sampailah kita ke kebun teh dengan hawa yang sangat dingin.
"Eh, Melly nggak cemburu nih, lo ngajak gue pergi sampai ke lembang begini ?" tanya dia dengan wajah khawatir.
"Tenang aja..." kata gue menenangkan Filia yang wajahnya masih suntuk dengan urusannya. padahal Melly marah-marah akibat gue ngurus masalah Filia. yang katanya gue nggak perhatian, malah perhatian sama cewek lain. padahal awal kita jadian dia udah gue wanti-wanti biar nggak jalous ke Filia. tapi tetap saja dia nggak bisa percaya gue. sebenernya 2 hari ini gue nggak pernah hubungan lagi sama Melly, dia juga nggak ngerti kalau gue ke Lembang sama Filia.
malamnya kita menginap ke penginapan sederhana, kita memesan 2 kamar yang untungnya tidak penuh pengunjung. setelah beristirahat sebentar dan membersihkan diri, kita bertemu lagi di depan penginapan untuk mencari makanan.
"Gue mau yang anget-anget Za." gue mengangguk dan mencari makanan yang disukai Filia. gue mencari tempat yang asik dengan pemandangan malam yang indah.
tanpa bertanya ke Filia gue ngerti makanan dan minuman apa aja yang dia suka. dengan santai duduk dan mengobrol kami menunggu pesanan datang.
"Beneran nggak apa-apa nih Za ?"
"Udah sampai sini, malah tanya begituan, gue udah putus sama Melly."
"Hah? serius Za? kenapa ? gara-gara gue ya?" rentetan pertanyaan Filia yang muncul dari mulutnya, dan dengan kekhawatiran yang berlebih. sampai-sampai dia mau menelepon Melly, Gila ajaa !
"Santai aja dong, udah keputusan akhir Fil..." jelas gue sambil meminum cappuccino hangat kesukaan gue yang barusan datang.
"Sebenernya gue menjauh ke lo karena ada Melly, gue nggak berani deket-deket lagi ke lo takut dikira ada apa-apa..." jelas dia dengan mengaduk-aduk nggak jelas coklat panasnya.
"Jadi gitu, gue nggak masalah kok lo masih deket-deket sama gue."
"Sebenernya gue ngajak lo kesini karena mau ada yang mau gue kasih tau ke lo..." refleks gue berdiri dari tempat duduk gue dan menatap banyak pengunjung yang datang di kedai itu.
"Selamat Malam..." kata gue dengan sedikit berteriak sampai orang disekitar melihat ke arah kita berdua. Filia yang masih mengaduk minumannya sampai melihat ke arahku dengan bingung sesekali dia melihat ke arah orang-orang yang memperhatikan kita.
"Saya Reza Dio Atmaja, dan di sebelah saya Filia Rahmasari adalah teman saya sejak 11 tahun yang lalu." gue melihat dan tersenyum ke arah Filia yang melongo hebat. dia nggak tahu apa yang dilakuin temennya yang berdiri mengungkapkan semuanya. "Teman saya ini sangatlah bodoh, dia tidak mengetahui perasaan saya selama 11 tahun ini. dan sekarang saya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaan saya di depan pengunjung semua." semua orang melihat ke arah kami dan mulai bertepuk tangan, ada yang tidak tertarik, ada yang menyuruh gue untuk cepat-cepat menembak Filia. gue kemudian bersimpuh dengan satu kaki dan memegang tangan Filia. gue lihat Filia bener-bener salting dan nggak ngerti apa yang harus dia lakukan. "Mau nggak jadi pacar gue ?" tanya gue dengan perasaan campur aduk. Filia yang nggak nyangka menangis saat memintanya menjadi pacar akhirnya mengangguk dan tersenyum ke gue. sebenernya gue nggak ada niat untuk nembak Filia hari ini. maksud gue, gue pengen Filia jadi pacar gue tapi nggak dengan cara ini, hari ini pada saat Filia memiliki beban masalah yang banyak. ahh semoga dengan adanya gue, bisa bantu mengurangi beban Filia.
sudah sebulan gue pacaran dengan temen dan sahabat gue dari kecil. Melly yang sudah gue putusin sewaktu kita ke Lembang akhirnya mengerti tentang keputusan gue untuk ngelepasin Melly. awalnya Melly nggak rela dia sudah tahu kalau gue ada rasa ke Filia. Melly emang cewek yang bisa ngerti keadaan.
akhirnya bokap nyokap Filia cerai, dia tidak tinggal dengan orang tuanya tapi dia memilih untuk keluar dari rumah. dia bekerja paruh waktu untuk membayar sewa rumah dan bayar SPP. sedikit-sedikit gue juga ngebantu dia untuk bekerja paruh waktu. meskipun keadaan seperti ini, gue dan Filia tetap menikmati dan bahagia.
Siapa aja ya...
Total Pageviews
Popular Posts
-
Dear Mantan Gebetan yang entah dimana... Halo gebetan, aku mau mengungkapkan semua yang ada di hatiku. Aku sudah suka kamu dari SMP tau. T...
-
Sebut saja aku Mike, aku mempunyai seorang pacar bernama Dina. dia baik hati, pintar, tidak sombong dan pasti rajin menabung. kita memiliki ...
-
aku ingin bercerita tentang seseorang yang sangat perhatian padaku. aku akui memang aku memiliki rasa suka padanya. tapi sayangnya dia hanya...
Monday, May 26, 2014
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
4 comments:
dari efek angin hingga untang yang sebenernya typo. . haha
aku jd gak serius baca alur ceritanya gara2 typo yang bikin ketawa. . haha
aku jd inget waktu tony nembak miss mong di kereta. .
lanjut terus sista. . fighting. !
hhahaha, maksute untung kakak :p
berikutnya. .
Post a Comment